Uncategorized

Jalan Panjang Menuju Pasar Global

Sekilas hal itu terlihat  dari antusiasme para peserta pameran produk lokal UKM yang diadakan Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta pada 24-25 Januari 2020 di Alun-Alun Sewandanan Pakualaman. Dari sejumlah peserta, tak kurang dari 5 stand memamerkan produk ecoprint yang terlihat cantik dan unik, baik dalam bentuk kain, maupun pakaian jadi dan barang lain seperti tas dan sepatu.

Memiliki Komunitas

Ceria menunggu kedatangan pengunjung (dokpri)

Salah satu stand yang terlihat paling meriah adalah milik Erna Herawati. Produk yang dipamerkan cukup banyak, sebagian berupa gamis dan pakaian pria. Ada pula tas dari kulit domba, sepatu, dan dompet. Selain Erna, bersama dengannya ada Asih dan Ummi. Ketiga wanita paruh baya ini tampak tetap ceria meskipun suasana siang itu terasa sangat panas. Diajak berbincang sebentar, seulas kisah menyeruak dari bibir mereka.

Menurut Ummi, di antara mereka, Ernalah yang menjadi “guru” alias koordinator. Ia mengumpulkan para ibu dan mengajarkan mereka teknik ecoprint sembari tetap menjalankan tanggung jawab di rumah tangga.

“Saya biasanya mengerjakan pesanan pada malam hari. Kalau siang, saya cukup sibuk ,” kata Erna. Ummi spontan menanggapi kalau pada malam hari ia justru tidak fokus lagi mengerjakan apa-apa. Karena itu, ia lebih suka melakukan tugasnya pada siang hari.

“Tapi kami punya grup WA. Jadi, kami bisa koordinasi di sana saat mengerjakan pesanan kain di rumah masing-masing. Jadwal bertemunya tidak pasti, sebisanya saja,” lanjut Erna.

Ditanya mengenai situasi pada hari pertama pameran, Erna dan Ummi tersenyum lebar. “Tadi ada yang ada yang datang ke sini dan membeli pakaian.”

Tampak bahwa UKM yang dikelola Erna dkk. sudah cukup stabil. Adanya pihak penyangga berupa komunitas yang solid menjadi alasan bagi mereka untuk tetap berkarya. Semangat dan antusiasme yang dirasakan–meskipun di usia menjelang senja–tampak tidak luruh. Bahkan, tiap pencapaian seperti menjadi momen yang menggembirakan.

Seperti yang dilaporkan Erna kepada temannya, Asih, “Bajumu saya jual Rp400.000.” Asih hanya tersipu. “Dia ini serba bisa. Bikin kain ecoprint bisa, menjahit bisa. Paket lengkap.”¬† Ini adalah momen yang luar biasa bagi para wanita yang bukan lagi di usia produktif.

Memproduksi Pewarna Kain

Botol berisi cairan pewarna alami yang diproduksi Musarni (dokpri)

Berada di sebelah stand Erna, ada Musarni. Wanita dengan postur tinggi berkacamata ini menyambut semringah ketika saya berkunjung ke standnya.

“Halo, Mbak. Rumahnya di mana?” sapanya ramah. Saat diminta untuk berbincang sejenak, Musarni dengan penuh semangat menjelaskan panjang lebar usaha yang sedang digelutinya saat ini.

“Saya sebenarnya baru satu bulan membuat kain ecoprint. Sebelumnya, saya bisnis membuat akrilik. Ini tadi malam, saya baru saja membuat ini,” tunjuknya pada selendang yang tersampir di meja. Sejumlah¬† kain lainnya juga terlihat menggantung di kiri kanan stand. Warna-warnanya sungguh memukau.

Selain itu, hal menarik yang terlihat dari stand Musarni adalah sejumlah botol berisi cairan gelap. Di tutup botol, ada tulisan yang menandakan isinya, seperti secang, bunga telang, dan sebagainya.

“Selain membuat kain, saya ingin fokus juga membuat pewarna dari alam. Kadang-kadang, orang merasa repot kalau harus membuat pewarna sendiri. Prosesnya memang tidak mudah. Bahan dasarnya pun ada yang masih jarang. Seperti bunga telang, saya kumpulkan dari mana-mana. Ke depan, saya ingin membuatnya dalam kemasan yang lebih bagus. Jadi, orang-orang bisa pesan ke saya kalau ada yang mau membuat ecoprint.”

Sepaket dengan itu, Musarni mengatakan bahwa ia sangat berharap bisa berbagi ilmu dengan orang lain yang berminat untuk mempelajari ecoprint. Meskipun baru saja terjun ke bidang ini, ia telah mempelajari sejumlah teknik mewarnai.

Sembari bercakap-cakap, dua pengunjung datang ke stand pameran karena tertarik dengan botol-botol yang terpampang di atas meja. Musarni menjelaskan sekali lagi dan tak dinyana si pengunjung sangat antusias. “Wah, saya sangat ingin belajar membuat ecoprint,” cetusnya.

Musarni tak ayal menyemangati, “Ayo, Bu! Seru kok. Saya bisa ngajarin nanti. Tidak perlu bayar. Prinsip saya, berbagi ilmu itu pantang mengambil untung.” Peserta yang ingin belajar hanya perlu membeli kain dan pewarna saja.

Selanjutnya, ia bercerita tentang eksperimen yang sedang dilakukannya. Salah satunya terhadap selendang yang baru saja diproduksinya. “Lihat, ini adalah daun mawar, ini daun jati, ini ada banyak daun-daun lain yang saya pakai. Tidak semua memang bisa digunakan. Namun, kita harus berani coba-coba untuk mengetahui hasilnya. Waktu saya coba kemarin dan saya posting di grup WA, semua orang penasaran dengan hasilnya. Itulah uniknya melakukan teknik ecoprint, kita pasti surprise dengan hasilnya.”

Menurut Musarni, selama ini pembelinya adalah teman-teman dekat. Mereka memesan melalui Facebook atau kalau bertemu langsung. Musarni tampak bersemangat, bahkan ingin menularkan keasyikannya tersebut kepada orang lain.

Memendam Harapan

Wahyu menyimak penjelasan dari Diskop mengenai branding (dokpri)

Di stand yang lain, saya bertemu dengan seorang wanita yang sedang menyantap makan siang. Ia tampak sendiri. Standnya tidak terlalu ramai dengan produk. Hanya ada sejumlah kaos dan kain yang tergeletak dalam bungkusan di meja.

Dengan ramah, ia menyilakan saya untuk duduk. Namanya Wahyu Sriningsih. Usianya 45 tahun. Meskipun begitu, perawakannya mungil. Suaranya pun sangat lembut. Ia bercerita, tadi berangkat sendiri ke pameran ini. Ia hanya membawa sejumlah barang, lainnya ditinggal di rumah. Bukan ecoprint, tetapi kain jumputan yang menjadi usahanya kini.

“Saya belajar membuat kain ini dari LPK Arimbi. Saya belajar 3 tahun yang lalu. Sebenarnya, waktu itu saya belajar menjahit, lalu ada pelajaran tambahan teknik mewarnai kain. Ya, saya ikut saja. Meskipun pengerjaannya kadang sesuai mood saja. Utamanya, saya memang menjahit baju.”

Menurut Wahyu, selama ini ia terkendala modal. Membuat kain tidak mudah karena ia harus membeli kain terlebih dahulu, baru kemudian memasarkannya untuk mengganti modal dan mendapatkan untung. Sementara itu, ia belum lihai mengurus keuangan usaha, yang seharusnya terpisah dengan keuangan rumah tangga, “Selama ini masih tercampur,” ujarnya sambil tertawa.

Selain menjahit, ia dan suaminya yang mengalami kondisi kekurangan penglihatan lebih mengandalkan hasil panen. “Suami saya pekerjaannya mepeh gabah (menjemur padi),” jelasnya. Meskipun terlihat kurang antusias pada pameran kali ini, Wahyu tampak memendam harapan untuk bisa mengembangkan bisnis membuat kain dengan berbagai teknik. Hal ini tampak dari pengetahuan mendalam tentang teknik pewarnaan kain jumputan. Apalagi, keahlian menjahit yang dimilikinya bisa menjadi paket lengkap untuk memproduksi karya yang berdaya saing.

Stand terakhir yang saya kunjungi adalah milik Rosalia Putri. Sebenarnya, stand ini kosong, tetapi saya tertarik dengan tote bag berwarna kombinasi merah muda yang tersampir di rak. Menurut salah seorang peserta, Rosalia sedang pergi sebentar. Rosalia membawa banyak contoh produk dan harganya pun terjangkau. Setelah melihat-lihat, saya putuskan untuk menghubunginya melalui kontak WA. Rupanya, ia sedang menghadiri rapat di Balaikota. Namun, ia memperbolehkan saya untuk membeli produknya dan menitipkan uangnya kepada teman sebelahnya sembari berterima kasih karena dagangannya dilarisi. Karena kadung tertarik, saya pun tak menunggu lama dan membungkus sebuah tote bag cantik yang unik.

Tote bag favorit saya dari bahan kain buatan sendiri (dokpri)

Di pameran ini, tiap stand diisi oleh satu hingga dua peserta. Ada yang membawa banyak properti, tetapi ada pula yang tidak. Sebagian terlihat antusias mengikuti program dari Diskop dengan tujuan memperkenalkan brandnya kepada masyarakat luas. Meskipun demikian, ada pula yang mengeluh karena lokasi tersebut tidak terlalu ramai pengunjung, berbeda ketika dilaksanakan di Malioboro beberapa waktu lalu.

Kesimpulan saya dari pertemuan siang itu adalah bahwa masih ada jalan panjang yang harus ditempuh oleh pelaku UKM untuk menghasilkan produk yang berdaya saing. Adanya komunitas dan sinergi dengan pihak lain terbukti dapat menjaga api semangat mereka sehingga menghasilkan produk yang kompetitif. Pendampingan dalam hal pengelolaan bisnis dan keuangan usaha juga masih sangat dibutuhkan. Selain itu, pengadaan modal tak kalah penting untuk membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis ke tingkat lebih lanjut, bahkan hingga pasar global.

Pameran berlangsung 2 hari dari 24-25 Januari 2020 (dokpri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *