Menjadi Ibu, Menjadi Pembelajar

Halo, ketemu lagi!

Setelah saya menghilang beberapa saat, hehe. Ada banyak kesibukan di luar sana dan selalu pengen kembali ke sini, tapi kok rasanya waktu sudah habis semua.

Pagi hari ini (saya nulis 04.07 WIB; setelah lembur kerjaan), akhirnya menyempatkan diri untuk coret-coret dikit. Tentu saja, ada godaan untuk berhenti nulis karena alasan perfeksionis. Tapi, segera saya tepis jauh-jauh. By the way, itu baru berhasil setelah periode “tulis-hapus” empat kali.

Saya nggak pengen menyampaikan yang berat-berat pagi ini. Meskipun ada utang untuk nulis sesuatu. Bisa nyusul, yah? Hihi. Saya cuma ingin meninggalkan jejak saja dulu.Harapannya, semoga bisa konsisten menulis secara terjadwal.

Supaya nggak basa-basi banget, saya ingin menyampaikan sedikit mengenai visi saya membangun blog ini. Apakah itu? Tak lain adalah untuk menyampaikan ide dan suara tentang profesi saya sebagai ibu. Saya–seorang introver sejati–banyak diamnya kalau bertemu orang. Terutama di tengah orang-orang yang memiliki frekuensi berbeda. Dengan menulis di sini, saya bisa menyampaikan semua pikiran saya tanpa harus memikirkan soal diterima atau tidak.

Saya juga ingin membagi pengalaman dan hal-hal yang saya ketahui. Mungkin sederhana, tetapi saya harap berguna (bagi yang belum tahu). Saya sendiri banyak berselancar di dunia maya untuk mendapatkan banyak informasi jika merasa masih belum banyak tahu. Apalagi jika baca dari blog, biasanya tulisan tersebut original (merupakan pengalaman pribadi penulis sehingga lebih mengena).

Alasan lainnya, saya ingin mendirikan sebuah “monumen” bagi perjalanan saya berkarier sebagai seorang ibu. Suatu saat kelak, ketika W sudah dewasa, saya ingin membaca ulang semua hal yang telah kami lakukan bersama. Dan semoga itu bisa memupus kerinduan pada masa lalu.

Namun, tantangan yang saya hadapi terutama adalah faktor selalu ingin segalanya sempurna. Jadi, pada beberapa situasi, saya akhirnya nggak melanjutkan tulisan (berakhir di draft, kemudian masuk trash).

Semoga saya bisa melawan itu dan terus berusaha meningkatkan kemampuan menulis supaya bisa menyampaikan ide dengan baik dan dimengerti oleh pembaca.

Nah, kalau ibu-ibu, tantangan menulisnya apa nih? Bagi pengalamannya dong…

<img src=”http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=eb1a3248129b7ee71267e2e49bc38db1cf8712b1&_host=www.ibubelajar.com/”>

2 Comments

  1. Amanda ratih

    July 7, 2018 at 12:23 pm

    Ngantuk bun, aku tuh orangnya ngantukan wkwkw.. padahal anak sdh bisa dikendalikan, mksdnya dia ngrti klo emaknya emang tukang ngetik jd ga pernah ganggu, nah masalahnya adalah pd ngantuk ini loh kok ya nyebelin bngt

    1. Ibuk W

      July 18, 2018 at 7:30 am

      hahaha, mungkin perlu ngopi dulu yaa sebelum mulai nulis… katanya, ngopi itu bisa bikin ide mengalirrr

Leave a Reply