Review

Club Alacarte, Aplikasi Premium Untuk Menjelajah Kuliner Secara Elegan dan Eksklusif

Picture by www.pexels.com

Pernah nggak sih kamu mengalami kejadian memalukan saat fine dining di sebuah resto berkelas, lalu pasangan dengan noraknya bertanya kepada waitress, “Ada potongan harga, nggak?” Haduh! Saya pernah, meskipun bukan di tempat yang mewah-mewah banget. Namun, semua orang yang datang ke tempat itu berpakaian rapi, termasuk kami.  Ceritanya sih, kami sedang merayakan satu bulan pernikahan. Jangan ketawa, yah! Konon katanya 3 bulan pertama pernikahan dunia terasa seperti surga.

Mendengar pertanyaan itu, si waitress cuma menggeleng sambil tersenyum sopan. Saya menunduk aja menatap piring, sendok, dan garpu. Nggak mau membayangkan berapa pasang mata yang menoleh ke tempat duduk kami diam-diam. Dalam hati menggerutu, si abang kok nggak tahu tempat banget, sih! Haha! Memaaang, kami berdua sangat berkomitmen untuk selalu menghemat pengeluaran. Meskipun kala itu uang bisa dibilang nggak kurang. Gaji pun rasanya cukuplah untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup standard. Tapi, kalau ada peluang untuk melakukan penghematan—dengan berburu potongan harga, misalnya—kenapa, nggak? Itu prinsip kami.

Cuma, dari level “keberanian”, saya akui nyali saya lebih kecil. Akhirnya, si suamilah yang biasanya inisiatif maju duluan untuk bertanya. Mottonya: Lebih baik bertanya, pantang menyesal karena sudah telanjur bayar! Padahal ya, kalau misalnya ternyata ada diskon gede, sayalah yang paling bersorak gembira.

Tapi, sejak kejadian di resto itu, saya menjadi agak keder juga urusan diskon-diskonan ini. Soalnya, pas bayar di kasir, rasanya tertuduh gitu oleh pandangan mata para waitress dan pengunjung di sana. Dikira nggak bisa bayar, apa? Hehehe. Setelah itu, saya selalu wanti-wanti ke suami duluan sebelum kami membeli sesuatu, baik makanan atau barang apa pun, supaya kami mendiskusikan dulu di luar segala kemungkinan tentang ihwal potongan harga. Kalaupun mau nanya, jangan frontal gitu!

Kenalan Sama Alacarte

Suatu saat, saya kenalan sama sebuah aplikasi. Saya memang hobi nyoba aplikasi-aplikasi baru di Google Play. Nama aplikasi mobile ini Club Alacarte. Intinya, sih melalui Club Alacarte, kita bisa menikmati diskon di sejumlah resto maupun gerai tanpa perlu mencuri perhatian.

Ada 2 fitur utama yang akan kita temukan di Home aplikasi, yaitu “Dining” dan “Lifestyle & Retail”. Dining berisi sejumlah resto yang bekerja sama dengan Club Alacarte. Resto-resto ini menyediakan tawaran promo khusus untuk pengguna aplikasi. Lifestyle & Retail berisi beberapa gerai yang memenuhi kebutuhan gaya hidup, mulai dari klinik kecantikan, spa, hingga laundry.

Lalu, apa saja tawaran promo yang tersedia di Alacarte? Secara umum, ada 3 tipe tawaran yang bisa kita pilihyaitu Beli 1 Gratis 1, % Off, dan IDR Off. Masing-masing tipe memiliki keunggulan, ya.

Contoh kasusnya seperti ini: Suatu saat, kita ingin makan di luar bersama pasangan, nih! Supaya hemat, kita bisa menggunakan tawaran promo 1 For 1. Jadi, ketika kita membeli satu item, kita bisa mendapatkan satu item lain dengan harga yang lebih murah atau sama secara gratis. Hmmm, sangat menggoda, bukaaann?

Lalu, ada pula promo % Off, yaitu potongan harga 50% untuk lifestyle item yang kita beli. Penting loh ini! Khususnya bagi para wanita yang ingin menikmati treatment dari salon tanpa harus menderita kanker (kantong kering). Kalau suami tanya, kita bisa agak membela diri dikitlah. Kan, diskon 50%??

Selain itu, ada pula IDR Off, yaitu potongan harga setelah melakukan pembelanjaan minimum. Berapa potongan harganya? Beda-beda tergantung retailnya. Kita bisa langsung cek dulu di aplikasinya sebelum berbelanja dengan ((DIAM-DIAM)). Itulah menariknya sistem yang digunakan oleh Club Alacarte. Kita tuh nggak perlu lagi tanya-tanya ke pegawai gerai (karena kadang bikin malu) atau menghidupkan radar dengan mata jelalatan nyari banner promo.

Tawaran promo untuk Dining (dokpri)
Tawaran promo untuk Lifestyle &Retail (dokpri)

Kita hanya perlu buka aplikasi, lalu cek penawaran yang sedang berlaku. Cara Redeem pun gampang banget. Saat hendak membayar bill, klik Redeem, masukkan PIN, pihak resto juga memasukkan PIN, dan taraa.. kita langsung mendapatkan potongan harga. Berkelas dan elegan! Dan tanpa drama.

Oh, iya, bagi pasangan yang sering “perang mendadak” karena pertanyaan klasik, “Mau makan di mana?”, aplikasi ini juga ada gunanya, lo! Jadi, kita tinggal scrolling aja deh tuh resto-resto yang tersedia. Saya sih yakin, tawaran diskon kayak gini akan membuat kamu langsung tahu jawabannya.

Yang perlu diingat adalah bahwa aplikasi Club Alacarte berbasis sistem membership. Jadi, bukan semacam tulisan “SALE” di lorong mal yang berlaku untuk sejuta umat. Nggak! Ini tuh aplikasi premium. Mau jadi anak emasnya?? Gampaaangg. Kita tinggal daftar aja jadi member. Hari gini, punya status keanggotaan itu penting, loh! Ada 3 pilihan membership yang tersedia, yaitu 1 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan.  Jadi, selama jangka waktu itu, kita bebas nongkrong di resto mana pun yang kita mau! Asal punya waktu aja.

Apakah membership-nya bayar? Gini ya, dengan fasilitas yang ditawarkan oleh Club Alacarte, rasanya tidak akan rugi membayar biaya membership di Club Alacarte. Tarifnya pun fleksibel karena disesuaikan dengan jangka waktu yang dipilih. So, nggak perlu merasa sia-sia membuang uang jika pada akhirnya akan berguna untuk kita.

Misalnya nih, kita adalah warga lokal Jakarta (untuk sementara Club Alacarte memang baru ada di Jakarta, ya. Semoga dalam waktu dekat juga bisa ke daerah-daerah lain) dan kita cinta mati sama dunia kuliner, langsung daftar membership 12 bulan aja, Kak! Tapi, kalau kita masih galau untuk berkomitmen dan pengen nyoba dulu, kita bisa pilih opsi membership 1 bulan.

Pakenya Mudah, Nggak?

Berbicara mengenai mobile application, salah satu poin mendasar yang sangat penting adalah apakah aplikasi ini user friendly atau ramah pengguna? Di mana-mana, yang namanya “ramah” pasti laris, ye kan! Soalnya, kalau nggak user friendly, kita yang pake jadi bete sendiri. Udah laper, aplikasi ngadat, kencan jadi gagal, sempurna deh!

Nah, di sini saya coba merangkum beberapa hal tentang kualitas aplikasi Club Alacarte berdasarkan pendapat yang seobjektif mungkin.

Pertama, nggak bikin lambat smartphone kamu. Pasti sebel banget kan kalau kita install aplikasi, lalu respons gadget menjadi agak lambat. Apalagi kalau smartphone udah dipenuhi oleh beragam aplikasi nonton dan game. Karena cukup ringan, kamu nggak perlu waswas. Cumaa.. pada saat mau install aplikasi, kamu memang harus agak sigap nih karena waktu untuk pengisian kode verifikasi sangat singkat, yaitu kurang dari 10 detik. Ada baiknya, nyalakan notifikasi email supaya langsung terlihat.

Kedua, desainnya sederhana. Sering nggak sih kamu bingung (atau malah puyeng) ketika buka aplikasi dan ada banyak macam perintilan kecil-kecil di tiap sudut. Butuh perjuangan batin banget untuk milih mana yang harus diklik duluan. Di Club Alacarte, kamu hanya akan dihadapkan pada 2 pilihan saja. NO! Ini bukan POLITIK, yes! Intinya, kamu akan “terbantu” banget untuk mengenali keinginan diri sendiri. Mau makan? Atau cari kebutuhan lifestyle? Udah. Itu aja.

Dengan kombinasi warna yang elegan dan bikin adem pandangan, kamu pun akan semakin santai menentukan pilihan. Di sini juga nggak ada ornamen-ornamen yang nggak penting. Semua tombol yang kamu lihat di aplikasi Club Alacarte sangat fungsional dan berguna.

Ketiga, mudah digunakan. Setelah menentukan pilihan, kamu akan langsung disapa dengan pilihan TOP PICKS yang sedang trending. Jadi, kamu tinggal klik salah satunya. Nggak perlu khawatir jika nama-nama resto ini terdengar asing karena ada informasi singkat pada setiap pilihan, mulai dari alamat, nomor telepon, dan menu beserta harganya. Bahkaaan, ada pintasan langsung ke akun IG dan Facebook resto yang dimaksud. Waw!

Top Picks untuk Lifestyle (dokpri)
Top Picks untuk Dining (dokpri)

Di halaman yang sama, tersedia fitur “Your Offers”, yaitu pilihan promo yang tersedia, termasuk ketentuan yang berlaku. Saat klik Redeem, kamu juga akan mendapatkan informasi mengenai perkiraan penghematan yang bisa kamu lakukan. Ahh, ini nih yang suka bikin tersipu! Hahaha. Oh, ya, saking mudahnya, kamu nggak perlu kursus singkat dulu untuk bisa pakai aplikasi ini. Yang penting niat dan semua akan dimudahkan. Yes!

Keempat, paham dengan konteks pengguna. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa member Club Alacarte adalah masyarakat gaul milenial yang sibuk dengan berbagai urusan. Jadi, soal cari makan pada umumnya dikerjakan sembari menyelesaikan aktivitas lain. Apakah itu memungkinkan untuk pengguna Club Alacarte? Iya, banget. Dengan model box tersusun rapi dan font yang jelas, cukup mudah untuk pilih-pilih opsi tertentu, termasuk untuk menggali informasi yang diperlukan.

Kelima, ada support 24 jam. Mengalami error atau masalah saat menggunakan aplikasi? Ini bisa jadi nightmare, lo. Apalagi jika ada hubungannya dengan duit. Nah, di Club Alacarte, kamu akan dimanjakan dengan layanan 24 jam sepanjang minggu via email. Kamu bisa melayangkan surat keberatan, masukan, atau saran, asal jangan surat cinta. Dukungan berupa aturan penggunaan pun tersedia lengkap dan mudah dipahami.

Alamat yang bisa kamu hubungi (dokpri)

**

Nah, inilah review singkat saya mengenai aplikasi Club Alacarte. Dengan kemudahan yang kini disediakan aplikasi ini, kamu nggak perlu lagi menjadi korban selanjutnya atas situasi awkward seperti yang pernah saya alami. Kamu juga bisa menikmati pengalaman menjelajah kuliner di berbagai resto dan menikmati layanan eksklusif dari lifestyle & retail yang tersedia dengan lebih ELEGAN. Oh, ya, kamu bisa mengunjungi website Club Alacarte untuk informasi lebih lanjut, ya! Semoga bermanfaat.

Uncategorized

Srikandi Gali Potensi Diri, Jadi Tiang Penyangga Keluarga

Suasana di acara pameran. Foto: dokpri.

Adalah Rukiyanti, seorang wanita bertubuh mungil dengan raut wajah teduh menyapa ramah saat saya mendekati mejanya. Ceriping pisang berwarna coklat cerah tampak berderet menggoda di depannya. Karena saya dan keluarga menyukai aneka makanan renyah dan kriuk macam keripik ini, saya berniat untuk membelinya.

