Tips Mengatasi Tantrum Pada Anak

“Udah kasih aja..”, begitu biasanya ucapan yang keluar dari mulut si emak maupun si bapak ketika anak mulai merengek karena menginginkan sesuatu. Takutnya, rengekan tersebut berubah menjadi teriakan histeris. Kan malu!

Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya dialami oleh anak-anak. Perilaku tantrum pada anak tampak dalam bentuk merengek, menangis, berteriak, melemparkan sesuatu (atau bahkan dirinya sendiri), berguling-guling, dan sebagainya. Bahasa planetnya, “ngamuk“. Tantrum biasanya kambuh jika keinginan anak tidak dipenuhi oleh orangtuanya.

***

W mulai menunjukkan gejala tantrum beberapa minggu belakangan. Polanya selalu sama. Ia menginginkan sesuatu (sebuah benda atau melakukan sesuatu), ia merengek, ia menangis, ia berteriak, ia merebahkan badannya ke depan, hingga keinginannya terkabul.

Awalnya, kami berusaha memenuhi semua keinginan tersebut. Apalagi kalau pulang kerja, capek, dan masih dibombardir dengan teriakan histeris. Aduh, nyerah deh! “Udah kasih aja,” biasanya itu kalimat sakti yang sanggup membuat W tersenyum manis kembali. Aih.

Namun, lama-kelamaan, permintaannya kadang nggak bisa dipenuhi. Misalnya, ia bersikukuh ingin ngubek-ubek piring makannya padahal kami sedang terburu-buru mau pergi. Atau, ketika di minimarket, ia berkeras membeli permen kesukaannya hanya untuk dipegang–padahal di rumah masih ada beberapa. Boros lo, Nak!

***

Jika anak selalu dituruti kemauannya, dampaknya di masa depan bisa negatif. Anak akan egois, tidak mau berbagi, tidak mau mengalah, suka memaksa, dan sebagainya. Serem banget! 

Karena itu, sebagai ibu, saya berusaha untuk mencari tahu bagaimana cara menghadapi perilaku tantrum tersebut dengan jurus yang tepat. Berikut beberapa tips yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.

  1. Coba alihkan perhatiannya. Misalnya, jika ia menunjuk sesuatu dan bersikeras menginginkannya, ajak ia berpindah dari tempat itu. Keluarlah dari minimarket atau rumah, tunjukkan sesuatu yang menarik.
  2. Ajak ia berbicara. Untuk kasus W (usia 15 bulan), ia memang belum bisa mengatakan apa yang ada di hatinya dengan sempurna. Namun, ia bisa mendengar dengan baik. Sampaikan alasan  dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia bisa jadi masih akan menangis, tetapi setidaknya ia tahu mengapa dilarang.
  3. Berikan ciuman dan pelukan. Kita semua pasti tahu kan, betapa ajaib kedua hal ini untuk meluluhkan hati. Ajaklah ia bercanda dan hujani dengan ciuman.
  4. Memberi waktu padanya untuk menenangkan diri. Ini pernah saya coba, tapi hasilnya tangisannya semakin menggebu. Akhirnya ya nyerah juga. Catatan: saya yang nyerah, bukan anaknya. Mungkin saya harus lebih “tega” ya.
  5. Pujilah ia jika sudah berhasil mengatasi emosinya.
  6. Tetap sabar. Jika sedang lelah, mintalah pasangan untuk menjaga anak selama periode tantrum.

Dont’s:

  1. Jangan berteriak atau meninggikan suara untuk menenangkan anak. Bukan semakin tenang, anak justru akan membalas aksi tersebut.
  2. Hindari benda-benda yang tajam atau berbahaya di sekitar anak.
  3. Jangan memukul anak.
  4. Jangan merayu dengan imbalan karena ia akan melakukannya lain kali karena tahu akan mendapatkan sesuatu.
  5. Yang lebih penting, jangan mengabulkan permintaan anak hanya karena merasa malu. Ini adalah motivasi yang salah dan akan berdampak buruk pada anak kelak.

Kenali Penyebab Tantrum

Setidaknya, ada 2 jenis tantrum yang dialami oleh anak. Pertama, tantrum frustrasi. Ini adalah jenis tantrum yang terjadi pada anak karena tidak kunjung bisa melakukan sesuatu. Kegagalan ini membuatnya frustrasi dan marah. W sering mengalami hal ini. Misalnya, ia ingin memasukkan sebuah benda berukuran besar ke dalam botol. Karena mulut botol kecil, tentu saja ia gagal terus. Akhirnya, ia melempar semuanya ke segala arah.

Jenis tantrum kedua adalah tantrum manipulatif. Ini adalah tantrum yang terjadi pada anak karena ia ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak diperbolehkan. Biasanya, anak tidak akan berhenti ngamuk sebelum keinginannya terpenuhi.

Jadi, itulah seluk-beluk tantrum yang saya ketahui. Yah, saya tahu, informasi ini masih sangat sedikit dan belum lengkap. Semoga seiring dengan waktu saya bisa meng-update hasil praktik saya.

Pernah punya pengalaman soal tantrum juga, Bu?

Leave a Reply