Uncategorized

Pameran Craft and Fashion, Mulai Dari Relasi Sampai Kolaborasi

Suasana di Pameran Produk Craft dan Fashion. Foto: dokpri

Asal semua dijalani dengan senang dan gembira, hasilnya pasti akan luar biasa”, itulah pernyataan salah seorang peserta pameran Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa, yang diadakan di Pyramid, Jl. Parangtritis, Bantul, pada Jumat-Sabtu, 22-23 Maret 2019. Di tempat ini, lebih dari 20 pelaku UKM craft dan fashion mengikuti pameran selama dua hari yang difasilitasi oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta.

Salah seorang peserta pameran yang menarik perhatian adalah Maria Ulfa, owner Mulfa Eco Print. Di atas meja di hadapan Ulfa, kain-kain berwarna pastel dijejerkan berbaris. Tampak pula sebuah name tag sederhana bertuliskan, Bantul Go Green. Produk yang dijual Ulfa adalah batik eco print, baik berupa kain (pakaian jadi), jilbab, maupun produk aksesori wanita seperti tas.

Ibu Ulfa dan batik eco print kreasinya. Foto: dokpri

“Ruang tamu di rumah saya disulap menjadi tempat untuk bekerja,” kata Ulfa sambil tersenyum. Rumahnya sendiri terletak di Sewon, Bantul. Sementara itu, ia membuka lapak setiap hari di Stand Museum Pyramid bersama sejumlah UKM Bantul lainnya. Berbahan dasar kain katun primisima berwarna putih polos, Ulfa menawarkan produk fashion yang sangat unik karena diciptakan dengan menggunakan teknik eco print. Hasilnya? Menarik dan khas banget! Warna-warna alam bernuansa natural dengan motif dedaunan tampak terpampang. “Banyak yang suka dengan warna-warna ini,” ujar Ulfa.

Salah satu produk yang terlihat “wow” adalah sebuah tas mungil berwarna kuning gading. Ternyata, bahan dasar tas ini dari kulit kayu. Ulfa menjelaskan, pada musim-musim tertentu, kulit kayu akan mengelupas. Supaya bermanfaat, kulit kayu dijadikan barang-barang fashion. “Biasanya kan cuma dibakar aja karena kulit kayu termasuk sampah. Tapi, sekarang ada nilai tambahnya.”

Menariknya, produk tas ini bukan buatan Ulfa sendiri, tetapi seorang rekanan UKM di Gunungkidul. “Waktu itu, ada teman yang bilang, ‘Saya minta tolong tas ini di-ecoprint-kan dong.’ Jadi, saya hanya proses eco print aja. Nggak lama sih, cuma dua hari. Kalau bikin produknya memang cukup lama. Nah, setelah jadi, saya juga ikut menjual.” Bukan hanya tas, produk pakaian jadi yang ia bawa pun merupakan hasil kolaborasi dengan rekanan penjahit.

Ia mulai membangun Mulfa Eco Print pada Juli 2018. Pada September 2018, ia sudah memiliki izin usaha. Setelah itu, barulah ia berani untuk mengikuti berbagai bazar yang diselenggarakan di Yogyakarta, baik oleh pemerintah maupun swasta. Menurut Ulfa, ada banyak keuntungan mengikuti kegiatan-kegiatan semacam ini.

“Pertama, saya dapat relasi, yaitu teman-teman sesama pelaku UKM. Ketika kita kenal dengan teman pengusaha, kita kadang-kadang berinisiatif untuk melakukan pengembangan produk. Seperti tas ini, misalnya. Saya sebetulnya nggak pengen bikin tas. Tapi, karena ada yang meminta, saya jadi mikir, ‘Oh iya ya, saya bisa menambah koleksi produk’,” ujar Ulfa. Dari sinilah peluang kolaborasi semakin terbuka lebar.

Selain itu, Ulfa juga rajin mengikuti berbagai pelatihan, yang terakhir adalah dari PLUT-KUMKM DIY. “Saya jadi merasa banyak PR, nih,” kata Ulfa sambil tertawa.

Bpk. Sugeng sedang menata wayang. Foto: dokpri
Wayang buatan Bpk. Sugeng. Foto: dokpri

Pelaku UKM kedua yang mengikuti pameran adalah Sugeng Prayogo yang memproduksi wayang kulit. “Ini adalah suvenir yang paling mendominasi dan sering dipesan sampai ke luar negeri, yang terakhir kemarin dari Norwegia.”

Owner Wahyu “Art” ini memiliki tenaga produksi sebanyak 5 orang. Mereka membantunya untuk membuat wayang di tempat produksi, yaitu rumah Sugeng sendiri di Jl. Parangtritis km 9, Kowen 1, Timbulharjo. Sugeng memulai usaha ini sejak 2009 lalu. Pria yang berasal dari keluarga dalang ini memang memiliki darah seni. “Saya bisa ndalang juga. Tapi, saya lebih cenderung ke pasar globalnya, biar bisa nguri-uri kebudayaan Jawa. Kalau dalang saja, belum tentu laku. Bisnis ini pun lebih menjanjikan.”

Biasanya, Sugeng menawarkan produknya ke pelanggan yang ada di Jakarta. Ia juga menawarkan produknya di mal dan ke pedagang-pedagang. “Ada banyak juga yang meminta modifikasi selain gambar wayang yang paten. Mereka biasanya mengirim gambar lewat email. Pengen seperti ini dan saya buatkan.”

Wayang yang dibuat oleh Sugeng berbahan dasar kulit kerbau. Apabila kena AC atau panas, kulit kerbau lebih kuat dan awet, berbeda dengan kulit sapi. Selain wayang kulit, Sugeng juga memproduksi souvenir seperti kipas, pembatas buku, gantungan kunci, dan sebagainya. Harga kipas yang ditawarkan Sugeng bisa mencapai Rp500.000. “Memang produk ini khusus untuk kalangan premium berkelas. Ada yang membeli untuk cendera mata atau hadiah, ada juga yang untuk dijual kembali.”

 

Selain Mulfa Eco Print dan Wahyu “Art”, produk ketiga yang mengikuti pameran adalah kerajinan tangan kreasi Asri Pamungkas. Produk Asri Pamungkas Fashion & Craft berupa kerajinan tangan yang terbuat dari bahan tissue napkins. Proses pembuatan produk disebut decoupage. Sebelum diolah oleh Asri, bahan dasar produk hanya berupa talenan polos, botol bekas, tas tanpa motif, bahkan sarung pelindung ponsel.

“Jadi, tissue ini nanti dilem di produk dasarnya hingga membentuk pola dan motif yang menarik.” Jika dilihat dengan cermat, motif kreasi Asri sangat cantik dan unik. Bentuknya hampir seperti lukisan yang indah. Soal keawetan pun tidak perlu diragukan. “Ini sudah di-furnish tiga kali, pengeleman pun dilakukan tiga kali. Jadi, kena air pun nggak apa-apa,” ujar Asri.

Lalu, prosesnya berapa lama? “Satu hari bisa, kok. Bahkan, dalam satu hari, saya bisa membuat beberapa produk.” Asri mengaku, ia hanya perlu mengembangkan kreativitas supaya bisa menghasilkan produk yang beda dari yang lain. Asri mulai mengusahakan kerajinan sejak 2 tahun terakhir. Namun, ia baru mulai merambah decoupage sekitar 1 tahun terakhir.

“Saya suka coba-coba membuat aksesori. Awalnya, saya dapat ide dari Youtube. Lalu, saya juga belajar dari teman yang sudah bisa. Kemudian saya kembangkan sendiri. Kendalanya ada di bahan sih. Saya harus membeli bahan secara online. Masalahnya, kalau membeli online, kita nggak bisa milih. Mereka mengirim motifnya random. Saat ini, saya menggunakan dua jenis tissue, ada  yang dari Eropa dan dari Cina.”

Usaha dengan modal awal sekitar 2-3 juta ini bukan hanya dijual secara offline, tetapi juga melalui akun Instagramnya, Gias_Olshop. Sementara itu, sehari-hari Asri membuka lapak di Stand Museum Pyramid, Jl. Parangtritis, Bantul. Asri mengaku, melalui event-event pameran seperti ini, ia dapat memperkenalkan produknya kepada lebih banyak orang. Ia juga mendapatkan banyak teman baru sehingga bisa saling mendukung dalam membesarkan bisnis.

Ulfa, Sugeng, dan Asri adalah sebagian dari peserta pameran kali ini. Meskipun pengunjung pameran pada sore itu belum terlalu membludak, mereka tetap antusias memperkenalkan produknya. Melalui kesempatan ini, mereka dapat mengedukasi pengunjung mengenai keunggulan barang yang mereka jual. Tujuan akhirnya adalah supaya pengunjung berkonversi menjadi pembeli.

Pelaku UKM di Yogyakarta hari ini boleh merasa senang karena ada beragam fasilitas yang ditawarkan oleh pemerintah melalui dinas terkait. Pelaksanaan pameran adalah salah satu strategi untuk mempertemukan pelaku UKM dengan calon pembeli. Oleh karena itu, acara yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi UKM ini dirasakan sangat bermanfaat.

Hanya saja, promosi tentu perlu digencarkan lagi. Lokasi pameran yang bukan berada di dekat pusat kota mungkin menjadi salah satu faktor kurangnya animo masyarakat untuk datang. Dari sisi UKM, produk yang ditawarkan istimewa dan unik, tak kalah dengan produk-produk berlabel internasional. Jadi, sudah saatnya untuk mulai mencintai produk anak negeri. Semoga pemerintah dan pihak terkait juga terus bergandengan tangan untuk mendukung pelaku UKM hingga bisa merambah pasar yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *