BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

5 Film Recommended Untuk Para Ibu

Saya suka menonton film. Sayangnya, sekitar 3 tahun terakhir, waktu untuk menonton film berkurang drastis. Apalagi ke bioskop, sejak punya si kecil, blas nggak pernah nonton lagi.

Namun, sesekali saat selo, saya menyempatkan diri untuk menonton film. Meskipun biasanya nggak tuntas hahaha. Untungnya, teman kiri kanan saya di tempat kerja suka menonton film juga. Jadi, kalau ada rekomendasi film bagus, saya pasti dapat bocoran. Kalau “terdengar” bagus banget, saya biasanya intip-intip dikit.

Btw, saya tipe penonton yang nggak masalah dengan spoiler. Jadi, saya bisa menonton mulai awal, tengah, atau akhir–dan tetap bisa menikmatinya.

Nah, pada tantangan kali ini, saya akan menulis tentang film-film yang recommended untuk para ibu. Ini beberapa film yang membekas di hati, tetapi (lagi-lagi) belum sempat direview.

1. Panic Room (2002)

Ini tuh film lama banget. Kristen Stewart aja masih imut-imut gitu. Tampaknya, ia memang sudah punya bakat akting sebelum populer di film vampir ganteng.

Selain Stewart, pemeran utamanya adalah Jodie Foster. Kalau Foster sih terkenal all out banget saat memerankan tokoh yang suka bikin jantungan. Oh, ya, genre film ini lebih ke thriller dengan bumbu-bumbu dramatis.

Ceritanya, Meg Altman (Jodie Foster) adalah seorang wanita yang sudah bercerai. Ia bersama anaknya yang menderita diabetes, Sarah (Kristen Stewart), tinggal di sebuah rumah yang memiliki safe room. Ruangan ini berbentuk seperti lift, tetapi lebih lebar. Isinya juga lengkap. Namanya aja safe room, jadi memang benar-benar aman.

Suatu kali, ada 3 perampok yang membobol rumah mereka. Untungnya, mereka berhasil masuk ke safe room. Namunnn apa mau dikata, obat Sarah ketinggalan di luar. Padahal, obat itu harus disuntikkan tepat waktu.

Ya, mau nggak mau, Meg harus cari jalan supaya ia bisa keluar dari safe room, mencari obatnya, lalu kembali lagi ke dalam tanpa ketahuan. Adegan ini super menegangkan , pokoknya.

Melalui film ini, saya belajar bagaimana seorang ibu berani menghadapi ketakutan demi menyelamatkan anaknya.

Jodie Foster juga memerankan tokoh yang hampir sama di Flight Plan, ibu yang kehilangan anaknya di pesawat. Genrenya juga sama. Hanya saja, oleh orang-orang di pesawat, Foster dianggap mengalami halusinasi. Padahal mah dia memang benar-benar terbang bersama si anak di pesawat.

2. Rabbit Hole (2010)

Tahun 2014, saya pernah menulis review tentang film Rabbit Hole di blog bayangan. Judulnya Rabbit Hole, Merayakan Kehilangan di dalam Semesta Paralel.  Ini review film yang sangat membekas di hati meskipun waktu itu saya belum menikah, apalagi punya anak. Saat itu, saya juga masih rajin nulis review, baik film maupun buku hehe.

Ceritanya, Becca (Nicole Kidman) adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya karena ditabrak. Danny, sang anak, baru berusia sekitar 5 tahun. Lagi lucu-lucunya. Meskipun dari luar Becca tampak riang dan normal, sebenarnya di dalam hati ia sangat depresi.

Namun, benar kata orang. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. Setelah merenung dalam-dalam, Becca berhasil bangkit dari rasa kehilangan.

Ada salah satu filosofi penting yang disajikan melalui film ini, yaitu tentang Semesta Paralel. Ini adalah teori tentang kemungkinan serta kenyataan alternatif yang bisa saja terjadi dalam hidup ini.

Singkatnya, ada begitu banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam hidup kita. Ada banyak “aku” dan “kamu” di luar sana. Yang kita alami saat ini hanya salah satu versi dari sekian banyak kemungkinan.

Nah, untuk lebih jelasnya, silakan langsung tonton aja film bergenre drama ini. Memang alurnya agak lambat. Dijamin, pasti akan mbrebes mili. Tapi, jangan sampai ikutan murung ya.. Hehe.

3. Room (2015)

Room adalah drama independen yang dibintangi oleh Brie Larson. Larson yang berperan sebagai sosok seorang ibu bernama Joy dalam film ini berhasil menggaet penghargaan sebagai aktris terbaik di Piala Oscar. Film ini bercerita tentang seorang wanita yang disekap selama 7 tahun. Dari orang yang menyekapnya, ia hamil dan akhirnya memiliki seorang anak, Jack (Jacob Tremblay).

Di dalam ruangan penyekapan itu, ia membesarkan si anak. Bayangin aja, sejak kecil, hingga berusia 5 tahun, Jack nggak pernah melihat dunia luar. Joy mengajarkan Jack bahwa dunia itu hanyalah selebar ruangan yang mereka tinggali.

Namun, Joy tetap berniat untuk kabur dari penyekapan. Ia pun mencari akal untuk menyusupkan Jack ke luar. Saat Jack sudah di luar, di situlah mulai terlihat adegan drama yang sangat mengharukan. Untungnya, si penyekap ditangkap dan Joy bisa kembali bebas.

4.  Wonder (2017)

Saya memperoleh rekomendasi film bagus dari teman. Lucu katanya. Judulnya Wonder. Ceritanya tentang seorang seorang anak bernama Auggie (lagi lagi Jacob Tremblay) yang berusia 10 tahun dan mengalami kelainan sejak lahir. Ia telah menjalani sejumlah operasi, tetapi wajahnya masih terlihat aneh.

Ibu Auggie (Julia Roberts) mendidik anaknya di rumah dengan metode homeschooling. Namun, pada suatu titik, ia ingin si anak bisa bergaul seperti anak normal lainnya. Jadi, ia pun mendaftarkannya ke sekolah umum setempat. Tapi, itu keputusan berat. Karena wajahnya yang berbeda, Auggie kerap mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.

Dan… hati ibu mana yang tidak tersayat-sayat melihat si anak tersakiti seperti itu? Sayangnya lagi, sang ibu tidak mungkin untuk terus-menerus berada di samping Auggie. Namun, lama-kelamaan, anak laki-laki ini akhirnya berhasil mengontrol situasi dan memiliki teman.

Meskipun bikin terharu, film drama ini juga bergenre comedy. Apalagi dengan kehadiran Owen Wilson membuat suasana menjadi kocak. Perasaan penonton diaduk-aduk, antara mau menangis atau tertawa. Haha.

Saya merekomendasikan banget film ini bagi seorang ibu. Menarik banget pokoknya. Ada nilai-nilai moralnya juga.

5. Shutter Island (2010)

Saya taruh ini di bagian akhir karena mungkin agak “berbeda” dari yang sebelumnya. Namun, menurut saya film ini memiliki makna yang sangat dalam.

Film yang dibintangi Leonardo diCaprio ini bercerita tentang Teddy, seorang laki-laki yang sering mengalami mimpi buruk. Mengusung tema thriller, film ini memang cukup menegangkan. Namun, kalau nggak suka dengan film yang beralur lambat, sebaiknya abaikan rekomendasi ini hehe. Sempat nangkring di puncak box office, film ini rupanya cukup digemari.

Mengapa film iniShutter Island saya rekomendasikan untuk ditonton? Supaya waspada aja sih. Film tentang seorang wanita yang “tega” menenggelamkan ketiga anaknya ini, adalah hal paling konyol, tetapi mungkin terjadi dalam skala mikro pada siapa pun. Entah apa pun penyebabnya, mungkin baby blues akut, atau depresi yang tidak tertahankan. Akhirnya, anak menjadi korban. Ngeri..

Nah, itu 5 film recommended menurut saya. Sekarang, saya lebih suka nonton di iflix sih. Selain karena cukup lengkap, saya juga bisa menonton sebagian-sebagian (sesuai waktu yang tersedia hahaah) tanpa repot harus setel lagi. Biayanya juga terjangkau.

Oh, iya, kalau nggak suka film dan lebih suka musik, cek blog Mbak Dian untuk mendapatkan 5 rekomendasi musik yang seru untuk didengarkan.

Bagaimana dengan kamu, apa film yang paling berkesan bagimu?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 10 “5 film, musik, atau buku yang direkomendasikan”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Meskipun Penganut Minimalist Lifestyle, 5 Benda Ini Wajib Ada di Tas

Sejak beberapa tahun lalu, saya tergila-gila dengan konsep minimalist lifestyle. Rasanya, konsep itu sangat cocok dengan diri saya yang introver. Meskipun saya belum bisa sepenuhnya minimalist, setidaknya dalam beberapa hal saya mencoba menerapkannya.

Salah satunya, dalam mengelola barang bawaan. Sebagai pekerja kantoran, saya tentu harus berangkat setiap pagi ke tempat kerja. Supaya praktis, saya menggunakan tas untuk membawa beberapa keperluan harian. Mengingat tempat kerja saya nggak formal-formal banget, saya memilih menggunakan tas punggung.

Dulu, saya suka pake ransel yang gede. Iya, alasannya karena muat banyak. Lalu, rasanya juga lebih enak dibawa. Tapi, lama-kelamaan saya mulai merasa “keberatan” haha. Setelah dicek, isinya memang macem-macem. Maklum, saya tipe orang yang “persiapan banget”.

Akhirnya, saya mulai mengurangi isinya. Beberapa barang yang “sepertinya” tidak saya butuhkan, saya tinggalkan di rumah. Seiring dengan itu, saya memilih tas punggung berukuran kecil yang ringan dibawa ke mana-mana.

Lalu, apa saja barang-barang yang akhirnya tersisa di dalam tas?

1. Smartphone

Smartphone adalah barang pertama yang saya pastikan ada di dalam tas. Kebanyakan interaksi yang saya lakukan memang melalui smartphone. Jadi, kalau ketinggalan, fyuh, rasanya bingung nggak karuan wkwk.

Iya, saya memang harus belajar juga supaya nggak kecanduan. Makanya, saya biasanya menggunakan aplikasi Forest untuk bantu mengurangi penggunaan gadget dan lebih fokus pada kerjaan.

Oh, ya, selain smartphone, tentu ada charger-nya, ya. Hehehe. Tapi, biasanya sih jarang saya pakai karena baterai gadget saya pastikan penuh dulu sebelum berangkat. Saya beruntung karena OPPO keren banget dalam hal ini. Selain karena waktu untuk charging sangat cepat, baterai pun tahan lama. Jadi, nggak harus sering-sering ngecas, deh!

2. Dompet

Dompet saya sebenarnya nggak masuk dalam kategori “cantik” seperti umumnya dompet perempuan. Bahkan, cenderung murahan hahaha. Kali ini memang ada aksen bunga-bunganya, tetapi bukan itu alasan saya membelinya.

Alasannya adalah karena ukurannya cukup untuk kebutuhan saya. Ada 3 kompartemen di dalamnya, satu untuk uang tunai, satu untuk kartu-kartu, dan satu untuk kertas-kertas. Smartphone juga biasanya muat ke dalam dompet ini. Jadi, praktis banget kalau dibawa ke mana-mana tanpa harus pake tas.

3. Mouse

Iyaaaa… Saya ke mana-mana bawa mouse. HAHAHA. Karena saya memang butuh aja. Ini mouse wireless (begitu ya nyebutnya?) yang baru saja saya beli karena lebih praktis. Tinggal colokin ke laptop atau CPU, langsung deh bisa digunakan.

Pernah suatu kali mouse saya ketinggalan di rumah. Langsung kebingungan karena di kantor nggak bisa gunain komputer haha. Aneh? Hmmm. You never know.

4. Flashdisk

Ada banyak data penting yang saya simpan di dalam benda ini, terutama pekerjaan. Jadi, saya selalu bawa ke mana-mana, in case dibutuhkan.

Flashdisk saya adalah tipe yang bisa dikoneksikan di gadget. Jadi, fleksibel banget. Saya juga bisa mengerjakan tugas-tugas dan membuka data melalui smartphone atau tab jika benar-benar diperlukan.

Pengalaman aja, sih. Beberapa kali pernah kejadian ketika listrik padam. Dengan alat ini, saya masih bisa transfer data dan kirim lewat email melalui gadget.

5. Cairan Antiseptik

Benda lain yang selalu saya bawa adalah sebuah botol kecil berisi cairan antiseptik untuk tangan. Biasanya, saya pake botol semprot Antis. Saya suka karena nggak lengket dan bisa milih bau jeruk nipis atau timun hihihi.

Cairan antiseptik menurut saya praktis. Terutama jika tidak memungkinkan untuk mencuci tangan.

 

Nah, itulah 5 barang yang biasanya selalu ada di tas. Ternyata, dikit banget, ya? HAHAHA. Saya jarang bawa makeup, sisir, dkk. karena menurut saya belum terlalu dibutuhkan. Kecuali pada momen khusus yang mengharuskan saya untuk datang ke even tertentu pada sore hari.

Pernah saya lupa merapikan rambut ketika menghadiri suatu even. Untung saja, ada mbak Riana yang berkenan meminjamkannya haha. Pastinya, itu adalah salah satu benda wajib yang selalu dibawanya.

Kalau kamu, kira-kira apa barang paling “unik” yang selalu ada di tas?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 8 “Barang yang selalu ada di tas”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

“Belajar Itu Sepanjang Hayat”

Foto: www.pixabay.com

Belajar itu sepanjang hayat..

Konsep itu yang selalu saya ulang-ulang di benak.

Belajar bisa kapan saja. Belajar bisa di mana saja. Belajar bisa sama siapa saja. Belajar bisa dilakukan dengan siapa saja. Belajar bahkan bisa dari masa-masa paling nggak menyenangkan.

Seperti saya nih, saya baru aja belajar. Sudah nulis panjang-panjang, lalu terhapus begitu saja. Padahal udah selesai, tinggal finishing aja. Pengen nangis banget karena nulisnya pake hati tuh. HAHAHA.

Mungkin saya sedang diuji. Bener nggak sih mau belajar dari masalah?

Dan, saya pun mengumpulkan semangat lagi untuk mulai menulis hal yang sama. Males? Iyaaaaaa. Karena mood-nya langsung ilang, terbang entah ke mana. Tapi, namanya juga sedang belajar untuk bangkit. Harus lewat praktik, bukan teori aja.

Tentang Nama Blog

Kali ini, saya mau nulis tentang nama blog. Mengapa saya memilih “Ibu Belajar” sebagai “brand” saya. Hmm, ceritanya panjang.

Saat itu, saya baru saja melahirkan. W baru berusia sekitar 4 hari. Kami pulang dari RS dan mulai menjalani hari-hari sebagai ibu. Saat itu, saya dan suami hanya ditemani oleh ibu mertua (yang kebetulan udah lama nggak merawat bayi).

Ketika masih di RS, W “dirawat” oleh suster. Dimandiin dua kali sehari. Dibersihkan kalau BAB. Dijemur tiap pagi. Dsb. Pokoknya, si ibu terima berezz aja. Ya, iya, kan sedang terbaring karena luka sesar.

Perjuangan (dan kekonyolan) baru dimulai ketika tiba di rumah. Malem-malem, W mendadak BAB. Item warnanya. Ya, agak bingung juga, kenapa gini ya? Tapi, ya udahlah. Yang penting harus segera dibersihkan. Cuma.. gimana cara membersihkannya?

Dasar ibu baru! Tissue basah nggak sedia. Lap juga nggak ada. Panik? Iyaaaaa. Padahal cuma membersihkan BAB bayi. Memang, seumur-umur belum pernah melakukan itu.

Saya pun minta suami untuk mengambil air panas. Tapi, kok dingin? Tuang air panas dulu deh. Tapi, gimana caranya? Mikirrr. Nyobaaaa. Pokoknya ribet banget. Harus dilap nggak sih? Udah gitu, anaknya nangis nggak keruan. Huhuhuhu.

Foto: www.pixabay.com

Saat itu juga saya langsung mikir. Ya, Tuhan. Saya belum banyak belajar. Bagaimana saya bisa jaga anak ini kalau saya nggak tahu apa-apa? Bagaimana kalau ia sakit? Nggak mau menyusui? Dsb.

Ketakutan-ketakutan yang menyerbu pikiran. Dan tentu saja bikin menyesal. Kemana saja saya selama ini? Kenapa saya nggak belajar.

Ingin Meninggalkan Jejak

Sejak kejadian itu, saya mulai berpikir untuk berubah. Nggak bisa begini terus. Saya harus banyak cari referensi dan informasi. Belum lagi karena banyak orang yang nyuruh ini itu. Harus gini gitu. Sementara saya, tipe orang yang skeptis banget. Apa iya gitu? Selalu itu yang muncul dalam pikiran.

Akhirnya, saya pun mulai kepikiran untuk bikin blog baru. Sesuatu yang bisa menjadi rekam jejak saya; mengatasi setiap kekonyolan ketika belum tahu apa-apa. Dengan begitu, saya bisa menjadi lebih baik lagi.

Menurut saya, belajar bukan hanya ketika si anak masih kecil. Ketika ia remaja, saya belajar untuk menjadi teman baginya. Ketika ia dewasa, saya bisa menjadi seseorang yang menginspirasi. Ketika ia menikah, saya bisa menerima pasangannya. Ketika ia memiliki anak, saya bisa menjadi nenek yang baik.

Semoga, setiap orang diberikan usia yang cukup untuk terus belajar. Terus mengusahakan kebaikan bagi diri dan orang lain.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Menulis Tentang Parenting, Cara Untuk Terus Belajar

Suka jiper baca blog-blog tentang parenting yang lengkap banget. Pengen juga bisa seperti itu. Tapi, kalau diturutin, hmm, kayanya kok bakal nggak jadi nulis.

GADOGADO. Itu tema blog saya di awal-awal mulai ngeblog.

Semua saya tumpahkan tanpa milih-milih atau bagi-bagi. Kalaupun ada fitur kategori, kadang kala saya nggak mau repot-repot menggunakannya dan secara otomatis semua tulisan masuk ke dalam “uncategorized“.

Kesan gado-gado tersebut keliatan jelas di blog saya yang ini. Suatu saat, saya bisa nulis tentang gaya hidup, lain waktu tentang buku. Lalu, setelah itu curhat. Haha.

Mungkin itulah enaknya nulis di blog. Kita nggak dituntut untuk harus nulis ini nulis itu. Nggak dibatasi oleh “tema” khusus. Pokonya bebazz aja. Bebas tapi sopan. Hehehe.

Mulai pengen fokus..

Beberapa waktu belakangan, saya pengen lebih fokus. Ya, banyak belajar juga dari para blogger senior. Dengan fokus, lebih mudah untuk menyelesaikan suatu misi yang diusung.

Tapi, apa misi saya?

Setelah punya anak, jadilah saya bercita-cita untuk nulis hal-hal terkait parenting atau apa pun yang berkaitan dengan anak.

Memiliki anak merupakan pengalaman yang seru dan menyenangkan, sekaligus bikin deg-degan.

Bahkan, setiap hari sebenarnya ada aja hal menarik yang bikin saya mikir, “Wah, ini keren nih kalau saya bagikan di blog. Apalagi kalau nambah informasi ini dan itu…”

Faktanya, saya kebanyakan mikir dong, Saudara-saudara. Apalagi trus setelah sercing-sercing dan nemu buuanyak tema serupa, jadi mendadak kehilangan semangat.

Padahal, ya, yang namanya pengalaman itu kan unik, nggak sama satu sama lain. Jadi, harusnya itu bukan alasan.

Saya pengen benar-benar bisa konsisten menulis tentang tema parenting. Apalagi karena nama blog ini juga udah sesuai.

Satu tema, banyak bahasan

Pasti pernah mikir, “Ah, saya pengen bebas aja deh. Nggak usah pake tema segala. Ntar jadi nggak pleksibelll“.

Faktanya, satu tema bisa dibahas dari banyak aspek, lo, gaes!

Caranya, kolaborasikan aja tema utama dengan banyak tema pendukung lain.

Contohnya kalo saya, pengen angkat tulisan tentang gaya hidup, bahas aja gaya hidup keluarga. Tulisan tentang kesehatan, bahas tentang kesehatan keluarga.

Kuliner? Traveling? semua bisa diceritakan dari sudut pandang seorang ibu (yang sedang belajar).

Blog Bayangan

Tentu saja, selain berprofesi sebagai ibu, saya masih seorang individu yang ingin bagiin hal-hal lain. Kadang kala, memang ada tema yang nggak pas aja dimasukkan ke blog ini.

Itulah gunanya punya blog bayangan hehehe. Sebenarnya, blog ini malah lebih duluan lahir. Saya gunakan aja untuk menampung hal-hal nggak jelas yang harus dikeluarkan.

Bagaimana dengan kamu, suka nulis gado-gado atau fokus satu tema aja?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 2 “Tema Blog yang Disukai”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Ngeblog, Cara Simpel Untuk Berbagi

Sumber foto: pixabay.com

Sejak 2004-2005–tepatnya ketika mulai kuliah di Semarang–saya sudah mulai kenal warnet. Zaman itu, Nokia tipe jadul tahan banting tanpa koneksi internet masih berjaya. Blog udah punya, tapi isinya ya gitu-gitu, deh. Nggak jelas. Namanya juga pemula.

Nah, yang saya ingat–dan sepertinya menjadi kebiasaan buruk–adalah banyak blog yang saya “lahirkan” tapi tidak saya rawat. Huhuhu. Ada yang usianya beberapa bulan (bahkan tahunan), ada pula yang hanya bertahan beberapa belas hari. Lalu, terbiarkan dan telantar begitu aja.

Saya rasa, kendalanya bukan cuma lupa password (para blogger pasti pernah mengalami ini minimal sekali haha), tapi juga karena konsep blog kurang matang. Jadinya, di awal menggebu-gebu, kemudian setelah itu kehilangan semangat.

Sumber gambar: pixabay.com

Sepanjang ngeblog, entah sudah berapa blog yang saya buat di WordPress maupun Blogspot. Oh, iya, saya kebanyakan sih menggunakan WordPress karena lebih familier dengan fitur-fiturnya. Tapi, saya rasa Blogspot keren juga, seperti milik teman saya, Mba Wiwin.

Setelah fase labil ngeblog, saya mulai banyak melihat blog-blog keren. Hmm, jujur aja merasa nggak percaya diri. Bukan hanya karena template-nya bagus amat, tapi karena tulisannya juga hebat-hebat. Aih..

Tapi itu bikin tambah semangat sih. Apalagi setelah gabung dengan beberapa komunitas, seperti KJOG (Kompasianer Jogja), Blogger Perempuan, Bloggercrony. Ya, saya tahuuu, saya memang lebih banyak jadi silent reader. Tapi, diam-diam saya menyerap ilmu dari para jagoan di sana.

Sekitar beberapa tahun lalu, lupa tepatnya kapan, saya memutuskan untuk beli domain dan berkomitmen bangun blog TLD. Yaa, tapi gituu, beli lalu lupa (selama setahun). Nah, barulah beberapa waktu terakhir ini saya mulai kepikiran untuk bikin blog yang ini.

Alasannya sih sederhana aja, ingin merekam perjalanan bersama anak. Supaya nanti ia memiliki kenangan. Meskipun kenyataannya saya masih belum bisa atur waktu untuk rutin nulis di sini. Alasan kedua, saya ingin berbagi pengalaman. Because sharing is caring, bener nggak? Haha.

Di sisi lain, ngeblog itu bagi saya adalah cara untuk melepas stres. Iya, pekerjaan sehari-hari saya adalah menulis. Ada banyak tuntutan yang harus dipenuhi, target, aturan, dsb. Di blog, saya bisa lebih bebas. Tema apa aja yang lagi ada di kepala bisa dikeluarkan.

Eits, tapi teteupp ya, soal validitas data penting, etika juga saya usahakan sebaik mungkin tidak dilanggar. EYD? Hehe, santai dikit nggak apa-apa kali, ya. Supaya nggak terlalu kaku.

Sumber gambar: pixabay.com

Khusus untuk blog ini, misi spesifik saya sederhana aja. Hanya ingin menyebar “virus” belajar kepada semua orang, khususnya para ibu.

Sejak melahirkan, saya sadar betul bagaimana seorang ibu harus belajar banyak hal demi buah hatinya. Misalnya, saat anak sakit, apa tindakan pertama yang harus dilakukan? Saat anak nggak mau makan, saat anak rewel, saat anak belum bisa ngomong, dan sebagainya.

Jawabannya hanya bisa didapatkan dengan belajar. Belajar dari banyak orang. Belajar dari banyak sumber. Jadi, jangan mentah-mentah menerima informasi. Bandingkan, analisa, baru bisa percayai dan terapkan.

Tentu saja, saya juga masih harus banyak belajar soal blog. Soal Google Analytics, soal Domain Authority, soal SEO, soal infografis, dan sebagainya. Ya, saya anggap itu proses aja. Kalau belum-belum harus perfect, entar nggak jadi-jadi nulisnya. Blognya penuh sawang lagi, deh..

Nah, kalau kamu pengalaman ngeblognya, gimana? Pernah lupa password berapa kali? Ceritain juga, yaaa…

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 1 “Kenapa Menulis Blog”.