JURNAL

Selasa, 10 September 2019 — 3yo2mo

Atap Dinding Lantai

Kaget. Pagi-pagi, W nyanyi gini, “Di atas, ada atap. Di samping, ada dinding. Di bawah, ada lantai..” Nyanyinya sambil nunjuk-nunjuk gitu. Padahal, kami lagi di motor tuh, menuju ke sekolahnya. Haha. Yha, itu pengetahuan umum sih, tapi itu juga kemajuan, kan.

Yang bikin kaget adalah sebelumnya tidak lagi cerita apa-apa. Biasanya memang kalau lagi di motor, kami sesekali cerita atau nyanyi-nyanyi. Untuk ngisi waktu aja, sih. Lumayan juga 20 menitan gitu. Cukuplah untuk bonding tambahan sebelum dia harus seharian di daycare.

Dan, mood-nya tuh bisa dilihat dari nyanyiannya. Kadang, ada pula masa saat dia cemberut dan diam, bahkan marah. Tapi sebisa mungkin si ibu coba mencairkan suasana dengan nyanyian (meskipun suasanya nggak enak).

Mudah Menyenangkan Anak

Kalau bisa bikin seneng orang lain, kenapa nggak? Itu prinsip yang selama ini saya pegang. Tapi, ini bukan berarti harus banget menyenangkan orang lain lho. Kadang-kadang, ada situasi ketika kita memiliki pilihan untuk melakukan itu. Atau, tambah sedikiiit usaha ekstra, dan orang lain udah seneng banget. Kenapa tidak?

Begitu juga untuk anak. Tapi jangan anggap ini hal-hal luar biasa. Justru yang sederhana-sederhana aja. Misalnya, sore ini waktu kami pulang, kami berhenti beli jus di tempat langganan. Btw, ini jusnya enak, murah, dan bersih lho. Namanya Bilbil Juice, terletak di Jalan Manisrenggo, Prambanan, Klaten.

Pas mau menuju ke rumah, W yang biasanya duduk di tengah, saya suruh duduk di depan aja. Biasanya, dia memang senang banget karena bisa melihat dengan leluasa. Beda kalau di tengah, cuma bisa menatap punggung ayahnya hahaha.

Eh, anaknya keliatan bahagiaaaa gitu. Astaga. Ya, nggak ada yang rugi dengan pengaturan seperti itu. Tapi, kita bisa menambah kadar kebahagiaan anak. Kalau memang bisa, kenapa nggak?

Pinter Bilang Makasih

Bangga banget, W sekarang udah pinter banget ngucapin makasih secara spontan. Nggak usah disuruh-suruh lagi. Maksudnya, dia udah bisa mengungkapkan perasaannya. Pas lagi senang, dia akan bilang, “Makasih Bu, makasih yah!” dengan nadanya yang bikin meleleh huhuhu. Si ibu langsung pengen kerja 24 jam kalau udah begitu, biar bisa bikin anak seneng terus.

PRnya adalah bagaimana supaya fokus anak tidak hanya soal materi aja, misalnya ketika dibeliin mainan, baru mau bilang makasih. Kalau sekarang sih, ya nggak apa-apa. Karena W memang sedang senang bermain. Dapet mainan, wajar kalau senang, lalu ngucapin terimakasih.

Sehat Demi Anak

Orangtua wajib sehat demi anak. Itu yang selalu saya tekankan ke diri sendiri dan suami. Bukan hanya sehat, tetapi juga aman. Karena, kalau orangtua sakit atau nggak bisa mencari nafkah, anak yang akan terkena dampaknya. Baru aja nonton Gundala, dan scene-scene awalnya menggugah banget. Jadi inget anak, gimana kalau W harus berjuang sendiri seperti itu di masa kecilnya?

(*btw, nanti saya mau review dikit tentang filmnya, tungguin yah!)

Setidaknya, sampai anak bisa mandiri, saya memohon pada Tuhan supaya bisa menemaninya. Itu saja sih. Saya juga berusaha untuk mulai hidup sehat supaya tetap kuat dan bisa memberikan yang terbaik untuk dia. Ya, rencana Tuhan nggak ada yang tahu, tapi kita boleh berusaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *