tips mengasuh anak

Cara Membangun Kebiasaan Positif Pada Anak

Membangun kebiasaan positif pada anak tidak mudah. Kita harus coba lagi dan lagi supaya anak mau mengikuti apa yang diajarkan kepadanya.

[Tulisan ini adalah untuk menepati janji yang saya buat di postingan Instagram saya beberapa waktu yang lalu. Iya, kelamaan ya eksekusinya. Maapkeun. Dan selamat membaca. Semoga bermanfaat]

Sekitar satu bulan yang lalu, saya tiba-tiba kepikiran untuk mulai memakaikan helm kepada W jika kami sedang naik motor. Sebenarnya sudah sejak lama saya kepingin ia menggunakan helm. Alasannya: supaya nggak dingin di jalanan, supaya aman, supaya (sedikit) terhindar dari asap, dan supaya mulai belajar aja dari sekarang..

Nah, suatu pagi kebetulan kami berangkat cukup pagi. Di jalan sepanjang kami menuju daycare-nya, ada yang menjual helm. Kami pun mampir sejenak untuk membeli. Dalam pikiran saya gampangin aja: pilih lalu bayar.

Eh, ternyata nggak semudah itu, sodara-sodara!

Masalahnya adalah ketika saya mencoba memakaikan helm ke si balita ini, ia menolak keras! Pertama sih mau (karena penasaran), eh selanjutnya kok emoh. Menghindar gitu pengen segera pergi. Padahal, ibu udah kekeuh harus beli hari itu juga. Secara waktu luang untuk mampir seperti ini sangat jarang..

Udah dirayu berkali-kali, tetap nggak mempan. Maksud ayah dan ibu W adalah supaya nyocokin betul apakah helm itu muat di kepala W. Takutnya, kekecilan kan. Percuma dong beli mahal-mahal kalau cuma jadi penghuni gudang.

Lah, tapi kok W samasekali nggak mau berkompromi. Padahal, waktu terus berputar. Kami harus segera menuju tempat kerja. Aduh, gimana nih.

Ada beberapa jenis pilihan helm anak sebenarnya yang tersedia di sana. Dan, kami fiks bingung mau yang mana. Tapi, saya mau bagikan beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan kita ketika membeli helm anak, buibu…

  1. Beratnya. Yak, ini penting banget ya. Soalnya, memakaikan helm ke kepala anak yang belum pernah menggunakannya pasti akan terasa berat. Saya aja dulu menggunakan helm standar SNI ini agak pusing pertama kali. Maklum, dulu helmnya yang biasa itu lho…
  2. Ukurannya. Awalnya, kita pikir kalau ukuran yang besar itu bagus. Biasa, perilaku ibu-ibu kalau beli keperluan anak sukanya beli yang gede-gede untuk menghemat uang. Namun akhirnya saya mensyukuri pilihan untuk membeli yang ukurannya pas. Hal ini membuat helm nggak goyang-goyang karena tepat mengena di kepala anak.
  3. Dalamnya. Nah, jangan lupa perhatikan bagian dalam helm ya. Saya sempat kecolongan nih terutama pada bagian telinga yang ada besi penahannya itu. Ternyata, sedikit agak menonjol dan mungkin bikin sakit. Akhirnya, kami pun mengganjalnya dengan kapas. Jadi, usahakan bagian dalam helm benar-benar sesuai untuk anak. Empuk dan bersih.
  4. Motifnya. Sebenarnya, ini hanya motivasi pendukung aja bagi anak supaya mau menggunakan helm dengan sukarela. Sayangnya, waktu itu nggak ada motif mobil yang sangat disukai W.

MULAI SOUNDING

Setelah membeli helm, W belum langsung mau memakainya. Jadi, kami gantung aja di bagian depan motor. Bahkan, ketika pulang juga masih belum mau. Saya sih maklum saja ya. Namanya anak kecil dan belum pernah menggunakan helm, pasti ia masih jaga jarak.

Saya pun bertekad mulai melakukan pendekatan secara halus. Merayu, tapi nggak terlalu kelihatan. Dan tentunya NO PEMAKSAAN. Lagipula, ini adalah tentang memberi kesadaran, bukan sekadar untuk mengikuti perintah orangtua.

Caranya adalah dengan melakukan SOUNDING kepada W selama beberapa waktu hingga ia tertarik untuk menggunakan helm.

Inti dari strategi sounding ini adalah:

  • Memberitahukan kepada anak bahwa apa yang kita ingin ia lakukan itu adalah hal yang positif dan bermanfaat. Contoh: “Eh, pake helm itu bagus looo. Jadi nggak panas kena matahari. Bisa ditutup lagi. Liat nih!”
  • Membangkitkan rasa tertarik. Misalnya dengan mengatakan, “Wahhh, helmnya bagus sekaliii.. Tuh, ada gambar gajahnya. Bagus, ya?”
  • Mengajak anak untuk mengikuti. Anak sebenarnya adalah pribadi yang senang mengikuti, baik orangtua atau orang lain. Jadi, kami selalu bilang, “Eh, besok dedek pake helm yaaah, kaya Ayah dan ibu.. Tuh, sama kan?”
  • Memperkenalkan anak dengan sesuatu yang baru. Wajar banget lo bun kalau anak nggak mau dengan sesuatu yang baru. Ibaratnya, mereka belum bisa membedakan itu berbahaya, menyakitkan, dan sebagainya bagi mereka. Jadi, ada baiknya kita perkenalkan dulu. Mulai dari melihat bagian dalam helm. Lalu mengajak mereka menyentuhnya.

Untuk melakukan sounding, jangan berharap hasil sekejap ya bun. Sounding itu bisa hasilnya cepat atau lama. Tergantung pada cara anak menangkap itu. Nah, tugas ibu setelah melakukan sounding adalah SABAR. Yes, cukup dengan sabar aja dan tentunya tidak henti-henti dengan cara sekreatif mungkin mengajak anak untuk melakukan yang kita ingin ia lakukan.

Selanjutnya, setelah kira-kira anak udah mulai akrab dan menunjukkan tanda-tanda ketertarikan, barulah ibu bisa mulai “mencoba” memakaikan helm.

Tanda anak tertarik:

  • Tidak lagi menangis jika ibu dan ayah membahas itu
  • Mulai dekat-dekat dan berani megang
  • Kalau sudah bisa bicara, biasanya ia akan terus mengulang kata-kata itu
  • Jika pura-pura dipakaikan, ia akan terlihat pasrah. Mungkin masih merasa ragu, tapi mau.

Nah, jika ibu sudah mendapatkan sinyal ini, cobalah untuk memakaikan helm kepada anak. Dalam kasus W, saya membutuhkan waktu satu hari satu malam untuk melakukan sounding. Titiknya adalah pada pagi hari ketika ia bangun, saya langsung mengajaknya ngomong, melihat matanya dalam-dalam, dan bilang, “Eh, nanti W pake helm, yaaa. Ibu kan kemarin udah beliin. Helmnya bagus lo. Nanti ibu dan ayah juga pake. W pake ya?”

Dan tebak, ia langsung mengangguk gitu. Tatapannya itu menunjukkan bahwa ia sedang mempercayai ibunya. Terlihat ragu sedikit tapi mau mencoba. Saya benar-benar terharu pada saat itu.

Lalu, langkah selanjutnya adalah mengajaknya untuk melihat helm dan mencobanya. Sejak itu, ia tampak sudah nggak sabar. Jadi, mandinya pun terburu-buru. Ia pun dengan semangat mengucapkan, helm helm, yah, helm.

Ketika saya memakaikannya ke kepala W, ia sama sekali tidak berontak. Tentu saja, pakaikan dengan hati-hati ya Bun. Jangan membuatnya kaget atau merasa kesakitan pada awalnya.

Sepanjang jalan menuju daycare, W pakai helm tanpa dilepas. Waaah, saya sangat bahagia sekali. Pertama, karena akhirnya saya berhasil mengajak anak melakukan suatu kebiasaan positif. Kedua, karena akhirnya saya menemukan cara untuk merayu anak. Bukan dengna paksaan, apalagi sambil dimarahi yang tentu membuatnya semakin histeris.

Selama ini, saya selalu menggunakan prinsip: ia menyadari apa yang ia lakukan. Ia melakukannya dengan keinginan sendiri berangkat dari kesadaran tersebut. Yakin deh, hasilnya pasti bagus.

Nah, ilustrasi mengenai helm ini adalah salah satu contoh saja. Ada banyak kebiasaan-kebiasaan lain pada anak yang harus dibentuk. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya. Strateginya sama, sounding, ajak anak ngobrolo baik-baik, lalu praktik. Gitu aja terus sampai anak mau.

Daann, yang paling penting adalah orangtua melakukan apa yang ia katakan. Kadang kala, kami sebagai orangtua masih suka kecolongan. Misalnya, membuang benda-benda ke kasur, bukan meletakkannya. Akibatnya, kami nggak punya taring untuk memaksa anak melakukan hal sebaliknya.

Jadi, intinya sih adalah orangtua harus belajar memperbaiki diri, baru mengajari anak untuk menjadi lebih baik.

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat, yaa…

Kalau Ibu-ibu, punya pengalaman seru ketika mengajar anak nggak? Tantangannya apa aja nih?
Uncategorized

5 Hal yang Sering Salah Dimengerti Tentang Ibu Bekerja

[Disclaimer] Sekali lagi, ini bukan untuk menajamkan perbedaan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Please, kalau berkenan bisa membaca kembali postingan saya sebelumnya…

Hai Ibu, Apakah Anda Ingin Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga

Daripada salah paham, saya ingin meluruskan sedikit tentang pandangan orang-orang tentang ibu bekerja (dalam hal ini: saya) yang kerap menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung usai.

1. Ibu bekerja lebih sayang pekerjaannya daripada anak

Ini mustahil banget. Meskipun selama ini waktu sehari-hari banyak dicurahkan untuk bekerja, rasa cinta untuk anak ada di dalam hati dan nggak pernah berkurang. Bahkan, saya sendiri merasakan betapa kerinduan untuk selalu bersama si kecil terus-menerus timbul.

Jadi, kalau lagi bekerja dan kangen anak, akhirnya buka-buka galeri foto dan video lalu senyum-senyum sendiri. Ketika pulang dan akhirnya bertemu, ada rasa lega yang luar biasa.

Setidaknya, alasan bekerja nggak menjadikan saya mengurangi kadar cinta kepada anak, sama juga seperti ibu-ibu lainnya, entah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.

Lagipula, sebagian besar motivasi ibu bekerja untuk bekerja adalah karena sayang keluarga dan ingin mempersiapkan yang terbaik untuk masa depan anak.

2. Ibu bekerja nggak bisa mendidik anaknya dengan optimal

Pada saat-saat tertentu, jujur saja, saya suka khawatir jika W tidak tumbuh sesuai dengan yang saya harapkan. Ibu, katanya, adalah orang yang paling ideal untuk menjadi guru bagi anak. Lha, kalau anaknya di daycare, gimana tuh?

Faktanya, saya memang nggak bisa mengontrol W sepanjang hari. Rasa khawatir tentu masih ada hingga saat ini. Tapi, yang membuat saya lega adalah ia tumbuh dengan baik. Ada beberapa kebiasaan yang bahkan tidak kami ajarkan sudah ia kuasai dengan sendirinya. Beberapa kemampuan lainnya membuat kami terheran-heran dan takjub. Ya, ia belajar dengan baik di sana.

Dan yang membuat saya bertambah tenang adalah ada komunikasi yang terbuka dengan pihak daycare terutama gurunya sehingga kami bisa saling berbagi mengenai perkembangan W. Saya samasekali nggak menganggap mereka sebagai orang lain, justru saudara yang juga sayang dan peduli dengan tumbuh kembang anak saya.

Di dalam kehidupan sehari-hari, bukankah keluarga besar juga ikut mendidik anak? Kita tentu nggak bisa melarang nenek atau tante untuk berinteraksi dengan si kecil dan menyampaikan nasihat-nasihat tertentu. Nah, konsepnya sama.

Hanya saja, kita perlu memperluas pandangan dan tidak selalu menganggap bahwa “saudara” hanyalah mereka yang sedarah. Kita bisa bersaudara dengan siapa saja.

3. Ibu bekerja nggak bisa mengikuti perkembangan anak

Ya, suka iri juga sih kalau ada yang posting tentang keseharian si kecil setiap hari di rumah. Siapa yang ngga pengen. Namun, itu bukan berarti ibu bekerja harus kehilangan seluruhnya saat-saat membahagiakan ketika melihat perkembangan anak.

Saya mau berbagi, W termasuk lambat untuk berjalan. Hingga usia 19 bulan, ia baru bisa melangkahkan kaki sendiri tanpa bantuan pegangan orangtua. Namun, suatu malam, akhirnya ia berhasil melakukannya. Itu adalah momen yang sangat mengharukan.

Dan tebak, saya bisa merekam momen itu di sini:

Yeay, W berhasil!

Jadi, nggak sepenuhnya saya kehilangan momen-momen berharga dalam tahap perkembangan anak. Bahkan, kami justru bisa lebih merasakan hal berbeda ketika sore hari kembali bertemu. Itu yang selalu membuat hati berbunga-bunga.

Tipsnya: singkirkan gawai SEBISA MUNGKIN ketika sudah berada di rumah bersama anak.

Ini akan membuat kita lebih peka dan tahu apa saja yang berbeda dan baru pada anak. Sebisa mungkin, sebelum anak tidur di malam hari, saya usahakan untuk meminimalkan pegang hp.

Memang nggak mudah karena hidup kita saat ini sebagian besar bergantung pada hal-hal berbau digital. Namun, kalau udah kelewatan, biasanya W mulai protes, “Bu… bu.. buuuuu…” [njawil-njawil minta diperhatikan dengan bola mata memelas].

4. Ibu bekerja nggak capek jaga anak karena bekerja lebih enak

Hehehehe. Capek kok. Sama. Meskipun kadarnya berbeda dengan ibu rumah tangga yang sepanjang hari bersama anak. Jaga anak melelahkan, bekerja juga melelahkan. Saya berani bilang itu karena merasakan juga ketika masih cuti melahirkan.

Nah, kalau bekerja, mungkin bukan capek fisik (khususnya bagi yang kerja di belakang meja) tapi stresnya yang membuat lelah. Kadang-kadang, stres itu masih terasa hingga di rumah. Lalu, ketemu anak yang sedang bad mood, lengkap sudah semuanya.

Tapi, kita ibu-ibu selalu tegar kalau anak udah tersenyum dan tertawa, ya kan. Hehe. Secapek apa pun, jangan sampai diumbar dan membuat kita nggak bersyukur dengan keadaan saat ini.

5. Ibu bekerja nggak ingin tinggal di rumah, pake daster, dan hidup tanpa makeup

Jujur saja, saya berangkat kerja juga sering tanpa makeup apa pun. Karena nggak sempat, cyin. Pagi hari itu segala macam jurus silat sudah dikeluarkan tapi tetep aja nggak cukup waktunya. Jangankan untuk bikin alis, mau pake bedak padat aja nggak ada waktu.

Ya, status bekerja nggak selalu membuat saya menjadi kelihatan cantik setiap hari karena dandan. Biasa aja kok. Baju juga nggak modis-modis amat (karena emang nggak stylish kali ya haha), Memang sih nggak pake daster juga…

Tapi ya itu tadi, bagi saya, bekerja adalah untuk bekerja. Setiap bulan bisa memperoleh penghasilan dan itu digunakan untuk beli susu, beli popok, beli lain-lain untuk keperluan anak. Udah gitu aja, kok.

Dan, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jangan mengira jika di dalam hati ibu bekerja nggak pernah terselip keinginan untuk resign. Bahkan selalu ada kalau mau jujur. Dan semua dilema itu harus dihadapi dengan kuat dan berani.

Nah, itu dia 5 hal yang menurut saya kadang-kadang salah dimengerti oleh sebagian orang tentang ibu bekerja. Ini berdasarkan pengalaman pribadi selama ini.

Apakah ibu mengalami hal yang sama atau justru berbeda?

 

Ibu

Hai Ibu, Apakah Anda Ingin Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga?

Apakah isu sensitif soal ibu bekerja dan ibu rumah tangga masih ramai?

Tulisan ini bukan ingin membandingkan keduanya, kok. Ini sekadar pengalaman dan perenungan saja yang rasanya nggak enak untuk disimpan sendiri.

Saat ini, saya berstatus sebagai seorang ibu bekerja. Sebelum menikah, saya juga sudah bekerja. Bahkan hingga memiliki satu anak, saya masih bekerja di tempat yang sama.

Bersyukur juga, karena dengan bekerja, saya dan suami dapat menghidupi keluarga setiap bulan. Awalnya dulu sempat khawatir. Gimana yah kita bisa bangun keluarga dan penuhi semua kebutuhan anak dengan gaji yang “standar”?

(Tapi, itu kekhawatiran yang nggak terjadi. Semua dicukupkan oleh Tuhan. Makasih, Tuhan.)

Saya suka-suka aja bekerja karena dapat menyalurkan ide dan kemampuan, apalagi saat ini saya bekerja di bidang yang saya sukai. Pokoknya, bekerja serasa bermain karena inilah hobi saya. Ya, soal kerikil-kerikil tajam di dalamnya, itu persoalan biasa, kan.

Tantangan mulai muncul ketika anak lahir dan tidak ada yang menjaga. Ya, kami hanya tinggal berdua. Keluarga besar jauh semua. Jadi, harus mandiri donk. Apa-apa dilakukan berdua. Namun, karena keduanya bekerja, akhirnya anak kami pilihkan daycare yang baik.

Bersyukur (lagi), si kecil betah di sana. Sejak usia 3 bulan sampai sekarang nggak pindah-pindah. Bahkan, kami merasa memiliki keluarga baru. Anak-anak lain saya anggap seperti anak-anak saya juga. Para bu guru menjadi keluarga dan penolong yang peduli pada W. Bahkan, kepedulian mereka seakan-akan melebihi saya karena mereka hampir sepanjang hari bersama dengan W.

Masalah utamanya justru adalah karena saya menjadi kangen banget sama anak yang semakin menggemaskan ini. Pengennya uyel-uyel pipinya tiap saat (meskipun itu hanya mimpi kalau anaknya sudah badmood).

Apalah daya, hm, perlu sabar dulu aja supaya kondisi cukup memungkinkan bagi kami. Karena, ada mimpi lain yang ingin diwujudkan. Mungkin ada yang bilang: ini waktu yang tepat, kapan lagi? Pengennya sih begitu. Tapi yang ditunggu ini juga tak kalah penting.

Soal pertanyaan di judul tersebut, hehe, mungkin banyak ibu-ibu yang berbeda pendapat. Apa pun pendapatnya, tak perlu saling menghakimi. Banyak kok ibu-ibu bekerja yang ingin menjadi ibu rumah tangga dan ibu rumah tangga ingin menjadi ibu bekerja. Hanya saja, suka gengsi mau bilang demikian karena takut dianggap salah menentukan jalan hidup.

Bagaimana pun, yang dilakukan ibu adalah yang terbaik untuk anak dan keluarga. Soal caranya, mari serahkan pada masing-masing orang. Belum tentu, metode atau prinsip yang sesuai untuk kita, bisa diterapkan pada orang lain. Jadi, tak perlulah merasa lebih baik atau justru merasa lebih buruk. Menjalani kehidupan sendiri tanpa harus pusing dengan pandangan orang lain jauh lebih menyenangkan, kok.

Uncategorized

Menjadi Ibu, Menjadi Pembelajar

Halo, ketemu lagi!

Setelah saya menghilang beberapa saat, hehe. Ada banyak kesibukan di luar sana dan selalu pengen kembali ke sini, tapi kok rasanya waktu sudah habis semua.

Pagi hari ini (saya nulis 04.07 WIB; setelah lembur kerjaan), akhirnya menyempatkan diri untuk coret-coret dikit. Tentu saja, ada godaan untuk berhenti nulis karena alasan perfeksionis. Tapi, segera saya tepis jauh-jauh. By the way, itu baru berhasil setelah periode “tulis-hapus” empat kali.

Saya nggak pengen menyampaikan yang berat-berat pagi ini. Meskipun ada utang untuk nulis sesuatu. Bisa nyusul, yah? Hihi. Saya cuma ingin meninggalkan jejak saja dulu.Harapannya, semoga bisa konsisten menulis secara terjadwal.

Supaya nggak basa-basi banget, saya ingin menyampaikan sedikit mengenai visi saya membangun blog ini. Apakah itu? Tak lain adalah untuk menyampaikan ide dan suara tentang profesi saya sebagai ibu. Saya–seorang introver sejati–banyak diamnya kalau bertemu orang. Terutama di tengah orang-orang yang memiliki frekuensi berbeda. Dengan menulis di sini, saya bisa menyampaikan semua pikiran saya tanpa harus memikirkan soal diterima atau tidak.

Saya juga ingin membagi pengalaman dan hal-hal yang saya ketahui. Mungkin sederhana, tetapi saya harap berguna (bagi yang belum tahu). Saya sendiri banyak berselancar di dunia maya untuk mendapatkan banyak informasi jika merasa masih belum banyak tahu. Apalagi jika baca dari blog, biasanya tulisan tersebut original (merupakan pengalaman pribadi penulis sehingga lebih mengena).

Alasan lainnya, saya ingin mendirikan sebuah “monumen” bagi perjalanan saya berkarier sebagai seorang ibu. Suatu saat kelak, ketika W sudah dewasa, saya ingin membaca ulang semua hal yang telah kami lakukan bersama. Dan semoga itu bisa memupus kerinduan pada masa lalu.

Namun, tantangan yang saya hadapi terutama adalah faktor selalu ingin segalanya sempurna. Jadi, pada beberapa situasi, saya akhirnya nggak melanjutkan tulisan (berakhir di draft, kemudian masuk trash).

Semoga saya bisa melawan itu dan terus berusaha meningkatkan kemampuan menulis supaya bisa menyampaikan ide dengan baik dan dimengerti oleh pembaca.

Nah, kalau ibu-ibu, tantangan menulisnya apa nih? Bagi pengalamannya dong…

<img src=”http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=eb1a3248129b7ee71267e2e49bc38db1cf8712b1&_host=www.ibubelajar.com/”>

Tips

Tips Mengatasi Tantrum Pada Anak

“Udah kasih aja..”, begitu biasanya ucapan yang keluar dari mulut si emak maupun si bapak ketika anak mulai merengek karena menginginkan sesuatu. Takutnya, rengekan tersebut berubah menjadi teriakan histeris. Kan malu!

Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya dialami oleh anak-anak. Perilaku tantrum pada anak tampak dalam bentuk merengek, menangis, berteriak, melemparkan sesuatu (atau bahkan dirinya sendiri), berguling-guling, dan sebagainya. Bahasa planetnya, “ngamuk“. Tantrum biasanya kambuh jika keinginan anak tidak dipenuhi oleh orangtuanya.

***

W mulai menunjukkan gejala tantrum beberapa minggu belakangan. Polanya selalu sama. Ia menginginkan sesuatu (sebuah benda atau melakukan sesuatu), ia merengek, ia menangis, ia berteriak, ia merebahkan badannya ke depan, hingga keinginannya terkabul.

Awalnya, kami berusaha memenuhi semua keinginan tersebut. Apalagi kalau pulang kerja, capek, dan masih dibombardir dengan teriakan histeris. Aduh, nyerah deh! “Udah kasih aja,” biasanya itu kalimat sakti yang sanggup membuat W tersenyum manis kembali. Aih.

Namun, lama-kelamaan, permintaannya kadang nggak bisa dipenuhi. Misalnya, ia bersikukuh ingin ngubek-ubek piring makannya padahal kami sedang terburu-buru mau pergi. Atau, ketika di minimarket, ia berkeras membeli permen kesukaannya hanya untuk dipegang–padahal di rumah masih ada beberapa. Boros lo, Nak!

***

Jika anak selalu dituruti kemauannya, dampaknya di masa depan bisa negatif. Anak akan egois, tidak mau berbagi, tidak mau mengalah, suka memaksa, dan sebagainya. Serem banget! 

Karena itu, sebagai ibu, saya berusaha untuk mencari tahu bagaimana cara menghadapi perilaku tantrum tersebut dengan jurus yang tepat. Berikut beberapa tips yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.

  1. Coba alihkan perhatiannya. Misalnya, jika ia menunjuk sesuatu dan bersikeras menginginkannya, ajak ia berpindah dari tempat itu. Keluarlah dari minimarket atau rumah, tunjukkan sesuatu yang menarik.
  2. Ajak ia berbicara. Untuk kasus W (usia 15 bulan), ia memang belum bisa mengatakan apa yang ada di hatinya dengan sempurna. Namun, ia bisa mendengar dengan baik. Sampaikan alasan  dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia bisa jadi masih akan menangis, tetapi setidaknya ia tahu mengapa dilarang.
  3. Berikan ciuman dan pelukan. Kita semua pasti tahu kan, betapa ajaib kedua hal ini untuk meluluhkan hati. Ajaklah ia bercanda dan hujani dengan ciuman.
  4. Memberi waktu padanya untuk menenangkan diri. Ini pernah saya coba, tapi hasilnya tangisannya semakin menggebu. Akhirnya ya nyerah juga. Catatan: saya yang nyerah, bukan anaknya. Mungkin saya harus lebih “tega” ya.
  5. Pujilah ia jika sudah berhasil mengatasi emosinya.
  6. Tetap sabar. Jika sedang lelah, mintalah pasangan untuk menjaga anak selama periode tantrum.

Dont’s:

  1. Jangan berteriak atau meninggikan suara untuk menenangkan anak. Bukan semakin tenang, anak justru akan membalas aksi tersebut.
  2. Hindari benda-benda yang tajam atau berbahaya di sekitar anak.
  3. Jangan memukul anak.
  4. Jangan merayu dengan imbalan karena ia akan melakukannya lain kali karena tahu akan mendapatkan sesuatu.
  5. Yang lebih penting, jangan mengabulkan permintaan anak hanya karena merasa malu. Ini adalah motivasi yang salah dan akan berdampak buruk pada anak kelak.

Kenali Penyebab Tantrum

Setidaknya, ada 2 jenis tantrum yang dialami oleh anak. Pertama, tantrum frustrasi. Ini adalah jenis tantrum yang terjadi pada anak karena tidak kunjung bisa melakukan sesuatu. Kegagalan ini membuatnya frustrasi dan marah. W sering mengalami hal ini. Misalnya, ia ingin memasukkan sebuah benda berukuran besar ke dalam botol. Karena mulut botol kecil, tentu saja ia gagal terus. Akhirnya, ia melempar semuanya ke segala arah.

Jenis tantrum kedua adalah tantrum manipulatif. Ini adalah tantrum yang terjadi pada anak karena ia ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak diperbolehkan. Biasanya, anak tidak akan berhenti ngamuk sebelum keinginannya terpenuhi.

Jadi, itulah seluk-beluk tantrum yang saya ketahui. Yah, saya tahu, informasi ini masih sangat sedikit dan belum lengkap. Semoga seiring dengan waktu saya bisa meng-update hasil praktik saya.

Pernah punya pengalaman soal tantrum juga, Bu?

Masakan

Bola-Bola Nasi, Andalan Ibu untuk GTM

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh para ibu yang memiliki balita adalah GTM atau Gerakan Tutup Mulut. Istilahnya sih keren, tapiii.. kenyataannya bikin hati sedih sekaligus gemes.

Mbok makan, to, Nak. Ibu aja tanpa disuruh makannya lahap. Ups.

Untungnya, W mengalami fase GTM yang singkat (setidaknya begitu karena sekarang kerjaannya makan terus). Paling tahan, seharian saja ia nggeleng-nggeleng kalau liat makanan. Besoknya udah “lemah” ketika disodorin makanan.

Pernah juga waktu awal-awal MPASI ia sama sekali nggak doyan masakan ibunya (karena ibunya nggak pinter masak). Tapi, masa itu terselamatkan karena ia setiap hari sekolah dan di sekolah sudah tersedia makanan, mulai dari sarapan hingga makan sore.

Lama-kelamaan W mulai menyesuaikan diri dan mau makan di rumah, baik masakan lengkap (sayur, kaldu, dan lauk) maupun sekadar buat ngganjel perut. Jangan tanya menunya apa ya, nanti ada yang nyemprit hehehe.

Nah, ketika W GTM itu, saya nggak terlalu khawatir, cuma kasian aja. Kemungkinan besar, giginya sedang tumbuh. Atau ia mungkin lagi bosen aja. Iseng-iseng, si ibu yang nggak pinter masak ini googling dan nemuin salah satu resep yang mudah dieksekusi. Judulnya: Bola-bola nasi. Scroll ke bawah, eh kok bahan-bahannya sederhana. Ya udah, cus coba dimasak.

Bola-Bola Nasi Plus Wortel, Ayam, dan Keju (+1 year)

Bahan-bahan:

  • 2 sendok nasi
  • wortel secukupnya, dipotong kecil-kecil
  • sayuran lain (boleh ditambahkan)
  • bawang merah dan bawang putih secukupnya dihaluskan
  • garam secukupnya
  • 1 kuning telur
  • ayam cincang (saya pakai ayam goreng lalu disuwir-suwir)
  • keju
  • tepung roti

Cara Membuat:

  • Tumis bawang merah dan bawang putih serta wortel dan sayuran lain.
  • Beri sedikit garam.
  • Campurkan nasi, kuning telur, ayam cincang, keju ke wadah bersama tumisan bumbu tersebut.
  • Bentuk jadi bola-bola lalu gulingkan di tepung roti.
  • Goreng di minyak yang panas hingga berwarna kekuningan

Nah, gampang sekali, bukan? Meskipun hasilnya agak kurang mantep karena beberapa hancur saat dipindahkan, W ternyata sukakkk lo! Dia berhasil menghabiskan 2 bola nasi besar. Bagi saya, itu prestasi mengingat seharian anaknya sama sekali nggak mau makan.

Belakangan sih, saya coba nyari lagi resep lain. Ternyata, akan lebih baik jika adonan bola juga dibaluri dengan putih telur. Setelah itu, disimpan di freezer selama beberapa saat.

Resep ini memang sederhana, tetapi saya bangga syekali bisa membuatnya sekaligus disukai oleh anak lanang. Yes!

Ini dia detik-detik kebanggaan seorang ibu memuncak. 😀 😀 😀

Tumbuh Kembang

Tumbuh Kembang Balita 15 Bulan

Bukan hanya para jomlo, ibu-ibu yang memiliki balita juga rentan mengalami “kzl tingkat tinggi” karena pertanyaan iseng orang lain. Salah satu contohnya, ketika ada yang melontarkan pertanyaan retoris, “Lo, Dedek belum bisa jalan?”

Sebenarnya, saya ingin menjawab pertanyaan semacam ini dengan penjelasan yang panjang lebar dan ngabisin waktu. Tapi, terkadang saya nggak se-selo itu. Selain itu, yang nanya juga biasanya hanya sekadar nanya–ketika ketemu sebentar di sebuah acara, misalnya–sehingga ya udahlah, saya jawab saja dengan anggukan dan senyum ringan.

Ya, W memang masih belum bisa berjalan meskipun saat ini usianya telah 15 bulan. Riwayatnya panjang. Mulai dari keterlambatan untuk tengkurap, terapi, lalu belajar berdiri. Bahkan, ia belum bisa duduk sendiri (dari kondisi tidur).

Kalau dibilang khawatir, jelas dong. Orangtua mana yang nggak ingin tumbuh kembang anaknya lancar kayak lagi berkendara di jalan tol. Maunya sih, nggak ada halangan apa pun. Usia segini udah bisa segini, lalu segini udah bisa segini. Tenang rasanya hati ini hehehe.

Kenyataan berkata lain. Kami memang diharuskan untuk tabah mengajari W untuk mau dan berani berdiri, berjalan, bahkan duduk sendiri.

Namun, selain keterlambatan di bagian motorik, W mengalami perkembangan–yang saya anggap cukup pesat–di bagian lain. Berikut di antaranya:

  1. Ia sudah cukup lancar mengucapkan beberapa kosa kata. Mulai dari iya, udah, jatuh, topi, kereta, cicak, dan sebagainya. Meskipun pengucapannya belum sempurna, maknanya sudah lumayan bisa dimengerti.
  2. Ia bisa menirukan apa yang dilakukan orang di sekitarnya setelah beberapa kali diajarin atau beberapa kali melihat. Misalnya, ia meniru ayahnya yang melarang dengan mengatakan, “No, no, no!” sambil menggoyangkan telunjuk dan menggelengkan kepala.
  3. Ia merespons cepat kalau mendengar lagu. Misalnya, “Topi Saya Bundar”. Pada saat kata “topi” diucapkan, ia langsung memegang kepala. Saat mendengar musik, ia menggoyang-goyangkan badan.
  4. Ia mau bernyanyi atau tepatnya bersenandung mengikuti suara ibu meskipun nadanya tidak beraturan.
  5. Ia sudah bisa menyuapkan makanan ke mulut menggunakan sendok meskipun masih belepotan.
  6. Ia bisa melanjutkan aba-aba menghitung, “Satu, dua, ti…ga”
  7. Ia merespons dengan baik jika diminta untuk “Salim”. Ia langsung mengulurkan tangan dan refleks mencium tangan tersebut.
  8. Ia merespons dengan baik jika diminta untuk, “Sayang, dong!”. Ia langsung mencium pipi sambil mengeluarkan bunyi, “Muahhh”.
  9. Ia sudah bisa duduk dengan tegak, menyandar (di perut ayah atau ibunya) lalu tegak lagi.
  10. Ia bisa ngesot di lantai menggunakan kedua pahanya. Jaraknya jauh dan cukup cepat.
  11. Ia bisa memegang sesuatu dengan sempurna serta memungut benda-benda kecil.
  12. Ia makan dengan lahap dan sudah bisa makan dengan tekstur makanan orang dewasa.
  13. Ia merespons orang yang tersenyum padanya (kalau sedang tidak mengantuk atau rewel).
  14. Ia merespons ketika dipanggil dan mau sesekali mengikuti arahan.
  15. Ia senang melihat dirinya di rekaman video dan tersenyum melihat tingkahnya sendiri.
  16. Ia suka bermain umpet-umpetan dan kaget sendiri.
  17. Ia mengerti kalau disuruh “Bobok” dengan merebahkan badan di bantal.

Demikian perkembangan W saat berusia 15 bulan.

Nah, menurut beberapa artikel yang saya baca, sebagian besar sudah sesuai dengan yang seharusnya, khususnya untuk kemampuan verbal dan kemampuan sosialnya. Good job, W! Sekarang, PR kita adalah untuk berani melangkahkan kaki supaya bisa berjalan seperti anak-anak lain.

Saya sendiri tidak menuntutnya untuk harus mencapai ini dan itu sesuai keinginan saya. Pasti ada waktunya sendiri bagi dia untuk akhirnya bisa berjalan. Meskipun demikian, tanggung jawab saya adalah mempelajari perkembangannya dan siap sedia jika sudah ada warning untuk melakukan terapi.

Menurut pengalaman saya, terapi bukanlah hal yang buruk. Kami telah melakukannya 3 bulan saat W berusia 6 bulan. Hasilnya, ia bisa tengkurap sendiri dan mengejar sedikit demi sedikit ketertinggalannya. Harapan saya sih, ia bisa berjalan tanpa harus menjalani terapi lagi.

Apakah buk-ibuk pernah mengalami pengalaman serupa soal keterlambatan tumbuh kembang anak? Bagaimana mengatasinya? Sering risih juga nggak kalau ditanya orang lain perihal itu? Bagi pengalamannya, donggg…