5 Hal yang Sering Salah Dimengerti Tentang Ibu Bekerja

[Disclaimer] Sekali lagi, ini bukan untuk menajamkan perbedaan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Please, kalau berkenan bisa membaca kembali postingan saya sebelumnya…

Hai Ibu, Apakah Anda Ingin Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga

Daripada salah paham, saya ingin meluruskan sedikit tentang pandangan orang-orang tentang ibu bekerja (dalam hal ini: saya) yang kerap menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung usai.

1. Ibu bekerja lebih sayang pekerjaannya daripada anak

Ini mustahil banget. Meskipun selama ini waktu sehari-hari banyak dicurahkan untuk bekerja, rasa cinta untuk anak ada di dalam hati dan nggak pernah berkurang. Bahkan, saya sendiri merasakan betapa kerinduan untuk selalu bersama si kecil terus-menerus timbul.

Jadi, kalau lagi bekerja dan kangen anak, akhirnya buka-buka galeri foto dan video lalu senyum-senyum sendiri. Ketika pulang dan akhirnya bertemu, ada rasa lega yang luar biasa.

Setidaknya, alasan bekerja nggak menjadikan saya mengurangi kadar cinta kepada anak, sama juga seperti ibu-ibu lainnya, entah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.

Lagipula, sebagian besar motivasi ibu bekerja untuk bekerja adalah karena sayang keluarga dan ingin mempersiapkan yang terbaik untuk masa depan anak.

2. Ibu bekerja nggak bisa mendidik anaknya dengan optimal

Pada saat-saat tertentu, jujur saja, saya suka khawatir jika W tidak tumbuh sesuai dengan yang saya harapkan. Ibu, katanya, adalah orang yang paling ideal untuk menjadi guru bagi anak. Lha, kalau anaknya di daycare, gimana tuh?

Faktanya, saya memang nggak bisa mengontrol W sepanjang hari. Rasa khawatir tentu masih ada hingga saat ini. Tapi, yang membuat saya lega adalah ia tumbuh dengan baik. Ada beberapa kebiasaan yang bahkan tidak kami ajarkan sudah ia kuasai dengan sendirinya. Beberapa kemampuan lainnya membuat kami terheran-heran dan takjub. Ya, ia belajar dengan baik di sana.

Dan yang membuat saya bertambah tenang adalah ada komunikasi yang terbuka dengan pihak daycare terutama gurunya sehingga kami bisa saling berbagi mengenai perkembangan W. Saya samasekali nggak menganggap mereka sebagai orang lain, justru saudara yang juga sayang dan peduli dengan tumbuh kembang anak saya.

Di dalam kehidupan sehari-hari, bukankah keluarga besar juga ikut mendidik anak? Kita tentu nggak bisa melarang nenek atau tante untuk berinteraksi dengan si kecil dan menyampaikan nasihat-nasihat tertentu. Nah, konsepnya sama.

Hanya saja, kita perlu memperluas pandangan dan tidak selalu menganggap bahwa “saudara” hanyalah mereka yang sedarah. Kita bisa bersaudara dengan siapa saja.

3. Ibu bekerja nggak bisa mengikuti perkembangan anak

Ya, suka iri juga sih kalau ada yang posting tentang keseharian si kecil setiap hari di rumah. Siapa yang ngga pengen. Namun, itu bukan berarti ibu bekerja harus kehilangan seluruhnya saat-saat membahagiakan ketika melihat perkembangan anak.

Saya mau berbagi, W termasuk lambat untuk berjalan. Hingga usia 19 bulan, ia baru bisa melangkahkan kaki sendiri tanpa bantuan pegangan orangtua. Namun, suatu malam, akhirnya ia berhasil melakukannya. Itu adalah momen yang sangat mengharukan.

Dan tebak, saya bisa merekam momen itu di sini:

Yeay, W berhasil!

Jadi, nggak sepenuhnya saya kehilangan momen-momen berharga dalam tahap perkembangan anak. Bahkan, kami justru bisa lebih merasakan hal berbeda ketika sore hari kembali bertemu. Itu yang selalu membuat hati berbunga-bunga.

Tipsnya: singkirkan gawai SEBISA MUNGKIN ketika sudah berada di rumah bersama anak.

Ini akan membuat kita lebih peka dan tahu apa saja yang berbeda dan baru pada anak. Sebisa mungkin, sebelum anak tidur di malam hari, saya usahakan untuk meminimalkan pegang hp.

Memang nggak mudah karena hidup kita saat ini sebagian besar bergantung pada hal-hal berbau digital. Namun, kalau udah kelewatan, biasanya W mulai protes, “Bu… bu.. buuuuu…” [njawil-njawil minta diperhatikan dengan bola mata memelas].

4. Ibu bekerja nggak capek jaga anak karena bekerja lebih enak

Hehehehe. Capek kok. Sama. Meskipun kadarnya berbeda dengan ibu rumah tangga yang sepanjang hari bersama anak. Jaga anak melelahkan, bekerja juga melelahkan. Saya berani bilang itu karena merasakan juga ketika masih cuti melahirkan.

Nah, kalau bekerja, mungkin bukan capek fisik (khususnya bagi yang kerja di belakang meja) tapi stresnya yang membuat lelah. Kadang-kadang, stres itu masih terasa hingga di rumah. Lalu, ketemu anak yang sedang bad mood, lengkap sudah semuanya.

Tapi, kita ibu-ibu selalu tegar kalau anak udah tersenyum dan tertawa, ya kan. Hehe. Secapek apa pun, jangan sampai diumbar dan membuat kita nggak bersyukur dengan keadaan saat ini.

5. Ibu bekerja nggak ingin tinggal di rumah, pake daster, dan hidup tanpa makeup

Jujur saja, saya berangkat kerja juga sering tanpa makeup apa pun. Karena nggak sempat, cyin. Pagi hari itu segala macam jurus silat sudah dikeluarkan tapi tetep aja nggak cukup waktunya. Jangankan untuk bikin alis, mau pake bedak padat aja nggak ada waktu.

Ya, status bekerja nggak selalu membuat saya menjadi kelihatan cantik setiap hari karena dandan. Biasa aja kok. Baju juga nggak modis-modis amat (karena emang nggak stylish kali ya haha), Memang sih nggak pake daster juga…

Tapi ya itu tadi, bagi saya, bekerja adalah untuk bekerja. Setiap bulan bisa memperoleh penghasilan dan itu digunakan untuk beli susu, beli popok, beli lain-lain untuk keperluan anak. Udah gitu aja, kok.

Dan, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jangan mengira jika di dalam hati ibu bekerja nggak pernah terselip keinginan untuk resign. Bahkan selalu ada kalau mau jujur. Dan semua dilema itu harus dihadapi dengan kuat dan berani.

Nah, itu dia 5 hal yang menurut saya kadang-kadang salah dimengerti oleh sebagian orang tentang ibu bekerja. Ini berdasarkan pengalaman pribadi selama ini.

Apakah ibu mengalami hal yang sama atau justru berbeda?

 

8 Comments

  1. Bunda Erysha (yenisovia.com)

    May 19, 2018 at 6:51 am

    Walau saya seorang ibu rumah tangga. Saya nggak berani juga mengomentari wanita karier. Karena saya nggak pernah punya hak untuk mengomentari hidup orang lain. Sekarang ibu rumah tangga vs wanita karier suka di debatin ya Mba. Rasanya itu melelahkan hihihi. Semangattt Mba

    1. Ibuk W

      May 19, 2018 at 11:27 pm

      Makasih Bunda Erysha..
      Iya nih, padahal sama-sama wanita yang sayang anak hehe. Hanya saja berbeda jalan hidupnya. Melelahkan dan bikin stres kadang-kadang, karena saya pun pengennnn jadi ibu yang bekerja di rumah saja haha. Semoga kita semua diberi kesehatan untuk menjalani pilihan masing-masing ya Bun. Makasih kunjungannya… 🙂

  2. trianiretno.com

    May 22, 2018 at 11:53 pm

    Aku kerja kantoran sebelum punya anak. Resign setelah melahirkan. Mau balik ngantor ternyata kutaksanggup 😀 Sampai sekarang masih sering takjub lihat temen2 yang tetep ngantor setelah punya anak. Bagiku masing-masing punya plus minusnya. Punya pertimbangan dan konsekuensi sendiri. Daaaan….aku paling sebel pada perempuan yang demen banget menjatuhkan mental perempuan lain yang nggak sepilihan dengannya.
    Stay strong, stay happy yak 🙂

    1. Ibuk W

      July 18, 2018 at 7:33 am

      iya, masing-masing punya kehebatannya masing-masing dan harus punya cara untuk menanggulangi konsekuensinya. Bagusnya sih, para ibu dapat bersatu ya, saling dukung, demi anak-anak yang bermasa depan cerah kelak…
      btw, makasih sudah mampir mbaa.. 🙂 🙂 🙂

  3. Sapti nurul hidayati

    June 8, 2018 at 10:54 am

    Setuju… Semua ibu baik bekerja ataupun yang tinggal di rumah pasti ingin yang terbaik untuk buah hatinya… Semangaat mbak.. 😉

    1. Ibuk W

      July 18, 2018 at 7:34 am

      makacii mba saptiii… semoga kita semua diberikan kekuatan untuk memberikan yang terbaik ya mba… mari kita jadi ibuk-ibuk setrong! 😀

  4. Reyne Raea

    June 12, 2018 at 1:30 pm

    Baca ini jadi tercerahkan.
    Sebagai IRT mantan WM saya masih sering kesal sama ibu bekerja, khususnya yang anaknya suka membawa dampak negatif bagi anak saya hiks..
    Kebanyakan teman anak saya yang *maaf terpapar hal-hal negatif, ayah ibunya gak ada di rumah, hanya dititipin ke ART, dan pemakaian gadget gak kekontrol.

    Alhasil, sikap dan omongannya masha Allah bikin ngelus dada, suka ngomong jorok, ngomong hal-hal tabu padahal usianya masih 7 tahunan.
    Miriss…

    Tapi belakangan saya sadar, semua bukan hanya karena ibu bekerja, ibu di rumah kalau kurang perhatian ke anak juga bisa kecolongan.

    1. Ibuk W

      July 18, 2018 at 7:37 am

      iya, mba, soal terpapar hal-hal negatif itu bener banget.. saya juga kadang khawatir tuh. tapi, kunci yang saya pegang selama ini adalah selalu bangun komunikasi dengan pihak yang bantu jaga anak… kadang-kadang, kami sekeluarga berkunjung ke rumah guru-gurunya, demi mempererat relasi, syukur-syukur dapat berbagi nilai-nilai yang kita yakini sehingga nanti dapat ditransfer lagi ke anak.. memang ribet sih, tapi yang penting solusinya, bukan ngeluh hehe… nah, ibu rumah tangga mungkin punya lebih banyak kesempatan untuk transfer nilai itu, tantangannya hanya pada kurang seimbang bagi waktu aja dengan urusan rumah tangga 🙂 🙂
      terimakasih udah berkunjung yak…

Leave a Reply