BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

5 Film Recommended Untuk Para Ibu

Saya suka menonton film. Sayangnya, sekitar 3 tahun terakhir, waktu untuk menonton film berkurang drastis. Apalagi ke bioskop, sejak punya si kecil, blas nggak pernah nonton lagi.

Namun, sesekali saat selo, saya menyempatkan diri untuk menonton film. Meskipun biasanya nggak tuntas hahaha. Untungnya, teman kiri kanan saya di tempat kerja suka menonton film juga. Jadi, kalau ada rekomendasi film bagus, saya pasti dapat bocoran. Kalau “terdengar” bagus banget, saya biasanya intip-intip dikit.

Btw, saya tipe penonton yang nggak masalah dengan spoiler. Jadi, saya bisa menonton mulai awal, tengah, atau akhir–dan tetap bisa menikmatinya.

Nah, pada tantangan kali ini, saya akan menulis tentang film-film yang recommended untuk para ibu. Ini beberapa film yang membekas di hati, tetapi (lagi-lagi) belum sempat direview.

1. Panic Room (2002)

Ini tuh film lama banget. Kristen Stewart aja masih imut-imut gitu. Tampaknya, ia memang sudah punya bakat akting sebelum populer di film vampir ganteng.

Selain Stewart, pemeran utamanya adalah Jodie Foster. Kalau Foster sih terkenal all out banget saat memerankan tokoh yang suka bikin jantungan. Oh, ya, genre film ini lebih ke thriller dengan bumbu-bumbu dramatis.

Ceritanya, Meg Altman (Jodie Foster) adalah seorang wanita yang sudah bercerai. Ia bersama anaknya yang menderita diabetes, Sarah (Kristen Stewart), tinggal di sebuah rumah yang memiliki safe room. Ruangan ini berbentuk seperti lift, tetapi lebih lebar. Isinya juga lengkap. Namanya aja safe room, jadi memang benar-benar aman.

Suatu kali, ada 3 perampok yang membobol rumah mereka. Untungnya, mereka berhasil masuk ke safe room. Namunnn apa mau dikata, obat Sarah ketinggalan di luar. Padahal, obat itu harus disuntikkan tepat waktu.

Ya, mau nggak mau, Meg harus cari jalan supaya ia bisa keluar dari safe room, mencari obatnya, lalu kembali lagi ke dalam tanpa ketahuan. Adegan ini super menegangkan , pokoknya.

Melalui film ini, saya belajar bagaimana seorang ibu berani menghadapi ketakutan demi menyelamatkan anaknya.

Jodie Foster juga memerankan tokoh yang hampir sama di Flight Plan, ibu yang kehilangan anaknya di pesawat. Genrenya juga sama. Hanya saja, oleh orang-orang di pesawat, Foster dianggap mengalami halusinasi. Padahal mah dia memang benar-benar terbang bersama si anak di pesawat.

2. Rabbit Hole (2010)

Tahun 2014, saya pernah menulis review tentang film Rabbit Hole di blog bayangan. Judulnya Rabbit Hole, Merayakan Kehilangan di dalam Semesta Paralel.  Ini review film yang sangat membekas di hati meskipun waktu itu saya belum menikah, apalagi punya anak. Saat itu, saya juga masih rajin nulis review, baik film maupun buku hehe.

Ceritanya, Becca (Nicole Kidman) adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya karena ditabrak. Danny, sang anak, baru berusia sekitar 5 tahun. Lagi lucu-lucunya. Meskipun dari luar Becca tampak riang dan normal, sebenarnya di dalam hati ia sangat depresi.

Namun, benar kata orang. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. Setelah merenung dalam-dalam, Becca berhasil bangkit dari rasa kehilangan.

Ada salah satu filosofi penting yang disajikan melalui film ini, yaitu tentang Semesta Paralel. Ini adalah teori tentang kemungkinan serta kenyataan alternatif yang bisa saja terjadi dalam hidup ini.

Singkatnya, ada begitu banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam hidup kita. Ada banyak “aku” dan “kamu” di luar sana. Yang kita alami saat ini hanya salah satu versi dari sekian banyak kemungkinan.

Nah, untuk lebih jelasnya, silakan langsung tonton aja film bergenre drama ini. Memang alurnya agak lambat. Dijamin, pasti akan mbrebes mili. Tapi, jangan sampai ikutan murung ya.. Hehe.

3. Room (2015)

Room adalah drama independen yang dibintangi oleh Brie Larson. Larson yang berperan sebagai sosok seorang ibu bernama Joy dalam film ini berhasil menggaet penghargaan sebagai aktris terbaik di Piala Oscar. Film ini bercerita tentang seorang wanita yang disekap selama 7 tahun. Dari orang yang menyekapnya, ia hamil dan akhirnya memiliki seorang anak, Jack (Jacob Tremblay).

Di dalam ruangan penyekapan itu, ia membesarkan si anak. Bayangin aja, sejak kecil, hingga berusia 5 tahun, Jack nggak pernah melihat dunia luar. Joy mengajarkan Jack bahwa dunia itu hanyalah selebar ruangan yang mereka tinggali.

Namun, Joy tetap berniat untuk kabur dari penyekapan. Ia pun mencari akal untuk menyusupkan Jack ke luar. Saat Jack sudah di luar, di situlah mulai terlihat adegan drama yang sangat mengharukan. Untungnya, si penyekap ditangkap dan Joy bisa kembali bebas.

4.  Wonder (2017)

Saya memperoleh rekomendasi film bagus dari teman. Lucu katanya. Judulnya Wonder. Ceritanya tentang seorang seorang anak bernama Auggie (lagi lagi Jacob Tremblay) yang berusia 10 tahun dan mengalami kelainan sejak lahir. Ia telah menjalani sejumlah operasi, tetapi wajahnya masih terlihat aneh.

Ibu Auggie (Julia Roberts) mendidik anaknya di rumah dengan metode homeschooling. Namun, pada suatu titik, ia ingin si anak bisa bergaul seperti anak normal lainnya. Jadi, ia pun mendaftarkannya ke sekolah umum setempat. Tapi, itu keputusan berat. Karena wajahnya yang berbeda, Auggie kerap mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.

Dan… hati ibu mana yang tidak tersayat-sayat melihat si anak tersakiti seperti itu? Sayangnya lagi, sang ibu tidak mungkin untuk terus-menerus berada di samping Auggie. Namun, lama-kelamaan, anak laki-laki ini akhirnya berhasil mengontrol situasi dan memiliki teman.

Meskipun bikin terharu, film drama ini juga bergenre comedy. Apalagi dengan kehadiran Owen Wilson membuat suasana menjadi kocak. Perasaan penonton diaduk-aduk, antara mau menangis atau tertawa. Haha.

Saya merekomendasikan banget film ini bagi seorang ibu. Menarik banget pokoknya. Ada nilai-nilai moralnya juga.

5. Shutter Island (2010)

Saya taruh ini di bagian akhir karena mungkin agak “berbeda” dari yang sebelumnya. Namun, menurut saya film ini memiliki makna yang sangat dalam.

Film yang dibintangi Leonardo diCaprio ini bercerita tentang Teddy, seorang laki-laki yang sering mengalami mimpi buruk. Mengusung tema thriller, film ini memang cukup menegangkan. Namun, kalau nggak suka dengan film yang beralur lambat, sebaiknya abaikan rekomendasi ini hehe. Sempat nangkring di puncak box office, film ini rupanya cukup digemari.

Mengapa film iniShutter Island saya rekomendasikan untuk ditonton? Supaya waspada aja sih. Film tentang seorang wanita yang “tega” menenggelamkan ketiga anaknya ini, adalah hal paling konyol, tetapi mungkin terjadi dalam skala mikro pada siapa pun. Entah apa pun penyebabnya, mungkin baby blues akut, atau depresi yang tidak tertahankan. Akhirnya, anak menjadi korban. Ngeri..

Nah, itu 5 film recommended menurut saya. Sekarang, saya lebih suka nonton di iflix sih. Selain karena cukup lengkap, saya juga bisa menonton sebagian-sebagian (sesuai waktu yang tersedia hahaah) tanpa repot harus setel lagi. Biayanya juga terjangkau.

Oh, iya, kalau nggak suka film dan lebih suka musik, cek blog Mbak Dian untuk mendapatkan 5 rekomendasi musik yang seru untuk didengarkan.

Bagaimana dengan kamu, apa film yang paling berkesan bagimu?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 10 “5 film, musik, atau buku yang direkomendasikan”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Meskipun Penganut Minimalist Lifestyle, 5 Benda Ini Wajib Ada di Tas

Sejak beberapa tahun lalu, saya tergila-gila dengan konsep minimalist lifestyle. Rasanya, konsep itu sangat cocok dengan diri saya yang introver. Meskipun saya belum bisa sepenuhnya minimalist, setidaknya dalam beberapa hal saya mencoba menerapkannya.

Salah satunya, dalam mengelola barang bawaan. Sebagai pekerja kantoran, saya tentu harus berangkat setiap pagi ke tempat kerja. Supaya praktis, saya menggunakan tas untuk membawa beberapa keperluan harian. Mengingat tempat kerja saya nggak formal-formal banget, saya memilih menggunakan tas punggung.

Dulu, saya suka pake ransel yang gede. Iya, alasannya karena muat banyak. Lalu, rasanya juga lebih enak dibawa. Tapi, lama-kelamaan saya mulai merasa “keberatan” haha. Setelah dicek, isinya memang macem-macem. Maklum, saya tipe orang yang “persiapan banget”.

Akhirnya, saya mulai mengurangi isinya. Beberapa barang yang “sepertinya” tidak saya butuhkan, saya tinggalkan di rumah. Seiring dengan itu, saya memilih tas punggung berukuran kecil yang ringan dibawa ke mana-mana.

Lalu, apa saja barang-barang yang akhirnya tersisa di dalam tas?

1. Smartphone

Smartphone adalah barang pertama yang saya pastikan ada di dalam tas. Kebanyakan interaksi yang saya lakukan memang melalui smartphone. Jadi, kalau ketinggalan, fyuh, rasanya bingung nggak karuan wkwk.

Iya, saya memang harus belajar juga supaya nggak kecanduan. Makanya, saya biasanya menggunakan aplikasi Forest untuk bantu mengurangi penggunaan gadget dan lebih fokus pada kerjaan.

Oh, ya, selain smartphone, tentu ada charger-nya, ya. Hehehe. Tapi, biasanya sih jarang saya pakai karena baterai gadget saya pastikan penuh dulu sebelum berangkat. Saya beruntung karena OPPO keren banget dalam hal ini. Selain karena waktu untuk charging sangat cepat, baterai pun tahan lama. Jadi, nggak harus sering-sering ngecas, deh!

2. Dompet

Dompet saya sebenarnya nggak masuk dalam kategori “cantik” seperti umumnya dompet perempuan. Bahkan, cenderung murahan hahaha. Kali ini memang ada aksen bunga-bunganya, tetapi bukan itu alasan saya membelinya.

Alasannya adalah karena ukurannya cukup untuk kebutuhan saya. Ada 3 kompartemen di dalamnya, satu untuk uang tunai, satu untuk kartu-kartu, dan satu untuk kertas-kertas. Smartphone juga biasanya muat ke dalam dompet ini. Jadi, praktis banget kalau dibawa ke mana-mana tanpa harus pake tas.

3. Mouse

Iyaaaa… Saya ke mana-mana bawa mouse. HAHAHA. Karena saya memang butuh aja. Ini mouse wireless (begitu ya nyebutnya?) yang baru saja saya beli karena lebih praktis. Tinggal colokin ke laptop atau CPU, langsung deh bisa digunakan.

Pernah suatu kali mouse saya ketinggalan di rumah. Langsung kebingungan karena di kantor nggak bisa gunain komputer haha. Aneh? Hmmm. You never know.

4. Flashdisk

Ada banyak data penting yang saya simpan di dalam benda ini, terutama pekerjaan. Jadi, saya selalu bawa ke mana-mana, in case dibutuhkan.

Flashdisk saya adalah tipe yang bisa dikoneksikan di gadget. Jadi, fleksibel banget. Saya juga bisa mengerjakan tugas-tugas dan membuka data melalui smartphone atau tab jika benar-benar diperlukan.

Pengalaman aja, sih. Beberapa kali pernah kejadian ketika listrik padam. Dengan alat ini, saya masih bisa transfer data dan kirim lewat email melalui gadget.

5. Cairan Antiseptik

Benda lain yang selalu saya bawa adalah sebuah botol kecil berisi cairan antiseptik untuk tangan. Biasanya, saya pake botol semprot Antis. Saya suka karena nggak lengket dan bisa milih bau jeruk nipis atau timun hihihi.

Cairan antiseptik menurut saya praktis. Terutama jika tidak memungkinkan untuk mencuci tangan.

 

Nah, itulah 5 barang yang biasanya selalu ada di tas. Ternyata, dikit banget, ya? HAHAHA. Saya jarang bawa makeup, sisir, dkk. karena menurut saya belum terlalu dibutuhkan. Kecuali pada momen khusus yang mengharuskan saya untuk datang ke even tertentu pada sore hari.

Pernah saya lupa merapikan rambut ketika menghadiri suatu even. Untung saja, ada mbak Riana yang berkenan meminjamkannya haha. Pastinya, itu adalah salah satu benda wajib yang selalu dibawanya.

Kalau kamu, kira-kira apa barang paling “unik” yang selalu ada di tas?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 8 “Barang yang selalu ada di tas”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

“Belajar Itu Sepanjang Hayat”

Foto: www.pixabay.com

Belajar itu sepanjang hayat..

Konsep itu yang selalu saya ulang-ulang di benak.

Belajar bisa kapan saja. Belajar bisa di mana saja. Belajar bisa sama siapa saja. Belajar bisa dilakukan dengan siapa saja. Belajar bahkan bisa dari masa-masa paling nggak menyenangkan.

Seperti saya nih, saya baru aja belajar. Sudah nulis panjang-panjang, lalu terhapus begitu saja. Padahal udah selesai, tinggal finishing aja. Pengen nangis banget karena nulisnya pake hati tuh. HAHAHA.

Mungkin saya sedang diuji. Bener nggak sih mau belajar dari masalah?

Dan, saya pun mengumpulkan semangat lagi untuk mulai menulis hal yang sama. Males? Iyaaaaaa. Karena mood-nya langsung ilang, terbang entah ke mana. Tapi, namanya juga sedang belajar untuk bangkit. Harus lewat praktik, bukan teori aja.

Tentang Nama Blog

Kali ini, saya mau nulis tentang nama blog. Mengapa saya memilih “Ibu Belajar” sebagai “brand” saya. Hmm, ceritanya panjang.

Saat itu, saya baru saja melahirkan. W baru berusia sekitar 4 hari. Kami pulang dari RS dan mulai menjalani hari-hari sebagai ibu. Saat itu, saya dan suami hanya ditemani oleh ibu mertua (yang kebetulan udah lama nggak merawat bayi).

Ketika masih di RS, W “dirawat” oleh suster. Dimandiin dua kali sehari. Dibersihkan kalau BAB. Dijemur tiap pagi. Dsb. Pokoknya, si ibu terima berezz aja. Ya, iya, kan sedang terbaring karena luka sesar.

Perjuangan (dan kekonyolan) baru dimulai ketika tiba di rumah. Malem-malem, W mendadak BAB. Item warnanya. Ya, agak bingung juga, kenapa gini ya? Tapi, ya udahlah. Yang penting harus segera dibersihkan. Cuma.. gimana cara membersihkannya?

Dasar ibu baru! Tissue basah nggak sedia. Lap juga nggak ada. Panik? Iyaaaaa. Padahal cuma membersihkan BAB bayi. Memang, seumur-umur belum pernah melakukan itu.

Saya pun minta suami untuk mengambil air panas. Tapi, kok dingin? Tuang air panas dulu deh. Tapi, gimana caranya? Mikirrr. Nyobaaaa. Pokoknya ribet banget. Harus dilap nggak sih? Udah gitu, anaknya nangis nggak keruan. Huhuhuhu.

Foto: www.pixabay.com

Saat itu juga saya langsung mikir. Ya, Tuhan. Saya belum banyak belajar. Bagaimana saya bisa jaga anak ini kalau saya nggak tahu apa-apa? Bagaimana kalau ia sakit? Nggak mau menyusui? Dsb.

Ketakutan-ketakutan yang menyerbu pikiran. Dan tentu saja bikin menyesal. Kemana saja saya selama ini? Kenapa saya nggak belajar.

Ingin Meninggalkan Jejak

Sejak kejadian itu, saya mulai berpikir untuk berubah. Nggak bisa begini terus. Saya harus banyak cari referensi dan informasi. Belum lagi karena banyak orang yang nyuruh ini itu. Harus gini gitu. Sementara saya, tipe orang yang skeptis banget. Apa iya gitu? Selalu itu yang muncul dalam pikiran.

Akhirnya, saya pun mulai kepikiran untuk bikin blog baru. Sesuatu yang bisa menjadi rekam jejak saya; mengatasi setiap kekonyolan ketika belum tahu apa-apa. Dengan begitu, saya bisa menjadi lebih baik lagi.

Menurut saya, belajar bukan hanya ketika si anak masih kecil. Ketika ia remaja, saya belajar untuk menjadi teman baginya. Ketika ia dewasa, saya bisa menjadi seseorang yang menginspirasi. Ketika ia menikah, saya bisa menerima pasangannya. Ketika ia memiliki anak, saya bisa menjadi nenek yang baik.

Semoga, setiap orang diberikan usia yang cukup untuk terus belajar. Terus mengusahakan kebaikan bagi diri dan orang lain.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Menulis Tentang Parenting, Cara Untuk Terus Belajar

Suka jiper baca blog-blog tentang parenting yang lengkap banget. Pengen juga bisa seperti itu. Tapi, kalau diturutin, hmm, kayanya kok bakal nggak jadi nulis.

GADOGADO. Itu tema blog saya di awal-awal mulai ngeblog.

Semua saya tumpahkan tanpa milih-milih atau bagi-bagi. Kalaupun ada fitur kategori, kadang kala saya nggak mau repot-repot menggunakannya dan secara otomatis semua tulisan masuk ke dalam “uncategorized“.

Kesan gado-gado tersebut keliatan jelas di blog saya yang ini. Suatu saat, saya bisa nulis tentang gaya hidup, lain waktu tentang buku. Lalu, setelah itu curhat. Haha.

Mungkin itulah enaknya nulis di blog. Kita nggak dituntut untuk harus nulis ini nulis itu. Nggak dibatasi oleh “tema” khusus. Pokonya bebazz aja. Bebas tapi sopan. Hehehe.

Mulai pengen fokus..

Beberapa waktu belakangan, saya pengen lebih fokus. Ya, banyak belajar juga dari para blogger senior. Dengan fokus, lebih mudah untuk menyelesaikan suatu misi yang diusung.

Tapi, apa misi saya?

Setelah punya anak, jadilah saya bercita-cita untuk nulis hal-hal terkait parenting atau apa pun yang berkaitan dengan anak.

Memiliki anak merupakan pengalaman yang seru dan menyenangkan, sekaligus bikin deg-degan.

Bahkan, setiap hari sebenarnya ada aja hal menarik yang bikin saya mikir, “Wah, ini keren nih kalau saya bagikan di blog. Apalagi kalau nambah informasi ini dan itu…”

Faktanya, saya kebanyakan mikir dong, Saudara-saudara. Apalagi trus setelah sercing-sercing dan nemu buuanyak tema serupa, jadi mendadak kehilangan semangat.

Padahal, ya, yang namanya pengalaman itu kan unik, nggak sama satu sama lain. Jadi, harusnya itu bukan alasan.

Saya pengen benar-benar bisa konsisten menulis tentang tema parenting. Apalagi karena nama blog ini juga udah sesuai.

Satu tema, banyak bahasan

Pasti pernah mikir, “Ah, saya pengen bebas aja deh. Nggak usah pake tema segala. Ntar jadi nggak pleksibelll“.

Faktanya, satu tema bisa dibahas dari banyak aspek, lo, gaes!

Caranya, kolaborasikan aja tema utama dengan banyak tema pendukung lain.

Contohnya kalo saya, pengen angkat tulisan tentang gaya hidup, bahas aja gaya hidup keluarga. Tulisan tentang kesehatan, bahas tentang kesehatan keluarga.

Kuliner? Traveling? semua bisa diceritakan dari sudut pandang seorang ibu (yang sedang belajar).

Blog Bayangan

Tentu saja, selain berprofesi sebagai ibu, saya masih seorang individu yang ingin bagiin hal-hal lain. Kadang kala, memang ada tema yang nggak pas aja dimasukkan ke blog ini.

Itulah gunanya punya blog bayangan hehehe. Sebenarnya, blog ini malah lebih duluan lahir. Saya gunakan aja untuk menampung hal-hal nggak jelas yang harus dikeluarkan.

Bagaimana dengan kamu, suka nulis gado-gado atau fokus satu tema aja?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 2 “Tema Blog yang Disukai”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Ngeblog, Cara Simpel Untuk Berbagi

Sumber foto: pixabay.com

Sejak 2004-2005–tepatnya ketika mulai kuliah di Semarang–saya sudah mulai kenal warnet. Zaman itu, Nokia tipe jadul tahan banting tanpa koneksi internet masih berjaya. Blog udah punya, tapi isinya ya gitu-gitu, deh. Nggak jelas. Namanya juga pemula.

Nah, yang saya ingat–dan sepertinya menjadi kebiasaan buruk–adalah banyak blog yang saya “lahirkan” tapi tidak saya rawat. Huhuhu. Ada yang usianya beberapa bulan (bahkan tahunan), ada pula yang hanya bertahan beberapa belas hari. Lalu, terbiarkan dan telantar begitu aja.

Saya rasa, kendalanya bukan cuma lupa password (para blogger pasti pernah mengalami ini minimal sekali haha), tapi juga karena konsep blog kurang matang. Jadinya, di awal menggebu-gebu, kemudian setelah itu kehilangan semangat.

Sumber gambar: pixabay.com

Sepanjang ngeblog, entah sudah berapa blog yang saya buat di WordPress maupun Blogspot. Oh, iya, saya kebanyakan sih menggunakan WordPress karena lebih familier dengan fitur-fiturnya. Tapi, saya rasa Blogspot keren juga, seperti milik teman saya, Mba Wiwin.

Setelah fase labil ngeblog, saya mulai banyak melihat blog-blog keren. Hmm, jujur aja merasa nggak percaya diri. Bukan hanya karena template-nya bagus amat, tapi karena tulisannya juga hebat-hebat. Aih..

Tapi itu bikin tambah semangat sih. Apalagi setelah gabung dengan beberapa komunitas, seperti KJOG (Kompasianer Jogja), Blogger Perempuan, Bloggercrony. Ya, saya tahuuu, saya memang lebih banyak jadi silent reader. Tapi, diam-diam saya menyerap ilmu dari para jagoan di sana.

Sekitar beberapa tahun lalu, lupa tepatnya kapan, saya memutuskan untuk beli domain dan berkomitmen bangun blog TLD. Yaa, tapi gituu, beli lalu lupa (selama setahun). Nah, barulah beberapa waktu terakhir ini saya mulai kepikiran untuk bikin blog yang ini.

Alasannya sih sederhana aja, ingin merekam perjalanan bersama anak. Supaya nanti ia memiliki kenangan. Meskipun kenyataannya saya masih belum bisa atur waktu untuk rutin nulis di sini. Alasan kedua, saya ingin berbagi pengalaman. Because sharing is caring, bener nggak? Haha.

Di sisi lain, ngeblog itu bagi saya adalah cara untuk melepas stres. Iya, pekerjaan sehari-hari saya adalah menulis. Ada banyak tuntutan yang harus dipenuhi, target, aturan, dsb. Di blog, saya bisa lebih bebas. Tema apa aja yang lagi ada di kepala bisa dikeluarkan.

Eits, tapi teteupp ya, soal validitas data penting, etika juga saya usahakan sebaik mungkin tidak dilanggar. EYD? Hehe, santai dikit nggak apa-apa kali, ya. Supaya nggak terlalu kaku.

Sumber gambar: pixabay.com

Khusus untuk blog ini, misi spesifik saya sederhana aja. Hanya ingin menyebar “virus” belajar kepada semua orang, khususnya para ibu.

Sejak melahirkan, saya sadar betul bagaimana seorang ibu harus belajar banyak hal demi buah hatinya. Misalnya, saat anak sakit, apa tindakan pertama yang harus dilakukan? Saat anak nggak mau makan, saat anak rewel, saat anak belum bisa ngomong, dan sebagainya.

Jawabannya hanya bisa didapatkan dengan belajar. Belajar dari banyak orang. Belajar dari banyak sumber. Jadi, jangan mentah-mentah menerima informasi. Bandingkan, analisa, baru bisa percayai dan terapkan.

Tentu saja, saya juga masih harus banyak belajar soal blog. Soal Google Analytics, soal Domain Authority, soal SEO, soal infografis, dan sebagainya. Ya, saya anggap itu proses aja. Kalau belum-belum harus perfect, entar nggak jadi-jadi nulisnya. Blognya penuh sawang lagi, deh..

Nah, kalau kamu pengalaman ngeblognya, gimana? Pernah lupa password berapa kali? Ceritain juga, yaaa…

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 1 “Kenapa Menulis Blog”.

tips mengasuh anak

Cara Membangun Kebiasaan Positif Pada Anak

Membangun kebiasaan positif pada anak tidak mudah. Kita harus coba lagi dan lagi supaya anak mau mengikuti apa yang diajarkan kepadanya.

[Tulisan ini adalah untuk menepati janji yang saya buat di postingan Instagram saya beberapa waktu yang lalu. Iya, kelamaan ya eksekusinya. Maapkeun. Dan selamat membaca. Semoga bermanfaat]

Sekitar satu bulan yang lalu, saya tiba-tiba kepikiran untuk mulai memakaikan helm kepada W jika kami sedang naik motor. Sebenarnya sudah sejak lama saya kepingin ia menggunakan helm. Alasannya: supaya nggak dingin di jalanan, supaya aman, supaya (sedikit) terhindar dari asap, dan supaya mulai belajar aja dari sekarang..

