Uncategorized

Jalan Panjang Menuju Pasar Global

Sekilas hal itu terlihat  dari antusiasme para peserta pameran produk lokal UKM yang diadakan Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta pada 24-25 Januari 2020 di Alun-Alun Sewandanan Pakualaman. Dari sejumlah peserta, tak kurang dari 5 stand memamerkan produk ecoprint yang terlihat cantik dan unik, baik dalam bentuk kain, maupun pakaian jadi dan barang lain seperti tas dan sepatu.

Memiliki Komunitas

Ceria menunggu kedatangan pengunjung (dokpri)

Salah satu stand yang terlihat paling meriah adalah milik Erna Herawati. Produk yang dipamerkan cukup banyak, sebagian berupa gamis dan pakaian pria. Ada pula tas dari kulit domba, sepatu, dan dompet. Selain Erna, bersama dengannya ada Asih dan Ummi. Ketiga wanita paruh baya ini tampak tetap ceria meskipun suasana siang itu terasa sangat panas. Diajak berbincang sebentar, seulas kisah menyeruak dari bibir mereka.

Menurut Ummi, di antara mereka, Ernalah yang menjadi “guru” alias koordinator. Ia mengumpulkan para ibu dan mengajarkan mereka teknik ecoprint sembari tetap menjalankan tanggung jawab di rumah tangga.

“Saya biasanya mengerjakan pesanan pada malam hari. Kalau siang, saya cukup sibuk ,” kata Erna. Ummi spontan menanggapi kalau pada malam hari ia justru tidak fokus lagi mengerjakan apa-apa. Karena itu, ia lebih suka melakukan tugasnya pada siang hari.

“Tapi kami punya grup WA. Jadi, kami bisa koordinasi di sana saat mengerjakan pesanan kain di rumah masing-masing. Jadwal bertemunya tidak pasti, sebisanya saja,” lanjut Erna.

Ditanya mengenai situasi pada hari pertama pameran, Erna dan Ummi tersenyum lebar. “Tadi ada yang ada yang datang ke sini dan membeli pakaian.”

Tampak bahwa UKM yang dikelola Erna dkk. sudah cukup stabil. Adanya pihak penyangga berupa komunitas yang solid menjadi alasan bagi mereka untuk tetap berkarya. Semangat dan antusiasme yang dirasakan–meskipun di usia menjelang senja–tampak tidak luruh. Bahkan, tiap pencapaian seperti menjadi momen yang menggembirakan.

Seperti yang dilaporkan Erna kepada temannya, Asih, “Bajumu saya jual Rp400.000.” Asih hanya tersipu. “Dia ini serba bisa. Bikin kain ecoprint bisa, menjahit bisa. Paket lengkap.”  Ini adalah momen yang luar biasa bagi para wanita yang bukan lagi di usia produktif.

Memproduksi Pewarna Kain

Botol berisi cairan pewarna alami yang diproduksi Musarni (dokpri)

Berada di sebelah stand Erna, ada Musarni. Wanita dengan postur tinggi berkacamata ini menyambut semringah ketika saya berkunjung ke standnya.

“Halo, Mbak. Rumahnya di mana?” sapanya ramah. Saat diminta untuk berbincang sejenak, Musarni dengan penuh semangat menjelaskan panjang lebar usaha yang sedang digelutinya saat ini.

“Saya sebenarnya baru satu bulan membuat kain ecoprint. Sebelumnya, saya bisnis membuat akrilik. Ini tadi malam, saya baru saja membuat ini,” tunjuknya pada selendang yang tersampir di meja. Sejumlah  kain lainnya juga terlihat menggantung di kiri kanan stand. Warna-warnanya sungguh memukau.

Selain itu, hal menarik yang terlihat dari stand Musarni adalah sejumlah botol berisi cairan gelap. Di tutup botol, ada tulisan yang menandakan isinya, seperti secang, bunga telang, dan sebagainya.

“Selain membuat kain, saya ingin fokus juga membuat pewarna dari alam. Kadang-kadang, orang merasa repot kalau harus membuat pewarna sendiri. Prosesnya memang tidak mudah. Bahan dasarnya pun ada yang masih jarang. Seperti bunga telang, saya kumpulkan dari mana-mana. Ke depan, saya ingin membuatnya dalam kemasan yang lebih bagus. Jadi, orang-orang bisa pesan ke saya kalau ada yang mau membuat ecoprint.”

Sepaket dengan itu, Musarni mengatakan bahwa ia sangat berharap bisa berbagi ilmu dengan orang lain yang berminat untuk mempelajari ecoprint. Meskipun baru saja terjun ke bidang ini, ia telah mempelajari sejumlah teknik mewarnai.

Sembari bercakap-cakap, dua pengunjung datang ke stand pameran karena tertarik dengan botol-botol yang terpampang di atas meja. Musarni menjelaskan sekali lagi dan tak dinyana si pengunjung sangat antusias. “Wah, saya sangat ingin belajar membuat ecoprint,” cetusnya.

Musarni tak ayal menyemangati, “Ayo, Bu! Seru kok. Saya bisa ngajarin nanti. Tidak perlu bayar. Prinsip saya, berbagi ilmu itu pantang mengambil untung.” Peserta yang ingin belajar hanya perlu membeli kain dan pewarna saja.

Selanjutnya, ia bercerita tentang eksperimen yang sedang dilakukannya. Salah satunya terhadap selendang yang baru saja diproduksinya. “Lihat, ini adalah daun mawar, ini daun jati, ini ada banyak daun-daun lain yang saya pakai. Tidak semua memang bisa digunakan. Namun, kita harus berani coba-coba untuk mengetahui hasilnya. Waktu saya coba kemarin dan saya posting di grup WA, semua orang penasaran dengan hasilnya. Itulah uniknya melakukan teknik ecoprint, kita pasti surprise dengan hasilnya.”

Menurut Musarni, selama ini pembelinya adalah teman-teman dekat. Mereka memesan melalui Facebook atau kalau bertemu langsung. Musarni tampak bersemangat, bahkan ingin menularkan keasyikannya tersebut kepada orang lain.

Memendam Harapan

Wahyu menyimak penjelasan dari Diskop mengenai branding (dokpri)

Di stand yang lain, saya bertemu dengan seorang wanita yang sedang menyantap makan siang. Ia tampak sendiri. Standnya tidak terlalu ramai dengan produk. Hanya ada sejumlah kaos dan kain yang tergeletak dalam bungkusan di meja.

Dengan ramah, ia menyilakan saya untuk duduk. Namanya Wahyu Sriningsih. Usianya 45 tahun. Meskipun begitu, perawakannya mungil. Suaranya pun sangat lembut. Ia bercerita, tadi berangkat sendiri ke pameran ini. Ia hanya membawa sejumlah barang, lainnya ditinggal di rumah. Bukan ecoprint, tetapi kain jumputan yang menjadi usahanya kini.

“Saya belajar membuat kain ini dari LPK Arimbi. Saya belajar 3 tahun yang lalu. Sebenarnya, waktu itu saya belajar menjahit, lalu ada pelajaran tambahan teknik mewarnai kain. Ya, saya ikut saja. Meskipun pengerjaannya kadang sesuai mood saja. Utamanya, saya memang menjahit baju.”

Menurut Wahyu, selama ini ia terkendala modal. Membuat kain tidak mudah karena ia harus membeli kain terlebih dahulu, baru kemudian memasarkannya untuk mengganti modal dan mendapatkan untung. Sementara itu, ia belum lihai mengurus keuangan usaha, yang seharusnya terpisah dengan keuangan rumah tangga, “Selama ini masih tercampur,” ujarnya sambil tertawa.

Selain menjahit, ia dan suaminya yang mengalami kondisi kekurangan penglihatan lebih mengandalkan hasil panen. “Suami saya pekerjaannya mepeh gabah (menjemur padi),” jelasnya. Meskipun terlihat kurang antusias pada pameran kali ini, Wahyu tampak memendam harapan untuk bisa mengembangkan bisnis membuat kain dengan berbagai teknik. Hal ini tampak dari pengetahuan mendalam tentang teknik pewarnaan kain jumputan. Apalagi, keahlian menjahit yang dimilikinya bisa menjadi paket lengkap untuk memproduksi karya yang berdaya saing.

Stand terakhir yang saya kunjungi adalah milik Rosalia Putri. Sebenarnya, stand ini kosong, tetapi saya tertarik dengan tote bag berwarna kombinasi merah muda yang tersampir di rak. Menurut salah seorang peserta, Rosalia sedang pergi sebentar. Rosalia membawa banyak contoh produk dan harganya pun terjangkau. Setelah melihat-lihat, saya putuskan untuk menghubunginya melalui kontak WA. Rupanya, ia sedang menghadiri rapat di Balaikota. Namun, ia memperbolehkan saya untuk membeli produknya dan menitipkan uangnya kepada teman sebelahnya sembari berterima kasih karena dagangannya dilarisi. Karena kadung tertarik, saya pun tak menunggu lama dan membungkus sebuah tote bag cantik yang unik.

Tote bag favorit saya dari bahan kain buatan sendiri (dokpri)

Di pameran ini, tiap stand diisi oleh satu hingga dua peserta. Ada yang membawa banyak properti, tetapi ada pula yang tidak. Sebagian terlihat antusias mengikuti program dari Diskop dengan tujuan memperkenalkan brandnya kepada masyarakat luas. Meskipun demikian, ada pula yang mengeluh karena lokasi tersebut tidak terlalu ramai pengunjung, berbeda ketika dilaksanakan di Malioboro beberapa waktu lalu.

Kesimpulan saya dari pertemuan siang itu adalah bahwa masih ada jalan panjang yang harus ditempuh oleh pelaku UKM untuk menghasilkan produk yang berdaya saing. Adanya komunitas dan sinergi dengan pihak lain terbukti dapat menjaga api semangat mereka sehingga menghasilkan produk yang kompetitif. Pendampingan dalam hal pengelolaan bisnis dan keuangan usaha juga masih sangat dibutuhkan. Selain itu, pengadaan modal tak kalah penting untuk membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis ke tingkat lebih lanjut, bahkan hingga pasar global.

Pameran berlangsung 2 hari dari 24-25 Januari 2020 (dokpri)
Uncategorized

BI Netifest: Kesempatan Sekaligus Dilema Bagi Ibu

Memutuskan untuk mengambil sebuah kesempatan memang tidak mudah! Biasanya banyak dilema yang harus dihadapi.

Itulah yang saya rasakan ketika menerima kabar tengah malam itu. Menjadi salah satu finalis blog competition yang diadakan Bank Indonesia. Nggak nyangka! Bahkan, udah lupa aja sama lomba ini. Jadi, ketika pengumuman, rasanya antara takjub, bahagia, sekaligus bingung. Rasanya mustahil bakal bisa memenuhi undangan ke Jakarta, apalagi sampai 3 hari. Selama ini, saya, suami, dan anak ibarat three musketeer yang tak terpisahkan.

Persiapan Sebelum Berangkat

Hal pertama yang saya lakukan setelah mendengar kabar ini adalah: bicara dengan suami. Tentu tanpa ekspektasi. Pokoknya ngabarin aja dulu kalau begini kondisinya. Perlu ikut atau nggak. Sekaligus cari solusi untuk kendalanya. Proses ini panjang dan untungnya saya bisa santai aja. Boleh ikut atau nggak, ikhlas!

Setelah beberapa hari, kami sampai pada kesimpulan: saya berangkat! Yes! Pertimbangannya, suami bisa bantu menghandle anak. Anak bisa belajar pisah dengan  ibu. Ibu bisa me time sekaligus menimba ilmu.

Selanjutnya, kami pun memulai persiapan. Jujur aja, agak ribet karena kondisi saat ini. Tapi, coba dijalani dulu. Pantang menyerah.

Pertama, pastikan anak sehat dan senang selama ditinggal ibu. Jadi, kami sounding berkali-kali supaya dia nggak kaget. Ceritanya harus sama supaya dia ingat dan punya “harapan” kalau ibu pasti bakal pulang.

Kedua, nyari penginapan sebelum hari keberangkatan. Nasib yang punya rumah jauh dari peradaban ya gini. Ojol pun enggan nyamperin. Jadinya, kami harus cari penginapan terdekat bandara supaya saya bisa berangkat sendiri dengan ojol. Suami tetap jaga anak. Untungnya sih kami udah langganan Traveloka. Dan punya penginapan favorit juga selama ini. Tinggal pesan, bayar, beres.

Ketiga, rute yang harus saya jalani. Iya, saya beberapa kali ke Jakarta, tapi dijemput di bandara. Enaklah. Besok saya harus cari cara sendiri supaya sampai ke hotel. Udah tanya-tanya ke teman, belum puas. Beruntungnya lagi, saya akhirnya bareng Mbak Ririe, salah satu finalis juga dari Jogja. Senang pastinya karena punya teman bareng.

Nah, pulangnya saya lewat YIA, bandara baru di Jogja. Hmmm. Sulit lagi nih. Pasalnya transportasi dari dan ke bandara ini masih belum memadai dan familier apalagi yang belum pernah ke sana. Informasi yang dari yang saya himpun dari teman, ada shuttle bus dari Bandara YIA ke Stasiun Wojo. Tarifnya Rp20.000. Dari Stasiun Wojo ke area kota bisa menggunakan kereta api Bandara YIA dengan tarif Rp15.000. Supaya praktis, saya langsung beli tiket dengan jadwal yang kira-kira sesuai dengan waktu tiba di YIA. Pesan di aplikasi KAI dan bayar dengan Link Aja. Mudah banget, guys!

Perjalanan ke Jakarta

Pagi itu, saya berangkat dengan sedikit ragu. Si kecil yang terbangun karena mau pipis merasa heran. “Ibuk kok berangkat kerjanya malem?” Bener juga. Lalu saya disuruh masuk lagi. Untungnya, dia nggak nangis saat saya benar-benar berangkat. Fyuh! Kalau nggak, bisa kepikiran sepanjang perjalanan.

Senang karena perjalanan di pesawar sangat lancar. Baru tahu kalau entertainment berupa layar untuk menonton di Batik Air sekarang udah nggak ada. Dulunya pernah ada, sekitar 5 atau 6 tahun lalu. Sekarang, kita bisa buka langsung dari ponsel dengan menyambungkan pada.WiFi pesawat. Di sini ada film, games, dan hiburan lain.

Tiba di Jakarta, cuaca masih cerah. Saya menunggu Mbak Ririe 1-2 jam sebelum akhirnya kami ketemu. Meskipun pertama kali, rasanya sudah akrab. Kami memutuskan untuk menggunakan layanan jasa Grab dari Bandara. Nggak perlu keluar area bandara untuk naik karena tersedia titik penjemputan.

Saat driver mulai menjalankan kendaraan, kami diberitahu dulu bahwa akan ada biaya tambahan yang harus dibayar, mulai dari parkir hingga tol. Di situ saya sadar, iya, ini Jakarta, bukan Jogja hehehe. Sekitar 20-30 menit, kami tiba di Hotel Aryaduta dan langsung mengikuti acara.

Menambah Wawasan

Ada banyak hal menarik yang bisa saya pelajari setelah mengikuti acara seharian di sini. Awalnya, pengenalan QRIS dan visi pembayaran Bank Indonesia. Selanjutnya, materi jurnalistik dari Metro TV. Terakhir, materi membuat konten dari Mas Nurulloh dari Kompasiana. Bukan hanya mendapatkan ilmu dan wawasan baru, tetapi pembelajaran ini juga memberikan insight dan ide -ide segar yang siap untuk dieksekusi setelah pulang nanti. Semangat pun jadi tambah berkobar

Motivasi lainnya yang tersembunyi adalah mengenal lebih banyak blogger yang selama ini hanya saya kenal di dunia maya. Ada Mbak Dian Nafi dan Mbak Arda Sitepu yang selama ini telah populer namanya di mana-mana. Nggak terlewatkan, saya pun mengajak mereka foto bareng sebagai kenang-kenangan. Kapan lagi ya kan?

Selain itu, tentu saya ingin ambil peran dalam memberikan influence maupun informasi valid dan tepercaya bagi para netizen tentang QRIS dan metode pembayaran QR secara umum. Gimana, cukup mulia bukan? Nah, tunggu cerita saya selanjutnya mengenai hari kedua BI Netifest di sini yak! See you!

Uncategorized

Siap Beraktivitas Lebih Cepat Pasca Operasi dengan Melakukan Proses Pemulihan yang Tepat

Pengalaman operasi yang mendebarkan– Photo by Piron Guillaume on Unsplash

Sebelum siap beraktivitas kembali secara normal, Anda yang baru saja melahirkan melalui operasi caesar perlu melakukan proses pemulihan terlebih dahulu. Ya, pasca operasi Anda akan merasakan kondisi yang tidak nyaman mulai dari luka operasi yang belum sepenuhnya kering sampai rasa mual setelah menjalani operasi.

Mengatasi rasa mual pasca operasi perlu dilakukan secara khusus agar Anda tetap bisa mengonsumsi makanan dengan normal. Ada beberapa tips yang bisa Anda jalani agar dapat meredakan rasa mual tersebut. Penasaran dengan tips-tips tersebut? Klik link berikut www.goapotik.com/promo/obat-muntah-setelah-operasi lebih dulu ya untuk mendapatkan penawaran menarik dari goapotik.

Konsumsi obat pereda mual

Pasca operasi caesar, seorang ibu akan merasakan beragam rasa sakit. Mulai dari luka bekas operasi yang belum sepenuhnya sembuh sampai rasa mual yang luar biasa dahsyat. Saat rasa mual tersebut tiba, maka konsumsi obat pereda mual bisa menjadi cara yang tepat.

Obat pereda mual dapat membuat sistem pencernaan dalam tubuh Anda akan terasa lebih nyaman dibanding sebelumnya. Obat ini bekerja dengan cara mengurangi sensasi mual dan meminimalisir risiko dehidrasi karena kekurangan cairan. Sebelum menggunakan obat pereda mual, sebaiknya Anda menayakan ke dokter dulu mengenai dosis yang diperbolehkan. Obat pereda mual bisa Anda dapatkan dengan mudah melalui Go Apotik.

Oksigen

Rasa tidak nyaman
Photo by Kat Jayne from Pexels

Mual dan muntah yang dialami setelah operasi akan membuat Anda merasa tidak nyaman. Seperti halnya saat mabun darat, Anda perlu membuat sistem pencernaan terasa lebih nyaman agar mual dan muntah tidak terulangi kembali. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni dengan menambah pasokan oksigen untuk tubuh.

Pasokan oksigen bisa membuat pernapasan Anda lebih lega dan akan membuat sistem pencernaan jadi lebih nyaman. Apabila saat mual dan muntah Anda membutuhkan tambahan oksigen, jangan ragu untuk meminta kepada perawat oksigen tambahan. Oksigen tersebut nantinya akan membantu mengurangi rasa mual sekaligus memperlancar sistem kerja organ dalam tubuh Anda.

Itulah dua tips yang bisa Anda lakukan agar mual pasca operasi bisa mereda dengan cepat. Selalu terapkan pola hidup sehat agar tubuh terhindar dari penyakit dengan membaca info kesehatan dari sumber gue sehat secara rutin serta mempersiapkan obat pilek rhinos dari goapotik di rumah Anda. Semoga bermanfaat.

Uncategorized

Review GoMassage: Nikmatnya Pijat di Kantor Saat Istirahat

Dengan Mbak Sitha, sebelum mulai terapi

Beberapa hari terakhir, badan rasanya remuk banget. Bahu sebelah kiri terasa berat. Bagian punggung juga pegel kayak baru ngangkat beban ratusan kilo. Biasanya sih saya biarin aja. Mau pijet, takut. Masalahnya, nggak kebiasaan. Bahkan, kerokan aja bisa dihitung dengan jari. Dulu–waktu masih single–saya bela-belain body spa ke salon. Ini nggak sombong, lo. Dulu kita juga laskar pencari diskon. Ada tuh salon yang kasih paket-paket khusus untuk berempat atau berdua. Harganya tentu lebih miring. Kualitasnya lumayan juga.

Nah, sekarang berbeda. Masalahnya, saya nggak punya waktu sebanyak dulu untuk mampir ke salon. Dulu, paket body spa gitu minimal 4 jam. Sebagai pekerja yang terikat mulai pukul 8-16 dan jemput anak setelahnya, nggak memungkinkan di weekday untuk melakukan hal beginian. Mau ambil waktu pada akhir pekan pun rada males karena you knowlah mending kumpul bareng keluarga. Apalagi rumah saya jauh dari peradaban. Lengkap sudah rasa malesnya membuncah-buncah.

Jadi, kalau dalam kondisi nggak enak badan kayak gini, solusinya hanya: biarin aja! Ntar juga sembuh sendiri. Maksimal dua sampe tiga harilah. Tapi, selama ituuu.. rasa pegel jelas bikin nggak mood. Efeknya bisa ke mana-mana, mulai dari marah-marah sampe nggak semangat kerja.

Nyobain GoMassage

Mulai menikmati pijetan Mbak Sitha

Bukan kebetulan nih, saya lihat iklannya GoMassage di media sosial. Salah seorang teman baru saja pake layanan pijat profesional dari Golife ini. Pengalamannya cukup menyenangkan sehingga saya jadi pengen ikutan nyoba. Saya pun langsung cuss install aplikasinya. Pembayarannya pakai Gopay, sama seperti layanan transportasi Gojek dan Gocar.

Okelah, sepertinya menarik nih.. Review GoMassage yang saya nikmati itu saya rangkum dalam ulasan singkat berikut.

Hal pertama yang saya lakukan tentu ngisi saldo Gopay dulu. Biar praktis ya, gaes. Hehe.

Selanjutnya, saya coba order. Ada berbagai kategori layanan yang tersedia, manteman. Mulai dari Body Rejuvenation, Reflexology, dan Beauty Massage. Tiap kategori ada pembagiannya lagi. Untuk Body Rejuvenation misalnya, ada Body Massage, Express Massage, dan sebagainya. Bahkan, ada layanan kerokan jugaaa. Waaw.

Rencananya, saya pesan layanan ini saat di kantor aja. Kenapa? Alasan utamanya sih karena saya tinggalnya di daerah perbatasan Jogja dan Jawa Tengah, agak pelosok gitu deh. Ceritanya, saya pernah nyobain order dari rumah, eh susah dapat terapisnya. Mungkin juga karena bukan wilayah layanannya ya.

Alasan lainnya, saya bisa nyobain ini di kantor pas jam istirahat. Jadi, lumayan lebih hemat waktu. Kalau di rumah, belum tentu emak ini bisa tenang karena ada si kecil yang pasti bakal kepo ini itu. Lagipula, saya mau nyobain dulu karena memang nggak terbiasa dipijet. Apakah bisa nyaman atau nggak? Apakah ngefek atau nggak? Dan sebagainya.

Saat order pertama, terapis langsung ngechat. Minta dicancel aja. Wah, saya agak kecewa. Dia langsung menjelaskan alasannya. Ternyata karena jaraknya cukup jauh dari tempat kerja saya. Iya juga sih. Kasihan. Akhirnya, dengan berat hati, saya batalkan dan cari terapis lain.

Selanjutnya, terapis yang kedua adalah Mbak Sitha. Saat itu juga, Mbak Sitha langsung WA. Saya udah sempat deg-degan tuh. Takut dibatalin lagi. Eh ternyata Mbak Sitha hanya ingin memastikan waktu dan tempatnya. Okelah, karena saya pesan malam sebelumnya, saya maklum aja. Biar pasti juga. Untungnya, komunikasi lancar sesuai yang saya harapkan.

Sebelum pukul 12 siang, Mbak Sitha sudah kontak lagi. Katanya, ia otw dari rumah yang cukup jauh dari lokasi kantor saya. Pas jam 12, waktu janjian kami, Mbak Sitha datang. Saya ajak dia ke suatu ruangan kosong yang cukup nyaman. Di sini, Mbak Sitha mulai beraksi.

Pertama-tama, Mbak Sitha mulai pijet di bagian bahu. Rasanya.. langsung gimana ya.. hahahaha. Tekanannya penuh tenaga. Karena saya nggak terbiasa, jadinya cukup bikin meringis hihi. Saya minta untuk dikurangi dikit aja hahaha. Mbak Sitha fleksibel sih, dia pun menyesuaikan sambil bilang, “Ini masih standar lo, Mbak… ” Hehehe, maap Mbak, memang saya yang nggak tahan dipijet kayak gini.

Selanjutnya, Mbak Sitha pijet di bagian leher, kepala, punggung, dan tangan. Semua dilakukan dalam waktu 30 menit. Nggak terasa lo, yakin deh. Soalnya, kami juga sambil ngobrol. Ya ampunn seru banget obrolannya. Saya aja yang orangnya introver gitu langsung bisa cair. Kami ngobrol kayak teman yang udah lama nggak ketemu. Sekali-kali sih sambil meringis hehehe.

Pengalaman Menyenangkan

Wajah lega dan senang setelah sesi terapi selesai

Ada banyakc yang saya dapatkan dari Mbak Sitha. Termasuk di antaranya pengalaman kurang menyenangkan yang dialaminya. Duh, suka nggak ngerti deh sama orang-orang yang SELALU mengasosiasikan keberadaan terapis dengan hal-hal yang berbau nggak bener. Mbak Sitha bilang gini, “Sedih Mbak. Padahal kita kan juga cuma kerja cari uang untuk keluarga.” Ia bilang gini pas cerita soal pengalaman nggak enaknya itu.

Saya tertegun aja sih. Iya, profesi ini rentan. Apalagi karena sistemnya dipanggil ke rumah atau lokasi pemesan. Namun, Mbak Sitha mengaku terus belajar, juga dari para seniornya. Bagaimana cara menangani situasi seperti ini dengan hati dan kepala yang dingin. Dari aplikasi  juga cukup mendukung. Salah satunya dengan adanya fitur penilaian dari terapis kepada customer. Setidaknya, terapis memiliki ruang untuk menyampaikan ketidakpuasannya terhadap perilaku customer.

Bukan hal-hal yang berbau nggak enak, Mbak Sitha juga bercerita tentang para customernya yang baik hati. Ada langganan yang sudah akrab banget. Saat menceritakan itu, mata Mbak Sitha berseri-seri. Sentuhan kebaikan seperti ini memang sanggup menciptakan kebahagiaan.

Nah, bagi saya sendiri, merasa beruntung karena bisa mendapatkan kesempatan untuk refreshing sejenak. Ketika waktu terbatas dan situasinya tidak memungkinkan, ternyata masih ada jalan untuk pijet. Tinggal instal aplikasinya, order via golife sesuai waktu dan tempat yang diinginkan, lalu nikmati enaknya dipijet oleh terapis berpengalaman dan ahli.

Ah, rasanya setelah ini saya jadi pengen tidur nyenyak nih. Terima kasih Mbak Sitha. Terima kasih GoLife.

JURNAL

Jumat, 13 September 2019 — 3yo2mo

Suka Berpura-pura

Ini tuh sebenarnya kebiasaan lama. Tapi, akhir-akhir ini pun semakin sering terjadi. Banyak macamnya deh. Mulai dari pura-pura lapar (karena ingin mampir di tempat makan yang ia sukai), pura-pura ngantuk (supaya nggak disuruh mandi), pura-pura sakit (biar ibunya kasihan).

Awalnya sih percaya aja. Lama-kelamaan kok jadi hafal polanya haha. Pas ada yang bikin dia nggak sreg, langsung deh berpura-pura. Wkwk. Lucu juga. Kadang suka ngempet ketawa karena dia aktingnya totalitas gitu . Meskipun kadang-kadang jadi bikin nggak yakin. Saking seriusnya dia.

Intinya di sini adalah pengenalan. Dan nggak dikit-dikit kasian. Nggak kasian bukan berarti nggak sayang lho ya… Bagaimanapun, kasih orangtua tidak ada batasnya. Kalau terus kasian, lalu nggak tega untuk menegur, dan anak pun akhirnya semau-maunya aja. Nggak mau lagi denger kata orangtua. Pokoknya tegas pada waktu yang tepat.

Sayang Banget

Pengennya bareng-bareng terus sama anak. Sekeluarga bisa sehat-sehat terus. Kami bisa merasakan kebahagiaan bersama-sama sampai akhirnya nanti dia udah bisa mandiri. Tapi, semua kan ada di tangan Tuhan. Manusia sebatas berikhtiar. Dan berusaha.

Apa yang bisa saya lakukan? Ya, harus jaga diri dan jaga kesehatan. Supaya bisa menemani anak selama mungkin. Jadi, kehidupan orangtua sejatinya adalah untuk menyiapkan kehidupan anak dengan baik.

Dalam momen-momen ini, penyesalan kembali datang. Kenapa dulu nggak begini, kenapa dulu nggak begitu? Dan sebagainya. Semua kesalahan yang pernah diperbuat saat merawat W, jadinya muncul ke permukaan. Ingin ku memutar waktu huhu. Tapi, nggak bisa. Kita harus terus maju kan. Setidaknya, saya bisa tetap memanfaatkan “penyesalan” ini untuk sadar. Jangan lagi buat kesalahan lebih banyak. Ya, kan?

 

JURNAL

Kamis, 12 September 2019 — 3yo2mo

Jangan Marah, Bu!

Pertama, si ibu harus ngaku nih karena suka marah-marah. Huhuhu. Ya gimana, saat dibilangin, si anak nggak mau nurut sama sekali. Udah coba berbagai cara, ehh nggak mempan. Mulai dari baik-baik sampai kesabaran habis. Biasanya, akan mulai marah kalau waktu mepet harus berangkat kerja. Atau, udah kehabisan akal. Tapi, habis itu langsung nyesel.

Apalagi kalau W kemudian memotong tanpa merasa nyesel, “Jangan marah, Bu….” lalu dia mengelus-elus pipi ibunya dengan sayang. Hahaha. Separuh kesel, separuh geli. Iyaaaa, nggak marah kalau kamu nurut, Naak! Huhu.

Agak lupa sih darimana ya dia dapat kalimat itu. Kalau nggak salah, ketika salah satu dari ayah atau ibunya yang saling mengingatkan. Jadi, dia denger dan kemudian menirunya. Tapiii, mungkin dia nggak tahu, marah itu kenapa, harusnya gimana, dan sebagainya. Kan jadinya bingung harus gimana kalau dia sedang nggak nurut.

Suka Baca Buku

Sebenarnya, bukan baca sih. Tepatnya adalah lihat gambar di buku-buku. Seperti yang sudah pernah saya ceritain di sini, dia jadi banyak tahu. Misalnya, seluk-beluk profesi. Dia juga jadi punya kegiatan.

Tapi, kok ibu dan ayah seringnya agak malas karena buku-bukunya itu-itu aja. Apalagi kalau seharian udah capek dan ngantuk, lalu W datang membawa segepok buku, “Yuk, baca yuk!” Haha, maapkan ibu, Naak. Jadinya, ibu suka membatasi, “Bacanya satu aja ya… Udah malem, besok lagi”.

Emang bener sih, dia kalau baca buku bisa nggak tahu waktu. Diulang-ulang terus dan dia seneng banget kayaknya. Semoga saya bisa lebih bisa bagi waktu sehingga memaksimalkan momen ini untuk bikin W semakin suka buku.

Susah Dibilangin

Kebiasaan ini mulai terasa menjengkelkan. W bener-bener susah dibilangin akhir-akhir ini. Kadang-kadang, dia nurut banget, bahkan tanpa diperintah. Tapi, kalau udah nggak mau, ya ampun, bikin pening. Apalagi sama ayahnya, seringnya mengelak dan si ayah diam aja. Akhirnya, saya harus turun tangan untuk membujuk. Kalau udah nggak sanggup, akhirnya taringnya keluar.

Ini PR ibu dan ayah sih sebenarnya, menemukan cara yang paling tempat untuk memberitahukan sesuatu sehingga diterima dengan baik oleh anak. Perasaan, cara yang dilakukan sudah paling bener, eh nggak berhasil juga.

JURNAL

Rabu, 11 September 2019 — 3yo2mo

Mainan Ketinggalan

Jadi, salah satu kebiasaan W adalah suka banget bawa mainan ke sekolah. Sejak dulu tuh. Ada aja yang diajak ikut. Kadang cuma 1 biji, kadang sampe 1 kantong plastik *tepok jidat* Itu tuh udah semacam ritual sebelum berangkat. Nyariin dulu siapa yang berhak ikut. Kalo mainannya bisa ngomong, mungkin mereka bakal teriak-teriak gitu minta diajak.

Nah, hari ini W bawa mainan ABC. Itu lho, huruf-huruf mainan warna-warni. Belum kenal huruf, cuma mungkin suka aja sama warna-warnanya. Beberapa dia udah hafal sih kayak S dan A karena sering lihat di jaket ayahnya.

Sesampainya di sekolah, mainan biasanya langsung masuk kantong. Harusnya sih nggak boleh dibawa. Karena bakal bisa memancing keributan. You know. Anak-anak kalau tau mainan baru langsung excited. Jadinya rebutan. Akhirnya ya diimbau untuk menyimpan mainan di tas kalau udah sampe di area sekolah.

Nah, sorenya ternyata mainan W nggak ketemu. Mungkin ketlingsut. Saya nggak apa-apa, tapi W jadi sedih gitu. Bahkan minta dibelikan yang baru karena mainannya hilang. Astaga Nak. Nggak semua bakal semudah itu menyelesaikan masalah. Meskipun murah dan ibu punya uang, bukan gitu caranya menyikapi kehilangan..

Ngucapin Makasih Lagi..

Uhhh, ternyata yang aku ceritain kemarin nggak begitu tepat. W bukan hanya ngucapin makasih untuk hal-hal yang material aja. Ketika saya bantu dia untuk pake baju, ayahnya bawakan buku-buku, dan masih banyak lagi, dia dengan senangnya bilang makasih. Bukan cuma sekali, tetapi berkali-kali. Dan nadanya itu lho huwaaaa.. makasih juga ya Nak, sudah mau jadi anak Ibu dan Ayah.

Ngobrol dan Dongeng Sebelum Tidur

Saya dan W punya ritual baru: ngobrol sebelum tidur. Awalnya, saya dan ayahnya sibuk ngobrol lalu dia merasa diabaikan. Akhirnya, dia juga mau ngobrol-ngobrol sama ibunya. Nggak mau kalah banget.

Akhirnya, saya pun selalu ngajak dia ngobrol tiap mau tidur. Dia senang banget. Isi ngobrolnya ya gituah. Seputar aktivitasnya hari itu, misalnya tadi makan apa? Tadi main sama siapa? Tadi temennya yang ini ada ga? Dan semacamnya. Kadang, jawabannya kurang masuk akal haha tapi nggak apa-apa. Bukan jawabannya yang penting. Tapi, saya ingin W menyadari bahwa ibunya selalu bisa diajak ngobrol. Dia selalu bisa curhat. Ibu tidak akan menghakimi atau menuduhnya macem-macem. Ibu bisa dipercaya.

Selain ngobrol, saya juga belajar mendongeng. Iyess. Saya mempersiapkan diri dengan membaca buku dongeng dari Gramedia Digital. Saya baca, hafalkan, dan coba menceritakan kembali, tentu saja dengan ekspresi yang total haha. Eh, dia senang banget.

Cerita dongeng pertama saya adalah tentang Sapi dan Kerbau yang tidak bersyukur. Saya usahakan cerita saya bisa ia bayangkan. Saya pake tokoh-tokoh yang ia kenal. Saya contohkan dengan hal yang ia lakukan. Yaa, mendongeng untuk anak usia 3 tahun memang butuh latihan guys. Tapi kalau udah bisa, akhirnya malah menikmati. Dan bisa improvisasi. Yes!

Susah BAB

Dua tiga hari ini W susah BAB. Dia memang nggak begitu suka makan sayur. PR nih. Buah juga kadang-kadang. Dan kebetulan stok buah lagi nggak ada.

Nah, kalau dia susah BAB, kasian banget. Dia masih belum bisa BAB di WC. Jadi, cuma duduk gitu sambil ngangkat dua kakinya. Susah banget kan. Makanya nggak bisa keluar. Keluar pun cuma dikiiit. Dan itu berulang berapa kali. Capeknya bolak balik ke kamar mandi.

JURNAL

Selasa, 10 September 2019 — 3yo2mo

Atap Dinding Lantai

Kaget. Pagi-pagi, W nyanyi gini, “Di atas, ada atap. Di samping, ada dinding. Di bawah, ada lantai..” Nyanyinya sambil nunjuk-nunjuk gitu. Padahal, kami lagi di motor tuh, menuju ke sekolahnya. Haha. Yha, itu pengetahuan umum sih, tapi itu juga kemajuan, kan.

Yang bikin kaget adalah sebelumnya tidak lagi cerita apa-apa. Biasanya memang kalau lagi di motor, kami sesekali cerita atau nyanyi-nyanyi. Untuk ngisi waktu aja, sih. Lumayan juga 20 menitan gitu. Cukuplah untuk bonding tambahan sebelum dia harus seharian di daycare.

Dan, mood-nya tuh bisa dilihat dari nyanyiannya. Kadang, ada pula masa saat dia cemberut dan diam, bahkan marah. Tapi sebisa mungkin si ibu coba mencairkan suasana dengan nyanyian (meskipun suasanya nggak enak).

Mudah Menyenangkan Anak

Kalau bisa bikin seneng orang lain, kenapa nggak? Itu prinsip yang selama ini saya pegang. Tapi, ini bukan berarti harus banget menyenangkan orang lain lho. Kadang-kadang, ada situasi ketika kita memiliki pilihan untuk melakukan itu. Atau, tambah sedikiiit usaha ekstra, dan orang lain udah seneng banget. Kenapa tidak?

Begitu juga untuk anak. Tapi jangan anggap ini hal-hal luar biasa. Justru yang sederhana-sederhana aja. Misalnya, sore ini waktu kami pulang, kami berhenti beli jus di tempat langganan. Btw, ini jusnya enak, murah, dan bersih lho. Namanya Bilbil Juice, terletak di Jalan Manisrenggo, Prambanan, Klaten.

Pas mau menuju ke rumah, W yang biasanya duduk di tengah, saya suruh duduk di depan aja. Biasanya, dia memang senang banget karena bisa melihat dengan leluasa. Beda kalau di tengah, cuma bisa menatap punggung ayahnya hahaha.

Eh, anaknya keliatan bahagiaaaa gitu. Astaga. Ya, nggak ada yang rugi dengan pengaturan seperti itu. Tapi, kita bisa menambah kadar kebahagiaan anak. Kalau memang bisa, kenapa nggak?

Pinter Bilang Makasih

Bangga banget, W sekarang udah pinter banget ngucapin makasih secara spontan. Nggak usah disuruh-suruh lagi. Maksudnya, dia udah bisa mengungkapkan perasaannya. Pas lagi senang, dia akan bilang, “Makasih Bu, makasih yah!” dengan nadanya yang bikin meleleh huhuhu. Si ibu langsung pengen kerja 24 jam kalau udah begitu, biar bisa bikin anak seneng terus.

PRnya adalah bagaimana supaya fokus anak tidak hanya soal materi aja, misalnya ketika dibeliin mainan, baru mau bilang makasih. Kalau sekarang sih, ya nggak apa-apa. Karena W memang sedang senang bermain. Dapet mainan, wajar kalau senang, lalu ngucapin terimakasih.

Sehat Demi Anak

Orangtua wajib sehat demi anak. Itu yang selalu saya tekankan ke diri sendiri dan suami. Bukan hanya sehat, tetapi juga aman. Karena, kalau orangtua sakit atau nggak bisa mencari nafkah, anak yang akan terkena dampaknya. Baru aja nonton Gundala, dan scene-scene awalnya menggugah banget. Jadi inget anak, gimana kalau W harus berjuang sendiri seperti itu di masa kecilnya?

(*btw, nanti saya mau review dikit tentang filmnya, tungguin yah!)

Setidaknya, sampai anak bisa mandiri, saya memohon pada Tuhan supaya bisa menemaninya. Itu saja sih. Saya juga berusaha untuk mulai hidup sehat supaya tetap kuat dan bisa memberikan yang terbaik untuk dia. Ya, rencana Tuhan nggak ada yang tahu, tapi kita boleh berusaha.

JURNAL

Senin, 09 September 2019 — 3yo2mo

Itu Arsitek, Bu!

Pas jemput W hari ini di daycare, kami lihat beberapa orang yang lagi membongkar muatan pick up yang isinya material bangunan. Spontan W ngomong, “Itu arsitek, Bu!”

Awalnya si ibu nggak sadar dong. Kurang jelas juga sih dengernya. Sampai 3 kali ngomong, barulah paham. Oh, iyaaa, ARSITEK. Haha.

Terpana, lho! Soalnya nggak nyangka dari mulut anak 3 tahunan bisa muncul kata arsitek. Emang sih, beberapa waktu belakangan, kami baca (tepatnya: lihat) buku bergambar yang isinya macam-macam profesi.

W seneng banget tuh ngulang-ulang bukunya sampe ibunya bosen wakaka. Dan ternyata, dia memang merekam dengan baik isi buku itu, termasuk apa tugas arsitek.

Masih Males Mandi

Yhaa. Beberapa hari ini W lagi males mandi banget. Sampe nangis-nangis, digeret, buka bajunya paksa huhu, bahkan pernah juga sampe disuruh berdiri karena bener-bener nggak nurut. Astaga.

Pagi ini masih gitu. Tapi, saya coba pake strategi lain-setelah kemarin marah-marah. Coba dengan dibujuk, diomongin baik-baik, pelaaann banget, sambil dituntun. Eh, berhasil! Meskipun konsekuensinya ya jadi terlambat kerja.

Semoga cara ini besok masih berhasil.

Malemnya Anteng Banget

Malemnya, W anteng banget. Ya, itu sih awalnya karena baru dibeliin ABC-mainan huruf-huruf. Jadi hatinya senang. Sorenya makan dengan lancar-itu juga karena lauknya ayam kremes Karen Chicken, kesukaannya.

Sampe malem, tetep anteng. Bahkan mau maen sendiri. Diminta untuk bersihin telinga dan hidung, mau-mau aja. Yes! Biasanya susah banget ya ampun.

Kuncinya: bilang baik-baik. Bikin moodnya senang. Memang butuh waktu, tapi sepadan kok! Kayaknya bakal sering telat nih kalau gini haha.

Informasi

Rayakan Ultah ke-30, ASUS Hadir Dengan Inovasi Baru

Apa gadget milikmu yang berusia paling lama?

Hayo, coba diingat-ingat, deh! Ada nggak gadget yang hanya bertahan setahun? Ini bisa terjadi karena kualitas gadget kurang oke atau cara perawatannya (penggunaannya) yang sembarangan.

Sudah Waktunya Ganti

Satu-satunya laptop yang pernah (dan masih) saya miliki hingga sekarang telah berusia hampir 8 tahun. Laptop kecil ini beberapa kali pernah diinstall ulang dan diganti komponen. Hingga sekarang, ia masih setia menemani dan mendukung saya menyelesaikan setiap deadline yang datang silih berganti.

Saya sadar bahwa sudah waktunya untuk mulai bersiap-siap jika terjadi “sesuatu” pada si gadget. Mengingat usianya yang tidak muda lagi. Mengingat juga bahwa perannya sangat penting bagi kelangsungan hidup kami.

Pertama, saya harus mulai mencari gadget pengganti yang kira-kira cocok dengan kondisi saya saat ini. Kedua, tentunya menabung; karena biaya ganti gadget itu mahal. Bagi kalangan rakyat jelata seperti saya, tidak bisa sesukanya main tunjuk lalu dapat.

Ketemu Lagi Sama ASUS

ASUS itu bagi saya adalah cinta pertama. Laptop berlayar kecil yang saya taksir pertama-tama adalah ASUS. Karena satu dan lain hal, saya nggak jadi beli.

Beberapa hari yang lalu, saya diajak untuk mengikuti acara Anniversary ASUS 30th. Di situ, saya kembali ketemu dengan laptop impian ini. Setelah hampir 10 tahun, ASUS kian bikin jatuh hati. Terutama pada komitmennya untuk membuat hidup para pengguna lebih praktis.

Bagaimana nggak, sejumlah laptop andalan dengan inovasi teknologi terbaru kembali dihadirkan. Salah satunya, seri VivoBook Ultra K403 yang unggul pada ketahanan baterainya. Bayangin ya gengs, K403 ini bisa tahan hingga 24 jam. Bepergian sambil tetap produktif nggak pernah semudah ini.

Selain kapasitas baterai yang besar, ultrabook ini memiliki tampilan bodi yang ringkas dan ringan. Bahkan, K403 juga telah mengantongi sertifikasi ketahanan berstandar militer. Whats?! Baru kali ini loh denger laptop dengan spesifikasi sengeri ini.

*Jadi pengen buru-buru meminang..

Selain K403, ada pula seri lainnya yaitu VivoBook Ultra A412. Ini adalah ultrabook yang berukuran 14 inci yang paling colourful yaitu dengan 4 warna menarik. Selain itu, bodi laptop juga ringkas. Nggak ada alasan untuk males bawa ke mana-mana. Cukup masukin ke dalam tas dan cus berangkat!

Selain seri Ultra, ASUS juga menawarkan VivoBook S, yaitu VivoBook S430 dan S330. Keunggulan S430 adalah fitur premium berupa NanoEdge Display. Dari segi tampilan, laptop ini terlihat lebih lega karena bezel di tiga sisi layar lebih tipis. Sementara itu, S330 hadir dengan layar yang lebih kecil yaitu 13 inci. Dengan bodi yang penuh gaya dan ringan, laptop ini cocok menjadi teman untuk bepergian.

Untuk para pecinta game, ASUS juga meluncurkan laptop gaming yang diklaim paling tipis, yaitu ROG Zephyrus.  Meskipun tipis, performanya sangat powerful. Dengan spesifikasi di atas rata-rata, tak heran jika seri ini layak menjadi andalan bagi para gamers profesional.

Sebagai perusahaan multinasional yang memproduksi motherboard, PC, monitor, kartu grafis, dan router terbaik di dunia, ASUS telah memperoleh sejumlah penghargaan. Hal ini telah terbukti dari kehadiran sejumlah produk yang mampu bersaing jika dijejerkan dengan produk elektronik dari merek lain.

**

Rangkaian produk ASUS terbaru ini dibanderol dengan harga yang variatif. Dengan demikian, calon pembeli dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan bujet yang dimiliki.

Saya rasa, perbedaan harga tersebut hal yang normal. Selain pertimbangan harga, tentu saya selalu melihat dulu apakah laptop tersebut sanggup memenuhi kebutuhan saya yang lebih banyak berada di luar rumah.

Untuk ASUS, saya ucapkan selamat telah menempuh 30 tahun. Semoga tetap inovatif dan memenuhi harapan para pengguna.