“Ini berapa, Bu?

“Sepuluh ribu saja, Mbak.”

Saya menimang bungkusan itu. Cukup besar dan berisi. Tanpa ragu, saya mengeluarkan dompet dan mengambil 2 lembar Rp10.000. “Saya beli dua ya, Bu..” Dengan terampil, ia pun memasukkan pesanan saya ke dalam kantong.

 

Ceriping Pisang Bu Rukiyanti

 

Ibu Rukiyanti sedang mengemas produk. Foto: dokpri

Rukiyanti telah memulai bisnis ini sejak lama, bahkan sebelum gempa melanda Jogja. Saat ini, ia menjadi tulang punggung keluarga karena suami sedang sakit dan tidak bisa bekerja. “Tapi, suami saya masih bisa ikut bantu-bantu di rumah,” kata Rukiyanti. Wanita ini bersyukur, ia sempat mengikuti beberapa pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) DIY. Lewat event tersebut, ia bisa mendapatkan ilmu serta teman baru.

“Melalui pameran-pameran seperti ini, saya juga bisa jual produk saya. Sebagian lagi saya titipkan ke toko-toko. Ada juga reseller yang ngambil langsung di rumah, daerah Kweden, Trirenggo, Bantul,” lanjut Rukiyanti. Menurutnya, produk dengan label Criping Pisang Ruky Ngudi Rejeki ini terjamin karena tidak menggunakan minyak goreng curah. “Pisangnya pun pisang kepok kuning.”

Di sebelah meja Rukiyanti, seorang ibu dengan usia yang kira-kira tidak jauh berbeda, menjual beberapa macam produk. Salah satu yang menurutnya paling unggul adalah serundeng kremes. Mengusung label Camikhoo, Ada 2 varian serundeng yang tersedia, yaitu Original dan Pedas. Ada pula Abon Tuna dan Abon Lele. “Ayo dicoba, Mbak. Enak, lo kalau dicampur dengan nasi anget-anget..”

Serundeng kremes dari Camikhoo. Foto: dokpri

Ahh, seketika saya langsung membayangkan kalimat si ibu. Bener juga, nih! Sepiring nasi hangat dengan taburan serundeng lezat, siapa yang bisa menolak? Tanpa pikir panjang, saya pun membeli satu bungkus yang rasa Original. (Di rumah, ketika ide si ibu saya praktikkan, bener rasanya memang maknyus. Harum serundeng benar-benar menggugah selera makan).

Masih belum puas, saya pun melihat-lihat lebih banyak produk kuliner di Pameran Pesta Kuliner Rakyat yang diadakan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta bersama PLUT-KUMKM DI Yogyakarta ini. Di barisan paling ujung, saya disapa oleh seorang ibu. Namanya Rismiyati.

“Mbak, ini ada sirup kunir asem. Enak lo, Mbak! Ayo dicoba.. Ini bagus buat wanita kalau lagi menstruasi. Biar lancar dan tidak sakit,” ujarnya dengan penuh semangat. Saya berhenti sejenak. Selain sirup, ada pula kemasan berukuran sedang. Di bungkusnya tertulis Jahe Secang Instan Herbal Damar.

Kemasan jahe secang. Foto: dokpri
Ibu Rismiyanti sedang menjelaskan keunggulan produknya. Foto: dokpri

“Kalau ini, apa Bu?”

“Oh, ini jahe secang, terbuat dari jahe dan kayu secang. Nanti Mbak bisa lihat saja di Google, apa manfaat kayu secang… Ada banyak khasiatnya bagi kesehatan.”

Rismiyanti pun menjelaskan, kayu secang dikombinasikan dengan jahe supaya rasanya lebih enak. Selain jahe, ada pula bahan cengkeh, serai, dan kayu manis, di dalamnya. Wah, lengkap banget! “Produk ini bisa tahan sampai 4-5 bulan,” kata Rismiyanti.

Wanita ini sudah memulai bisnis membuat jahe secang sejak 6 tahun lalu. Saat itu, ia mendapatkan ide dari Simbok (Ibu) yang belajar dari mahasiswa yang KKN di desa mereka. “Tapi, ibu saya nggak bikin. Dia cuma cerita saja. Dia bilang, ‘Ris, ini ada anak KKN yang ngandani gawe jahe instan. Enak, lo!’ Nah, karena namanya orang tua, biasanya lupa ukuran-ukurannya. Jadi, akhirnya saya harus mencoba sendiri.”

Proses ini tidak mudah. Rismiyanti harus mencoba beberapa kali sampai akhirnya rasa jahe tersebut pas di lidah. “Yang pertama kepedesan, kedua juga masih kepedesan, ketiga malah kurang pedes. Tapi, saya coba terus sampai akhirnya ini jadi.”

Setelah jadi, barulah Rismiyanti berani menawarkan produknya. Biasanya, ibu-ibu yang mengikuti pertemuan PKK memesan setelah ia memberikan pengumuman lewat status WA. Berbagai pelatihan yang dijalaninya dari pihak dinas pun menambah nilai jual pada produknya. “Dulu kan saya cuma pakai plastik yang tipis itu, Mbak. Labelnya juga cuma tulisan, lalu difotokopi. Sekarang, saya lebih berani kalau memasarkan produk saya. Kemasannya pun lebih rapat. Aman dan terjamin.”

Bukan hanya soal kemasan, melalui informasi dari Dinas pula ia bisa mendapatkan No. PIRT. “Karena sudah dibantu dengan pelatihan dan informasi semacam itu, berbisnis menjadi lebih enak. Melalui kegiatan ini, saya juga menjadi lebih happy karena dapat teman, pengalaman, sekaligus rezeki,” tutup Rismiyanti.

Sebelum pulang, tak lupa saya membeli sebungkus Jahe Secang. Rasa dingin akibat hujan yang akhir-akhir ini sering turun sebaiknya harus dihalau dengan kehangatan jahe yang baik untuk kesehatan.

“Oh, iya, cara minumnya gimana nih, Bu?”

“Sesuai selera aja, Mbak. Tapi, supaya nggak kepedesan, untuk satu gelas kecil gini, masukkan 2,5 sendok jahe secang. Segerrr pokoknya..” ujar sang ibu sambil mengacungkan jempol. Baiklah, Bu. Saya akan mencoba sarannya. Tetap semangat untuk mengembangkan bisnis!

Saya juga berharap, dengan dukungan optimal dari pemerintah, para pelaku UKM akan semakin bersemangat menata bisnisnya. Pertama untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Selanjutnya untuk memberi manfaat bagi sesama melalui produknya.

Uncategorized

Pameran Craft and Fashion, Mulai Dari Relasi Sampai Kolaborasi

Suasana di Pameran Produk Craft dan Fashion. Foto: dokpri

Asal semua dijalani dengan senang dan gembira, hasilnya pasti akan luar biasa”, itulah pernyataan salah seorang peserta pameran Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa, yang diadakan di Pyramid, Jl. Parangtritis, Bantul, pada Jumat-Sabtu, 22-23 Maret 2019. Di tempat ini, lebih dari 20 pelaku UKM craft dan fashion mengikuti pameran selama dua hari yang difasilitasi oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta.

Salah seorang peserta pameran yang menarik perhatian adalah Maria Ulfa, owner Mulfa Eco Print. Di atas meja di hadapan Ulfa, kain-kain berwarna pastel dijejerkan berbaris. Tampak pula sebuah name tag sederhana bertuliskan, Bantul Go Green. Produk yang dijual Ulfa adalah batik eco print, baik berupa kain (pakaian jadi), jilbab, maupun produk aksesori wanita seperti tas.

Ibu Ulfa dan batik eco print kreasinya. Foto: dokpri

“Ruang tamu di rumah saya disulap menjadi tempat untuk bekerja,” kata Ulfa sambil tersenyum. Rumahnya sendiri terletak di Sewon, Bantul. Sementara itu, ia membuka lapak setiap hari di Stand Museum Pyramid bersama sejumlah UKM Bantul lainnya. Berbahan dasar kain katun primisima berwarna putih polos, Ulfa menawarkan produk fashion yang sangat unik karena diciptakan dengan menggunakan teknik eco print. Hasilnya? Menarik dan khas banget! Warna-warna alam bernuansa natural dengan motif dedaunan tampak terpampang. “Banyak yang suka dengan warna-warna ini,” ujar Ulfa.

Salah satu produk yang terlihat “wow” adalah sebuah tas mungil berwarna kuning gading. Ternyata, bahan dasar tas ini dari kulit kayu. Ulfa menjelaskan, pada musim-musim tertentu, kulit kayu akan mengelupas. Supaya bermanfaat, kulit kayu dijadikan barang-barang fashion. “Biasanya kan cuma dibakar aja karena kulit kayu termasuk sampah. Tapi, sekarang ada nilai tambahnya.”

Menariknya, produk tas ini bukan buatan Ulfa sendiri, tetapi seorang rekanan UKM di Gunungkidul. “Waktu itu, ada teman yang bilang, ‘Saya minta tolong tas ini di-ecoprint-kan dong.’ Jadi, saya hanya proses eco print aja. Nggak lama sih, cuma dua hari. Kalau bikin produknya memang cukup lama. Nah, setelah jadi, saya juga ikut menjual.” Bukan hanya tas, produk pakaian jadi yang ia bawa pun merupakan hasil kolaborasi dengan rekanan penjahit.

Ia mulai membangun Mulfa Eco Print pada Juli 2018. Pada September 2018, ia sudah memiliki izin usaha. Setelah itu, barulah ia berani untuk mengikuti berbagai bazar yang diselenggarakan di Yogyakarta, baik oleh pemerintah maupun swasta. Menurut Ulfa, ada banyak keuntungan mengikuti kegiatan-kegiatan semacam ini.

“Pertama, saya dapat relasi, yaitu teman-teman sesama pelaku UKM. Ketika kita kenal dengan teman pengusaha, kita kadang-kadang berinisiatif untuk melakukan pengembangan produk. Seperti tas ini, misalnya. Saya sebetulnya nggak pengen bikin tas. Tapi, karena ada yang meminta, saya jadi mikir, ‘Oh iya ya, saya bisa menambah koleksi produk’,” ujar Ulfa. Dari sinilah peluang kolaborasi semakin terbuka lebar.

Selain itu, Ulfa juga rajin mengikuti berbagai pelatihan, yang terakhir adalah dari PLUT-KUMKM DIY. “Saya jadi merasa banyak PR, nih,” kata Ulfa sambil tertawa.

Bpk. Sugeng sedang menata wayang. Foto: dokpri
Wayang buatan Bpk. Sugeng. Foto: dokpri

Pelaku UKM kedua yang mengikuti pameran adalah Sugeng Prayogo yang memproduksi wayang kulit. “Ini adalah suvenir yang paling mendominasi dan sering dipesan sampai ke luar negeri, yang terakhir kemarin dari Norwegia.”

Owner Wahyu “Art” ini memiliki tenaga produksi sebanyak 5 orang. Mereka membantunya untuk membuat wayang di tempat produksi, yaitu rumah Sugeng sendiri di Jl. Parangtritis km 9, Kowen 1, Timbulharjo. Sugeng memulai usaha ini sejak 2009 lalu. Pria yang berasal dari keluarga dalang ini memang memiliki darah seni. “Saya bisa ndalang juga. Tapi, saya lebih cenderung ke pasar globalnya, biar bisa nguri-uri kebudayaan Jawa. Kalau dalang saja, belum tentu laku. Bisnis ini pun lebih menjanjikan.”

Biasanya, Sugeng menawarkan produknya ke pelanggan yang ada di Jakarta. Ia juga menawarkan produknya di mal dan ke pedagang-pedagang. “Ada banyak juga yang meminta modifikasi selain gambar wayang yang paten. Mereka biasanya mengirim gambar lewat email. Pengen seperti ini dan saya buatkan.”

Wayang yang dibuat oleh Sugeng berbahan dasar kulit kerbau. Apabila kena AC atau panas, kulit kerbau lebih kuat dan awet, berbeda dengan kulit sapi. Selain wayang kulit, Sugeng juga memproduksi souvenir seperti kipas, pembatas buku, gantungan kunci, dan sebagainya. Harga kipas yang ditawarkan Sugeng bisa mencapai Rp500.000. “Memang produk ini khusus untuk kalangan premium berkelas. Ada yang membeli untuk cendera mata atau hadiah, ada juga yang untuk dijual kembali.”

 

Selain Mulfa Eco Print dan Wahyu “Art”, produk ketiga yang mengikuti pameran adalah kerajinan tangan kreasi Asri Pamungkas. Produk Asri Pamungkas Fashion & Craft berupa kerajinan tangan yang terbuat dari bahan tissue napkins. Proses pembuatan produk disebut decoupage. Sebelum diolah oleh Asri, bahan dasar produk hanya berupa talenan polos, botol bekas, tas tanpa motif, bahkan sarung pelindung ponsel.

“Jadi, tissue ini nanti dilem di produk dasarnya hingga membentuk pola dan motif yang menarik.” Jika dilihat dengan cermat, motif kreasi Asri sangat cantik dan unik. Bentuknya hampir seperti lukisan yang indah. Soal keawetan pun tidak perlu diragukan. “Ini sudah di-furnish tiga kali, pengeleman pun dilakukan tiga kali. Jadi, kena air pun nggak apa-apa,” ujar Asri.

Lalu, prosesnya berapa lama? “Satu hari bisa, kok. Bahkan, dalam satu hari, saya bisa membuat beberapa produk.” Asri mengaku, ia hanya perlu mengembangkan kreativitas supaya bisa menghasilkan produk yang beda dari yang lain. Asri mulai mengusahakan kerajinan sejak 2 tahun terakhir. Namun, ia baru mulai merambah decoupage sekitar 1 tahun terakhir.

“Saya suka coba-coba membuat aksesori. Awalnya, saya dapat ide dari Youtube. Lalu, saya juga belajar dari teman yang sudah bisa. Kemudian saya kembangkan sendiri. Kendalanya ada di bahan sih. Saya harus membeli bahan secara online. Masalahnya, kalau membeli online, kita nggak bisa milih. Mereka mengirim motifnya random. Saat ini, saya menggunakan dua jenis tissue, ada  yang dari Eropa dan dari Cina.”

Usaha dengan modal awal sekitar 2-3 juta ini bukan hanya dijual secara offline, tetapi juga melalui akun Instagramnya, Gias_Olshop. Sementara itu, sehari-hari Asri membuka lapak di Stand Museum Pyramid, Jl. Parangtritis, Bantul. Asri mengaku, melalui event-event pameran seperti ini, ia dapat memperkenalkan produknya kepada lebih banyak orang. Ia juga mendapatkan banyak teman baru sehingga bisa saling mendukung dalam membesarkan bisnis.

Ulfa, Sugeng, dan Asri adalah sebagian dari peserta pameran kali ini. Meskipun pengunjung pameran pada sore itu belum terlalu membludak, mereka tetap antusias memperkenalkan produknya. Melalui kesempatan ini, mereka dapat mengedukasi pengunjung mengenai keunggulan barang yang mereka jual. Tujuan akhirnya adalah supaya pengunjung berkonversi menjadi pembeli.

Pelaku UKM di Yogyakarta hari ini boleh merasa senang karena ada beragam fasilitas yang ditawarkan oleh pemerintah melalui dinas terkait. Pelaksanaan pameran adalah salah satu strategi untuk mempertemukan pelaku UKM dengan calon pembeli. Oleh karena itu, acara yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi UKM ini dirasakan sangat bermanfaat.

Hanya saja, promosi tentu perlu digencarkan lagi. Lokasi pameran yang bukan berada di dekat pusat kota mungkin menjadi salah satu faktor kurangnya animo masyarakat untuk datang. Dari sisi UKM, produk yang ditawarkan istimewa dan unik, tak kalah dengan produk-produk berlabel internasional. Jadi, sudah saatnya untuk mulai mencintai produk anak negeri. Semoga pemerintah dan pihak terkait juga terus bergandengan tangan untuk mendukung pelaku UKM hingga bisa merambah pasar yang lebih luas.