Nah, suatu pagi kebetulan kami berangkat cukup pagi. Di jalan sepanjang kami menuju daycare-nya, ada yang menjual helm. Kami pun mampir sejenak untuk membeli. Dalam pikiran saya gampangin aja: pilih lalu bayar.

Eh, ternyata nggak semudah itu, sodara-sodara!

Masalahnya adalah ketika saya mencoba memakaikan helm ke si balita ini, ia menolak keras! Pertama sih mau (karena penasaran), eh selanjutnya kok emoh. Menghindar gitu pengen segera pergi. Padahal, ibu udah kekeuh harus beli hari itu juga. Secara waktu luang untuk mampir seperti ini sangat jarang..

Udah dirayu berkali-kali, tetap nggak mempan. Maksud ayah dan ibu W adalah supaya nyocokin betul apakah helm itu muat di kepala W. Takutnya, kekecilan kan. Percuma dong beli mahal-mahal kalau cuma jadi penghuni gudang.

Lah, tapi kok W samasekali nggak mau berkompromi. Padahal, waktu terus berputar. Kami harus segera menuju tempat kerja. Aduh, gimana nih.

Ada beberapa jenis pilihan helm anak sebenarnya yang tersedia di sana. Dan, kami fiks bingung mau yang mana. Tapi, saya mau bagikan beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan kita ketika membeli helm anak, buibu…

  1. Beratnya. Yak, ini penting banget ya. Soalnya, memakaikan helm ke kepala anak yang belum pernah menggunakannya pasti akan terasa berat. Saya aja dulu menggunakan helm standar SNI ini agak pusing pertama kali. Maklum, dulu helmnya yang biasa itu lho…
  2. Ukurannya. Awalnya, kita pikir kalau ukuran yang besar itu bagus. Biasa, perilaku ibu-ibu kalau beli keperluan anak sukanya beli yang gede-gede untuk menghemat uang. Namun akhirnya saya mensyukuri pilihan untuk membeli yang ukurannya pas. Hal ini membuat helm nggak goyang-goyang karena tepat mengena di kepala anak.
  3. Dalamnya. Nah, jangan lupa perhatikan bagian dalam helm ya. Saya sempat kecolongan nih terutama pada bagian telinga yang ada besi penahannya itu. Ternyata, sedikit agak menonjol dan mungkin bikin sakit. Akhirnya, kami pun mengganjalnya dengan kapas. Jadi, usahakan bagian dalam helm benar-benar sesuai untuk anak. Empuk dan bersih.
  4. Motifnya. Sebenarnya, ini hanya motivasi pendukung aja bagi anak supaya mau menggunakan helm dengan sukarela. Sayangnya, waktu itu nggak ada motif mobil yang sangat disukai W.

MULAI SOUNDING

Setelah membeli helm, W belum langsung mau memakainya. Jadi, kami gantung aja di bagian depan motor. Bahkan, ketika pulang juga masih belum mau. Saya sih maklum saja ya. Namanya anak kecil dan belum pernah menggunakan helm, pasti ia masih jaga jarak.

Saya pun bertekad mulai melakukan pendekatan secara halus. Merayu, tapi nggak terlalu kelihatan. Dan tentunya NO PEMAKSAAN. Lagipula, ini adalah tentang memberi kesadaran, bukan sekadar untuk mengikuti perintah orangtua.

Caranya adalah dengan melakukan SOUNDING kepada W selama beberapa waktu hingga ia tertarik untuk menggunakan helm.

Inti dari strategi sounding ini adalah:

  • Memberitahukan kepada anak bahwa apa yang kita ingin ia lakukan itu adalah hal yang positif dan bermanfaat. Contoh: “Eh, pake helm itu bagus looo. Jadi nggak panas kena matahari. Bisa ditutup lagi. Liat nih!”
  • Membangkitkan rasa tertarik. Misalnya dengan mengatakan, “Wahhh, helmnya bagus sekaliii.. Tuh, ada gambar gajahnya. Bagus, ya?”
  • Mengajak anak untuk mengikuti. Anak sebenarnya adalah pribadi yang senang mengikuti, baik orangtua atau orang lain. Jadi, kami selalu bilang, “Eh, besok dedek pake helm yaaah, kaya Ayah dan ibu.. Tuh, sama kan?”
  • Memperkenalkan anak dengan sesuatu yang baru. Wajar banget lo bun kalau anak nggak mau dengan sesuatu yang baru. Ibaratnya, mereka belum bisa membedakan itu berbahaya, menyakitkan, dan sebagainya bagi mereka. Jadi, ada baiknya kita perkenalkan dulu. Mulai dari melihat bagian dalam helm. Lalu mengajak mereka menyentuhnya.

Untuk melakukan sounding, jangan berharap hasil sekejap ya bun. Sounding itu bisa hasilnya cepat atau lama. Tergantung pada cara anak menangkap itu. Nah, tugas ibu setelah melakukan sounding adalah SABAR. Yes, cukup dengan sabar aja dan tentunya tidak henti-henti dengan cara sekreatif mungkin mengajak anak untuk melakukan yang kita ingin ia lakukan.

Selanjutnya, setelah kira-kira anak udah mulai akrab dan menunjukkan tanda-tanda ketertarikan, barulah ibu bisa mulai “mencoba” memakaikan helm.

Tanda anak tertarik:

  • Tidak lagi menangis jika ibu dan ayah membahas itu
  • Mulai dekat-dekat dan berani megang
  • Kalau sudah bisa bicara, biasanya ia akan terus mengulang kata-kata itu
  • Jika pura-pura dipakaikan, ia akan terlihat pasrah. Mungkin masih merasa ragu, tapi mau.

Nah, jika ibu sudah mendapatkan sinyal ini, cobalah untuk memakaikan helm kepada anak. Dalam kasus W, saya membutuhkan waktu satu hari satu malam untuk melakukan sounding. Titiknya adalah pada pagi hari ketika ia bangun, saya langsung mengajaknya ngomong, melihat matanya dalam-dalam, dan bilang, “Eh, nanti W pake helm, yaaa. Ibu kan kemarin udah beliin. Helmnya bagus lo. Nanti ibu dan ayah juga pake. W pake ya?”

Dan tebak, ia langsung mengangguk gitu. Tatapannya itu menunjukkan bahwa ia sedang mempercayai ibunya. Terlihat ragu sedikit tapi mau mencoba. Saya benar-benar terharu pada saat itu.

Lalu, langkah selanjutnya adalah mengajaknya untuk melihat helm dan mencobanya. Sejak itu, ia tampak sudah nggak sabar. Jadi, mandinya pun terburu-buru. Ia pun dengan semangat mengucapkan, helm helm, yah, helm.

Ketika saya memakaikannya ke kepala W, ia sama sekali tidak berontak. Tentu saja, pakaikan dengan hati-hati ya Bun. Jangan membuatnya kaget atau merasa kesakitan pada awalnya.

Sepanjang jalan menuju daycare, W pakai helm tanpa dilepas. Waaah, saya sangat bahagia sekali. Pertama, karena akhirnya saya berhasil mengajak anak melakukan suatu kebiasaan positif. Kedua, karena akhirnya saya menemukan cara untuk merayu anak. Bukan dengna paksaan, apalagi sambil dimarahi yang tentu membuatnya semakin histeris.

Selama ini, saya selalu menggunakan prinsip: ia menyadari apa yang ia lakukan. Ia melakukannya dengan keinginan sendiri berangkat dari kesadaran tersebut. Yakin deh, hasilnya pasti bagus.

Nah, ilustrasi mengenai helm ini adalah salah satu contoh saja. Ada banyak kebiasaan-kebiasaan lain pada anak yang harus dibentuk. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya. Strateginya sama, sounding, ajak anak ngobrolo baik-baik, lalu praktik. Gitu aja terus sampai anak mau.

Daann, yang paling penting adalah orangtua melakukan apa yang ia katakan. Kadang kala, kami sebagai orangtua masih suka kecolongan. Misalnya, membuang benda-benda ke kasur, bukan meletakkannya. Akibatnya, kami nggak punya taring untuk memaksa anak melakukan hal sebaliknya.

Jadi, intinya sih adalah orangtua harus belajar memperbaiki diri, baru mengajari anak untuk menjadi lebih baik.

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat, yaa…

Kalau Ibu-ibu, punya pengalaman seru ketika mengajar anak nggak? Tantangannya apa aja nih?
Uncategorized

5 Hal yang Sering Salah Dimengerti Tentang Ibu Bekerja

[Disclaimer] Sekali lagi, ini bukan untuk menajamkan perbedaan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Please, kalau berkenan bisa membaca kembali postingan saya sebelumnya…

Hai Ibu, Apakah Anda Ingin Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga

Daripada salah paham, saya ingin meluruskan sedikit tentang pandangan orang-orang tentang ibu bekerja (dalam hal ini: saya) yang kerap menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung usai.

1. Ibu bekerja lebih sayang pekerjaannya daripada anak

Ini mustahil banget. Meskipun selama ini waktu sehari-hari banyak dicurahkan untuk bekerja, rasa cinta untuk anak ada di dalam hati dan nggak pernah berkurang. Bahkan, saya sendiri merasakan betapa kerinduan untuk selalu bersama si kecil terus-menerus timbul.

Jadi, kalau lagi bekerja dan kangen anak, akhirnya buka-buka galeri foto dan video lalu senyum-senyum sendiri. Ketika pulang dan akhirnya bertemu, ada rasa lega yang luar biasa.

Setidaknya, alasan bekerja nggak menjadikan saya mengurangi kadar cinta kepada anak, sama juga seperti ibu-ibu lainnya, entah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.

Lagipula, sebagian besar motivasi ibu bekerja untuk bekerja adalah karena sayang keluarga dan ingin mempersiapkan yang terbaik untuk masa depan anak.

2. Ibu bekerja nggak bisa mendidik anaknya dengan optimal

Pada saat-saat tertentu, jujur saja, saya suka khawatir jika W tidak tumbuh sesuai dengan yang saya harapkan. Ibu, katanya, adalah orang yang paling ideal untuk menjadi guru bagi anak. Lha, kalau anaknya di daycare, gimana tuh?

Faktanya, saya memang nggak bisa mengontrol W sepanjang hari. Rasa khawatir tentu masih ada hingga saat ini. Tapi, yang membuat saya lega adalah ia tumbuh dengan baik. Ada beberapa kebiasaan yang bahkan tidak kami ajarkan sudah ia kuasai dengan sendirinya. Beberapa kemampuan lainnya membuat kami terheran-heran dan takjub. Ya, ia belajar dengan baik di sana.

Dan yang membuat saya bertambah tenang adalah ada komunikasi yang terbuka dengan pihak daycare terutama gurunya sehingga kami bisa saling berbagi mengenai perkembangan W. Saya samasekali nggak menganggap mereka sebagai orang lain, justru saudara yang juga sayang dan peduli dengan tumbuh kembang anak saya.

Di dalam kehidupan sehari-hari, bukankah keluarga besar juga ikut mendidik anak? Kita tentu nggak bisa melarang nenek atau tante untuk berinteraksi dengan si kecil dan menyampaikan nasihat-nasihat tertentu. Nah, konsepnya sama.

Hanya saja, kita perlu memperluas pandangan dan tidak selalu menganggap bahwa “saudara” hanyalah mereka yang sedarah. Kita bisa bersaudara dengan siapa saja.

3. Ibu bekerja nggak bisa mengikuti perkembangan anak

Ya, suka iri juga sih kalau ada yang posting tentang keseharian si kecil setiap hari di rumah. Siapa yang ngga pengen. Namun, itu bukan berarti ibu bekerja harus kehilangan seluruhnya saat-saat membahagiakan ketika melihat perkembangan anak.

Saya mau berbagi, W termasuk lambat untuk berjalan. Hingga usia 19 bulan, ia baru bisa melangkahkan kaki sendiri tanpa bantuan pegangan orangtua. Namun, suatu malam, akhirnya ia berhasil melakukannya. Itu adalah momen yang sangat mengharukan.

Dan tebak, saya bisa merekam momen itu di sini:

Yeay, W berhasil!

Jadi, nggak sepenuhnya saya kehilangan momen-momen berharga dalam tahap perkembangan anak. Bahkan, kami justru bisa lebih merasakan hal berbeda ketika sore hari kembali bertemu. Itu yang selalu membuat hati berbunga-bunga.

Tipsnya: singkirkan gawai SEBISA MUNGKIN ketika sudah berada di rumah bersama anak.

Ini akan membuat kita lebih peka dan tahu apa saja yang berbeda dan baru pada anak. Sebisa mungkin, sebelum anak tidur di malam hari, saya usahakan untuk meminimalkan pegang hp.

Memang nggak mudah karena hidup kita saat ini sebagian besar bergantung pada hal-hal berbau digital. Namun, kalau udah kelewatan, biasanya W mulai protes, “Bu… bu.. buuuuu…” [njawil-njawil minta diperhatikan dengan bola mata memelas].

4. Ibu bekerja nggak capek jaga anak karena bekerja lebih enak

Hehehehe. Capek kok. Sama. Meskipun kadarnya berbeda dengan ibu rumah tangga yang sepanjang hari bersama anak. Jaga anak melelahkan, bekerja juga melelahkan. Saya berani bilang itu karena merasakan juga ketika masih cuti melahirkan.

Nah, kalau bekerja, mungkin bukan capek fisik (khususnya bagi yang kerja di belakang meja) tapi stresnya yang membuat lelah. Kadang-kadang, stres itu masih terasa hingga di rumah. Lalu, ketemu anak yang sedang bad mood, lengkap sudah semuanya.

Tapi, kita ibu-ibu selalu tegar kalau anak udah tersenyum dan tertawa, ya kan. Hehe. Secapek apa pun, jangan sampai diumbar dan membuat kita nggak bersyukur dengan keadaan saat ini.

5. Ibu bekerja nggak ingin tinggal di rumah, pake daster, dan hidup tanpa makeup

Jujur saja, saya berangkat kerja juga sering tanpa makeup apa pun. Karena nggak sempat, cyin. Pagi hari itu segala macam jurus silat sudah dikeluarkan tapi tetep aja nggak cukup waktunya. Jangankan untuk bikin alis, mau pake bedak padat aja nggak ada waktu.

Ya, status bekerja nggak selalu membuat saya menjadi kelihatan cantik setiap hari karena dandan. Biasa aja kok. Baju juga nggak modis-modis amat (karena emang nggak stylish kali ya haha), Memang sih nggak pake daster juga…

Tapi ya itu tadi, bagi saya, bekerja adalah untuk bekerja. Setiap bulan bisa memperoleh penghasilan dan itu digunakan untuk beli susu, beli popok, beli lain-lain untuk keperluan anak. Udah gitu aja, kok.

Dan, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jangan mengira jika di dalam hati ibu bekerja nggak pernah terselip keinginan untuk resign. Bahkan selalu ada kalau mau jujur. Dan semua dilema itu harus dihadapi dengan kuat dan berani.

Nah, itu dia 5 hal yang menurut saya kadang-kadang salah dimengerti oleh sebagian orang tentang ibu bekerja. Ini berdasarkan pengalaman pribadi selama ini.

Apakah ibu mengalami hal yang sama atau justru berbeda?

 

Ibu

Hai Ibu, Apakah Anda Ingin Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga?

Apakah isu sensitif soal ibu bekerja dan ibu rumah tangga masih ramai?

Tulisan ini bukan ingin membandingkan keduanya, kok. Ini sekadar pengalaman dan perenungan saja yang rasanya nggak enak untuk disimpan sendiri.

Saat ini, saya berstatus sebagai seorang ibu bekerja. Sebelum menikah, saya juga sudah bekerja. Bahkan hingga memiliki satu anak, saya masih bekerja di tempat yang sama.

Bersyukur juga, karena dengan bekerja, saya dan suami dapat menghidupi keluarga setiap bulan. Awalnya dulu sempat khawatir. Gimana yah kita bisa bangun keluarga dan penuhi semua kebutuhan anak dengan gaji yang “standar”?

(Tapi, itu kekhawatiran yang nggak terjadi. Semua dicukupkan oleh Tuhan. Makasih, Tuhan.)

Saya suka-suka aja bekerja karena dapat menyalurkan ide dan kemampuan, apalagi saat ini saya bekerja di bidang yang saya sukai. Pokoknya, bekerja serasa bermain karena inilah hobi saya. Ya, soal kerikil-kerikil tajam di dalamnya, itu persoalan biasa, kan.

Tantangan mulai muncul ketika anak lahir dan tidak ada yang menjaga. Ya, kami hanya tinggal berdua. Keluarga besar jauh semua. Jadi, harus mandiri donk. Apa-apa dilakukan berdua. Namun, karena keduanya bekerja, akhirnya anak kami pilihkan daycare yang baik.

Bersyukur (lagi), si kecil betah di sana. Sejak usia 3 bulan sampai sekarang nggak pindah-pindah. Bahkan, kami merasa memiliki keluarga baru. Anak-anak lain saya anggap seperti anak-anak saya juga. Para bu guru menjadi keluarga dan penolong yang peduli pada W. Bahkan, kepedulian mereka seakan-akan melebihi saya karena mereka hampir sepanjang hari bersama dengan W.

Masalah utamanya justru adalah karena saya menjadi kangen banget sama anak yang semakin menggemaskan ini. Pengennya uyel-uyel pipinya tiap saat (meskipun itu hanya mimpi kalau anaknya sudah badmood).

Apalah daya, hm, perlu sabar dulu aja supaya kondisi cukup memungkinkan bagi kami. Karena, ada mimpi lain yang ingin diwujudkan. Mungkin ada yang bilang: ini waktu yang tepat, kapan lagi? Pengennya sih begitu. Tapi yang ditunggu ini juga tak kalah penting.

Soal pertanyaan di judul tersebut, hehe, mungkin banyak ibu-ibu yang berbeda pendapat. Apa pun pendapatnya, tak perlu saling menghakimi. Banyak kok ibu-ibu bekerja yang ingin menjadi ibu rumah tangga dan ibu rumah tangga ingin menjadi ibu bekerja. Hanya saja, suka gengsi mau bilang demikian karena takut dianggap salah menentukan jalan hidup.

Bagaimana pun, yang dilakukan ibu adalah yang terbaik untuk anak dan keluarga. Soal caranya, mari serahkan pada masing-masing orang. Belum tentu, metode atau prinsip yang sesuai untuk kita, bisa diterapkan pada orang lain. Jadi, tak perlulah merasa lebih baik atau justru merasa lebih buruk. Menjalani kehidupan sendiri tanpa harus pusing dengan pandangan orang lain jauh lebih menyenangkan, kok.

Uncategorized

Menjadi Ibu, Menjadi Pembelajar

Halo, ketemu lagi!

Setelah saya menghilang beberapa saat, hehe. Ada banyak kesibukan di luar sana dan selalu pengen kembali ke sini, tapi kok rasanya waktu sudah habis semua.

Pagi hari ini (saya nulis 04.07 WIB; setelah lembur kerjaan), akhirnya menyempatkan diri untuk coret-coret dikit. Tentu saja, ada godaan untuk berhenti nulis karena alasan perfeksionis. Tapi, segera saya tepis jauh-jauh. By the way, itu baru berhasil setelah periode “tulis-hapus” empat kali.

Saya nggak pengen menyampaikan yang berat-berat pagi ini. Meskipun ada utang untuk nulis sesuatu. Bisa nyusul, yah? Hihi. Saya cuma ingin meninggalkan jejak saja dulu.Harapannya, semoga bisa konsisten menulis secara terjadwal.

Supaya nggak basa-basi banget, saya ingin menyampaikan sedikit mengenai visi saya membangun blog ini. Apakah itu? Tak lain adalah untuk menyampaikan ide dan suara tentang profesi saya sebagai ibu. Saya–seorang introver sejati–banyak diamnya kalau bertemu orang. Terutama di tengah orang-orang yang memiliki frekuensi berbeda. Dengan menulis di sini, saya bisa menyampaikan semua pikiran saya tanpa harus memikirkan soal diterima atau tidak.

Saya juga ingin membagi pengalaman dan hal-hal yang saya ketahui. Mungkin sederhana, tetapi saya harap berguna (bagi yang belum tahu). Saya sendiri banyak berselancar di dunia maya untuk mendapatkan banyak informasi jika merasa masih belum banyak tahu. Apalagi jika baca dari blog, biasanya tulisan tersebut original (merupakan pengalaman pribadi penulis sehingga lebih mengena).

Alasan lainnya, saya ingin mendirikan sebuah “monumen” bagi perjalanan saya berkarier sebagai seorang ibu. Suatu saat kelak, ketika W sudah dewasa, saya ingin membaca ulang semua hal yang telah kami lakukan bersama. Dan semoga itu bisa memupus kerinduan pada masa lalu.

Namun, tantangan yang saya hadapi terutama adalah faktor selalu ingin segalanya sempurna. Jadi, pada beberapa situasi, saya akhirnya nggak melanjutkan tulisan (berakhir di draft, kemudian masuk trash).

Semoga saya bisa melawan itu dan terus berusaha meningkatkan kemampuan menulis supaya bisa menyampaikan ide dengan baik dan dimengerti oleh pembaca.

Nah, kalau ibu-ibu, tantangan menulisnya apa nih? Bagi pengalamannya dong…

<img src=”http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=eb1a3248129b7ee71267e2e49bc38db1cf8712b1&_host=www.ibubelajar.com/”>

Tips

Tips Mengatasi Tantrum Pada Anak

“Udah kasih aja..”, begitu biasanya ucapan yang keluar dari mulut si emak maupun si bapak ketika anak mulai merengek karena menginginkan sesuatu. Takutnya, rengekan tersebut berubah menjadi teriakan histeris. Kan malu!

Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya dialami oleh anak-anak. Perilaku tantrum pada anak tampak dalam bentuk merengek, menangis, berteriak, melemparkan sesuatu (atau bahkan dirinya sendiri), berguling-guling, dan sebagainya. Bahasa planetnya, “ngamuk“. Tantrum biasanya kambuh jika keinginan anak tidak dipenuhi oleh orangtuanya.

***

W mulai menunjukkan gejala tantrum beberapa minggu belakangan. Polanya selalu sama. Ia menginginkan sesuatu (sebuah benda atau melakukan sesuatu), ia merengek, ia menangis, ia berteriak, ia merebahkan badannya ke depan, hingga keinginannya terkabul.

Awalnya, kami berusaha memenuhi semua keinginan tersebut. Apalagi kalau pulang kerja, capek, dan masih dibombardir dengan teriakan histeris. Aduh, nyerah deh! “Udah kasih aja,” biasanya itu kalimat sakti yang sanggup membuat W tersenyum manis kembali. Aih.

Namun, lama-kelamaan, permintaannya kadang nggak bisa dipenuhi. Misalnya, ia bersikukuh ingin ngubek-ubek piring makannya padahal kami sedang terburu-buru mau pergi. Atau, ketika di minimarket, ia berkeras membeli permen kesukaannya hanya untuk dipegang–padahal di rumah masih ada beberapa. Boros lo, Nak!

***

Jika anak selalu dituruti kemauannya, dampaknya di masa depan bisa negatif. Anak akan egois, tidak mau berbagi, tidak mau mengalah, suka memaksa, dan sebagainya. Serem banget! 

Karena itu, sebagai ibu, saya berusaha untuk mencari tahu bagaimana cara menghadapi perilaku tantrum tersebut dengan jurus yang tepat. Berikut beberapa tips yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.

  1. Coba alihkan perhatiannya. Misalnya, jika ia menunjuk sesuatu dan bersikeras menginginkannya, ajak ia berpindah dari tempat itu. Keluarlah dari minimarket atau rumah, tunjukkan sesuatu yang menarik.
  2. Ajak ia berbicara. Untuk kasus W (usia 15 bulan), ia memang belum bisa mengatakan apa yang ada di hatinya dengan sempurna. Namun, ia bisa mendengar dengan baik. Sampaikan alasan  dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia bisa jadi masih akan menangis, tetapi setidaknya ia tahu mengapa dilarang.
  3. Berikan ciuman dan pelukan. Kita semua pasti tahu kan, betapa ajaib kedua hal ini untuk meluluhkan hati. Ajaklah ia bercanda dan hujani dengan ciuman.
  4. Memberi waktu padanya untuk menenangkan diri. Ini pernah saya coba, tapi hasilnya tangisannya semakin menggebu. Akhirnya ya nyerah juga. Catatan: saya yang nyerah, bukan anaknya. Mungkin saya harus lebih “tega” ya.
  5. Pujilah ia jika sudah berhasil mengatasi emosinya.
  6. Tetap sabar. Jika sedang lelah, mintalah pasangan untuk menjaga anak selama periode tantrum.

Dont’s:

  1. Jangan berteriak atau meninggikan suara untuk menenangkan anak. Bukan semakin tenang, anak justru akan membalas aksi tersebut.
  2. Hindari benda-benda yang tajam atau berbahaya di sekitar anak.
  3. Jangan memukul anak.
  4. Jangan merayu dengan imbalan karena ia akan melakukannya lain kali karena tahu akan mendapatkan sesuatu.
  5. Yang lebih penting, jangan mengabulkan permintaan anak hanya karena merasa malu. Ini adalah motivasi yang salah dan akan berdampak buruk pada anak kelak.

Kenali Penyebab Tantrum

Setidaknya, ada 2 jenis tantrum yang dialami oleh anak. Pertama, tantrum frustrasi. Ini adalah jenis tantrum yang terjadi pada anak karena tidak kunjung bisa melakukan sesuatu. Kegagalan ini membuatnya frustrasi dan marah. W sering mengalami hal ini. Misalnya, ia ingin memasukkan sebuah benda berukuran besar ke dalam botol. Karena mulut botol kecil, tentu saja ia gagal terus. Akhirnya, ia melempar semuanya ke segala arah.

Jenis tantrum kedua adalah tantrum manipulatif. Ini adalah tantrum yang terjadi pada anak karena ia ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak diperbolehkan. Biasanya, anak tidak akan berhenti ngamuk sebelum keinginannya terpenuhi.

Jadi, itulah seluk-beluk tantrum yang saya ketahui. Yah, saya tahu, informasi ini masih sangat sedikit dan belum lengkap. Semoga seiring dengan waktu saya bisa meng-update hasil praktik saya.

Pernah punya pengalaman soal tantrum juga, Bu?