BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Ngeblog, Cara Simpel Untuk Berbagi

Sumber foto: pixabay.com

Sejak 2004-2005–tepatnya ketika mulai kuliah di Semarang–saya sudah mulai kenal warnet. Zaman itu, Nokia tipe jadul tahan banting tanpa koneksi internet masih berjaya. Blog udah punya, tapi isinya ya gitu-gitu, deh. Nggak jelas. Namanya juga pemula.

Nah, yang saya ingat–dan sepertinya menjadi kebiasaan buruk–adalah banyak blog yang saya “lahirkan” tapi tidak saya rawat. Huhuhu. Ada yang usianya beberapa bulan (bahkan tahunan), ada pula yang hanya bertahan beberapa belas hari. Lalu, terbiarkan dan telantar begitu aja.

Saya rasa, kendalanya bukan cuma lupa password (para blogger pasti pernah mengalami ini minimal sekali haha), tapi juga karena konsep blog kurang matang. Jadinya, di awal menggebu-gebu, kemudian setelah itu kehilangan semangat.

Sumber gambar: pixabay.com

Sepanjang ngeblog, entah sudah berapa blog yang saya buat di WordPress maupun Blogspot. Oh, iya, saya kebanyakan sih menggunakan WordPress karena lebih familier dengan fitur-fiturnya. Tapi, saya rasa Blogspot keren juga, seperti milik teman saya, Mba Wiwin.

Setelah fase labil ngeblog, saya mulai banyak melihat blog-blog keren. Hmm, jujur aja merasa nggak percaya diri. Bukan hanya karena template-nya bagus amat, tapi karena tulisannya juga hebat-hebat. Aih..

Tapi itu bikin tambah semangat sih. Apalagi setelah gabung dengan beberapa komunitas, seperti KJOG (Kompasianer Jogja), Blogger Perempuan, Bloggercrony. Ya, saya tahuuu, saya memang lebih banyak jadi silent reader. Tapi, diam-diam saya menyerap ilmu dari para jagoan di sana.

Sekitar beberapa tahun lalu, lupa tepatnya kapan, saya memutuskan untuk beli domain dan berkomitmen bangun blog TLD. Yaa, tapi gituu, beli lalu lupa (selama setahun). Nah, barulah beberapa waktu terakhir ini saya mulai kepikiran untuk bikin blog yang ini.

Alasannya sih sederhana aja, ingin merekam perjalanan bersama anak. Supaya nanti ia memiliki kenangan. Meskipun kenyataannya saya masih belum bisa atur waktu untuk rutin nulis di sini. Alasan kedua, saya ingin berbagi pengalaman. Because sharing is caring, bener nggak? Haha.

Di sisi lain, ngeblog itu bagi saya adalah cara untuk melepas stres. Iya, pekerjaan sehari-hari saya adalah menulis. Ada banyak tuntutan yang harus dipenuhi, target, aturan, dsb. Di blog, saya bisa lebih bebas. Tema apa aja yang lagi ada di kepala bisa dikeluarkan.

Eits, tapi teteupp ya, soal validitas data penting, etika juga saya usahakan sebaik mungkin tidak dilanggar. EYD? Hehe, santai dikit nggak apa-apa kali, ya. Supaya nggak terlalu kaku.

Sumber gambar: pixabay.com

Khusus untuk blog ini, misi spesifik saya sederhana aja. Hanya ingin menyebar “virus” belajar kepada semua orang, khususnya para ibu.

Sejak melahirkan, saya sadar betul bagaimana seorang ibu harus belajar banyak hal demi buah hatinya. Misalnya, saat anak sakit, apa tindakan pertama yang harus dilakukan? Saat anak nggak mau makan, saat anak rewel, saat anak belum bisa ngomong, dan sebagainya.

Jawabannya hanya bisa didapatkan dengan belajar. Belajar dari banyak orang. Belajar dari banyak sumber. Jadi, jangan mentah-mentah menerima informasi. Bandingkan, analisa, baru bisa percayai dan terapkan.

Tentu saja, saya juga masih harus banyak belajar soal blog. Soal Google Analytics, soal Domain Authority, soal SEO, soal infografis, dan sebagainya. Ya, saya anggap itu proses aja. Kalau belum-belum harus perfect, entar nggak jadi-jadi nulisnya. Blognya penuh sawang lagi, deh..

Nah, kalau kamu pengalaman ngeblognya, gimana? Pernah lupa password berapa kali? Ceritain juga, yaaa…

#Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge–Day 1 “Kenapa Menulis Blog”.