Uncategorized

BI Netifest: Kesempatan Sekaligus Dilema Bagi Ibu

Memutuskan untuk mengambil sebuah kesempatan memang tidak mudah! Biasanya banyak dilema yang harus dihadapi.

Itulah yang saya rasakan ketika menerima kabar tengah malam itu. Menjadi salah satu finalis blog competition yang diadakan Bank Indonesia. Nggak nyangka! Bahkan, udah lupa aja sama lomba ini. Jadi, ketika pengumuman, rasanya antara takjub, bahagia, sekaligus bingung. Rasanya mustahil bakal bisa memenuhi undangan ke Jakarta, apalagi sampai 3 hari. Selama ini, saya, suami, dan anak ibarat three musketeer yang tak terpisahkan.

Persiapan Sebelum Berangkat

Hal pertama yang saya lakukan setelah mendengar kabar ini adalah: bicara dengan suami. Tentu tanpa ekspektasi. Pokoknya ngabarin aja dulu kalau begini kondisinya. Perlu ikut atau nggak. Sekaligus cari solusi untuk kendalanya. Proses ini panjang dan untungnya saya bisa santai aja. Boleh ikut atau nggak, ikhlas!

Setelah beberapa hari, kami sampai pada kesimpulan: saya berangkat! Yes! Pertimbangannya, suami bisa bantu menghandle anak. Anak bisa belajar pisah denganĀ  ibu. Ibu bisa me time sekaligus menimba ilmu.

Selanjutnya, kami pun memulai persiapan. Jujur aja, agak ribet karena kondisi saat ini. Tapi, coba dijalani dulu. Pantang menyerah.

Pertama, pastikan anak sehat dan senang selama ditinggal ibu. Jadi, kamiĀ sounding berkali-kali supaya dia nggak kaget. Ceritanya harus sama supaya dia ingat dan punya “harapan” kalau ibu pasti bakal pulang.

Kedua, nyari penginapan sebelum hari keberangkatan. Nasib yang punya rumah jauh dari peradaban ya gini. Ojol pun enggan nyamperin. Jadinya, kami harus cari penginapan terdekat bandara supaya saya bisa berangkat sendiri dengan ojol. Suami tetap jaga anak. Untungnya sih kami udah langganan Traveloka. Dan punya penginapan favorit juga selama ini. Tinggal pesan, bayar, beres.

Ketiga, rute yang harus saya jalani. Iya, saya beberapa kali ke Jakarta, tapi dijemput di bandara. Enaklah. Besok saya harus cari cara sendiri supaya sampai ke hotel. Udah tanya-tanya ke teman, belum puas. Beruntungnya lagi, saya akhirnya bareng Mbak Ririe, salah satu finalis juga dari Jogja. Senang pastinya karena punya teman bareng.

Nah, pulangnya saya lewat YIA, bandara baru di Jogja. Hmmm. Sulit lagi nih. Pasalnya transportasi dari dan ke bandara ini masih belum memadai dan familier apalagi yang belum pernah ke sana. Informasi yang dari yang saya himpun dari teman, ada shuttle bus dari Bandara YIA ke Stasiun Wojo. Tarifnya Rp20.000. Dari Stasiun Wojo ke area kota bisa menggunakan kereta api Bandara YIA dengan tarif Rp15.000. Supaya praktis, saya langsung beli tiket dengan jadwal yang kira-kira sesuai dengan waktu tiba di YIA. Pesan di aplikasi KAI dan bayar dengan Link Aja. Mudah banget, guys!

Perjalanan ke Jakarta

Pagi itu, saya berangkat dengan sedikit ragu. Si kecil yang terbangun karena mau pipis merasa heran. “Ibuk kok berangkat kerjanya malem?” Bener juga. Lalu saya disuruh masuk lagi. Untungnya, dia nggak nangis saat saya benar-benar berangkat. Fyuh! Kalau nggak, bisa kepikiran sepanjang perjalanan.

Senang karena perjalanan di pesawar sangat lancar. Baru tahu kalau entertainment berupa layar untuk menonton di Batik Air sekarang udah nggak ada. Dulunya pernah ada, sekitar 5 atau 6 tahun lalu. Sekarang, kita bisa buka langsung dari ponsel dengan menyambungkan pada.WiFi pesawat. Di sini ada film, games, dan hiburan lain.

Tiba di Jakarta, cuaca masih cerah. Saya menunggu Mbak Ririe 1-2 jam sebelum akhirnya kami ketemu. Meskipun pertama kali, rasanya sudah akrab. Kami memutuskan untuk menggunakan layanan jasa Grab dari Bandara. Nggak perlu keluar area bandara untuk naik karena tersedia titik penjemputan.

Saat driver mulai menjalankan kendaraan, kami diberitahu dulu bahwa akan ada biaya tambahan yang harus dibayar, mulai dari parkir hingga tol. Di situ saya sadar, iya, ini Jakarta, bukan Jogja hehehe. Sekitar 20-30 menit, kami tiba di Hotel Aryaduta dan langsung mengikuti acara.

Menambah Wawasan

Ada banyak hal menarik yang bisa saya pelajari setelah mengikuti acara seharian di sini. Awalnya, pengenalan QRIS dan visi pembayaran Bank Indonesia. Selanjutnya, materi jurnalistik dari Metro TV. Terakhir, materi membuat konten dari Mas Nurulloh dari Kompasiana. Bukan hanya mendapatkan ilmu dan wawasan baru, tetapi pembelajaran ini juga memberikan insight dan ide -ide segar yang siap untuk dieksekusi setelah pulang nanti. Semangat pun jadi tambah berkobar

Motivasi lainnya yang tersembunyi adalah mengenal lebih banyak blogger yang selama ini hanya saya kenal di dunia maya. Ada Mbak Dian Nafi dan Mbak Arda Sitepu yang selama ini telah populer namanya di mana-mana. Nggak terlewatkan, saya pun mengajak mereka foto bareng sebagai kenang-kenangan. Kapan lagi ya kan?

Selain itu, tentu saya ingin ambil peran dalam memberikan influence maupun informasi valid dan tepercaya bagi para netizen tentang QRIS dan metode pembayaran QR secara umum. Gimana, cukup mulia bukan? Nah, tunggu cerita saya selanjutnya mengenai hari kedua BI Netifest di sini yak! See you!