BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

5 Hal yang Menciptakan Kebahagiaan

Orang-orang yang pandai bersyukur adalah orang-orang yang paling kaya di antara yang lain. Bukan soal berapa harta yang dimiliki, tetapi bagaimana dapat merasa cukup pada apa yang dimiliki saat ini.

Saya sering membaca kalimat itu. Saya mengamininya. Coba bayangkan, andai kita memiliki banyak uang, tetapi selalu mengeluh tentang berbagai hal, kita akan selalu merasa paling sengsara.

Berbeda dengan orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan keikhlasan dan penerimaan, apa pun yang dihadapi (bahkan masalah) bisa menjadi “harta”. Orang-orang inilah yang sebenarnya suka bikin iri.

Karena itu, saya selalu menantang diri sendiri untuk selalu bersyukur apa pun yang terjadi. Nah, saya ingin berbagi mengenai beberapa hal sederhana yang membuat saya merasa lebih bahagia.

1. Melihat anak sehat

Ini adalah kebahagiaan yang paling sederhana dan tinggi nilainya di mata saya. Sebagai seorang ibu, yang paling utama bagi saya adalah anak. Saya melakukan apa pun untuk membuatnya senang, sehat, dan tumbuh dengan baik.

Beberapa waktu yang lalu, W sempat sakit beruntun. Fyuh, itu bikin saya bener-bener kehabisan tenaga. Tapi, bersyukur tetap kok. Karena banyak teman yang sangat peduli, menanyakan keadaan W, mendoakan, dan menguatkan.

2.Berkumpul bersama keluarga

Selanjutnya, kebahagiaan sederhana lainnya adalah dapat berkumpul bersama keluarga kecil saya. Entah kami hanya diam di rumah atau main ke mal terdekat, intinya adalah bersama. Itu sudah cukup membuat bahagia.

Sayangnya, kami hanya libur satu hari saja dalam seminggu. Dan rasanya itu nggak cukup untuk kebersamaan. Mimpi saya, suatu hari kami memiliki lebih banyak waktu untuk bersama-sama sebagai keluarga.

3.Menulis di blog

Ini adalah kebahagiaan pribadi saya. Karena selalu dipenuhi jadwal untuk menulis artikel, menulis di blog sendiri  bagi saya adalah suatu kemewahan. Saya bisa berkreasi dengan bebas, menulis apa yang saya ingin tulis.

Pengennya sih, tahun depan saya memiliki satu waktu khusus untuk menulis di blog. Ini semacam me time yang harus tersedia. Selama ini, saya sempat mengabaikan itu dan rasanya kok jadi cepat merasa lelah.

4. Menonton Film

Kebahagiaan sederhana lainnya versi ibu kayak saya adalah menonton film. Bukan di televisi atau PC, tapi menggunakan ponsel OPPO. Karena layarnya lumayan lebar, saya cukup puas. Selain itu, notifikasi juga tidak tertutup atau membuat film terhenti. Saya bisa langsung membalas tanpa harus berhenti menonton.

Menonton lewat gadget seperti ini sangat praktis bagi saya. Ketika sedang menunggu atau memiliki waktu 5 menit saja, saya bisa melanjutkan menonton serial yang saya sukai. Saya memilih iflix sebagai layanan yang menyediakan sejumlah film.

Opsi ini baru saya nikmati setelah beberapa waktu yang lalu. Awalnya coba-coba saja tapi akhirnya saya tahu bahwa inilah cara paling ideal untuk saat ini dibandingkan harus ke bioskop.

5.Bekerja

Hehehe. Iya, saya senang bisa bekerja, memiliki pekerjaan, melakukan sesuatu untuk mendapatkan pemasukan. Ketika ada job, saya selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Kalau pun ada kendala, itu adalah karena keadaan yang tidak bisa dikendalikan.

Bekerja bagi saya bukan hanya soal mendapatkan uang. Tetapi, melakukan sesuatu merupakan semacam insting atau naluri orang tua. Ketika saya bekerja, saya bisa menghasilkan uang, dan saya akan memberikan yang terbaik untuk anak. Siklusnya gitu aja.

Jadi, inilah beberapa kebahagiaan sederhana yang ingin selalu saya ciptakan setiap hari. Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk menikmati kebahagiaan versi masing-masing, ya.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

5 Produk Ini Selalu Jadi Andalan Setiap Hari

Meskipun bukan tipe wanita yang suka dandan, saya sebisa mungkin memastikan penampilan tetap rapi. Untungnya, Si Kecil sekarang sudah agak mandiri, Ibu bisa sedikit bersenang-senang..

Saya tidak mengikuti perkembangan kosmetik terbaru–jujur saja. Bahkan, kosmetik yang diiklankan di TV juga tidak. Namun, sebagai andalan setiap hari, dan tentu saja saya puas dengan hasilnya, adalah 5 benda ini:

1.Citra Pearly White UV Essence Cream Facial Moisturizer

Langkah pertama yang saya lakukan saat bersiap-siap ke tempat kerja biasanya adalah mengaplikasikan krim wajah ini. Saya baru saja menggunakan merek Citra untuk krim wajah sekitar 2-3 bulan. Hasilnya? Saya lebih suka dibandingkan krim wajah yang sebelumnya.

Salah satu yang bikin beda adalah wadahnya yang terbuat dari kaca dengan tutup warna pink. Tampaknya lebih elegan aja. Krimnya juga menurut saya sangat ringan dan tidak bikin lengket di wajah, juga tidak bikin kering. Selama menggunakan Citra, rasanya tampilan wajah lebih segar dan tidak berminyak.

2. Everyday Luminous Face Powder Wardah

Setelah itu, saya menggunakan bedak tabur dari Wardah. Saya belinya bareng-bareng teman waktu ada promo Sale Stock beberapa bulan lalu. Awalnya sih iseng saja karena saya biasanya cuma mengaplikasikan bedak bayi untuk wajah.

Eh, ternyata setelah beberapa lama, saya benar-benar merasa cocok. Dipadu dengan krim wajah Citra, bedak tabur ini bisa bikin wajah tampak mulus. Dan, seperti bedak tabur pada umumnya, kulit berminyak menjadi lebih netral. Saya juga tidak bermasalah dengan komedo sesering dulu ketika menggunakan bedak padat.

Enaknya, ketika diaplikasikan di wajah, bedak tabur ini tampak menyatu, wajah tidak terlihat lebih terang daripada leher, pokoknya pas aja.

3. Lipstik Purbasari No 88 Amethycs

Untuk bibir, saya menggunakan lipstik Purbasari dengan warna agak merah-oranye. Lipstik Purbasari cukup pas untuk saya karena lembut. Kebetulan, warna yang saya pilih juga tidak mencolok banget sehingga pede aja dipakai setiap hari.

Namun, saya selalu memastikan supaya bibir dalam kondisi bersih, bebas dari masalah seperti terkelupas. Caranya: usap bibir dengan handuk atau kain basah. Selain itu, menggunakan madu untuk bibir bisa bikin lebih halus dan lembut.

Nah, kalau sudah begini, pake lipstik pun lebih gampang dan hasilnya lebih oke.

4. Citra Pearly White UV Hand & Body Lotion

Merek Citra juga saya gunakan untuk lotion kulit. Ini sih sudah langganan sejak dahulu, bahkan warisan dari Mama saya. Yang saya suka dari Citra adalah karena wangiiii.. dan rasanya mengingatkan saya akan masa kecil. Hmmm. Bukan hanya itu, di kulit pun cocok dan tidak terasa lengket.

Sayangnya, saya tipe orang yang tidak telaten kalau soal kulit. Kadang-kadang, saya suka lupa menggunakan lotion–atau tidak sempat. Seringnya beli, tapi biasanya tidak habis.

5. Garnier Micellar Cleansing Water

Andalan terakhir saya adalah cleansing water ini. Saya beli ini karena ingin lebih baik dalam merawat kulit wajah. Pengennya, tiap pulang kerja saya rajin membersihkan muka dari sisa-sisa makeup dan debu jalanan. Eh, apa mau dikata, seringnya kelewatan huhu.

Meskipun demikian, saya bersyukur dengan kehadiran cleansing water ini, membersihkan wajah menjadi lebih praktis. Hanya perlu menggunakan kapas, oles dikit, dan langsung bersih.

Nah, inilah 5 benda andalan yang sudah cukup membuat saya pede berangkat kerja setiap hari. Minimalis banget, kan?

Bagaimana dengan kamu? Suka yang minimalis atau justru punya peralatan lengkap?

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Kenangan Masa Kecil Yang Tak Terlupakan

Siapa yang tidak pernah terkenang masa lalu? Pasti ada hal-hal tertentu yang selalu bikin kita pengen kembali lagi ke sana…

Saya bersyukur karena memiliki kenangan masa kecil yang menyenangkan. Ya, saya bahagia tumbuh di rumah sendiri bersama kedua orang tua dan satu saudara laki-laki.

Ada beberapa hal yang masih terpatri di ingatan saya tentang masa kecil. Sebagai cara untuk mengenang, saya akan menulis beberapa hal itu.

1.Rambut panjang

Ya, satu hal yang saya ingat waktu kecil adalah rambut yang selalu panjang. Pasalnya, Bapak tidak pernah mengizinkan jika rambut saya dipotong. Bahkan, menurut kabar, rambut saya ini adalah rambut sejak lahir, jadi belum pernah dicukur. Alasannya apa, saya juga sampai sekarang tidak tahu..

Pada saat kecil sampai SD, rambut saya bisa sampai sepinggang. Ini adalah semacam “titah” dari Bapak. Katanya, anak perempuan akan lebih cantik jika rambutnya panjang. Haha. Saya sih menurut saja dan menganggap itu adalah bagian dari perhatian Bapak.

2. Anak Bapak

Banyak yang bilang, anak perempuan lebih dekat dengan ayah. Bener banget. Waktu kecil, saya dekat banget dengan Bapak. Bahkan, saya ingat, sering diajak ke mana-mana sama Bapak, bertemu dengan rekan-rekan kerja beliau.

Yah, tapi sedikit menyesal karena semakin lama, hubungan kami semakin renggang. Huhu. Mungkin karena saya akhirnya memutuskan untuk merantau. Telepon dan video call tampaknya belum mampu menyambung kembali keakraban yang saya rasakan semasa kecil.

3. Suka Baca Buku

Nah, ini dia hal yang tak pernah saya lupakan. Bahwa, minat membaca saya terbangun sejak di rumah. Yang saya ingat, Bapak pernah membawa pulang sekardus besar buku-buku. Bukan untuk saya sih, cuma mampir saja sebelum dibawa ke tempat yang seharusnya.

Sayangnya, di tanah asal saya, toko buku tidak ada. Ada yang jual buku, tapi langka banget. Tapi majalah masih ada. Jadi, saya rajin beli Bobo.

Setelah masuk SMP, lumayan enak karena ada perpustakaan. Meskipun buku-bukunya ya gitu deh hehe.

4. Naik Sepeda Sendiri 8 Kilo

Tahu nggak sih kalau di tempat asal saya, angkutan umum sangat jarang. Udah gitu, kota berjarak 8 kilo dari rumah saya. Itu pun pulangnya harus menanjak gitu. Rumah saya ada di ketinggian haha.

Nah, waktu kecil saya (sekitar kelas 5 SD) saya ikut les bahasa inggris di kota bersama abang saya sih. Kami naik sepeda dari rumah. Bayangkan, 8 kilo. Tapi, waktu itu biasa-biasa aja sih. Karena tetangga-tetangga kampung saya lebih capek, mereka harus berjalan kaki berkilo-kilo untuk berangkat sekolah.

Hingga kelas 1 SMP saya naik sepeda ke sekolah di kota. Pulangnya pukul 14.00 setiap hari. Sekitar 2 kilo sebelum sampai rumah, saya harus nuntun sepeda karena menanjak. Nggak kuat, cyin.

Nah, itulah beberapa kenangan masa kecil yang masih saya ingat sampai sekarang. Saya berharap juga bisa memberikan kenangan manis kepada anak saya nanti.

Kalau kamu, apa yang paling berkesan pada masa kecil?

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

5 Keinginan yang Belum Tercapai

Siapa yang tidak punya keinginan? Saya rasa, semua orang pasti pengen sesuatu dan mencari cara untuk mewujudkannya. Tahun Baru bisa menjadi salah satu momen untuk memulai kembali..

Setiap tahun, saya selalu membuat resolusi untuk diri sendiri. Dan jujur saja, tiap tahun tidak semuanya tercapai. Namun, ada pula sebagian yang tercapai. Itulah yang membuat saya nggak pernah kapok untuk membuat resolusi.

Tahun 2018 ini, ada beberapa resolusi yang saya buat. Beberapa belum benar-benar kesampaian. Berikut 5 di antaranya:

1.Traveling lebih sering

Awal tahun, saya memiliki keinginan supaya saya dan keluarga bisa traveling minimal sekali dalam sebulan. Eits, ini bukan traveling mewah harus ke luar kota atau luar negeri gitu ya… Tapi, bepergian, gitu aja.

Apalagi karena W sekarang sudah bisa jalan lancar dan sangat senang bepergian naik kendaraan. Beberapa bulan terakhir ini, rasanya kok sibuk banget. Bahkan sekadar untuk mengunjungi tempat wisata terdekat, kami selalu tidak sempat.

Tahun depan, saya masih tetap pengen ini menjadi salah satu resolusi saya. Mungkin harus direncanakan dengan baik ya.

2.Nulis di Media Cetak

Ah, ini dia keinginan yang tahun ini belum tercapai juga. Padahal, saya udah menjaring informasi sebanyak mungkin. Tapi rasanya kok tidak sempat untuk menulis sebenar-benarnya. Saking banyaknya deadline nulis konten.

Bagi saya, menulis di media cetak masih merupakan kebanggaan dan kepuasan tersendiri. Entah kenapa ya. Hehe. Meskipun zaman digital sudah di depan mata, media cetak masih menjadi favorit saya.

Dan, beberapa hari terakhir ini, saya langganan Bobo untuk W, siapa tahu mulai terdorong lagi untuk mengirimkan tulisan ke sana. Haha.

3.Belajar SEO dan Copywriting

Ini adalah cita-cita saya sejak tahun lalu. Saya merasa harus terus menambah ilmu soal kedua hal ini karena saya suka aja. Namun, kembali lagi karena alasan yang sama. Belajar keduanya kok belum sempat.

Ke depan, saya mungkin harus merancang waktu khusus supaya bisa melakukan keduanya. Menurut saya, ini adalah investasi yang berharga.

4. Target Baca Buku

Tahun 2018, saya menargetkan untuk membeli dan membaca buku minimal 12 buku setahun. Apa daya, hal itu belum tercapai sampai sekarang. Kalau tidak salah, saya membeli sampai 3 buku di 3 bulan pertama. Lalu trus lupa. Hehe.

Saya tetap masih ingin mewujudkan hal itu suatu saat. Ingin lebih banyak membaca buku-buku berkualitas. Supaya saya juga bisa menularkan kebiasaan baik ini kepada W.

5. Usaha Sendiri

Nah, hal terakhir ini merupakan keinginan yang sudah terpendam sejak dulu. Saya ingin memiliki sebuah usaha atau bisnis yang bisa menopang keluarga. Beberapa ide pernah mampir di benak, tetapi kok selalu mentah. Mungkin karena saya tidak terlalu banyak memberi waktu untuk memikirkannya.

Membangun usaha sendiri memang tidak mudah, saya tahu itu. Tapi, kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Meskipun tahun ini gagal, harus selalu ada harapan untuk tahun depan. Lebih banyak belajar tentu saja.

Nah, inilah 5 keinginan dari antara sekian banyak keinginan yang belum tercapai hingga saat ini. Semoga dengan momen pergantian tahun, ada dorongan semangat untuk memperbaiki strategi, supaya bisa kembali meraihnya satu demi satu.

Ayo, semangat!

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Perlukah Kita Menyesal?

Tema kali ini adalah tentang penyesalan. Saya tipe orang yang “tidak suka” menyesal, meskipun sering juga menyesal karena suatu hal. Bagi saya, itu adalah sebuah kegagalan.

Ada beberapa hal dalam hidup kita yang tidak berjalan dengan mulus. Entah karena salah melangkah atau bagaimana. Yang saya tahu, penyesalan terjadi karena kita gagal dengan sesuatu.

Persiapan Itu Penting

Prinsip saya, kita tidak akan sampai di titik penyesalan jika telah mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Contohnya nih, kalau hujan, kita tentu harus mempersiapkan payung atau jas hujan. Jadi, kita nggak akan bilang, “Duh, nyesel nih kenapa tadi nggak bawa payung, ya?”

Nah, kadang-kadang ada orang yang menyesal karena abai pada persiapan. Dan saya paling males kalau sudah memperingatkan seseorang akan sesuatu–lalu diabaikan–kemudian menyesal.

Rasanya tuh pengen bilang, “Kan sudah dibilangin…”

Oleh karena itu, untuk menghindari penyesalan, saya selalu berusaha untuk melakukan persiapan sebaik mungkin sebelum melakukan atau menghadapi sesuatu. Biasanya, kalau usaha udah maksimal, entah hasilnya seperti apa, saya nggak akan sampai menyesal. Kecewa pasti, tapi menyesal tidak.

Tak Perlu Menyesal dengan Keputusan Sendiri

Saya suka heran kalau ada orang yang menyesal karena keputusannya sendiri. Bukankah hal itu dilakukan setelah melewati pertimbangan yang matang? Tentu, ada risiko atas setiap keputusan. Itu tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, jika sudah tahu risikonya, dan tetap diambil, berarti tidak perlu menyesal.

Berbeda halnya jika kita dihadapkan pada sesuatu yang bukan merupakan pilihan, dipaksa, atau terpaksa. Tentunya, kita bisa menyesali keadaan, tapi bukan diri sendiri.

Langkah Penyesalan

Saya rasa, setelah melewati banyak hal, yang paling penting dari segalanya adalah langkah yang diambil setelah mengalami penyesalan. Apa gunanya menyesal jika ternyata hanya sampai di situ.

Berharganya penyesalan adalah kalau seseorang tiba pada keinginan untuk memperbaiki diri dan melakukan sesuatu yang berbeda.

Jika hanya berwujud kekecewaan tanpa arti atau kemarahan pada diri sendiri maupun orang lain, hal itu hanya akan merusak diri sendiri. Jadi, jadikan penyesalan sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik.

Salah satu hal yang saya sesali akhir-akhir ini adalah dalam merawat W. Ada banyak ketidaksempurnaan yang saya lakukan sebagai seorang ibu. Pasalnya macem-macem, mungkin karena saya tidak tahu, terlalu sibuk, atau menganggap enteng.

Namun, saya berusaha untuk terus banyak belajar. Saya selalu ingin berbuat lebih baik hari demi hari untuk membuat dia tumbuh menjadi lebih baik ke depan. Saya harap ini bukan keinginan yang mustahil.

Sekali lagi, dengan persiapan yang matang dan kesadaran atas setiap keputusan yang diambil, saya ingin menghalau setiap penyesalan tersebut.

Bagaimana dengan kamu? Pernah menyesal atau tidak?

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Mengapa Masih Menjadi Part Time Blogger

Saya terjun ke dunia blogging sejak lama. Namun, baru satu dua tahun terakhir ini bisa menghasilkan dari blog. Itu juga belum seberapa. Sebagai part time blogger, saya memang harus banyak belajar.

Ada alasan klasik mengapa saya masih menjadi part time blogger hingga saat ini, yaitu pekerjaan utama sebagai karyawan. Alasan lainnya mungkin lebih pada belum berani untuk sepenuhnya menggantungkan hidup pada dunia ini.

Tentu saja, itu dipicu oleh banyak faktor. Yang paling utama sih, karena belum siap aja. Saya ingin suatu hari bisa menjadi full time blogger, tapi persiapan bagi saya adalah hal yang utama, supaya tidak menyesal karena salah ambil keputusan.

Nah, karena saya sekarang dalam keadaan sebagai part time blogger, setidaknya ada beberapa hal yang bisa saya nikmati. Berikut di antaranya:

Pertama, saya dapat menikmati kegiatan menulis sebagai me time. Sesuatu yang membahagiakan. Sebuah kesempatan untuk melepaskan kepenatan rutinitas. Karena tidak ada tuntutan untuk harus mengikuti ketentuan ini dan itu, saya lebih bebas merefleksikan diri.

Kedua, menjadi part time blogger akan mendorong saya untuk lebih banyak belajar dari para senior. Wah, kalau melihat para blogger lain, saya masih bukan apa-apa. Jadi, merasa kurang layak aja disejajarkan dengan mereka. Status sebagai part time blogger adalah semacam kesempatan untuk menambah skill dulu.

Ketiga, saya masih bisa mendapatkan pemasukan tetap. Mengingat ada begitu banyak hal yang harus kami sediakan, mulai dari biaya daycare anak, mencicil rumah, biaya hidup sehari-hari, dan sebagainya. Saya mencoba untuk mensyukuri aja keadaan saya saat ini.

Ada suatu waktu, ketika saya pengen juga menjadi full time blogger, yang sepenuhnya bisa mengikuti setiap event, menghabiskan waktu untuk utak-atik blog, berjejaring dengan sesama blogger. Namun, setiap orang saya rasa memiliki pertimbangannya sendiri-sendiri. Saya salut kepada mereka yang berani mengambil pilihan itu. Dan saya berusaha untuk menikmati pilihan saya.

Baik full time blogger maupun part time blogger masih bisa bareng-bareng kok. Hal itu sudah saya rasakan, bersama teman-teman blogger hebat, saya masih bisa bertemu dan berkumpul tanpa harus membedakan mana yang hanya setengah maupun sepenuhnya.

Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk menikmati momen-momen terbaik apa pun pilihan yang kita ambil saat ini.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Berbagai Pekerjaan Rumah dengan Suami, Mengapa Tidak?

Saya bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian. Ia mau berbagi pekerjaan rumah tangga dengan saya. Bahkan, ia bisa memasak lebih enak dari saya.

Siapa bilang hanya istri yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari? Karena saya dan suami sama-sama bekerja, kami selalu berusaha untuk berbagi tugas sepulang kerja.

Biasanya, suami terlebih dahulu akan beres-beres, merendam cucian, bantu cuci piring, sementara saya menemani anak sambil melipat pakaian yang kering. Setelah suami selesai, barulah saya yang akan mencuci pakaian dan menyelesaikan semuanya.

Kami memutuskan untuk tidak memasak setiap hari karena harus bekerja, termasuk pada pagi hari. Kami memasak hanya pada hari libur saja karena ada banyak waktu luang.

Salah satu alasan pentingnya adalah karena persiapan memasak serta membereskan peralatan setelah memasak itu membutuhkan banyak waktu. Dan itu membuat kami menjadi kehabisan waktu untuk bisa menemani anak. Sebagai orang tua bekerja, yang saat ini tidak punya pilihan lain, menyediakan waktu untuk menemani anak seusai kerja adalah suatu kewajiban. Kami selalu usahakan anak tidak ditinggalkan karena sepanjang hari juga tidak bersama.

Jadi, dengan pembagian tugas seperti itu, salah satu dari kami akan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, dan salah satu yang lain akan bermain dengan anak.

Hingga saat ini, semua itu berjalan dengan baik. Meskipun ada kendala-kendala ya. Hehe. Menurut pengalaman saya, ada beberapa hal yang biasanya terjadi dalam pola pembagian ini,

1. Tidak sesuai

Saya sering kali merasa bahwa pekerjaan suami tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Soal mencuci piring misalnya, saya memiliki teknik sendiri supaya piring lebih bersih. Ya, sempat juga beberapa kali berdebat dengan suami soal itu. Namun, lama-kelamaan akhirnya saya mengalah aja. Triknya, saya nggak usah melihat suami ketika menyelesaikan tugasnya. Udah, biarkan saja ia berkreasi. Pokoknya selesai. Hehe.

2. Lebih Lama

Nah, ini suka bikin saya gregetan sih. Mungkin karena belum terbiasa aja ya. Atau saya yang selalu merasa kurang puas karena tidak mengerjakan sendiri. Entahlah. Tapi lagi-lagi tipsnya adalah berusaha menerima dan sabar. Namanya juga berbagi tugas, tidak semuanya harus seragam, baik cara mengerjakan maupun waktu pengerjaannya.

Pekerjaan yang Disukai

Nah, karena pekerjaan rumah cukup sedikit, saya rasa tidak ada hal yang terlalu berlebihan saya sukai. Bebersih rumah juga wajar saja sih, menyapu, merapikan, dan sebagainya. Itu juga tidak setiap hari kami lakukan.

Namun, pada momen-momen tertentu, saya senang melakukan pekerjaan rumah sepanjang hari. Karena saya senang jika rumah terlihat seperti “rumah” yang cantik, wangi, dan rapi. Eh, tapi nggak lama kemudian, Si Kecil udah menyebar kembali mainannya hehehe.

Saya harap setelah W bisa belajar untuk rapi, rumah kami bisa lebih tertata setiap hari.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Kegiatan Favorit Keluarga Pada Hari Libur

Sejujurnya, saya lebih senang bersantai-santai saja pada hari libur. Namun, rasanya kok sayang banget kalau tidak melakukan apa-apa.

Jika ada kesempatan, saya suka bepergian. Waktu masih berstatus pacaran dengan suami dan ketika baru-baru menikah, kami juga sempat traveling ke beberapa tempat–kebanyakan dalam kota sih hehe. Namun, setelah hamil dan W lahir, hasrat untuk bepergian kok berkurang drastis. Sibuk ngurus anak, cyin.

Nah, setelah W udah mulai bisa jalan, kami sempat pergi ke beberapa tempat di luar kota pada hari libur. Ya, membawa anak traveling itu banyak tantangannya, ya. Hehe. Namun, demi memberi pengalaman baru pada anak, dijabanin aja.

Untuk mengisi hari libur, berikut adalah beberapa kegiatan favorit yang biasa kami lakukan:

1.Bangun agak siang

Yes, bagi kami liburan itu adalah ketika bisa bangun lebih siang dari biasanya. Untuk apa? Sekadar supaya bisa bercanda bersama anak. Cium-cium pipinya yang gembul. Peluk-pelukin dia. Percayalah, meskipun belum mandi semua, rasanya lebih nyaman dengan bau bangun tidur. Buktinya, W senang banget ngendon di bawah ketiak ibunya pada saat pagi-pagi hhaha.

Menurut saya, ini adalah kesempatan berkualitas untuk membangun hubungan. Pasalnya, pada hari biasa, kami selalu diburu waktu. Kami harus bangun pagi lalu berangkat bersama. Kasihan juga, ia pasti capek. Udah seperti orang kerja aja. Jadi, saat liburlah waktu untuk bersantai, nggak harus bangun sepagi biasanya.

W biasanya akan senyum-senyum dengan mata merem. Menikmati kedekatan dengan ayah ibunya. Ini bikin dia kelihatan lebih happy. Semoga.

2. Memasak bersama

Karena hampir setiap hari kami selalu jajan di luar, pada hari liburlah kesempatan untuk memasak bersama. Masakannya sederhana aja kok. Sayur bening, tempe goreng, dan sambel. Kalau misalnya lagi ada nasi sisa semalem, bikin nasi goreng. Ini menu andalan si ibu dan pasti akan ludes dimakan.

Kesempatan memasak bersama ini sangat langka. Untungnya, W bisa diajak kompromi ya. Ia akan duduk bersama saya sambil memetik daun bayam. Lalu, tanya macem-macem tentang bahan-bahan dapur. Kalau udah bosen, barulah ia main dengan mobil-mobilnya.

Pengennya sih, kesempatan untuk memasak bersama bisa lebih banyak. Saya ingin mempersiapkan diri ke depan untuk itu.

3. Jalan-jalan ke pusat perbelanjaan

Berhubung pusat perbelanjaan yang paling dekat dari lokasi rumah adalah Transmart, tempat ini biasanya yang menjadi tujuan kami. Jarang beli apa-apa, cuma supaya bisa jalan kaki aja. Pasalnya, ke mana-mana kami udah naik kendaraan. Jarang punya kesempatan untuk olahraga.

Nah, mengelilingi pusat perbelanjaan bisa membakar kalori. Cuma, harus siap-siap aja sih. Tiap liat gerai yang menjual mainan mobil, harus tahu trik supaya W nggak lihat hehehe. Sesekali nggak apa-apa, tapi kalau berkali-kali, bisa jebol kantong ortunya.

4. Ke rumah baru

Puji Tuhan, kami akhirnya diberi kesempatan untuk memiliki rumah sendiri. Meskipun masih belum ada apa-apanya. Tiap hari libur, kami biasanya akan datang ke sana untuk melihat-lihat. Sudah bisa ditempati sih, cuma barang-barangnya belum ada. Rencananya tahun depan ini akan memindahkan sedikit demi sedikit supaya bisa dibuat tidur juga sesekali.

Nah, itulah beberapa hal yang biasanya kami lakukan pada hari libur. Jarang bepergian ke tempat wisata. Hehe. Mungkin belum waktunya aja sih. Takutnya si kecil cepat capek. Untuk sementara dihindari dulu sih sampai daya tahannya benar-benar sudah baik.

 

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

5 Film Recommended Untuk Para Ibu

Saya suka menonton film. Sayangnya, sekitar 3 tahun terakhir, waktu untuk menonton film berkurang drastis. Apalagi ke bioskop, sejak punya si kecil, blas nggak pernah nonton lagi.

Namun, sesekali saat selo, saya menyempatkan diri untuk menonton film. Meskipun biasanya nggak tuntas hahaha. Untungnya, teman kiri kanan saya di tempat kerja suka menonton film juga. Jadi, kalau ada rekomendasi film bagus, saya pasti dapat bocoran. Kalau “terdengar” bagus banget, saya biasanya intip-intip dikit.

Btw, saya tipe penonton yang nggak masalah dengan spoiler. Jadi, saya bisa menonton mulai awal, tengah, atau akhir–dan tetap bisa menikmatinya.

Nah, pada tantangan kali ini, saya akan menulis tentang film-film yang recommended untuk para ibu. Ini beberapa film yang membekas di hati, tetapi (lagi-lagi) belum sempat direview.

1. Panic Room (2002)

Ini tuh film lama banget. Kristen Stewart aja masih imut-imut gitu. Tampaknya, ia memang sudah punya bakat akting sebelum populer di film vampir ganteng.

Selain Stewart, pemeran utamanya adalah Jodie Foster. Kalau Foster sih terkenal all out banget saat memerankan tokoh yang suka bikin jantungan. Oh, ya, genre film ini lebih ke thriller dengan bumbu-bumbu dramatis.

Ceritanya, Meg Altman (Jodie Foster) adalah seorang wanita yang sudah bercerai. Ia bersama anaknya yang menderita diabetes, Sarah (Kristen Stewart), tinggal di sebuah rumah yang memiliki safe room. Ruangan ini berbentuk seperti lift, tetapi lebih lebar. Isinya juga lengkap. Namanya aja safe room, jadi memang benar-benar aman.

Suatu kali, ada 3 perampok yang membobol rumah mereka. Untungnya, mereka berhasil masuk ke safe room. Namunnn apa mau dikata, obat Sarah ketinggalan di luar. Padahal, obat itu harus disuntikkan tepat waktu.

Ya, mau nggak mau, Meg harus cari jalan supaya ia bisa keluar dari safe room, mencari obatnya, lalu kembali lagi ke dalam tanpa ketahuan. Adegan ini super menegangkan , pokoknya.

Melalui film ini, saya belajar bagaimana seorang ibu berani menghadapi ketakutan demi menyelamatkan anaknya.

Jodie Foster juga memerankan tokoh yang hampir sama di Flight Plan, ibu yang kehilangan anaknya di pesawat. Genrenya juga sama. Hanya saja, oleh orang-orang di pesawat, Foster dianggap mengalami halusinasi. Padahal mah dia memang benar-benar terbang bersama si anak di pesawat.

2. Rabbit Hole (2010)

Tahun 2014, saya pernah menulis review tentang film Rabbit Hole di blog bayangan. Judulnya Rabbit Hole, Merayakan Kehilangan di dalam Semesta Paralel.  Ini review film yang sangat membekas di hati meskipun waktu itu saya belum menikah, apalagi punya anak. Saat itu, saya juga masih rajin nulis review, baik film maupun buku hehe.

Ceritanya, Becca (Nicole Kidman) adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya karena ditabrak. Danny, sang anak, baru berusia sekitar 5 tahun. Lagi lucu-lucunya. Meskipun dari luar Becca tampak riang dan normal, sebenarnya di dalam hati ia sangat depresi.

Namun, benar kata orang. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. Setelah merenung dalam-dalam, Becca berhasil bangkit dari rasa kehilangan.

Ada salah satu filosofi penting yang disajikan melalui film ini, yaitu tentang Semesta Paralel. Ini adalah teori tentang kemungkinan serta kenyataan alternatif yang bisa saja terjadi dalam hidup ini.

Singkatnya, ada begitu banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam hidup kita. Ada banyak “aku” dan “kamu” di luar sana. Yang kita alami saat ini hanya salah satu versi dari sekian banyak kemungkinan.

Nah, untuk lebih jelasnya, silakan langsung tonton aja film bergenre drama ini. Memang alurnya agak lambat. Dijamin, pasti akan mbrebes mili. Tapi, jangan sampai ikutan murung ya.. Hehe.

3. Room (2015)

Room adalah drama independen yang dibintangi oleh Brie Larson. Larson yang berperan sebagai sosok seorang ibu bernama Joy dalam film ini berhasil menggaet penghargaan sebagai aktris terbaik di Piala Oscar. Film ini bercerita tentang seorang wanita yang disekap selama 7 tahun. Dari orang yang menyekapnya, ia hamil dan akhirnya memiliki seorang anak, Jack (Jacob Tremblay).

Di dalam ruangan penyekapan itu, ia membesarkan si anak. Bayangin aja, sejak kecil, hingga berusia 5 tahun, Jack nggak pernah melihat dunia luar. Joy mengajarkan Jack bahwa dunia itu hanyalah selebar ruangan yang mereka tinggali.

Namun, Joy tetap berniat untuk kabur dari penyekapan. Ia pun mencari akal untuk menyusupkan Jack ke luar. Saat Jack sudah di luar, di situlah mulai terlihat adegan drama yang sangat mengharukan. Untungnya, si penyekap ditangkap dan Joy bisa kembali bebas.

4.  Wonder (2017)

Saya memperoleh rekomendasi film bagus dari teman. Lucu katanya. Judulnya Wonder. Ceritanya tentang seorang seorang anak bernama Auggie (lagi lagi Jacob Tremblay) yang berusia 10 tahun dan mengalami kelainan sejak lahir. Ia telah menjalani sejumlah operasi, tetapi wajahnya masih terlihat aneh.

Ibu Auggie (Julia Roberts) mendidik anaknya di rumah dengan metode homeschooling. Namun, pada suatu titik, ia ingin si anak bisa bergaul seperti anak normal lainnya. Jadi, ia pun mendaftarkannya ke sekolah umum setempat. Tapi, itu keputusan berat. Karena wajahnya yang berbeda, Auggie kerap mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.

Dan… hati ibu mana yang tidak tersayat-sayat melihat si anak tersakiti seperti itu? Sayangnya lagi, sang ibu tidak mungkin untuk terus-menerus berada di samping Auggie. Namun, lama-kelamaan, anak laki-laki ini akhirnya berhasil mengontrol situasi dan memiliki teman.

Meskipun bikin terharu, film drama ini juga bergenre comedy. Apalagi dengan kehadiran Owen Wilson membuat suasana menjadi kocak. Perasaan penonton diaduk-aduk, antara mau menangis atau tertawa. Haha.

Saya merekomendasikan banget film ini bagi seorang ibu. Menarik banget pokoknya. Ada nilai-nilai moralnya juga.

5. Shutter Island (2010)

Saya taruh ini di bagian akhir karena mungkin agak “berbeda” dari yang sebelumnya. Namun, menurut saya film ini memiliki makna yang sangat dalam.

Film yang dibintangi Leonardo diCaprio ini bercerita tentang Teddy, seorang laki-laki yang sering mengalami mimpi buruk. Mengusung tema thriller, film ini memang cukup menegangkan. Namun, kalau nggak suka dengan film yang beralur lambat, sebaiknya abaikan rekomendasi ini hehe. Sempat nangkring di puncak box office, film ini rupanya cukup digemari.

Mengapa film iniShutter Island saya rekomendasikan untuk ditonton? Supaya waspada aja sih. Film tentang seorang wanita yang “tega” menenggelamkan ketiga anaknya ini, adalah hal paling konyol, tetapi mungkin terjadi dalam skala mikro pada siapa pun. Entah apa pun penyebabnya, mungkin baby blues akut, atau depresi yang tidak tertahankan. Akhirnya, anak menjadi korban. Ngeri..

Nah, itu 5 film recommended menurut saya. Sekarang, saya lebih suka nonton di iflix sih. Selain karena cukup lengkap, saya juga bisa menonton sebagian-sebagian (sesuai waktu yang tersedia hahaah) tanpa repot harus setel lagi. Biayanya juga terjangkau.

Oh, iya, kalau nggak suka film dan lebih suka musik, cek blog Mbak Dian untuk mendapatkan 5 rekomendasi musik yang seru untuk didengarkan.

Bagaimana dengan kamu, apa film yang paling berkesan bagimu?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 10 “5 film, musik, atau buku yang direkomendasikan”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Meskipun Penganut Minimalist Lifestyle, 5 Benda Ini Wajib Ada di Tas

Sejak beberapa tahun lalu, saya tergila-gila dengan konsep minimalist lifestyle. Rasanya, konsep itu sangat cocok dengan diri saya yang introver. Meskipun saya belum bisa sepenuhnya minimalist, setidaknya dalam beberapa hal saya mencoba menerapkannya.

Salah satunya, dalam mengelola barang bawaan. Sebagai pekerja kantoran, saya tentu harus berangkat setiap pagi ke tempat kerja. Supaya praktis, saya menggunakan tas untuk membawa beberapa keperluan harian. Mengingat tempat kerja saya nggak formal-formal banget, saya memilih menggunakan tas punggung.

Dulu, saya suka pake ransel yang gede. Iya, alasannya karena muat banyak. Lalu, rasanya juga lebih enak dibawa. Tapi, lama-kelamaan saya mulai merasa “keberatan” haha. Setelah dicek, isinya memang macem-macem. Maklum, saya tipe orang yang “persiapan banget”.

Akhirnya, saya mulai mengurangi isinya. Beberapa barang yang “sepertinya” tidak saya butuhkan, saya tinggalkan di rumah. Seiring dengan itu, saya memilih tas punggung berukuran kecil yang ringan dibawa ke mana-mana.

Lalu, apa saja barang-barang yang akhirnya tersisa di dalam tas?

1. Smartphone

Smartphone adalah barang pertama yang saya pastikan ada di dalam tas. Kebanyakan interaksi yang saya lakukan memang melalui smartphone. Jadi, kalau ketinggalan, fyuh, rasanya bingung nggak karuan wkwk.

Iya, saya memang harus belajar juga supaya nggak kecanduan. Makanya, saya biasanya menggunakan aplikasi Forest untuk bantu mengurangi penggunaan gadget dan lebih fokus pada kerjaan.

Oh, ya, selain smartphone, tentu ada charger-nya, ya. Hehehe. Tapi, biasanya sih jarang saya pakai karena baterai gadget saya pastikan penuh dulu sebelum berangkat. Saya beruntung karena OPPO keren banget dalam hal ini. Selain karena waktu untuk charging sangat cepat, baterai pun tahan lama. Jadi, nggak harus sering-sering ngecas, deh!

2. Dompet

Dompet saya sebenarnya nggak masuk dalam kategori “cantik” seperti umumnya dompet perempuan. Bahkan, cenderung murahan hahaha. Kali ini memang ada aksen bunga-bunganya, tetapi bukan itu alasan saya membelinya.

Alasannya adalah karena ukurannya cukup untuk kebutuhan saya. Ada 3 kompartemen di dalamnya, satu untuk uang tunai, satu untuk kartu-kartu, dan satu untuk kertas-kertas. Smartphone juga biasanya muat ke dalam dompet ini. Jadi, praktis banget kalau dibawa ke mana-mana tanpa harus pake tas.

3. Mouse

Iyaaaa… Saya ke mana-mana bawa mouse. HAHAHA. Karena saya memang butuh aja. Ini mouse wireless (begitu ya nyebutnya?) yang baru saja saya beli karena lebih praktis. Tinggal colokin ke laptop atau CPU, langsung deh bisa digunakan.

Pernah suatu kali mouse saya ketinggalan di rumah. Langsung kebingungan karena di kantor nggak bisa gunain komputer haha. Aneh? Hmmm. You never know.

4. Flashdisk

Ada banyak data penting yang saya simpan di dalam benda ini, terutama pekerjaan. Jadi, saya selalu bawa ke mana-mana, in case dibutuhkan.

Flashdisk saya adalah tipe yang bisa dikoneksikan di gadget. Jadi, fleksibel banget. Saya juga bisa mengerjakan tugas-tugas dan membuka data melalui smartphone atau tab jika benar-benar diperlukan.

Pengalaman aja, sih. Beberapa kali pernah kejadian ketika listrik padam. Dengan alat ini, saya masih bisa transfer data dan kirim lewat email melalui gadget.

5. Cairan Antiseptik

Benda lain yang selalu saya bawa adalah sebuah botol kecil berisi cairan antiseptik untuk tangan. Biasanya, saya pake botol semprot Antis. Saya suka karena nggak lengket dan bisa milih bau jeruk nipis atau timun hihihi.

Cairan antiseptik menurut saya praktis. Terutama jika tidak memungkinkan untuk mencuci tangan.

 

Nah, itulah 5 barang yang biasanya selalu ada di tas. Ternyata, dikit banget, ya? HAHAHA. Saya jarang bawa makeup, sisir, dkk. karena menurut saya belum terlalu dibutuhkan. Kecuali pada momen khusus yang mengharuskan saya untuk datang ke even tertentu pada sore hari.

Pernah saya lupa merapikan rambut ketika menghadiri suatu even. Untung saja, ada mbak Riana yang berkenan meminjamkannya haha. Pastinya, itu adalah salah satu benda wajib yang selalu dibawanya.

Kalau kamu, kira-kira apa barang paling “unik” yang selalu ada di tas?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 8 “Barang yang selalu ada di tas”.