BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Perlukah Kita Menyesal?

Tema kali ini adalah tentang penyesalan. Saya tipe orang yang “tidak suka” menyesal, meskipun sering juga menyesal karena suatu hal. Bagi saya, itu adalah sebuah kegagalan.

Ada beberapa hal dalam hidup kita yang tidak berjalan dengan mulus. Entah karena salah melangkah atau bagaimana. Yang saya tahu, penyesalan terjadi karena kita gagal dengan sesuatu.

Persiapan Itu Penting

Prinsip saya, kita tidak akan sampai di titik penyesalan jika telah mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Contohnya nih, kalau hujan, kita tentu harus mempersiapkan payung atau jas hujan. Jadi, kita nggak akan bilang, “Duh, nyesel nih kenapa tadi nggak bawa payung, ya?”

Nah, kadang-kadang ada orang yang menyesal karena abai pada persiapan. Dan saya paling males kalau sudah memperingatkan seseorang akan sesuatu–lalu diabaikan–kemudian menyesal.

Rasanya tuh pengen bilang, “Kan sudah dibilangin…”

Oleh karena itu, untuk menghindari penyesalan, saya selalu berusaha untuk melakukan persiapan sebaik mungkin sebelum melakukan atau menghadapi sesuatu. Biasanya, kalau usaha udah maksimal, entah hasilnya seperti apa, saya nggak akan sampai menyesal. Kecewa pasti, tapi menyesal tidak.

Tak Perlu Menyesal dengan Keputusan Sendiri

Saya suka heran kalau ada orang yang menyesal karena keputusannya sendiri. Bukankah hal itu dilakukan setelah melewati pertimbangan yang matang? Tentu, ada risiko atas setiap keputusan. Itu tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, jika sudah tahu risikonya, dan tetap diambil, berarti tidak perlu menyesal.

Berbeda halnya jika kita dihadapkan pada sesuatu yang bukan merupakan pilihan, dipaksa, atau terpaksa. Tentunya, kita bisa menyesali keadaan, tapi bukan diri sendiri.

Langkah Penyesalan

Saya rasa, setelah melewati banyak hal, yang paling penting dari segalanya adalah langkah yang diambil setelah mengalami penyesalan. Apa gunanya menyesal jika ternyata hanya sampai di situ.

Berharganya penyesalan adalah kalau seseorang tiba pada keinginan untuk memperbaiki diri dan melakukan sesuatu yang berbeda.

Jika hanya berwujud kekecewaan tanpa arti atau kemarahan pada diri sendiri maupun orang lain, hal itu hanya akan merusak diri sendiri. Jadi, jadikan penyesalan sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik.

Salah satu hal yang saya sesali akhir-akhir ini adalah dalam merawat W. Ada banyak ketidaksempurnaan yang saya lakukan sebagai seorang ibu. Pasalnya macem-macem, mungkin karena saya tidak tahu, terlalu sibuk, atau menganggap enteng.

Namun, saya berusaha untuk terus banyak belajar. Saya selalu ingin berbuat lebih baik hari demi hari untuk membuat dia tumbuh menjadi lebih baik ke depan. Saya harap ini bukan keinginan yang mustahil.

Sekali lagi, dengan persiapan yang matang dan kesadaran atas setiap keputusan yang diambil, saya ingin menghalau setiap penyesalan tersebut.

Bagaimana dengan kamu? Pernah menyesal atau tidak?

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Mengapa Masih Menjadi Part Time Blogger

Saya terjun ke dunia blogging sejak lama. Namun, baru satu dua tahun terakhir ini bisa menghasilkan dari blog. Itu juga belum seberapa. Sebagai part time blogger, saya memang harus banyak belajar.

Ada alasan klasik mengapa saya masih menjadi part time blogger hingga saat ini, yaitu pekerjaan utama sebagai karyawan. Alasan lainnya mungkin lebih pada belum berani untuk sepenuhnya menggantungkan hidup pada dunia ini.

Tentu saja, itu dipicu oleh banyak faktor. Yang paling utama sih, karena belum siap aja. Saya ingin suatu hari bisa menjadi full time blogger, tapi persiapan bagi saya adalah hal yang utama, supaya tidak menyesal karena salah ambil keputusan.

Nah, karena saya sekarang dalam keadaan sebagai part time blogger, setidaknya ada beberapa hal yang bisa saya nikmati. Berikut di antaranya:

Pertama, saya dapat menikmati kegiatan menulis sebagai me time. Sesuatu yang membahagiakan. Sebuah kesempatan untuk melepaskan kepenatan rutinitas. Karena tidak ada tuntutan untuk harus mengikuti ketentuan ini dan itu, saya lebih bebas merefleksikan diri.

Kedua, menjadi part time blogger akan mendorong saya untuk lebih banyak belajar dari para senior. Wah, kalau melihat para blogger lain, saya masih bukan apa-apa. Jadi, merasa kurang layak aja disejajarkan dengan mereka. Status sebagai part time blogger adalah semacam kesempatan untuk menambah skill dulu.

Ketiga, saya masih bisa mendapatkan pemasukan tetap. Mengingat ada begitu banyak hal yang harus kami sediakan, mulai dari biaya daycare anak, mencicil rumah, biaya hidup sehari-hari, dan sebagainya. Saya mencoba untuk mensyukuri aja keadaan saya saat ini.

Ada suatu waktu, ketika saya pengen juga menjadi full time blogger, yang sepenuhnya bisa mengikuti setiap event, menghabiskan waktu untuk utak-atik blog, berjejaring dengan sesama blogger. Namun, setiap orang saya rasa memiliki pertimbangannya sendiri-sendiri. Saya salut kepada mereka yang berani mengambil pilihan itu. Dan saya berusaha untuk menikmati pilihan saya.

Baik full time blogger maupun part time blogger masih bisa bareng-bareng kok. Hal itu sudah saya rasakan, bersama teman-teman blogger hebat, saya masih bisa bertemu dan berkumpul tanpa harus membedakan mana yang hanya setengah maupun sepenuhnya.

Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk menikmati momen-momen terbaik apa pun pilihan yang kita ambil saat ini.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Berbagai Pekerjaan Rumah dengan Suami, Mengapa Tidak?

Saya bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian. Ia mau berbagi pekerjaan rumah tangga dengan saya. Bahkan, ia bisa memasak lebih enak dari saya.

Siapa bilang hanya istri yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari? Karena saya dan suami sama-sama bekerja, kami selalu berusaha untuk berbagi tugas sepulang kerja.

Biasanya, suami terlebih dahulu akan beres-beres, merendam cucian, bantu cuci piring, sementara saya menemani anak sambil melipat pakaian yang kering. Setelah suami selesai, barulah saya yang akan mencuci pakaian dan menyelesaikan semuanya.

Kami memutuskan untuk tidak memasak setiap hari karena harus bekerja, termasuk pada pagi hari. Kami memasak hanya pada hari libur saja karena ada banyak waktu luang.

Salah satu alasan pentingnya adalah karena persiapan memasak serta membereskan peralatan setelah memasak itu membutuhkan banyak waktu. Dan itu membuat kami menjadi kehabisan waktu untuk bisa menemani anak. Sebagai orang tua bekerja, yang saat ini tidak punya pilihan lain, menyediakan waktu untuk menemani anak seusai kerja adalah suatu kewajiban. Kami selalu usahakan anak tidak ditinggalkan karena sepanjang hari juga tidak bersama.

Jadi, dengan pembagian tugas seperti itu, salah satu dari kami akan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, dan salah satu yang lain akan bermain dengan anak.

Hingga saat ini, semua itu berjalan dengan baik. Meskipun ada kendala-kendala ya. Hehe. Menurut pengalaman saya, ada beberapa hal yang biasanya terjadi dalam pola pembagian ini,

1. Tidak sesuai

Saya sering kali merasa bahwa pekerjaan suami tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Soal mencuci piring misalnya, saya memiliki teknik sendiri supaya piring lebih bersih. Ya, sempat juga beberapa kali berdebat dengan suami soal itu. Namun, lama-kelamaan akhirnya saya mengalah aja. Triknya, saya nggak usah melihat suami ketika menyelesaikan tugasnya. Udah, biarkan saja ia berkreasi. Pokoknya selesai. Hehe.

2. Lebih Lama

Nah, ini suka bikin saya gregetan sih. Mungkin karena belum terbiasa aja ya. Atau saya yang selalu merasa kurang puas karena tidak mengerjakan sendiri. Entahlah. Tapi lagi-lagi tipsnya adalah berusaha menerima dan sabar. Namanya juga berbagi tugas, tidak semuanya harus seragam, baik cara mengerjakan maupun waktu pengerjaannya.

Pekerjaan yang Disukai

Nah, karena pekerjaan rumah cukup sedikit, saya rasa tidak ada hal yang terlalu berlebihan saya sukai. Bebersih rumah juga wajar saja sih, menyapu, merapikan, dan sebagainya. Itu juga tidak setiap hari kami lakukan.

Namun, pada momen-momen tertentu, saya senang melakukan pekerjaan rumah sepanjang hari. Karena saya senang jika rumah terlihat seperti “rumah” yang cantik, wangi, dan rapi. Eh, tapi nggak lama kemudian, Si Kecil udah menyebar kembali mainannya hehehe.

Saya harap setelah W bisa belajar untuk rapi, rumah kami bisa lebih tertata setiap hari.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Kegiatan Favorit Keluarga Pada Hari Libur

Sejujurnya, saya lebih senang bersantai-santai saja pada hari libur. Namun, rasanya kok sayang banget kalau tidak melakukan apa-apa.

Jika ada kesempatan, saya suka bepergian. Waktu masih berstatus pacaran dengan suami dan ketika baru-baru menikah, kami juga sempat traveling ke beberapa tempat–kebanyakan dalam kota sih hehe. Namun, setelah hamil dan W lahir, hasrat untuk bepergian kok berkurang drastis. Sibuk ngurus anak, cyin.

Nah, setelah W udah mulai bisa jalan, kami sempat pergi ke beberapa tempat di luar kota pada hari libur. Ya, membawa anak traveling itu banyak tantangannya, ya. Hehe. Namun, demi memberi pengalaman baru pada anak, dijabanin aja.

Untuk mengisi hari libur, berikut adalah beberapa kegiatan favorit yang biasa kami lakukan:

1.Bangun agak siang

Yes, bagi kami liburan itu adalah ketika bisa bangun lebih siang dari biasanya. Untuk apa? Sekadar supaya bisa bercanda bersama anak. Cium-cium pipinya yang gembul. Peluk-pelukin dia. Percayalah, meskipun belum mandi semua, rasanya lebih nyaman dengan bau bangun tidur. Buktinya, W senang banget ngendon di bawah ketiak ibunya pada saat pagi-pagi hhaha.

Menurut saya, ini adalah kesempatan berkualitas untuk membangun hubungan. Pasalnya, pada hari biasa, kami selalu diburu waktu. Kami harus bangun pagi lalu berangkat bersama. Kasihan juga, ia pasti capek. Udah seperti orang kerja aja. Jadi, saat liburlah waktu untuk bersantai, nggak harus bangun sepagi biasanya.

W biasanya akan senyum-senyum dengan mata merem. Menikmati kedekatan dengan ayah ibunya. Ini bikin dia kelihatan lebih happy. Semoga.

2. Memasak bersama

Karena hampir setiap hari kami selalu jajan di luar, pada hari liburlah kesempatan untuk memasak bersama. Masakannya sederhana aja kok. Sayur bening, tempe goreng, dan sambel. Kalau misalnya lagi ada nasi sisa semalem, bikin nasi goreng. Ini menu andalan si ibu dan pasti akan ludes dimakan.

Kesempatan memasak bersama ini sangat langka. Untungnya, W bisa diajak kompromi ya. Ia akan duduk bersama saya sambil memetik daun bayam. Lalu, tanya macem-macem tentang bahan-bahan dapur. Kalau udah bosen, barulah ia main dengan mobil-mobilnya.

Pengennya sih, kesempatan untuk memasak bersama bisa lebih banyak. Saya ingin mempersiapkan diri ke depan untuk itu.

3. Jalan-jalan ke pusat perbelanjaan

Berhubung pusat perbelanjaan yang paling dekat dari lokasi rumah adalah Transmart, tempat ini biasanya yang menjadi tujuan kami. Jarang beli apa-apa, cuma supaya bisa jalan kaki aja. Pasalnya, ke mana-mana kami udah naik kendaraan. Jarang punya kesempatan untuk olahraga.

Nah, mengelilingi pusat perbelanjaan bisa membakar kalori. Cuma, harus siap-siap aja sih. Tiap liat gerai yang menjual mainan mobil, harus tahu trik supaya W nggak lihat hehehe. Sesekali nggak apa-apa, tapi kalau berkali-kali, bisa jebol kantong ortunya.

4. Ke rumah baru

Puji Tuhan, kami akhirnya diberi kesempatan untuk memiliki rumah sendiri. Meskipun masih belum ada apa-apanya. Tiap hari libur, kami biasanya akan datang ke sana untuk melihat-lihat. Sudah bisa ditempati sih, cuma barang-barangnya belum ada. Rencananya tahun depan ini akan memindahkan sedikit demi sedikit supaya bisa dibuat tidur juga sesekali.

Nah, itulah beberapa hal yang biasanya kami lakukan pada hari libur. Jarang bepergian ke tempat wisata. Hehe. Mungkin belum waktunya aja sih. Takutnya si kecil cepat capek. Untuk sementara dihindari dulu sih sampai daya tahannya benar-benar sudah baik.

 

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Surat Untuk Diriku 10 Tahun Lagi

Hai, aku..

10 tahun lagi, aku akan menjelang usia 43 tahun. Huaaa sungguh tidak terasa heheehehe.

Sekarang berarti? Hush. Semua orang pasti akan bertambah tua bukan?

Yang paling penting adalah apakah setiap orang mau belajar dari berbagai pengalaman hidup?

Ada masa-masa dalam hidup saya yang begitu kelam dan tak ingin saya ingat. Namun, ada pula yang sangat menyenangkan. Terutama pada akhir-akhir ini. Ketika W sudah mulai bisa diajak berinteraksi. Ia sudah mulai bisa menyahut ucapan ibunya dengan cerdas. Bisa pura-pura. Hahaha. Seperti tadi pagi, dia pura-pura tidur karena males beranjak dari kasur untuk berangkat ke daycare.

Hai, aku..

10 tahun lagi, Si Kecil itu udah mulai remaja. Hm, bisakah aku menjadi ibu yang dekat dengannya? Tempat curhatnya ketika ia mengalami masalah? Sedih atau marah..

Itu menjadi PR besar kami sebagai orang tua tentunya.

Ups, surat untuk diri sendiri kok nggak ngomongin diri sendiri ya?

Jadi, gini..

10 tahun lagi, aku bis dibilang sudah tua. Hahaha. Tinggal bentar lagi udah pensiun. Tapi, saya pengen sih dalam jangka waktu itu, ada perubahan besar ke arah yang lebih baik yang terjadi. Memiliki usaha sendiri mungkin?

Jika ini yang terjadi, saya akan bilang ke diri sendiri pada 10 tahun mendatang, Kamu Hebat!

Tentu tidak mudah untuk berubah. Apalagi ada banyak tantangan. Namun, saya rasa, jika diusahakan, semua itu pasti akan mungkin.

Kepada diriku 10 tahun lagi, aku bangga padamu. Setelah apa yang telah dijalani. Aku tahu, ada banyak tantangan dalam jangka waktu ini. Tapi, aku ingin mempertahankan yang baik-baik. Pernikahan yang baik. Teladan yang baik pada anak. Menjadi pribadi yang terus bertumbuh ke arah yang lebih baik. Karakter buruk dikurangi.

10 tahun lagi, aku ingin menjadi seseorang yang memberi peluang kepada banyak orang.

Bukan hanya pekerjaan, tetapi kesempatan untuk belajar. Saya ingin memberi inspirasi untuk menjadi lebih baik bagi orang-orang yang melihat. Tidak usah dalam hal-hal besar dulu. Cukup dalam hal-hal sederhana.

Hai aku,..

10 tahun bukan waktu yang sedikit. Semoga Tuhan memberikan kesempatan bagiku untuk mencapainya dalam keadaan sehat. Anak sehat, suami sehat, keluarga semua sehat. Dan kami bisa menikmati kebersamaan lebih lama.

Jika aku membaca ini kelak tapi tidak sesuai harapan, aku, tetaplah bersyukur.

Tuhan sudah mengatur segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Tugas kita adalah menjalani dengan sebaik-baiknya pula.

Aku 10 tahun lagi bukan hanya sebuah nama yang tidak ada pengaruhnya. Aku ingin memberikan dampak kepada orang-orang yang pernah mengenalku. Dan 10 tahun adalah jangka waktu yang cukup untuk membuat gebrakan.

Aku, berjuanglah. Jika Tuhan mengizinkan, 10 tahun aku akan menjadi lebih baik dari sekarang. Yes!

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Ini 5 Youtuber Favorit Versi Saya

Saya baru saja suka nonton yutub beberapa waktu terakhir. Itu juga setelah punya ponsel baru yang layak digunakan untuk menonton. Jadi, sebenarnya tidak ada referensi luar biasa yang bisa saya bagikan. Namun 5 orang inilah yang kadang-kadang channelnya saya tonton.

1. Najwa Shihab

Karena saya jarang nonton televisi, jadilah saya mencari informasi mengenai berita terkini lewat cuplikan di yutub. Ini lebih menghemat waktu haha. Nah, biasanya topik yang diangkat Najwa Shihab memang viral sehingga saya juga pengen menonton.

Karena itu, saya pun subscribe channelnya dia yang isinya ringkasan wawancara di televisi. Nontonnya lebih enak, tanpa iklan. Bisa dijeda lagi hehehe.

2. Deddy Corbuzier

Ini yutuber yang menurut saya kontroversial ya. Tapi kok yang ia katakan benar lho. Makanya saya suka buka channelnya untuk mendengar responsnya tentang isu-isu terkini. Kadang menyentil. Itulah yang bikin saya tertawa-tawa. Hahaha.

Deddy juga suka bahas selebriti lain. Jadi, saya merasa sedikit tahu tentang kehidupan para selebriti. Tentu saja, dengan gayanya yang khas Deddy akan mengupas hal yang menurutnya kok beda tersebut. Kadang saya ngangguk-ngangguk karena apa yang ia bilang mencerahkan.

3. Boy William

Saya suka edisi Nebeng Boy di channel yutubnya. Boy pandai menguras jawaban dari pada tamunya. Mereka akan cerita lalu nyanyi-nyanyi. Tapi di sini saya bisa melihat secara langsung si artis itu dengan muka yang sebenarnya. Boy bukan kayak media gosip yang ingin membuka aib. Ia hanya membantu klarifikasi. Jadi, khalayak tahu apa yang sebenarnya (ternyata bukan seperti yang ada di media gosip yang beredar).

4. Raditya Dika

Katanya, dialah pelopor di dunia peryutuban di Indonesia. Saya juga baru-baru aja kok follow Dika. Bukan karena ngefans, tapi karena penasaran aja. Eh, ternyata isinya dia cukup bermanfaat dan tertata. Misalnya, ia memiliki sebuah acara yang membandingkan antara dua orang yang berbeda.

Ia tidak banyak basa-basi, tapi orang-orang yang menonton jadi tahu apa sih perbedaann itu. Dan, banyak belajar juga dari konten tersebut.

5. Pandji Pragiwaksono

Saya suka Panji dan statementnya. Meskipun dia sempat dimusuhi massal karena hal tertentu beberapa waktu belakangan. Menurut saya, dia jujur aja. Memberitahukan apa yang ia lihat dengan sudut pandangnya sendiri. Independen. Tidak mengikuti arus, apa yang orang sukai. Jadi, netral.

Orang-orang seperti ini menurut saya teladan banget. Dan saya juga melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang, saya malah dikira di kubu sebelah hanya karena bersikap otokritik terhadap pilihan sendiri.

Nah, inilah orang–orang yang saya ikuti di yutub. Saya banyak belajar dari mereka. Tentu ada lebih banyak orang lagi yang sangat menarik untuk diikuti. Tapi, saya tentu harus bagi waktu lagi untuk itu. Kalau kamu, siapa yutuber favoritmu?

 

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

5 Resolusi Pertama Pada 2019

Saya sudah menunggu-nunggu tema yang satu ini. Saya memang senang membuat resolusi, bahkan bukan pada saat Tahun Baru. Memulai sebuah gerakan akan memberikan semangat yang positif.

Langsung saja ya. Berikut kira-kira resolusi saya untuk 2019 ini:

1. Hidup lebih sehat

Selama ini, saya merasa banyak menyia-nyiakan kesehatan. Kurang tidur. Sering minum minuman sachet yang manis. Pola makan tidak teratur dan kurang bergizi. Dan masih banyak lagi. Hmm.

Tapi, lama-kelamaan saya mikir gini, trus nanti kalau sakit lalu berhenti napas gimana? Kan semuanya sia-sia. Sementara saya kan pengen bersama anak sampai ia dewasa. Saya tidak ingin ia kehilangan sosok ibu dalam hidupnya. Aduh, jadi mellow gini…

Oleh karena itu, pada 2019 ini, saya ingin merancang pola hidup yang lebih sehat. Yaaa! Semua ada solusinya, kecuali kesehatan. Itu hal yang nggak bisa diganggu gugat.

2. Hidup minimalis

Ini adalah resolusi 2019 dan mungkin tahun-tahun sebelumnya. Saya sangat ingin kembali ke awal untuk hidup tanpa  memikirkan terlalu banyak hal. Minimalis dalam kehidupan sehari-hari, dalam pikiran, dalam berbagai hal pokoknya.

Ini membuat kehidupan setiap hari menjadi lebih ringan, lho. Saya beberapa kali merasakannya. Hanya saja, saya memang belum optimal menjalankannya. Saya ingin ini menjadi habit dan juga brand saya. Siapa pun yang kenal, pasti ingat dengan konsep yang saya usung ini.

3. Punya usaha sendiri

Saya pernah menulis pada tema yang lain, bahwa salah satu hal yang ingin saya lakukan pada 2019 adalah berusaha sendiri. Saya ingin membangun dari nol, entah usaha apa pun.

Mungkin saya harus mengumpulkan modal. Tapi, modal bukan hanya uang bukan. Itulah sebabnya, saya juga mesti belajar dengan baik. Keahlian adalah modal yang sangat berharga, tentu saja.

4. Mengelola emosi dengan baik

Ini merupakan salah satu resolusi yang terdengar klasik dan tidak bisa diukur. Namun, saya rasa saya membutuhkannya. Selama ini, saya sering kali dilanda stres. Pasalnya, kerjaan menumpuk. Pola hidup tidak benar. Jadi, semuanya kelihatan berantakan. Nah, jika hal-hal awalnya sudah diperbaiki, saya rasa masalah emosi juga akan terpecahkan.

Untuk mengelola emosi, saya juga mesti lebih banyak belajar. Belajar ikhlas dan menerima. Tidak mudah marah atau tersinggung. Dan hal-hal positif lainnya.

5. Traveling ke Malang

Ini sepertinya patut masuk dalam daftar resolusi saya tahun depan. Tahun ini, kami sudah merancang tapi tidak jadi juga. Sebagai penghargaan untuk diri dan keluarga, saya berharap kami bisa menikmati kebersamaan dengan berkunjung ke Malang. Semoga ini bisa kesampaian.

Nah, itulah beberapa resolusi yang saya susun untuk tahun depan. Belum tercapai juga? Kita usahakan lagi tahun depannya. Begitu terus pokoknya hehehe. Namanya juga diusahakan, mungkin belum sekarang, tapi suatu saat. Asal tidak diam dan menunggu saja.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

10 List Blog Favorit untuk Blogwalking

Salah satu resolusi saya tentang blog pada tahun depan adalah lebih banyak menjalin relasi dengan blogwalking. Saya juga ingin berkenalan dengan banyak blogger senior dan berharap bisa mendapatkan ilmu yang berharga dari mereka.

Membaca blog orang lain, kita harus benar-benar berkomitmen. Saya sendiri merasa bahwa itu merupakan sebuah kebutuhan. Sayangnya, karena ada begitu banyak hal yang harus saya kerjakan setiap hari (huhu) waktu untuk berkunjung menjadi kurang banget.

Saya harap sih saya bisa mengelola waktu dengan lebih baik lagi pada hari-hari mendatang.

Inilah beberapa list blog favorit saya dari sekian banyak.

1.www.ratnadewi.me

2. www.lulabyspoon.com

3. www.annisast.comw

4. www.mykidneybean.com

Saya nggak akan jabarin satu-satu ya. Silakan langsung aja kalau mau blogwalking.

Namun, ada beberapa hal yang bikin saya senang dengan blog mereka.

Gaya nulis mereka oke banget. Jadi kesannya ngalir. Yang baca seneng banget.

Lalu, mereka juga menulis hal-hal yang bermanfaat, yang bisa jadi inspirasi bagi banyak orang.

Mereka menulis di tema yang sama. Jadi ada brand yang secara tidak langsung udah melekat. Wah pengennn..

Masih ada blog favorit untuk blogwalking. Khususnya setelah tantangan BP ini, kami saling BW setelah posting tulisan. Ini link blog mereka.

1. https://www.vikakurniawati.com.

2. www.cerryku.blogspot.com 3.www.rejekinasibox.blogspot.com

4. http://missriana.com

5.www.nickenblackcat.blogspot.com
6. http://almindya.wordpress.com

Mereka inilah yang bareng-bareng mengawali tantangan BP. Meskipun karena kesibukan, akhirnya beberapa nggak selesai.

Senangnya, kami memiliki grup untuk BW. Jadi kami bisa saling bantu paageview maupun komen. Harapannya sih kami bisa terus rajin untuk blogwalking.

Resolusi saya di tahun depan adalah makin banyak berkunjung ke blog orang lain. 20? Atau mungkin lebih tiap hari. Pasti akan ada hasilnya. Mulai dari DA naik hingga dapet relasi baru. Saya juga bisa belajar banyak dari gaya menulisnya, tema blog, dan lain-lain.

Jadi, inilah 10 list blog yang beberapa minggu terakhir saya kunjungi. Untuk blog lainnya, saya berjanji untuk lebih rajin berkunjung. Sebenarnya cuma meluangkan waktu barang sejenak tiap hari. Itu seharusnya udah cukup.

Nah, bagaimana dengan kamu, apa saja daftar blog favoritmu? Mengapa kamu suka berkunjung ke sana?

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

10 Akun Instagram Favorit

Masih baru dalam dunia perinstagraman nih. Saya ngikutin tren aja sebenarnya. Follower juga baru segelintir. Dan saya rasanya masih belum bisa kasih konten yang bagus untuk mereka. Nah, saya banyak belajar dari orang-orang ini, mereka totalitas banget.

 

Berikut 10 akun yang menurut saya sangat menginspirasi. Saya senang membaca postingan mereka. Saya juga mendapatkan berbagai pencerahan dari apa yang mereka publikasikan. Hanya saja, saya masih suka penasaran, bagaimana ya meereka kok bisa sekreatif ini.

  1. @windy_ariestanty
  2. @winditeguh
  3. @alodita
  4. @febyeles
  5. @5andranova
  6. @heniprasetyorini
  7. @ratnadewime
  8. @aciddicaa
  9. @cnlulaby
  10. @annisast

Ada beberapa alasan saya mengikuti orang-orang ini.

Pertama, mereka sangat tahu apa yang mereka katakan. Dan cara mengatakannya pun tidak sengak atau sok tahu. Mbak @febyeles misalnya, udah cantik, bisa mengatur kata-kata dengan sangat santai. Yang baca pun jadi santai banget. Dia suka bagiin informasi mengenai cara merawat anak. Meskipun jadi seleb twitter, dia mau kok jawab-jawabin komentar. Itu juga dengan kalimat yang akrab.

Ada juga yang tahu tentang ekonomi, tentang fesyen. Itulah yang membuat saya kagum dan selalu suka baca postingan mereka.

Kedua, mereka kayaknya tahu banget bagaimana menarik hati pembaca. Mulai dari penyusunan kalimat. Foto yang digunakan. Semua sepertinya sudah dirancang sebaik mungkin. Wihh, bagaimana ya pengelolaan waktu mereka tiap hari. Saya pengen juga bisa kayak gitu. Hahaha.

Ketiga, mereka menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan setiap hari adalha sesuatu yang menyenangkan. Ini menjadi sebuah motivasi yang positif. Apapun bidang kita, semua pasti akan menyenangkan jika kita bersyukur. Ya nggak?

Keempat, mereka nggak menunjukkan kalau sedang pamer. Iya, banyak orang yang tidak pandai bersyukur dan terkesan hanya ingin memberitahukan kepada dunia bahwa mereka tahu segalanya. Dari pengalaman saya, orang-orang ini justru sangat membumi.

Kelima, mereka aktif berbagi like. Wiw, saya heran, masih sempat juga ya di sela-sela kesibukan, mereka masih berbagi kebahagiaan kepada orang lain dalam bentuk like. Saya merasa jadi seperti benar-benar diperhatikan. Hampir tiap postingan saya. Ini terasa sangat personal meskipun tidak benar-benar kenal dengan orang tersebut.

Setidaknya alasan inilah yang membuat saya tidak menyesal mengikuti orang-orang seperti ini. Saya berharap bisa belajar seperti mereka. Memberikan manfaat kepada orang lain meskipun dalam hal yang sederhana.

Nah, bagaimana dengan Anda? Siapa seleb twitter favoritmu?

 

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

Kota-Kota yang Pernah Ditinggali

Saya adalah perantau dari sebuah pulau kecil. Masih Indonesia kok. Hehe. Hingga sekarang, ada 3 kota yang pernah saya tinggali. Semua dalam rangka belajar dan bekerja.

Saya sudah “pergi” dari rumah sejak masuk SMA. Waktu itu, saya harus bersekolah di luar pulau. Memangnya kenapa? Karena dulu katanya sekolah di sana lebih bagus. Hingga sekarang, saya nggak terlalu tahu sih apakah hal itu benar. Karena ada plus minusnya yang saya rasakan. Tapi ada baiknya disyukuri saja ya hehehe.

Nah, tema kali ini, saya akan cerita mengenai ketiga kota yang pernah saya tinggali tersebut.

1. Sibolga

Ini adalah sebuah kota di pesisir barat Pulau Sumatera. Untuk mencapai tempat ini, kami harus menaiki kapal kecil yang berlayar semalaman. Kalau sekarang diingat-ingat, kok mau ya, semalaman diombang-ambing gelombang. Hiii. Mengingat banyaknya kasus kapal yang tenggelam.

Tapi dulu berani aja. Mungkin karena masih anak muda. Lalu, dulu juga senang karena ada temennya. Sekolah di seberang lautan itu juga merupakan hal yang dianggap keren saat itu.

Saya tinggal di asrama di sana. Mulai dari pagi hingga malam, bahkan dini hari, semua bergantung pada aturan asrama. Saya menyadari, saya banyak berubah di sana. Bahkan, ada banyak hal yang hilang dari diri saya.

Bukan berarti saya tidak suka. Ada juga banyak kenangan indah di sana. Tapi, kalau boleh memilih, mungkin saya akan mencoba alternatif lain hahaha.

2. Semarang

Kota kedua yang saya tinggali adalah Semarang. Ya, setelah lulus SMA, saya diterima di salah satu universitas negeri di Semarang. Mengapa Semarang? Karena biar beda aja sih. Hehe. Semua orang pengen ke Jogja, Jakarta, Bandung, tapi saya ingin ke Semarang.

Ada banyak hal menarik yang saya alami di sana. Saya juga belajar berkomunitas di Semarang. Saya menang penghargaan menulis di sana. Pokoknya, saya benar-benar menikmati tinggal di Semarang. Meskipun waktu itu saya belum punya motor dan nggak ada ojek online. Ke mana-mana jalan kaki dan naik angkutan umum. Kalo nggak, nebeng teman.

Aha, saya rindu teman-teman semasa saya kuliah dahulu. Apalagi setelah mau lulus-lulusan, huhuhu rasanya kok mellow ya. Pengen lagi kembali ke masa-masa kontrakan saya yang menyenangkan. Lalu, ada pula kampus yang nggak keren banget tapi eksotis haha.

Kurang lebih 4 tahun saya tinggal di Semarang. Dan beberapa kali saya pernah berkunjung ke sana setelah itu.

3. Jogja

Yaaa, inilah saya sekarang. Di sebuah kota yang menurut saya sangat indah. Meskipun sekarang bertambah macet, Jogja menurut saya tidak tergantikan. Saya akan tetap berada di sini (atau sekitar sini) hehehe.

Harga properti di Jogja memang sudah tidak bisa dijangkau oleh masyarakat kebanyakan. Jadi, kami melipir dikit ke perbatasan. Dari sana, kami masih menjangkau kota dengan berkendara roda dua, meskipun tidak terlalu dekat.

Bagi saya, Jogja sudah seperti rumah. Saya menemukan pasangan juga di Jogja. Anak saya lahir di sini. Dan ini akan selalu menjadi tempat yang menyenangkan bagi saya.

Nah, itulah beberapa tempat yang pernah saya tinggali. Dengan semua pengalaman ini, saya harap bisa mengambil pelajaran hidup. Saya juga besok lebih bijak dalam memberikan nasihat kepada anak supaya tidak salah memilih jalan kelak.