BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

5 Film Recommended Untuk Para Ibu

Saya suka menonton film. Sayangnya, sekitar 3 tahun terakhir, waktu untuk menonton film berkurang drastis. Apalagi ke bioskop, sejak punya si kecil, blas nggak pernah nonton lagi.

Namun, sesekali saat selo, saya menyempatkan diri untuk menonton film. Meskipun biasanya nggak tuntas hahaha. Untungnya, teman kiri kanan saya di tempat kerja suka menonton film juga. Jadi, kalau ada rekomendasi film bagus, saya pasti dapat bocoran. Kalau “terdengar” bagus banget, saya biasanya intip-intip dikit.

Btw, saya tipe penonton yang nggak masalah dengan spoiler. Jadi, saya bisa menonton mulai awal, tengah, atau akhir–dan tetap bisa menikmatinya.

Nah, pada tantangan kali ini, saya akan menulis tentang film-film yang recommended untuk para ibu. Ini beberapa film yang membekas di hati, tetapi (lagi-lagi) belum sempat direview.

1. Panic Room (2002)

Ini tuh film lama banget. Kristen Stewart aja masih imut-imut gitu. Tampaknya, ia memang sudah punya bakat akting sebelum populer di film vampir ganteng.

Selain Stewart, pemeran utamanya adalah Jodie Foster. Kalau Foster sih terkenal all out banget saat memerankan tokoh yang suka bikin jantungan. Oh, ya, genre film ini lebih ke thriller dengan bumbu-bumbu dramatis.

Ceritanya, Meg Altman (Jodie Foster) adalah seorang wanita yang sudah bercerai. Ia bersama anaknya yang menderita diabetes, Sarah (Kristen Stewart), tinggal di sebuah rumah yang memiliki safe room. Ruangan ini berbentuk seperti lift, tetapi lebih lebar. Isinya juga lengkap. Namanya aja safe room, jadi memang benar-benar aman.

Suatu kali, ada 3 perampok yang membobol rumah mereka. Untungnya, mereka berhasil masuk ke safe room. Namunnn apa mau dikata, obat Sarah ketinggalan di luar. Padahal, obat itu harus disuntikkan tepat waktu.

Ya, mau nggak mau, Meg harus cari jalan supaya ia bisa keluar dari safe room, mencari obatnya, lalu kembali lagi ke dalam tanpa ketahuan. Adegan ini super menegangkan , pokoknya.

Melalui film ini, saya belajar bagaimana seorang ibu berani menghadapi ketakutan demi menyelamatkan anaknya.

Jodie Foster juga memerankan tokoh yang hampir sama di Flight Plan, ibu yang kehilangan anaknya di pesawat. Genrenya juga sama. Hanya saja, oleh orang-orang di pesawat, Foster dianggap mengalami halusinasi. Padahal mah dia memang benar-benar terbang bersama si anak di pesawat.

2. Rabbit Hole (2010)

Tahun 2014, saya pernah menulis review tentang film Rabbit Hole di blog bayangan. Judulnya Rabbit Hole, Merayakan Kehilangan di dalam Semesta Paralel.  Ini review film yang sangat membekas di hati meskipun waktu itu saya belum menikah, apalagi punya anak. Saat itu, saya juga masih rajin nulis review, baik film maupun buku hehe.

Ceritanya, Becca (Nicole Kidman) adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya karena ditabrak. Danny, sang anak, baru berusia sekitar 5 tahun. Lagi lucu-lucunya. Meskipun dari luar Becca tampak riang dan normal, sebenarnya di dalam hati ia sangat depresi.

Namun, benar kata orang. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. Setelah merenung dalam-dalam, Becca berhasil bangkit dari rasa kehilangan.

Ada salah satu filosofi penting yang disajikan melalui film ini, yaitu tentang Semesta Paralel. Ini adalah teori tentang kemungkinan serta kenyataan alternatif yang bisa saja terjadi dalam hidup ini.

Singkatnya, ada begitu banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam hidup kita. Ada banyak “aku” dan “kamu” di luar sana. Yang kita alami saat ini hanya salah satu versi dari sekian banyak kemungkinan.

Nah, untuk lebih jelasnya, silakan langsung tonton aja film bergenre drama ini. Memang alurnya agak lambat. Dijamin, pasti akan mbrebes mili. Tapi, jangan sampai ikutan murung ya.. Hehe.

3. Room (2015)

Room adalah drama independen yang dibintangi oleh Brie Larson. Larson yang berperan sebagai sosok seorang ibu bernama Joy dalam film ini berhasil menggaet penghargaan sebagai aktris terbaik di Piala Oscar. Film ini bercerita tentang seorang wanita yang disekap selama 7 tahun. Dari orang yang menyekapnya, ia hamil dan akhirnya memiliki seorang anak, Jack (Jacob Tremblay).

Di dalam ruangan penyekapan itu, ia membesarkan si anak. Bayangin aja, sejak kecil, hingga berusia 5 tahun, Jack nggak pernah melihat dunia luar. Joy mengajarkan Jack bahwa dunia itu hanyalah selebar ruangan yang mereka tinggali.

Namun, Joy tetap berniat untuk kabur dari penyekapan. Ia pun mencari akal untuk menyusupkan Jack ke luar. Saat Jack sudah di luar, di situlah mulai terlihat adegan drama yang sangat mengharukan. Untungnya, si penyekap ditangkap dan Joy bisa kembali bebas.

4.  Wonder (2017)

Saya memperoleh rekomendasi film bagus dari teman. Lucu katanya. Judulnya Wonder. Ceritanya tentang seorang seorang anak bernama Auggie (lagi lagi Jacob Tremblay) yang berusia 10 tahun dan mengalami kelainan sejak lahir. Ia telah menjalani sejumlah operasi, tetapi wajahnya masih terlihat aneh.

Ibu Auggie (Julia Roberts) mendidik anaknya di rumah dengan metode homeschooling. Namun, pada suatu titik, ia ingin si anak bisa bergaul seperti anak normal lainnya. Jadi, ia pun mendaftarkannya ke sekolah umum setempat. Tapi, itu keputusan berat. Karena wajahnya yang berbeda, Auggie kerap mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.

Dan… hati ibu mana yang tidak tersayat-sayat melihat si anak tersakiti seperti itu? Sayangnya lagi, sang ibu tidak mungkin untuk terus-menerus berada di samping Auggie. Namun, lama-kelamaan, anak laki-laki ini akhirnya berhasil mengontrol situasi dan memiliki teman.

Meskipun bikin terharu, film drama ini juga bergenre comedy. Apalagi dengan kehadiran Owen Wilson membuat suasana menjadi kocak. Perasaan penonton diaduk-aduk, antara mau menangis atau tertawa. Haha.

Saya merekomendasikan banget film ini bagi seorang ibu. Menarik banget pokoknya. Ada nilai-nilai moralnya juga.

5. Shutter Island (2010)

Saya taruh ini di bagian akhir karena mungkin agak “berbeda” dari yang sebelumnya. Namun, menurut saya film ini memiliki makna yang sangat dalam.

Film yang dibintangi Leonardo diCaprio ini bercerita tentang Teddy, seorang laki-laki yang sering mengalami mimpi buruk. Mengusung tema thriller, film ini memang cukup menegangkan. Namun, kalau nggak suka dengan film yang beralur lambat, sebaiknya abaikan rekomendasi ini hehe. Sempat nangkring di puncak box office, film ini rupanya cukup digemari.

Mengapa film iniShutter Island saya rekomendasikan untuk ditonton? Supaya waspada aja sih. Film tentang seorang wanita yang “tega” menenggelamkan ketiga anaknya ini, adalah hal paling konyol, tetapi mungkin terjadi dalam skala mikro pada siapa pun. Entah apa pun penyebabnya, mungkin baby blues akut, atau depresi yang tidak tertahankan. Akhirnya, anak menjadi korban. Ngeri..

Nah, itu 5 film recommended menurut saya. Sekarang, saya lebih suka nonton di iflix sih. Selain karena cukup lengkap, saya juga bisa menonton sebagian-sebagian (sesuai waktu yang tersedia hahaah) tanpa repot harus setel lagi. Biayanya juga terjangkau.

Oh, iya, kalau nggak suka film dan lebih suka musik, cek blog Mbak Dian untuk mendapatkan 5 rekomendasi musik yang seru untuk didengarkan.

Bagaimana dengan kamu, apa film yang paling berkesan bagimu?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 10 “5 film, musik, atau buku yang direkomendasikan”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Hadiah Seratus Juta, Untuk Apa?

Beberapa waktu lalu, film Crazy Rich Asian dirilis. Cukup booming juga. Sampe di media sosial viral tentang orang-orang kaya di Indonesia.

Kali ini, saya menggunakan tema pengganti, ya. Saya pilih tentang hadiah seratus juta.

Siapa sih yang nggak mau dihadiahi uang 100 juta? Semua orang pasti mau donk ya. Rasanya senang tentu. Bingung juga pastinya. Uang sebanyak itu akan digunakan untuk apa?

Hmm.. namanya juga berandai-andai ya. Tapi, ada beberapa yang ingin saya lakukan dengan uang itu. Tentunya harus bermanfaat.

Pertama, investasi. Jenis investasi bermacam-macam. Yang paling aman dan cukup menghasilkan ya deposito. Namun kalau ingin hasil yang lebih besar bisa mencoba reksa dana dll.

Investasi dalam bentuk aset properti juga bisa. Membeli rumah mungkin nggak cukup. Tapi sebidang tanah di pinggiran Jogja masih bisalah.

Saya perkirakan 70 persen untuk membeli aset investasi. Memang sih, dalam waktu dekat uang ini tidak akan kembali. Ya nggak apa-apa, hitung-hitung sebagai tabungan masa depan.

Kedua, sebagian uang itu untuk menjadi modal usaha. Ada beberapa opsi yang ingin saya lakukan. Masih rahasiaaa hehe. Tapi pengennya berusaha aja. Biar bisa lebih berkembang. Lagi pula, kalau buka usaha, kita bisa buka lapangan kerja untuk orang lain.

Ketiga, liburan keluarga. Nggak usah lama-lama, seminggu cukuplah. Di Indonesia aja. Tapi bener-bener berkualitas. Menikmati kebersamaan dengan anak. Tanpa harus diganggu pekerjaan.

Keempat, membelikan sesuatu untuk orang-orang terdekat.

Itu aja sih keinginan saya. Sederhana ya? Hehe. Tapi nggak tahu apakah faktanya akan demikian kalau benar-benar menerima hadiah itu.

Belajar mengelola pemasukan

Menurut saya, tema ini bukan sekadar tentang mendapatkan hadiah. Tapi, bagaimana mengelola uang yang diterima. Berapa pun jumlahnya.

Sebenarnya bukan masalah besar atau kecilnya jumlah yang diterima. Tapi seberapa tepat pembagiannya. Apakah kita akan langsung menghabiskannya dalam beberapa kali pakai? Apakah uang itu hanya digunakan untuk kebutuhan konsumsi saja?

Yang tepat, ketika menerima uang berapa pun, ada sebagian yang dikembalikan untuk menjadi modal. Dengan demikian, kita bisa panen lagi pada masa yang akan datang.

Tantangan yang mungkin akan dialami adalah bagaimana supaya uang itu ada “maknanya”.

Pernah nggak sih menerima sejumlah uang tapi ludes tanpa kerasa? Nah, jangan sampai seperti itu karena akan sayaang sekali. Dapat hadiah 100 juta kan nggak sering-sering. Hehehe.

 

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Meskipun Penganut Minimalist Lifestyle, 5 Benda Ini Wajib Ada di Tas

Sejak beberapa tahun lalu, saya tergila-gila dengan konsep minimalist lifestyle. Rasanya, konsep itu sangat cocok dengan diri saya yang introver. Meskipun saya belum bisa sepenuhnya minimalist, setidaknya dalam beberapa hal saya mencoba menerapkannya.

Salah satunya, dalam mengelola barang bawaan. Sebagai pekerja kantoran, saya tentu harus berangkat setiap pagi ke tempat kerja. Supaya praktis, saya menggunakan tas untuk membawa beberapa keperluan harian. Mengingat tempat kerja saya nggak formal-formal banget, saya memilih menggunakan tas punggung.

Dulu, saya suka pake ransel yang gede. Iya, alasannya karena muat banyak. Lalu, rasanya juga lebih enak dibawa. Tapi, lama-kelamaan saya mulai merasa “keberatan” haha. Setelah dicek, isinya memang macem-macem. Maklum, saya tipe orang yang “persiapan banget”.

Akhirnya, saya mulai mengurangi isinya. Beberapa barang yang “sepertinya” tidak saya butuhkan, saya tinggalkan di rumah. Seiring dengan itu, saya memilih tas punggung berukuran kecil yang ringan dibawa ke mana-mana.

Lalu, apa saja barang-barang yang akhirnya tersisa di dalam tas?

1. Smartphone

Smartphone adalah barang pertama yang saya pastikan ada di dalam tas. Kebanyakan interaksi yang saya lakukan memang melalui smartphone. Jadi, kalau ketinggalan, fyuh, rasanya bingung nggak karuan wkwk.

Iya, saya memang harus belajar juga supaya nggak kecanduan. Makanya, saya biasanya menggunakan aplikasi Forest untuk bantu mengurangi penggunaan gadget dan lebih fokus pada kerjaan.

Oh, ya, selain smartphone, tentu ada charger-nya, ya. Hehehe. Tapi, biasanya sih jarang saya pakai karena baterai gadget saya pastikan penuh dulu sebelum berangkat. Saya beruntung karena OPPO keren banget dalam hal ini. Selain karena waktu untuk charging sangat cepat, baterai pun tahan lama. Jadi, nggak harus sering-sering ngecas, deh!

2. Dompet

Dompet saya sebenarnya nggak masuk dalam kategori “cantik” seperti umumnya dompet perempuan. Bahkan, cenderung murahan hahaha. Kali ini memang ada aksen bunga-bunganya, tetapi bukan itu alasan saya membelinya.

Alasannya adalah karena ukurannya cukup untuk kebutuhan saya. Ada 3 kompartemen di dalamnya, satu untuk uang tunai, satu untuk kartu-kartu, dan satu untuk kertas-kertas. Smartphone juga biasanya muat ke dalam dompet ini. Jadi, praktis banget kalau dibawa ke mana-mana tanpa harus pake tas.

3. Mouse

Iyaaaa… Saya ke mana-mana bawa mouse. HAHAHA. Karena saya memang butuh aja. Ini mouse wireless (begitu ya nyebutnya?) yang baru saja saya beli karena lebih praktis. Tinggal colokin ke laptop atau CPU, langsung deh bisa digunakan.

Pernah suatu kali mouse saya ketinggalan di rumah. Langsung kebingungan karena di kantor nggak bisa gunain komputer haha. Aneh? Hmmm. You never know.

4. Flashdisk

Ada banyak data penting yang saya simpan di dalam benda ini, terutama pekerjaan. Jadi, saya selalu bawa ke mana-mana, in case dibutuhkan.

Flashdisk saya adalah tipe yang bisa dikoneksikan di gadget. Jadi, fleksibel banget. Saya juga bisa mengerjakan tugas-tugas dan membuka data melalui smartphone atau tab jika benar-benar diperlukan.

Pengalaman aja, sih. Beberapa kali pernah kejadian ketika listrik padam. Dengan alat ini, saya masih bisa transfer data dan kirim lewat email melalui gadget.

5. Cairan Antiseptik

Benda lain yang selalu saya bawa adalah sebuah botol kecil berisi cairan antiseptik untuk tangan. Biasanya, saya pake botol semprot Antis. Saya suka karena nggak lengket dan bisa milih bau jeruk nipis atau timun hihihi.

Cairan antiseptik menurut saya praktis. Terutama jika tidak memungkinkan untuk mencuci tangan.

 

Nah, itulah 5 barang yang biasanya selalu ada di tas. Ternyata, dikit banget, ya? HAHAHA. Saya jarang bawa makeup, sisir, dkk. karena menurut saya belum terlalu dibutuhkan. Kecuali pada momen khusus yang mengharuskan saya untuk datang ke even tertentu pada sore hari.

Pernah saya lupa merapikan rambut ketika menghadiri suatu even. Untung saja, ada mbak Riana yang berkenan meminjamkannya haha. Pastinya, itu adalah salah satu benda wajib yang selalu dibawanya.

Kalau kamu, kira-kira apa barang paling “unik” yang selalu ada di tas?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 8 “Barang yang selalu ada di tas”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

5 Tempat Makan Favorit di Jogja, Yuk Dicoba!

Keluarga kami bukan tipe yang suka mencoba warung makan atau restoran baru. Kurang suka tantangan tepatnya. Hehe. Namun, sesekali juga pernah coba. Kalau sudah suka, biasanya kami akan selalu mampir ke sana.

Mencari tempat makan di Jogja bisa dibilang gampang-gampang susah. Pasalnya, ada sangat banyak tempat yang bisa dikunjungi. Namun, saking banyaknya, kita akan merasa bingung.

Nah, uniknya adalah warung makan yang enak tidak selalu berkaitan dengan kondisi luarnya. Bahkan, ada pula yang hanya berupa rumah biasa, tetapi nyaman dan enak.

Berikut saya berikan 5 rekomendasi tempat makan di Jogja yang bisa menjadi pilihan bagi Anda. Tentu saja dengan berdasarkan beberapa pertimbangan dari saya.

1.Waroeng SS (Spesial Sambal)

Ada banyak gerai Waroeng SS yang ada di Jogja. Tampaknya sih semua menunya sama ya karena memang merupakan franchise. Namun, lokasi yang paling sering kami sambangi adalah yang ada di Jl. Ring Road Utara (persis depan Hartono Mall).

Tempatnya sangat nyaman, khususnya untuk lesehan. Namun, kalau pas lagi rame, tentu kita harus agak bersabar ya karena agak padat.

Selain itu, menunya juga lumayan enak dan penyajiannya cepat. Kita bahkan bisa nambah nasi dengan gratis jika masih kurang.

Bagi yang suka sambel, bisa mencoba beberapa jenis sambel yang berbeda di sini. Kalau lauknya sih standar aja, ada goreng dan bakar, baik ayam maupun ikan.

2. Chicken Crush

Saya sebenarnya agak kurang suka dengan olahan ayam berlapis tepung. Namun, setelah mencoba Chicken Crush, rasanya cukup enak. Kami sekeluarga menyukai rasanya yang agak pedas karena merica di bagian kulit. Bahkan, W selalu menanti-nanti jika kami membeli Chicken Crush. Harus sama nasinya ya, karena dia suka makan langsung dari tempatnya, bukan pakai piring.

Awalnya, Chicken Crush langganan kami ada di Transmart Jl. Solo, entah kenapa lalu ditutup. Sejak itu, kami pindah ke Chicken Crush yang ada di daerah Candi Gebang. Kalau nggak beli langsung karena tiap hari lewat, kami beli via Grab. Jadi, nunggu di rumah aja untuk lauk siang atau malam.

3. Texas Putra

Lokasinya ada di seberang lapangan Realino, Sanata Dharma. Agak masuk ke dalam gang sedikit. Di antara para mahasiswa, warung makan ini cukup terkenal. Pertama, karena harganya murah. Pemilik warung punya motto, mangan ora kudu larang. Sampai ada kaosnya segala ya.

Alasan kedua, ini adalah makanan rumahan. Kami senang bisa sarapan sayur tiap hari di sini. Ada gorengan yang selalu fresh from wajan hehe. Selain itu, ibu dan bapak penjualnya sangat ramah. Jadi, makan di sana serasa rumah sendiri. Sering juga saya sekaligus beli makan siang dan lauk untuk makan malam hehehe.

4. Bakso DulRel

Bakso kesukaan saya adalah yang dekat rumah, daerah Jagalan. Namanya Bakso DulRel. Lokasinya mudah dijangkau sebenarnya. Jadi dari arah KR ke Berbah, setelah rel. Nah, di situlah letak Bakso DulRel ini. Baksonya nggak pelit. Pokoknya kenyang habis makan di sini. Saya juga suka rasanya, nggak kebanyakan micin. Pas banget. Enaknya itu kalau habis hujan, lalu makan bakso di sini hmmm…

5. Penyetan Bu Tini

Ini lokasinya di daerah Condong Catur (kalau nggak salah ya). Tepatnya saya lupa nama jalannya. Ini adalah penyetan paling favorit kami, bahkan sejak saya belum menikah. Lalu, suami juga ikut-ikutan senang makan di sini. Penyetan Bu Tini sambelnya enak dan pedas. Nasinya juga memuaskan. Tempatnya memang biasa saja, tapi habis makan di sini pasti akan langsung kenyang. Pesanan biasa saya adalah menu ayam penyet sambel terasi…

Nah, itulah beberapa tempat makan favorit keluarga kami di Jogja. Ada yang udah pernah nyobain?

 

 

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Mengenali Diri Sendiri; Ini 5 Faktanya

Siapa saya? Apa yang membuat saya menarik? Apa yang perlu orang ketahui tentang saya? Terkadang, kita perlu menjelaskan diri sendiri kepada orang lain supaya tidak terjadi salah paham. Bahwa, saya memang seperti itu. Lalu, apakah saya perlu berubah jika tidak sesuai dengan harapan orang lain?

Pada tema kali ini, saya mencoba untuk melihat kembali ke diri sendiri. Saya akui, ada banyak perubahan yang saya alami, mulai sejak kecil hingga saat ini. Apa yang menyebabkannya? Pengalaman hidup tentu saja. Ada banyak hal yang mengubah karakter sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang.

Ini dia fakta soal diri saya:

1. Introver

Saya rasa, saya mulai introver sejak memasuki sekolah menengah atas. Saat itu, saya mengalami masa yang kurang menyenangkan. Saya nggak begitu populer karena prestasi di sekolah tidak menterang. Bahkan, bisa dibilang, di antara sejumlah anak-anak lain di kelas, saya sering berada paling belakang. Entahlah, mungkin ditambah dengan ketidakpedean terhadap fisik. Padahal, hal itu tidak jadi masalah ketika saya masih sekolah menengah pertama.

Ketika melanjutkan kuliah, kadar introver saya mulai berkurang sedikit demi sedikit. Meskipun masih aja. Setidaknya, saya memiliki sejumlah sahabat yang selalu bersama saya. Itu membuat saya dapat melihat hidup dengan lebih positif.

Sekarang? Hmm, tentu saja saya masih introver. Seberapa pun saya berusaha untuk terbuka. Ya, inilah diri saya sekarang. Orang yang tidak mudah membuka diri untuk berteman. Tapi, kalau sudah kenal, saya akan lebih mudah berbagi.

2. Sangat sensitif

Mungkin ini ada hubungannya dengan fakta yang pertama ya. Karakter ini kadang-kadang bikin saya susah sendiri. Pasalnya, orang lain merasa itu bukan apa-apa sementara saya udah mikir yang nggak-nggak. Tapi, akhir-akhir ini sudah mulai lumayan (kecuali mungkin karena masalah hormon). Saya merasa lebih ringan aja dan tidak mudah memasukkan perkataan orang lain ke dalam pikiran.

Namun, sensitif juga menurut saya berguna kok. Ketika orang lain menganggap suatu hal dengan sepele, saya orang pertama yang bisa memahaminya. Saya pun belajar untuk melihat dari cara pandang yang berbeda. Tidak langsung menilai sesuatu dengan apa yang tampak dari mata kepala sendiri. Di balik suatu hal, sebenarnya ada banyak hal rumit yang tidak bisa dipahami sekilas.

Itulah sebabnya, ketika menghadapi suatu masalah yang bikin emosi. Saya biasanya selalu mengingatkan diri sendiri untuk diam dulu. Jangan menyahut. Karena hal itu hanya akan memperkeruh suasana. Meskipun nggak mudah. Karena pengennya ya ngomong. Namun, siapa yang akan mendengar kalau semua ngomong?

3. Sulit berkonsentrasi

Saya nggak bisa menulis dengan baik kalau sekitar saya ramai. Bahkan, saya jarang bisa menulis sambil ditemani musik. Kecuali kalau sedang curhat mungkin ya. Hehe. Sekitar saya harus benar-benar tenang dan tidak ada distraksi apa pun.

Kadang-kadang, saya suka marah kalau lagi butuh konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi sekitar ada banyak keributan. Huhu. Namun, bagaimana lagi ya. Kan nggak hidup sendiri. Bukan ruangan sendiri.

Saya selalu berusaha sih supaya bisa lebih fleksibel. Caranya? Ya membiasakan diri aja. Jangan sampai nggak produktif hanya karena masalah-masalah sepele.

4. Terlihat kurus padahal berat

Iya, kemarin saya baru aja menimbang badan dan tahukah kalah saya udah hampir 56 kilogram. Huahahaha. Padahal, saya terbilang kurus. Mungkin gini ya kalau ibu-ibu. Badannya udah nggak seperti waktu belum menikah atau melahirkan. Ya, saya merasa sih, bagian perut lebih gendud. Itu yang mungkin bikin berat semakin bertambah.

Baju-baju juga mulai nggak muat. Apalagi yang lama-lama, haduhhh, sama sekali nggak bisa dipakai lagi. Sebabnya mungkin karena suka makan dini hari. Yang mana, kebiasaan itu pengen aku hilangkan untuk hidup yang lebih sehat.

5. Nggak suka bikin kejutan

Karena takut nggak surprise hahaaha. Jadi, pengennya yang datar-datar aja. Kalau mau kasih sesuatu, ya langsung bilang aja ke orangnya. Tipe praktis banget pokoknya. Buat apa kasih kalau ternyata tidak berguna bagi orang tersebut, ya kan? Sayang banget. Hehe.

Selain itu, kadang nggak pede juga karena merasa belum mempersiapkan kejutan itu dengan baik. Takutnya malah mengecewakan. Atau malah malu-maluin huhu.

Nah, itulah beberapa fakta tentang diri saya di antara sejumlah fakta lainnya. Bagaimana dengan kamu?

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Media Sosial, Perlukah Anak Memilikinya?

Apakah anak perlu memiliki media sosial? Anak saya belum “segede” itu untuk membuat akun media sosialnya sendiri. Namun, ini bisa menjadi salah satu panduan saya kelak, karena umur pasti akan bertambah. Hanya tinggal tunggu waktu saja.

Saya membayangkan, ketika W nanti berusia 8-9 tahun, ia lalu mulai membuat akun di salah satu media sosial. Lalu, saya melihat banyak foto-foto yang mungkin tidak saya sukai. Huhu, rasanya kok jadi nggak rela ya. Hehe. Berhubung saya sering melihat anak usia segitu udah mulai main medsos dan isinya… ya gitu deh.

Saya berharap, saya bisa memberikan dasar-dasar yang tepat pada W untuk bergaul di dunia maya sejak sekarang. Mungkin teknik saya belum sempurna betul, tapi saya ingin terus belajar untuk memperbaikinya.

Hal pertama yang selalu saya usahakan adalah memperkenalkan gadget pada porsi yang semestinya. Ada orang tua yang benar-benar melarang anak untuk megang gadget. Ada pula yang membiarkan. Saya berada di tengah-tengahnya. Pada waktu-waktu tertentu, saya membolehkan ia mengeksplorasi YouTube dan bagi saya itu bukan suatu masalah. Dengan ketentuan: saya ada di sana, menemaninya menonton. Kami akan membahas apa yang ia lihat.

Lalu, waktu untuk menonton pun dibatasi. Ini gampang aja karena koneksi internet di tab selalu pakai dari ponsel saya. Kapanpun saya mau, saya bisa langsung memutusnya.

Dan biasanya, setelah beberapa lama menonton, ia akan bosan. Lalu, ia menyerahkan tab itu untuk dicharge. Kemudian ia pun akan kembali memainkan mainan-mainannya.

Nah, soal media sosial sebenarnya bisa dibilang gampang-gampang susah ya. Secara, ibunya suka menggunakan media sosial. Bagaimana mungkin melarang anak?

Namun, ada beberapa hal yang selalu menjadi panduan saya ketika menggunakan media sosial.

Pertama, menghindari informasi-informasi yang bersifat pribadi atau terlalu menjurus.

Kedua, selalu memikirkan efek dari postingan tersebut. Setiap postingan di media sosial akan bertahan selamanya. Oleh karena itu, sebaiknya harus dilakukan untuk hal-hal yang positif. Kita harus tahu, apa tujuan memosting sesuatu di media sosial.

Jujur saja, saya menghindari membagikan berita-berita yang bukan berasal dari sumber tepercaya. Sefenomenal apa pun itu. Karena ketika saya membagikan, itu berarti saya menyetujui dan mempercayai. Dan saat ini, ada banyak situs hoax. Herannya, banyak juga yang percaya.

Ketiga, media sosial adalah modal, sebenarnya begitu. Ketika kita menggunakan media sosial, sebaiknya menghasilkan bagi kita dan orang lain. Mungkin bukan bersifat materi, tetapi setidaknya bermanfaat. Kalau hanya sekadar untuk simpan foto selfie tanpa sebab, kok rasanya kurang berfaedah. (Eits, foto selfie boleh lho, kalau itu untuk pamer makeup misalnya, ini kan juga pengetahuan bagi yang melihat).

Jadi, perlukah anak memiliki media sosial? Saya rasa, saya tidak akan melarangnya. Namun, harus ada keterbukaan. Saya mengetahui passwordnya. Saya bisa ngecek apa saja aktivitasnya di DM atau inbox. Sebelumnya, tentu saya akan bekali dia dengan bahaya serta risiko jika menggunakan media sosial tanpa dipikir.

Dengan kebebasan itu, saya harap W dapat mempergunakannya dengan baik, nggak bersikap sembunyi-sembunyi hanya untuk mengakses akunnya– yang justru akan berdampak negatif bagi semuanya.

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Alasan Bergabung dengan Blogger Perempuan Network

Sejak tinggal di Jogja, saya beberapa kali mencari komunitas. You know, teman untuk melakukan sesuatu yang positif. Saya pernah sampai mblusuk-mblusuk cari komunitas berkebun, tapi nggak jadi karena lokasinya kurang jelas.

Baru sekitar satu tahun terakhir, saya bertemu dengan KJOG, komunitas penulis di Kompasiana yang tinggal di Jogja. Kenyataannya sih, bukan hanya bahas tentang Kompasiana aja, tetapi kalau ada event lain, beberapa di antaranya sering ketemu juga.

Contohnya, ketika kami bareng-bareng ikut tantangan BPN 30 Day Blog Challenge ini..

Saya sendiri sudah bergabung di Blogger Perempuan Network mungkin sekitar 1 tahun terakhir. Beruntung, karena pada era digital ini, kita bisa berkomunitas tanpa harus bertemu langsung. Begitu pula ketika saya akhirnya menemukan Blogger Perempuan, kalau nggak salah di Facebook.

Saya lupa-lupa ingat bagaimana saya akhirnya bisa menjadi bagian di sana. Yang saya tahu, saya memang hanya sebagai silent reader aja. Jarang bisa ikutan atau belum terlalu kenal dengan para anggotanya.

Ada beberapa hal yang saya nikmati dengan berkomunitas di Blogger Perempuan Network. Ini dia..

Pertama, ada motivasi untuk kembali ngeblog. Bahkan, saya mulai membangun blog ini karena Blogger Perempuan. Saya tentu banyak belajar dari para senior melalui grup WA dan Facebook. Yah, cuma percakapan sekilas dan beruntung karena saya bisa menerapkan meskipun masih sebagian kecil. Contohnya, soal Google Analytics.

Kedua, saya termotivasi juga untuk membuat blog lebih profesional. Pasalnya, para blogger di BP benar-bener keren euy. PV mereka per bulan udah ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu. Sementara saya? Haha. Tapi, saya berusaha untuk terus belajar supaya bisa mengikuti.

Ketiga, saya bersyukur karena beberapa kali juga bisa ikutan dalam proyek yang ditawarkan BP ke anggotanya. Memang belum seprofesional mereka yang sudah lama berkecimpung di sana. Namun, setidaknya saya tahu dunia blogging dan manfaatnya dari BP. Dan saya selalu berusaha untuk memperbaiki diri. Supaya layak menjadi bagian dari BP dan disebut blogger.

Keempat, saya bisa menaikkan follower baik di Instagram maupun Twitter. Caranya, saya follow aja IG dan Twitter mereka yang juga bergabung di BP. Dan karena kami sama-sama merasa sebagai bagian dari BP, saya kembali difollow. Hehe, itulah untungnya berada di komunitas yang sama, meskipun tidak kenal secara pribadi atau dekat.

Selebihnya, berada di suatu komunitas adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya. Meskipun tidak begitu aktif, saya tetap banggalah menyebut diri sebagai bagian dari BP. Kan namanya juga terus belajar hehe.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

“Belajar Itu Sepanjang Hayat”

Foto: www.pixabay.com

Belajar itu sepanjang hayat..

Konsep itu yang selalu saya ulang-ulang di benak.

Belajar bisa kapan saja. Belajar bisa di mana saja. Belajar bisa sama siapa saja. Belajar bisa dilakukan dengan siapa saja. Belajar bahkan bisa dari masa-masa paling nggak menyenangkan.

Seperti saya nih, saya baru aja belajar. Sudah nulis panjang-panjang, lalu terhapus begitu saja. Padahal udah selesai, tinggal finishing aja. Pengen nangis banget karena nulisnya pake hati tuh. HAHAHA.

Mungkin saya sedang diuji. Bener nggak sih mau belajar dari masalah?

Dan, saya pun mengumpulkan semangat lagi untuk mulai menulis hal yang sama. Males? Iyaaaaaa. Karena mood-nya langsung ilang, terbang entah ke mana. Tapi, namanya juga sedang belajar untuk bangkit. Harus lewat praktik, bukan teori aja.

Tentang Nama Blog

Kali ini, saya mau nulis tentang nama blog. Mengapa saya memilih “Ibu Belajar” sebagai “brand” saya. Hmm, ceritanya panjang.

Saat itu, saya baru saja melahirkan. W baru berusia sekitar 4 hari. Kami pulang dari RS dan mulai menjalani hari-hari sebagai ibu. Saat itu, saya dan suami hanya ditemani oleh ibu mertua (yang kebetulan udah lama nggak merawat bayi).

Ketika masih di RS, W “dirawat” oleh suster. Dimandiin dua kali sehari. Dibersihkan kalau BAB. Dijemur tiap pagi. Dsb. Pokoknya, si ibu terima berezz aja. Ya, iya, kan sedang terbaring karena luka sesar.

Perjuangan (dan kekonyolan) baru dimulai ketika tiba di rumah. Malem-malem, W mendadak BAB. Item warnanya. Ya, agak bingung juga, kenapa gini ya? Tapi, ya udahlah. Yang penting harus segera dibersihkan. Cuma.. gimana cara membersihkannya?

Dasar ibu baru! Tissue basah nggak sedia. Lap juga nggak ada. Panik? Iyaaaaa. Padahal cuma membersihkan BAB bayi. Memang, seumur-umur belum pernah melakukan itu.

Saya pun minta suami untuk mengambil air panas. Tapi, kok dingin? Tuang air panas dulu deh. Tapi, gimana caranya? Mikirrr. Nyobaaaa. Pokoknya ribet banget. Harus dilap nggak sih? Udah gitu, anaknya nangis nggak keruan. Huhuhuhu.

Foto: www.pixabay.com

Saat itu juga saya langsung mikir. Ya, Tuhan. Saya belum banyak belajar. Bagaimana saya bisa jaga anak ini kalau saya nggak tahu apa-apa? Bagaimana kalau ia sakit? Nggak mau menyusui? Dsb.

Ketakutan-ketakutan yang menyerbu pikiran. Dan tentu saja bikin menyesal. Kemana saja saya selama ini? Kenapa saya nggak belajar.

Ingin Meninggalkan Jejak

Sejak kejadian itu, saya mulai berpikir untuk berubah. Nggak bisa begini terus. Saya harus banyak cari referensi dan informasi. Belum lagi karena banyak orang yang nyuruh ini itu. Harus gini gitu. Sementara saya, tipe orang yang skeptis banget. Apa iya gitu? Selalu itu yang muncul dalam pikiran.

Akhirnya, saya pun mulai kepikiran untuk bikin blog baru. Sesuatu yang bisa menjadi rekam jejak saya; mengatasi setiap kekonyolan ketika belum tahu apa-apa. Dengan begitu, saya bisa menjadi lebih baik lagi.

Menurut saya, belajar bukan hanya ketika si anak masih kecil. Ketika ia remaja, saya belajar untuk menjadi teman baginya. Ketika ia dewasa, saya bisa menjadi seseorang yang menginspirasi. Ketika ia menikah, saya bisa menerima pasangannya. Ketika ia memiliki anak, saya bisa menjadi nenek yang baik.

Semoga, setiap orang diberikan usia yang cukup untuk terus belajar. Terus mengusahakan kebaikan bagi diri dan orang lain.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Menulis Tentang Parenting, Cara Untuk Terus Belajar

Suka jiper baca blog-blog tentang parenting yang lengkap banget. Pengen juga bisa seperti itu. Tapi, kalau diturutin, hmm, kayanya kok bakal nggak jadi nulis.

GADOGADO. Itu tema blog saya di awal-awal mulai ngeblog.

Semua saya tumpahkan tanpa milih-milih atau bagi-bagi. Kalaupun ada fitur kategori, kadang kala saya nggak mau repot-repot menggunakannya dan secara otomatis semua tulisan masuk ke dalam “uncategorized“.

Kesan gado-gado tersebut keliatan jelas di blog saya yang ini. Suatu saat, saya bisa nulis tentang gaya hidup, lain waktu tentang buku. Lalu, setelah itu curhat. Haha.

Mungkin itulah enaknya nulis di blog. Kita nggak dituntut untuk harus nulis ini nulis itu. Nggak dibatasi oleh “tema” khusus. Pokonya bebazz aja. Bebas tapi sopan. Hehehe.

Mulai pengen fokus..

Beberapa waktu belakangan, saya pengen lebih fokus. Ya, banyak belajar juga dari para blogger senior. Dengan fokus, lebih mudah untuk menyelesaikan suatu misi yang diusung.

Tapi, apa misi saya?

Setelah punya anak, jadilah saya bercita-cita untuk nulis hal-hal terkait parenting atau apa pun yang berkaitan dengan anak.

Memiliki anak merupakan pengalaman yang seru dan menyenangkan, sekaligus bikin deg-degan.

Bahkan, setiap hari sebenarnya ada aja hal menarik yang bikin saya mikir, “Wah, ini keren nih kalau saya bagikan di blog. Apalagi kalau nambah informasi ini dan itu…”

Faktanya, saya kebanyakan mikir dong, Saudara-saudara. Apalagi trus setelah sercing-sercing dan nemu buuanyak tema serupa, jadi mendadak kehilangan semangat.

Padahal, ya, yang namanya pengalaman itu kan unik, nggak sama satu sama lain. Jadi, harusnya itu bukan alasan.

Saya pengen benar-benar bisa konsisten menulis tentang tema parenting. Apalagi karena nama blog ini juga udah sesuai.

Satu tema, banyak bahasan

Pasti pernah mikir, “Ah, saya pengen bebas aja deh. Nggak usah pake tema segala. Ntar jadi nggak pleksibelll“.

Faktanya, satu tema bisa dibahas dari banyak aspek, lo, gaes!

Caranya, kolaborasikan aja tema utama dengan banyak tema pendukung lain.

Contohnya kalo saya, pengen angkat tulisan tentang gaya hidup, bahas aja gaya hidup keluarga. Tulisan tentang kesehatan, bahas tentang kesehatan keluarga.

Kuliner? Traveling? semua bisa diceritakan dari sudut pandang seorang ibu (yang sedang belajar).

Blog Bayangan

Tentu saja, selain berprofesi sebagai ibu, saya masih seorang individu yang ingin bagiin hal-hal lain. Kadang kala, memang ada tema yang nggak pas aja dimasukkan ke blog ini.

Itulah gunanya punya blog bayangan hehehe. Sebenarnya, blog ini malah lebih duluan lahir. Saya gunakan aja untuk menampung hal-hal nggak jelas yang harus dikeluarkan.

Bagaimana dengan kamu, suka nulis gado-gado atau fokus satu tema aja?

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 2 “Tema Blog yang Disukai”.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Ngeblog, Cara Simpel Untuk Berbagi

Sumber foto: pixabay.com

Sejak 2004-2005–tepatnya ketika mulai kuliah di Semarang–saya sudah mulai kenal warnet. Zaman itu, Nokia tipe jadul tahan banting tanpa koneksi internet masih berjaya. Blog udah punya, tapi isinya ya gitu-gitu, deh. Nggak jelas. Namanya juga pemula.

Nah, yang saya ingat–dan sepertinya menjadi kebiasaan buruk–adalah banyak blog yang saya “lahirkan” tapi tidak saya rawat. Huhuhu. Ada yang usianya beberapa bulan (bahkan tahunan), ada pula yang hanya bertahan beberapa belas hari. Lalu, terbiarkan dan telantar begitu aja.

Saya rasa, kendalanya bukan cuma lupa password (para blogger pasti pernah mengalami ini minimal sekali haha), tapi juga karena konsep blog kurang matang. Jadinya, di awal menggebu-gebu, kemudian setelah itu kehilangan semangat.

Sumber gambar: pixabay.com

Sepanjang ngeblog, entah sudah berapa blog yang saya buat di WordPress maupun Blogspot. Oh, iya, saya kebanyakan sih menggunakan WordPress karena lebih familier dengan fitur-fiturnya. Tapi, saya rasa Blogspot keren juga, seperti milik teman saya, Mba Wiwin.

Setelah fase labil ngeblog, saya mulai banyak melihat blog-blog keren. Hmm, jujur aja merasa nggak percaya diri. Bukan hanya karena template-nya bagus amat, tapi karena tulisannya juga hebat-hebat. Aih..

Tapi itu bikin tambah semangat sih. Apalagi setelah gabung dengan beberapa komunitas, seperti KJOG (Kompasianer Jogja), Blogger Perempuan, Bloggercrony. Ya, saya tahuuu, saya memang lebih banyak jadi silent reader. Tapi, diam-diam saya menyerap ilmu dari para jagoan di sana.

Sekitar beberapa tahun lalu, lupa tepatnya kapan, saya memutuskan untuk beli domain dan berkomitmen bangun blog TLD. Yaa, tapi gituu, beli lalu lupa (selama setahun). Nah, barulah beberapa waktu terakhir ini saya mulai kepikiran untuk bikin blog yang ini.

Alasannya sih sederhana aja, ingin merekam perjalanan bersama anak. Supaya nanti ia memiliki kenangan. Meskipun kenyataannya saya masih belum bisa atur waktu untuk rutin nulis di sini. Alasan kedua, saya ingin berbagi pengalaman. Because sharing is caring, bener nggak? Haha.

Di sisi lain, ngeblog itu bagi saya adalah cara untuk melepas stres. Iya, pekerjaan sehari-hari saya adalah menulis. Ada banyak tuntutan yang harus dipenuhi, target, aturan, dsb. Di blog, saya bisa lebih bebas. Tema apa aja yang lagi ada di kepala bisa dikeluarkan.

Eits, tapi teteupp ya, soal validitas data penting, etika juga saya usahakan sebaik mungkin tidak dilanggar. EYD? Hehe, santai dikit nggak apa-apa kali, ya. Supaya nggak terlalu kaku.

Sumber gambar: pixabay.com

Khusus untuk blog ini, misi spesifik saya sederhana aja. Hanya ingin menyebar “virus” belajar kepada semua orang, khususnya para ibu.

Sejak melahirkan, saya sadar betul bagaimana seorang ibu harus belajar banyak hal demi buah hatinya. Misalnya, saat anak sakit, apa tindakan pertama yang harus dilakukan? Saat anak nggak mau makan, saat anak rewel, saat anak belum bisa ngomong, dan sebagainya.

Jawabannya hanya bisa didapatkan dengan belajar. Belajar dari banyak orang. Belajar dari banyak sumber. Jadi, jangan mentah-mentah menerima informasi. Bandingkan, analisa, baru bisa percayai dan terapkan.

Tentu saja, saya juga masih harus banyak belajar soal blog. Soal Google Analytics, soal Domain Authority, soal SEO, soal infografis, dan sebagainya. Ya, saya anggap itu proses aja. Kalau belum-belum harus perfect, entar nggak jadi-jadi nulisnya. Blognya penuh sawang lagi, deh..

Nah, kalau kamu pengalaman ngeblognya, gimana? Pernah lupa password berapa kali? Ceritain juga, yaaa…

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 1 “Kenapa Menulis Blog”.