Cara Membangun Kebiasaan Positif Pada Anak

Membangun kebiasaan positif pada anak tidak mudah. Kita harus coba lagi dan lagi supaya anak mau mengikuti apa yang diajarkan kepadanya.

[Tulisan ini adalah untuk menepati janji yang saya buat di postingan Instagram saya beberapa waktu yang lalu. Iya, kelamaan ya eksekusinya. Maapkeun. Dan selamat membaca. Semoga bermanfaat]

Sekitar satu bulan yang lalu, saya tiba-tiba kepikiran untuk mulai memakaikan helm kepada W jika kami sedang naik motor. Sebenarnya sudah sejak lama saya kepingin ia menggunakan helm. Alasannya: supaya nggak dingin di jalanan, supaya aman, supaya (sedikit) terhindar dari asap, dan supaya mulai belajar aja dari sekarang..

Nah, suatu pagi kebetulan kami berangkat cukup pagi. Di jalan sepanjang kami menuju daycare-nya, ada yang menjual helm. Kami pun mampir sejenak untuk membeli. Dalam pikiran saya gampangin aja: pilih lalu bayar.

Eh, ternyata nggak semudah itu, sodara-sodara!

Masalahnya adalah ketika saya mencoba memakaikan helm ke si balita ini, ia menolak keras! Pertama sih mau (karena penasaran), eh selanjutnya kok emoh. Menghindar gitu pengen segera pergi. Padahal, ibu udah kekeuh harus beli hari itu juga. Secara waktu luang untuk mampir seperti ini sangat jarang..

Udah dirayu berkali-kali, tetap nggak mempan. Maksud ayah dan ibu W adalah supaya nyocokin betul apakah helm itu muat di kepala W. Takutnya, kekecilan kan. Percuma dong beli mahal-mahal kalau cuma jadi penghuni gudang.

Lah, tapi kok W samasekali nggak mau berkompromi. Padahal, waktu terus berputar. Kami harus segera menuju tempat kerja. Aduh, gimana nih.

Ada beberapa jenis pilihan helm anak sebenarnya yang tersedia di sana. Dan, kami fiks bingung mau yang mana. Tapi, saya mau bagikan beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan kita ketika membeli helm anak, buibu…

  1. Beratnya. Yak, ini penting banget ya. Soalnya, memakaikan helm ke kepala anak yang belum pernah menggunakannya pasti akan terasa berat. Saya aja dulu menggunakan helm standar SNI ini agak pusing pertama kali. Maklum, dulu helmnya yang biasa itu lho…
  2. Ukurannya. Awalnya, kita pikir kalau ukuran yang besar itu bagus. Biasa, perilaku ibu-ibu kalau beli keperluan anak sukanya beli yang gede-gede untuk menghemat uang. Namun akhirnya saya mensyukuri pilihan untuk membeli yang ukurannya pas. Hal ini membuat helm nggak goyang-goyang karena tepat mengena di kepala anak.
  3. Dalamnya. Nah, jangan lupa perhatikan bagian dalam helm ya. Saya sempat kecolongan nih terutama pada bagian telinga yang ada besi penahannya itu. Ternyata, sedikit agak menonjol dan mungkin bikin sakit. Akhirnya, kami pun mengganjalnya dengan kapas. Jadi, usahakan bagian dalam helm benar-benar sesuai untuk anak. Empuk dan bersih.
  4. Motifnya. Sebenarnya, ini hanya motivasi pendukung aja bagi anak supaya mau menggunakan helm dengan sukarela. Sayangnya, waktu itu nggak ada motif mobil yang sangat disukai W.

MULAI SOUNDING

Setelah membeli helm, W belum langsung mau memakainya. Jadi, kami gantung aja di bagian depan motor. Bahkan, ketika pulang juga masih belum mau. Saya sih maklum saja ya. Namanya anak kecil dan belum pernah menggunakan helm, pasti ia masih jaga jarak.

Saya pun bertekad mulai melakukan pendekatan secara halus. Merayu, tapi nggak terlalu kelihatan. Dan tentunya NO PEMAKSAAN. Lagipula, ini adalah tentang memberi kesadaran, bukan sekadar untuk mengikuti perintah orangtua.

Caranya adalah dengan melakukan SOUNDING kepada W selama beberapa waktu hingga ia tertarik untuk menggunakan helm.

Inti dari strategi sounding ini adalah:

  • Memberitahukan kepada anak bahwa apa yang kita ingin ia lakukan itu adalah hal yang positif dan bermanfaat. Contoh: “Eh, pake helm itu bagus looo. Jadi nggak panas kena matahari. Bisa ditutup lagi. Liat nih!”
  • Membangkitkan rasa tertarik. Misalnya dengan mengatakan, “Wahhh, helmnya bagus sekaliii.. Tuh, ada gambar gajahnya. Bagus, ya?”
  • Mengajak anak untuk mengikuti. Anak sebenarnya adalah pribadi yang senang mengikuti, baik orangtua atau orang lain. Jadi, kami selalu bilang, “Eh, besok dedek pake helm yaaah, kaya Ayah dan ibu.. Tuh, sama kan?”
  • Memperkenalkan anak dengan sesuatu yang baru. Wajar banget lo bun kalau anak nggak mau dengan sesuatu yang baru. Ibaratnya, mereka belum bisa membedakan itu berbahaya, menyakitkan, dan sebagainya bagi mereka. Jadi, ada baiknya kita perkenalkan dulu. Mulai dari melihat bagian dalam helm. Lalu mengajak mereka menyentuhnya.

Untuk melakukan sounding, jangan berharap hasil sekejap ya bun. Sounding itu bisa hasilnya cepat atau lama. Tergantung pada cara anak menangkap itu. Nah, tugas ibu setelah melakukan sounding adalah SABAR. Yes, cukup dengan sabar aja dan tentunya tidak henti-henti dengan cara sekreatif mungkin mengajak anak untuk melakukan yang kita ingin ia lakukan.

Selanjutnya, setelah kira-kira anak udah mulai akrab dan menunjukkan tanda-tanda ketertarikan, barulah ibu bisa mulai “mencoba” memakaikan helm.

Tanda anak tertarik:

  • Tidak lagi menangis jika ibu dan ayah membahas itu
  • Mulai dekat-dekat dan berani megang
  • Kalau sudah bisa bicara, biasanya ia akan terus mengulang kata-kata itu
  • Jika pura-pura dipakaikan, ia akan terlihat pasrah. Mungkin masih merasa ragu, tapi mau.

Nah, jika ibu sudah mendapatkan sinyal ini, cobalah untuk memakaikan helm kepada anak. Dalam kasus W, saya membutuhkan waktu satu hari satu malam untuk melakukan sounding. Titiknya adalah pada pagi hari ketika ia bangun, saya langsung mengajaknya ngomong, melihat matanya dalam-dalam, dan bilang, “Eh, nanti W pake helm, yaaa. Ibu kan kemarin udah beliin. Helmnya bagus lo. Nanti ibu dan ayah juga pake. W pake ya?”

Dan tebak, ia langsung mengangguk gitu. Tatapannya itu menunjukkan bahwa ia sedang mempercayai ibunya. Terlihat ragu sedikit tapi mau mencoba. Saya benar-benar terharu pada saat itu.

Lalu, langkah selanjutnya adalah mengajaknya untuk melihat helm dan mencobanya. Sejak itu, ia tampak sudah nggak sabar. Jadi, mandinya pun terburu-buru. Ia pun dengan semangat mengucapkan, helm helm, yah, helm.

Ketika saya memakaikannya ke kepala W, ia sama sekali tidak berontak. Tentu saja, pakaikan dengan hati-hati ya Bun. Jangan membuatnya kaget atau merasa kesakitan pada awalnya.

Sepanjang jalan menuju daycare, W pakai helm tanpa dilepas. Waaah, saya sangat bahagia sekali. Pertama, karena akhirnya saya berhasil mengajak anak melakukan suatu kebiasaan positif. Kedua, karena akhirnya saya menemukan cara untuk merayu anak. Bukan dengna paksaan, apalagi sambil dimarahi yang tentu membuatnya semakin histeris.

Selama ini, saya selalu menggunakan prinsip: ia menyadari apa yang ia lakukan. Ia melakukannya dengan keinginan sendiri berangkat dari kesadaran tersebut. Yakin deh, hasilnya pasti bagus.

Nah, ilustrasi mengenai helm ini adalah salah satu contoh saja. Ada banyak kebiasaan-kebiasaan lain pada anak yang harus dibentuk. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya. Strateginya sama, sounding, ajak anak ngobrolo baik-baik, lalu praktik. Gitu aja terus sampai anak mau.

Daann, yang paling penting adalah orangtua melakukan apa yang ia katakan. Kadang kala, kami sebagai orangtua masih suka kecolongan. Misalnya, membuang benda-benda ke kasur, bukan meletakkannya. Akibatnya, kami nggak punya taring untuk memaksa anak melakukan hal sebaliknya.

Jadi, intinya sih adalah orangtua harus belajar memperbaiki diri, baru mengajari anak untuk menjadi lebih baik.

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat, yaa…

Kalau Ibu-ibu, punya pengalaman seru ketika mengajar anak nggak? Tantangannya apa aja nih?

Leave a Reply