Ibu

Hai Ibu, Apakah Anda Ingin Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga?

Apakah isu sensitif soal ibu bekerja dan ibu rumah tangga masih ramai?

Tulisan ini bukan ingin membandingkan keduanya, kok. Ini sekadar pengalaman dan perenungan saja yang rasanya nggak enak untuk disimpan sendiri.

Saat ini, saya berstatus sebagai seorang ibu bekerja. Sebelum menikah, saya juga sudah bekerja. Bahkan hingga memiliki satu anak, saya masih bekerja di tempat yang sama.

Bersyukur juga, karena dengan bekerja, saya dan suami dapat menghidupi keluarga setiap bulan. Awalnya dulu sempat khawatir. Gimana yah kita bisa bangun keluarga dan penuhi semua kebutuhan anak dengan gaji yang “standar”?

(Tapi, itu kekhawatiran yang nggak terjadi. Semua dicukupkan oleh Tuhan. Makasih, Tuhan.)

Saya suka-suka aja bekerja karena dapat menyalurkan ide dan kemampuan, apalagi saat ini saya bekerja di bidang yang saya sukai. Pokoknya, bekerja serasa bermain karena inilah hobi saya. Ya, soal kerikil-kerikil tajam di dalamnya, itu persoalan biasa, kan.

Tantangan mulai muncul ketika anak lahir dan tidak ada yang menjaga. Ya, kami hanya tinggal berdua. Keluarga besar jauh semua. Jadi, harus mandiri donk. Apa-apa dilakukan berdua. Namun, karena keduanya bekerja, akhirnya anak kami pilihkan daycare yang baik.

Bersyukur (lagi), si kecil betah di sana. Sejak usia 3 bulan sampai sekarang nggak pindah-pindah. Bahkan, kami merasa memiliki keluarga baru. Anak-anak lain saya anggap seperti anak-anak saya juga. Para bu guru menjadi keluarga dan penolong yang peduli pada W. Bahkan, kepedulian mereka seakan-akan melebihi saya karena mereka hampir sepanjang hari bersama dengan W.

Masalah utamanya justru adalah karena saya menjadi kangen banget sama anak yang semakin menggemaskan ini. Pengennya uyel-uyel pipinya tiap saat (meskipun itu hanya mimpi kalau anaknya sudah badmood).

Apalah daya, hm, perlu sabar dulu aja supaya kondisi cukup memungkinkan bagi kami. Karena, ada mimpi lain yang ingin diwujudkan. Mungkin ada yang bilang: ini waktu yang tepat, kapan lagi? Pengennya sih begitu. Tapi yang ditunggu ini juga tak kalah penting.

Soal pertanyaan di judul tersebut, hehe, mungkin banyak ibu-ibu yang berbeda pendapat. Apa pun pendapatnya, tak perlu saling menghakimi. Banyak kok ibu-ibu bekerja yang ingin menjadi ibu rumah tangga dan ibu rumah tangga ingin menjadi ibu bekerja. Hanya saja, suka gengsi mau bilang demikian karena takut dianggap salah menentukan jalan hidup.

Bagaimana pun, yang dilakukan ibu adalah yang terbaik untuk anak dan keluarga. Soal caranya, mari serahkan pada masing-masing orang. Belum tentu, metode atau prinsip yang sesuai untuk kita, bisa diterapkan pada orang lain. Jadi, tak perlulah merasa lebih baik atau justru merasa lebih buruk. Menjalani kehidupan sendiri tanpa harus pusing dengan pandangan orang lain jauh lebih menyenangkan, kok.

6 thoughts on “Hai Ibu, Apakah Anda Ingin Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga?”

    1. yes, bener sekali mba.. asal kita udah bener-bener pertimbangin pilihan kita dengan baik, ngga perlu pusing apa kata orang..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *