Uncategorized

Srikandi Gali Potensi Diri, Jadi Tiang Penyangga Keluarga

Suasana di acara pameran. Foto: dokpri.

Adalah Rukiyanti, seorang wanita bertubuh mungil dengan raut wajah teduh menyapa ramah saat saya mendekati mejanya. Ceriping pisang berwarna coklat cerah tampak berderet menggoda di depannya. Karena saya dan keluarga menyukai aneka makanan renyah dan kriuk macam keripik ini, saya berniat untuk membelinya.

“Ini berapa, Bu?

“Sepuluh ribu saja, Mbak.”

Saya menimang bungkusan itu. Cukup besar dan berisi. Tanpa ragu, saya mengeluarkan dompet dan mengambil 2 lembar Rp10.000. “Saya beli dua ya, Bu..” Dengan terampil, ia pun memasukkan pesanan saya ke dalam kantong.

 

Ceriping Pisang Bu Rukiyanti

 

Ibu Rukiyanti sedang mengemas produk. Foto: dokpri

Rukiyanti telah memulai bisnis ini sejak lama, bahkan sebelum gempa melanda Jogja. Saat ini, ia menjadi tulang punggung keluarga karena suami sedang sakit dan tidak bisa bekerja. “Tapi, suami saya masih bisa ikut bantu-bantu di rumah,” kata Rukiyanti. Wanita ini bersyukur, ia sempat mengikuti beberapa pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) DIY. Lewat event tersebut, ia bisa mendapatkan ilmu serta teman baru.

“Melalui pameran-pameran seperti ini, saya juga bisa jual produk saya. Sebagian lagi saya titipkan ke toko-toko. Ada juga reseller yang ngambil langsung di rumah, daerah Kweden, Trirenggo, Bantul,” lanjut Rukiyanti. Menurutnya, produk dengan label Criping Pisang Ruky Ngudi Rejeki ini terjamin karena tidak menggunakan minyak goreng curah. “Pisangnya pun pisang kepok kuning.”

Di sebelah meja Rukiyanti, seorang ibu dengan usia yang kira-kira tidak jauh berbeda, menjual beberapa macam produk. Salah satu yang menurutnya paling unggul adalah serundeng kremes. Mengusung label Camikhoo, Ada 2 varian serundeng yang tersedia, yaitu Original dan Pedas. Ada pula Abon Tuna dan Abon Lele. “Ayo dicoba, Mbak. Enak, lo kalau dicampur dengan nasi anget-anget..”

Serundeng kremes dari Camikhoo. Foto: dokpri

Ahh, seketika saya langsung membayangkan kalimat si ibu. Bener juga, nih! Sepiring nasi hangat dengan taburan serundeng lezat, siapa yang bisa menolak? Tanpa pikir panjang, saya pun membeli satu bungkus yang rasa Original. (Di rumah, ketika ide si ibu saya praktikkan, bener rasanya memang maknyus. Harum serundeng benar-benar menggugah selera makan).

Masih belum puas, saya pun melihat-lihat lebih banyak produk kuliner di Pameran Pesta Kuliner Rakyat yang diadakan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta bersama PLUT-KUMKM DI Yogyakarta ini. Di barisan paling ujung, saya disapa oleh seorang ibu. Namanya Rismiyati.

“Mbak, ini ada sirup kunir asem. Enak lo, Mbak! Ayo dicoba.. Ini bagus buat wanita kalau lagi menstruasi. Biar lancar dan tidak sakit,” ujarnya dengan penuh semangat. Saya berhenti sejenak. Selain sirup, ada pula kemasan berukuran sedang. Di bungkusnya tertulis Jahe Secang Instan Herbal Damar.

Kemasan jahe secang. Foto: dokpri
Ibu Rismiyanti sedang menjelaskan keunggulan produknya. Foto: dokpri

“Kalau ini, apa Bu?”

“Oh, ini jahe secang, terbuat dari jahe dan kayu secang. Nanti Mbak bisa lihat saja di Google, apa manfaat kayu secang… Ada banyak khasiatnya bagi kesehatan.”

Rismiyanti pun menjelaskan, kayu secang dikombinasikan dengan jahe supaya rasanya lebih enak. Selain jahe, ada pula bahan cengkeh, serai, dan kayu manis, di dalamnya. Wah, lengkap banget! “Produk ini bisa tahan sampai 4-5 bulan,” kata Rismiyanti.

Wanita ini sudah memulai bisnis membuat jahe secang sejak 6 tahun lalu. Saat itu, ia mendapatkan ide dari Simbok (Ibu) yang belajar dari mahasiswa yang KKN di desa mereka. “Tapi, ibu saya nggak bikin. Dia cuma cerita saja. Dia bilang, ‘Ris, ini ada anak KKN yang ngandani gawe jahe instan. Enak, lo!’ Nah, karena namanya orang tua, biasanya lupa ukuran-ukurannya. Jadi, akhirnya saya harus mencoba sendiri.”

Proses ini tidak mudah. Rismiyanti harus mencoba beberapa kali sampai akhirnya rasa jahe tersebut pas di lidah. “Yang pertama kepedesan, kedua juga masih kepedesan, ketiga malah kurang pedes. Tapi, saya coba terus sampai akhirnya ini jadi.”

Setelah jadi, barulah Rismiyanti berani menawarkan produknya. Biasanya, ibu-ibu yang mengikuti pertemuan PKK memesan setelah ia memberikan pengumuman lewat status WA. Berbagai pelatihan yang dijalaninya dari pihak dinas pun menambah nilai jual pada produknya. “Dulu kan saya cuma pakai plastik yang tipis itu, Mbak. Labelnya juga cuma tulisan, lalu difotokopi. Sekarang, saya lebih berani kalau memasarkan produk saya. Kemasannya pun lebih rapat. Aman dan terjamin.”

Bukan hanya soal kemasan, melalui informasi dari Dinas pula ia bisa mendapatkan No. PIRT. “Karena sudah dibantu dengan pelatihan dan informasi semacam itu, berbisnis menjadi lebih enak. Melalui kegiatan ini, saya juga menjadi lebih happy karena dapat teman, pengalaman, sekaligus rezeki,” tutup Rismiyanti.

Sebelum pulang, tak lupa saya membeli sebungkus Jahe Secang. Rasa dingin akibat hujan yang akhir-akhir ini sering turun sebaiknya harus dihalau dengan kehangatan jahe yang baik untuk kesehatan.

“Oh, iya, cara minumnya gimana nih, Bu?”

“Sesuai selera aja, Mbak. Tapi, supaya nggak kepedesan, untuk satu gelas kecil gini, masukkan 2,5 sendok jahe secang. Segerrr pokoknya..” ujar sang ibu sambil mengacungkan jempol. Baiklah, Bu. Saya akan mencoba sarannya. Tetap semangat untuk mengembangkan bisnis!

Saya juga berharap, dengan dukungan optimal dari pemerintah, para pelaku UKM akan semakin bersemangat menata bisnisnya. Pertama untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Selanjutnya untuk memberi manfaat bagi sesama melalui produknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *