BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

“Belajar Itu Sepanjang Hayat”

Foto: www.pixabay.com

Belajar itu sepanjang hayat..

Konsep itu yang selalu saya ulang-ulang di benak.

Belajar bisa kapan saja. Belajar bisa di mana saja. Belajar bisa sama siapa saja. Belajar bisa dilakukan dengan siapa saja. Belajar bahkan bisa dari masa-masa paling nggak menyenangkan.

Seperti saya nih, saya baru aja belajar. Sudah nulis panjang-panjang, lalu terhapus begitu saja. Padahal udah selesai, tinggal finishing aja. Pengen nangis banget karena nulisnya pake hati tuh. HAHAHA.

Mungkin saya sedang diuji. Bener nggak sih mau belajar dari masalah?

Dan, saya pun mengumpulkan semangat lagi untuk mulai menulis hal yang sama. Males? Iyaaaaaa. Karena mood-nya langsung ilang, terbang entah ke mana. Tapi, namanya juga sedang belajar untuk bangkit. Harus lewat praktik, bukan teori aja.

Tentang Nama Blog

Kali ini, saya mau nulis tentang nama blog. Mengapa saya memilih “Ibu Belajar” sebagai “brand” saya. Hmm, ceritanya panjang.

Saat itu, saya baru saja melahirkan. W baru berusia sekitar 4 hari. Kami pulang dari RS dan mulai menjalani hari-hari sebagai ibu. Saat itu, saya dan suami hanya ditemani oleh ibu mertua (yang kebetulan udah lama nggak merawat bayi).

Ketika masih di RS, W “dirawat” oleh suster. Dimandiin dua kali sehari. Dibersihkan kalau BAB. Dijemur tiap pagi. Dsb. Pokoknya, si ibu terima berezz aja. Ya, iya, kan sedang terbaring karena luka sesar.

Perjuangan (dan kekonyolan) baru dimulai ketika tiba di rumah. Malem-malem, W mendadak BAB. Item warnanya. Ya, agak bingung juga, kenapa gini ya? Tapi, ya udahlah. Yang penting harus segera dibersihkan. Cuma.. gimana cara membersihkannya?

Dasar ibu baru! Tissue basah nggak sedia. Lap juga nggak ada. Panik? Iyaaaaa. Padahal cuma membersihkan BAB bayi. Memang, seumur-umur belum pernah melakukan itu.

Saya pun minta suami untuk mengambil air panas. Tapi, kok dingin? Tuang air panas dulu deh. Tapi, gimana caranya? Mikirrr. Nyobaaaa. Pokoknya ribet banget. Harus dilap nggak sih? Udah gitu, anaknya nangis nggak keruan. Huhuhuhu.

Foto: www.pixabay.com

Saat itu juga saya langsung mikir. Ya, Tuhan. Saya belum banyak belajar. Bagaimana saya bisa jaga anak ini kalau saya nggak tahu apa-apa? Bagaimana kalau ia sakit? Nggak mau menyusui? Dsb.

Ketakutan-ketakutan yang menyerbu pikiran. Dan tentu saja bikin menyesal. Kemana saja saya selama ini? Kenapa saya nggak belajar.

Ingin Meninggalkan Jejak

Sejak kejadian itu, saya mulai berpikir untuk berubah. Nggak bisa begini terus. Saya harus banyak cari referensi dan informasi. Belum lagi karena banyak orang yang nyuruh ini itu. Harus gini gitu. Sementara saya, tipe orang yang skeptis banget. Apa iya gitu? Selalu itu yang muncul dalam pikiran.

Akhirnya, saya pun mulai kepikiran untuk bikin blog baru. Sesuatu yang bisa menjadi rekam jejak saya; mengatasi setiap kekonyolan ketika belum tahu apa-apa. Dengan begitu, saya bisa menjadi lebih baik lagi.

Menurut saya, belajar bukan hanya ketika si anak masih kecil. Ketika ia remaja, saya belajar untuk menjadi teman baginya. Ketika ia dewasa, saya bisa menjadi seseorang yang menginspirasi. Ketika ia menikah, saya bisa menerima pasangannya. Ketika ia memiliki anak, saya bisa menjadi nenek yang baik.

Semoga, setiap orang diberikan usia yang cukup untuk terus belajar. Terus mengusahakan kebaikan bagi diri dan orang lain.