BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Media Sosial, Perlukah Anak Memilikinya?

Apakah anak perlu memiliki media sosial? Anak saya belum “segede” itu untuk membuat akun media sosialnya sendiri. Namun, ini bisa menjadi salah satu panduan saya kelak, karena umur pasti akan bertambah. Hanya tinggal tunggu waktu saja.

Saya membayangkan, ketika W nanti berusia 8-9 tahun, ia lalu mulai membuat akun di salah satu media sosial. Lalu, saya melihat banyak foto-foto yang mungkin tidak saya sukai. Huhu, rasanya kok jadi nggak rela ya. Hehe. Berhubung saya sering melihat anak usia segitu udah mulai main medsos dan isinya… ya gitu deh.

Saya berharap, saya bisa memberikan dasar-dasar yang tepat pada W untuk bergaul di dunia maya sejak sekarang. Mungkin teknik saya belum sempurna betul, tapi saya ingin terus belajar untuk memperbaikinya.

Hal pertama yang selalu saya usahakan adalah memperkenalkan gadget pada porsi yang semestinya. Ada orang tua yang benar-benar melarang anak untuk megang gadget. Ada pula yang membiarkan. Saya berada di tengah-tengahnya. Pada waktu-waktu tertentu, saya membolehkan ia mengeksplorasi YouTube dan bagi saya itu bukan suatu masalah. Dengan ketentuan: saya ada di sana, menemaninya menonton. Kami akan membahas apa yang ia lihat.

Lalu, waktu untuk menonton pun dibatasi. Ini gampang aja karena koneksi internet di tab selalu pakai dari ponsel saya. Kapanpun saya mau, saya bisa langsung memutusnya.

Dan biasanya, setelah beberapa lama menonton, ia akan bosan. Lalu, ia menyerahkan tab itu untuk dicharge. Kemudian ia pun akan kembali memainkan mainan-mainannya.

Nah, soal media sosial sebenarnya bisa dibilang gampang-gampang susah ya. Secara, ibunya suka menggunakan media sosial. Bagaimana mungkin melarang anak?

Namun, ada beberapa hal yang selalu menjadi panduan saya ketika menggunakan media sosial.

Pertama, menghindari informasi-informasi yang bersifat pribadi atau terlalu menjurus.

Kedua, selalu memikirkan efek dari postingan tersebut. Setiap postingan di media sosial akan bertahan selamanya. Oleh karena itu, sebaiknya harus dilakukan untuk hal-hal yang positif. Kita harus tahu, apa tujuan memosting sesuatu di media sosial.

Jujur saja, saya menghindari membagikan berita-berita yang bukan berasal dari sumber tepercaya. Sefenomenal apa pun itu. Karena ketika saya membagikan, itu berarti saya menyetujui dan mempercayai. Dan saat ini, ada banyak situs hoax. Herannya, banyak juga yang percaya.

Ketiga, media sosial adalah modal, sebenarnya begitu. Ketika kita menggunakan media sosial, sebaiknya menghasilkan bagi kita dan orang lain. Mungkin bukan bersifat materi, tetapi setidaknya bermanfaat. Kalau hanya sekadar untuk simpan foto selfie tanpa sebab, kok rasanya kurang berfaedah. (Eits, foto selfie boleh lho, kalau itu untuk pamer makeup misalnya, ini kan juga pengetahuan bagi yang melihat).

Jadi, perlukah anak memiliki media sosial? Saya rasa, saya tidak akan melarangnya. Namun, harus ada keterbukaan. Saya mengetahui passwordnya. Saya bisa ngecek apa saja aktivitasnya di DM atau inbox. Sebelumnya, tentu saya akan bekali dia dengan bahaya serta risiko jika menggunakan media sosial tanpa dipikir.

Dengan kebebasan itu, saya harap W dapat mempergunakannya dengan baik, nggak bersikap sembunyi-sembunyi hanya untuk mengakses akunnya– yang justru akan berdampak negatif bagi semuanya.

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *