Uncategorized

Waspada Covid-19, Upaya Bersama Perangi Wabah

Dunia sedang mengalami perubahan besar.

Wabah penyakit COVID-19 melanda hampir seluruh negara, termasuk Indonesia. Virus pertama kali menyebar dari Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada akhir 2019 lalu.

Hingga 15 Maret 2020, telah ada 168.866 kasus coronavirus dan jumlah kematian 6.492 orang. Namun, jumlah yang sembuh juga cukup banyak, yaitu 76.598 orang. Data lebih lengkap bisa ditemukan di sini.

Untuk situasi terkini di Indonesia, berdasarkan data resmi dari Kemkes, telah ada 117 orang yang terdeteksi positif COVID-19. Di antaranya, 5 orang dinyatakan meninggal dan 8 orang dinyatakan sembuh.

Sementara itu, wilayah yang dinyatakan terjangkit coronavirus adalah DKI Jakarta, Jawa Barat (Kabupaten Bekasi, Depok, Cirebon, Purwakarta, Bandung), Banten (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan), Jawa Tengah (Solo), Kalimantan Barat (Pontianak), Sulawesi Utara (Manado), Bali, dan DI Yogyakarta. Wilayah terjangkit adalah wilayah yang melaporkan kasus positif COVID-19.

Akibatnya, sebagian kota mulai mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk membatasi penyebaran wabah, di antaranya social distancing. Bentuk kebijakan ini antara lain work from home (WFH) yang dilakukan oleh perusahaan dan belajar di rumah (online) bagi anak sekolah. Dengan upaya mengurangi pergerakan yang tidak perlu, kontak diminimalisir, sehingga wabah COVID-19 dapat ditangani oleh petugas medis dengan lebih mudah.

Apa Itu COVID-19?

Sebelumnya, kita perlu kenal dulu apa itu COVID-19. Dalam acara temu netizen yang bertema, “Cerdas dan Aman Menghadapi COVID-19”, Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama dari One Health Collaborating Center, Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa COVID-19 adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 atau disebut juga 2019-nCOV.

Virus Corona secara ilmiah adalah nama yang diberikan pada sebuah jenis virus yang memiliki bentuk seperti mahkota di permukaannya. Virus Corona juga menjadi penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada 2002 dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada 2012 lalu. Namun, dibandingkan SARS dan MERS, jumlah kasus COVID-19 lebih banyak. Penyebarannya juga jauh lebih cepat.

Pada kesempatan yang sama, dr. Ika Trisnawati, M.Sc., SpPD – KP, Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta turut menjelaskan perihal Virus Corona jenis baru yang sedang mewabah ini. Berdasarkan gejala-gejala yang diperlihatkan oleh penderita, penyakit ini mirip seperti yang disebabkan virus influenza.

Namun, ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya. Angka kematian akibat influenza hanya sekitar 0,1% sedangkan virus Corona sebesar 2%. Belum ada vaksin atau obat yang bisa menyembuhkan penyakit akibat virus Corona, sedangkan vaksin dan obat untuk flu sudah tersedia. Berdasarkan masa inkubasinya, flu butuh waktu 5-7 hari, sedangkan virus Corona sekitar 14 hari. Meskipun demikian, ada persamaan keduanya, yaitu gejala batuk dan demam, dapat menyebar melalui droplets respirasi, dapat dicegah dengan kebersihan dan kontak minimal, dan dapat menular sebelum gejala terlihat.

Jadi, perlu dipahami bahwa transmisi COVID-19 adalah melalui droplet yang keluar dari mulut penderita saat berbicara. Droplet dapat berpindah hingga 1-2 meter. Droplet juga dapat berpindah melalui kontak langsung atau menempel pada benda.

Droplet yang mengandung virus Corona dapat masuk melalui mulut, hidung, atau mata. Apabila orang sehat terkena, gejala umum yang muncul antara lain batuk, pilek, sesak napas, tenggorokan sakit, dan demam.

Faktor risiko dimiliki oleh seseorang yang pernah berkunjung ke China atau negara terjangkit dalam waktu 14 hari sebelum gejala terlihat. Orang yang pernah melakukan kontak erat dengan penderita positif COVID-19 juga memiliki faktor risiko tinggi.

Apabila memiliki faktor risiko atau mengalami gejala-gejala umum penyakit ini, seseorang diharapkan untuk melakukan pemeriksaan demi menghindari penularan selanjutnya.

Survive Dari Wabah

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia berupaya sekeras mungkin untuk menghentikan laju penularan COVID-19. Berdasarkan hitungan eksponensial, jumlah penderita bisa saja melonjak. Masalahnya, semakin banyak penderita, kapasitas rumah sakit dalam menampung pasien tentu akan semakin berkurang, bahkan bisa habis. Padahal, penderita harus berada di ruang isolasi untuk menghindari kontak dengan orang sehat selama masa penyembuhan tersebut.

Karena itu, langkah yang paling efektif untuk survive dari wabah adalah mengurangi kontak sebisa mungkin. Ambil jarak aman dengan orang lain. Terapkan social distancing. Ini tidak mudah karena kebiasaan masyarakat Indonesia yang akrab dan hangat. Bersalaman, mencium pipi, atau mencium tangan, adalah simbol kedekatan atau penghormatan.

Namun, dengan kesadaran masing-masing orang, wabah COVID-19 diharapkan dapat tertangani dengan baik. Para pekerja medis dapat melakukan tugasnya dengan praktis dan optimal.

Hal yang berbeda akan terjadi jika jumlah penularan sudah semakin banyak. Selain tidak seimbangnya jumlah tenaga medis, fasilitas yang tersedia pun bisa jadi tidak cukup. Akibatnya, wabah semakin menyebar, jumlah kematian juga banyak.

Semua orang pasti tidak menginginkan hal itu.

Meskipun demikian, karena perbedaan pandangan, media sosial kini sangat ramai. Ada yang tidak begitu puas dengan pemberitaan dari pihak berwenang sebagai pintu informasi utama. Ada yang menganggapnya ditutup-tutupi dengan tujuan menghindari kepanikan. Padahal, masyarakat membutuhkan data dan informasi yang valid supaya bebas dari rasa khawatir dan dapat berjaga-jaga.

Di sisi lain, ada yang mencari keuntungan sendiri dengan menimbun serta menjual lebih mahal benda-benda yang langka di pasaran. Ada pula yang memposting hoax karena ingin memancing di air keruh. Ada pula yang tidak setuju dengan pembatasan karena merasa tidak bebas dan masih berpikir situasi terkendali. Pada situasi seperti ini, bahu-membahu adalah kunci untuk tetap survivve. Saling menolong dan berjaga serta sadar diri untuk tidak menjadi penyebab penularan bagi orang lain.

Jika ini diterapkan, bukan tidak mungkin virus Corona tersebut berhasil ditaklukkan.

Bukan waktunya untuk egois atau mementingkan keinginan diri sendiri pada situasi seperti ini. Yang jelas, masyarakat harus memberikan kesempatan kepada pihak berwenang untuk melakukan tugasnya dengan baik supaya wabah cepat berlalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *