BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Berbagai Pekerjaan Rumah dengan Suami, Mengapa Tidak?

Saya bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian. Ia mau berbagi pekerjaan rumah tangga dengan saya. Bahkan, ia bisa memasak lebih enak dari saya.

Siapa bilang hanya istri yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari? Karena saya dan suami sama-sama bekerja, kami selalu berusaha untuk berbagi tugas sepulang kerja.

Biasanya, suami terlebih dahulu akan beres-beres, merendam cucian, bantu cuci piring, sementara saya menemani anak sambil melipat pakaian yang kering. Setelah suami selesai, barulah saya yang akan mencuci pakaian dan menyelesaikan semuanya.

Kami memutuskan untuk tidak memasak setiap hari karena harus bekerja, termasuk pada pagi hari. Kami memasak hanya pada hari libur saja karena ada banyak waktu luang.

Salah satu alasan pentingnya adalah karena persiapan memasak serta membereskan peralatan setelah memasak itu membutuhkan banyak waktu. Dan itu membuat kami menjadi kehabisan waktu untuk bisa menemani anak. Sebagai orang tua bekerja, yang saat ini tidak punya pilihan lain, menyediakan waktu untuk menemani anak seusai kerja adalah suatu kewajiban. Kami selalu usahakan anak tidak ditinggalkan karena sepanjang hari juga tidak bersama.

Jadi, dengan pembagian tugas seperti itu, salah satu dari kami akan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, dan salah satu yang lain akan bermain dengan anak.

Hingga saat ini, semua itu berjalan dengan baik. Meskipun ada kendala-kendala ya. Hehe. Menurut pengalaman saya, ada beberapa hal yang biasanya terjadi dalam pola pembagian ini,

1. Tidak sesuai

Saya sering kali merasa bahwa pekerjaan suami tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Soal mencuci piring misalnya, saya memiliki teknik sendiri supaya piring lebih bersih. Ya, sempat juga beberapa kali berdebat dengan suami soal itu. Namun, lama-kelamaan akhirnya saya mengalah aja. Triknya, saya nggak usah melihat suami ketika menyelesaikan tugasnya. Udah, biarkan saja ia berkreasi. Pokoknya selesai. Hehe.

2. Lebih Lama

Nah, ini suka bikin saya gregetan sih. Mungkin karena belum terbiasa aja ya. Atau saya yang selalu merasa kurang puas karena tidak mengerjakan sendiri. Entahlah. Tapi lagi-lagi tipsnya adalah berusaha menerima dan sabar. Namanya juga berbagi tugas, tidak semuanya harus seragam, baik cara mengerjakan maupun waktu pengerjaannya.

Pekerjaan yang Disukai

Nah, karena pekerjaan rumah cukup sedikit, saya rasa tidak ada hal yang terlalu berlebihan saya sukai. Bebersih rumah juga wajar saja sih, menyapu, merapikan, dan sebagainya. Itu juga tidak setiap hari kami lakukan.

Namun, pada momen-momen tertentu, saya senang melakukan pekerjaan rumah sepanjang hari. Karena saya senang jika rumah terlihat seperti “rumah” yang cantik, wangi, dan rapi. Eh, tapi nggak lama kemudian, Si Kecil udah menyebar kembali mainannya hehehe.

Saya harap setelah W bisa belajar untuk rapi, rumah kami bisa lebih tertata setiap hari.