Informasi

Lindungi Hak Kekayaan Intelektual Bersama DJKI

Meskipun kadarnya berbeda-beda, tiap pribadi memiliki kualitas kemampuan intelektual yang cukup untuk bertahan hidup. Dengan pelatihan dan pengalaman, kemampuan tersebut dapat berkembang dan menghasilkan karya-karya yang kemudian disebut sebagai “kekayaan intelektual”.

Masalah yang terjadi saat ini adalah masih banyak orang yang belum menyadari pentingnya perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual. Akibatnya banyak kasus pelanggaran hukum yang bermunculan. Salah satu contoh yang akrab dengan keseharian adalah pembajakan CD/DVD.

Ada banyak kerugian yang terjadi akibat kelalaian dalam memahami Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Akibat pemalsuan perangkat lunak, infeksi malware rentan terjadi. Pemilik kekayaan intelektual pun kehilangan hak untuk mendapatkan keuntungan atas karyanya.

Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI bersinergi dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi karyanya. Adanya nota kesepahaman di antara kedua kementerian ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat akan haknya sekaligus memotivasi pemilik kekayaan intelektual untuk mendaftarkan karya tersebut.

Undang-undang tentang HAKI

Salah satu di antaranya adalah penyelenggaraan event bertajuk Forum Sosialisasi Kepatuhan Terhadap Hak Kekayaan Intelektual yang diadakan di Hotel Sheraton pada Kamis, 25 Juli 2019. Sejumlah narasumber hadir, di antaranya:

Drs. Bambang Gunawan M.Si selaku Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum, dan Keamanan di Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik.

Handi Nugraha, S.H, M.H selaku Kasi M. Kerjasama Lembaga Non Pemerintah dan Monitoring Kemenkumham.

Drs. Lucy Irawati selaku Kepala Dinas Koperasi UMKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta.

Dipandu oleh Rihari Wulandari S.H, M.H, forum yang bertujuan untuk meningkatkan pengenalan masyarakat terhadap HAKI ini berjalan dengan lancar.

Ada banyak hal menarik yang disampaikan oleh para narasumber, saya akan tuliskan dalam beberapa poin penting:

Mengapa Hak Kekayaan Intelektual harus dilindungi?

Jawabannya adalah karena Kekayaan Intelektual memiliki nilai ekonomis. Artinya, karya tersebut laku dijual. Kalau tidak dilindungi, orang lain dapat menjiplak atau menirunya, lalu menghasilkan uang dari karya tersebut. Dalam hal ini, pemilik karya tentu akan rugi. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua Hak Kekayaan Intelektual dilindungi, tetapi hanya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Apa saja yang disebut dengan Hak Kekayaan Intelektual?

Perlu dipahami bahwa Hak Kekayaan Intelektual terbagi atas 2 bagian besar, yaitu Hak Cipta dan Hak Terkait serta Kekayaan Industri.

Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif atas karyanya di bidang seni, literatur, dan ilmu pengetahuan. Artinya, pemilik hak ini harus melakukan deklarasi untuk menunjukkan kepemilikannya terhadap Kekayaan Intelektual tersebut. Jika tidak ada publikasi, maka tidak ada bukti yang bisa menunjukkan kepemilikan hak sehingga tidak bisa diklaim. Sementara itu, Hak Terkait adalah hak yang terkait dengan hak cipta, di antaranya hak artis, hak prosedur rekaman, dan sebagainya.

Kekayaan Intelektual yang termasuk dalam Kekayaan Industri adalah merek, paten, desain industri, indikasi geografis, dan sebagainya.

Salah satu bagian dari Kekayaan Industri ini adalah merek. Bentuk merek dapat berupa grafis, gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, yang berguna untuk membedakan barang dan jasa yang diproduksi oleh orang atau atau badan hukum. Karena fungsinya sebagai pembeda, merek benar-benar harus berbeda dari yang sudah pernah ada. Bahkan, mirip saja tidak boleh. Jika ada indikasi mirip dengan merek lain (termasuk yang sudah terkenal), besar kemungkinan merek tersebut tidak disetujui pengajuan Hak Kekayaan Intelektualnya. Hal seperti ini seharusnya dipahami oleh masyarakat yang ingin mengajukan pencatatan terhadap karya atau produknya.

Apa saja asas umum yang berlaku pada pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual?

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

*Sertifikat HAKI yang dikeluarkan oleh DJKI berlaku secara nasional atau teritorial.

*First to File System yang artinya hak ini dimiliki oleh orang yang perama kali melakukan pendaftaran, kecuali untuk Hak Cipta yang dimiliki oleh orang yang pertama kali mempublikasikannya.

*Mensyaratkan kebaruan/novelty dan orisinalitas (kecuali merek) yang artinya harus bersifat orisinal dan baru.

*Ada jangka waktu perlindungan dan tidak bisa diperpanjang kecuali merek. Setelah waktu perlindungan selesai, maka hak tersebut menjadi milik umum dan dapat digunakan secara bebas.

*Jika terjadi pelanggaran, jenis deliknya adalah delik aduan. Artinya, hanya orang yang bersangkutan yang berhak untuk mengadukan apabila terjadi pelanggaran hak. Ini berbeda dengan delik umum yang bisa dilaporkan oleh setiap orang yang mengetahui terjadinya pelanggaran tersebut. Oleh karena itu, setiap pemilik karya atau produk harus menyadari haknya

Apa saja hal yang harus diperhatikan untuk mendaftarkan hak kekayaan intelektual?

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika Anda ingin mengajukan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual, yaitu:

*Pertama, kenali dulu jenis kekayaan intelektualnya

*Kedua, lakukan searching atau penelusuran terkait Kekayaan Intelektual yang hendak didaftarkan.

*Ketiga, tentukan strategi daftar yang paling menguntungkan pemohon.

*Keempat, manfaatkan teknologi informasi yang tersedia.

*Kelima, konsultasikan dengan ahlinya, misalnya konsultan Kekayaan Intelektual.

Nah, sistem Kekayaan Intelektual ini diharapkan dapat membentuk suatu lingkungan atau suasana di mana kreativitas dan inovasi dapat berkembang dengan baik. Dengan demikian, akan lahir karya-karya yang berkualitas. Bukan hanya di bidang seni atau literatur, tetapi juga para produk-produk UMKM.

#cerdashukum

#forumHKIkominfo_yogya