Uncategorized

Ciptakan Bahagia dengan Pengalaman Mandi Terbaik

Dua bulan lagi, Wila, anak tersayangku akan berusia 4 tahun. Duh, rasanya kok baru kemarin aku di rumah nemenin dia selama cuti melahirkan 3 bulan. Ibu baru yang tak berpengalaman bersama seorang bayi. Antara nggak percaya, sih! Apa iya aku bisa?

Proses merawat dan membesarkan Wila nggak bisa dibilang mulus. Kami melewati banyak sekali tantangan. Bahkan, aku sempat hampir menyalahkan diri sendiri ketika ia terlambat bisa jalan; tak seperti balita seusianya.

Sebagai ibu bekerja, kelelahan akibat tugas yang menumpuk sering kali memengaruhi mood. Akhirnya, Wila hanya mendapatkan sisa-sisa perhatian setelah kami semua pulang ke rumah. Kalau ingat itu sekarang, rasanya nelangsa.

Ibu Bahagia Keluarga Bahagia

Tak banyak yang bisa kulakukan untuk menyenangkan diri sendiri pada masa-masa Wila masih bayi. Hidupku seputar rumah, daycare, kantor, daycare, dan rumah lagi. Menonton di bioskop? Nggak sempat. Nongkrong bareng teman? Nggak sempat juga. Jalan-jalan ke mall atau belanja apa gitu yang bikin wanita bergembira? Inget kebutuhan lain.

Hanya senyum semringah Wila tiap diajak main yang selalu bikin semangat naik berkali-kali lipat. Klise, ya? Tapi memang begitu. Sayangnya, waktu bagiku kala itu mahal banget. Ada begitu banyak pekerjaan, hanya sedikit waktu. Jadi, aku mensyukuri banget kebersamaan yang bisa aku nikmati meskipun sejenak.

Tak heran, aku pun begitu mudah  tertekan saat Wila menangis dan rewel. Apalagi aku orang yang nggak sabaran. Ragam makna tangisan bayi itu menurutku sangat sulit diterjemahkan. Pernah suatu malam, aku menggendongnya terus-menerus dan ia juga menangis tak henti-henti. Dan parahnya, sang suami juga nggak berhasil menenangkannnya. Jadi, kami berdua bergantian berusaha menggendong dengan muka kusut sekaligus khawatir.

Setelah itu, aku mulai berkaca. Benar adanya, pengalaman membuat seseorang lebih dewasa. Bisa jadi, Wila mungkin bisa merasakan kepanikanku malam itu dan ia pun bertambah gelisah. Harusnya aku tenang. Harusnya aku memberikan kenyamanan. Harusnya aku bisa bilang padanya: Tenang, Nak, ibu di sini. Semua akan baik-baik aja! Kan memang harusnya demikian seorang ibu, mengembangkan sayap untuk melindungi.

Tentu saja aku berpikir dan merenung. Mengapa ya, aku nggak bisa seselow itu. Aha, aku pasti terlalu tegang dan tak menikmati hidup. Aku memikirkan hal-hal yang terlalu jauh dan terlalu berat. Padahal, waktu yang ada di depan mata berlalu begitu saja. Lebih jauh, aku mulai mengambil langkah-langkah proaktif dengan mencoba menyenangkan diri sendiri. Pikirku, kalau aku bahagia, keluarga ikut bahagia. Caraku ya sebisa mungkin melakukan sesuatu yang aku suka.

Ibu Bahagia Merawat Diri

Hampir empat tahun berlalu sejak Wila lahir. Aku merasa bangga dengan diri sendiri karena berhasil melewati banyak hal. Si kecil Wila yang dulunya cuma bisa ngesot sudah pandai berjalan, bahkan berlari-lari. Ia juga pinter banget berkomunikasi, mudah bergaul, dan memiliki empati yang tinggi.

Meskipun begitu, tetap saja ada hal-hal yang bikin “emosi” memuncak tiap hari. Kalau disuruh mandi misalnya, ia lebih banyak bercanda daripada seriusnya. Senang sih, tapi juga menantang kesabaran. Kalau nggak mengontrol diri, tiap hari bakal ngomel-ngomel nggak jelas. Aduh, capek juga rasanya.

Namun, aku belajar dari pengalaman. Untuk menikmati hidup, kita harus selow dulu. Menenangkan diri supaya nggak mudah terpancing amarah. Cara paling sederhana ya mandi. Ketika guyuran air mengenai sekujur badan, rasa sejuk mulai hadir. Perlahan-lahan, pikiran pun menjadi jernih.

Aktivitas mandi itu sendiri menyenangkan secara keseluruhan bagiku. Bukan hanya karena dapat mengusir rasa gerah, tetapi karena aku dapat menghirup aroma harum dari bau body wash yang aku gunakan. Karena itu, mencoba berbagai jenis sabun adalah semacam hobi yang aku suka. Ketika menemukan body wash dengan aroma yang aku sukai, rasanya seperti menemukan harta karun. Level kebahagiaan pun naik drastis.

Nah, aku mau berbagi sedikit pengalaman saat mencoba Vitalis Perfurmed Moisturizing Body Wash . Ini merupakan produk terbaru dari Vitalis, market leader di  pasar female fragrance. Sebelum mengeluarkan produk, Vitalis melakukan banyak riset dan eksperimen terkait tren parfum maupun karakter parfum yang paling sesuai dengan konsumen di Indonesia.

Ada 3 varian yang diluncurkan, yaitu White Glow, Fresh Dazzle, dan Soft Beauty. Masing-masing memiliki keunggulan tersendiri.

White Glow

Varian pertama yang aku coba adalah White Glow. Alasannya sederhana, kemasan pink cantik itu tampak menggoda. Sesuai namanya, White Glow menawarkan manfaat Skin Brightening. Berharap setelah mandi menggunakan varian body wash ini, kulit akan terasa lebih cerah, halus, dan lembut. Ini sangat dimungkinkan dengan kandungan ekstrak Licorice dan Susu. Kedua kandungan ini dapat melembutkan kulit sekaligus merawatnya hingga terlihat bersih dan bersinar.

Pertama kali menghirup aroma White Glow, terlintas rasa manis yang bikin nagih. Vitalis body wash ini memang diciptakan dari paduan harum Cherry dan Raspberry. Selain itu, ada pula wangi Marshmallow dan Gardenia yang terkesan lembut dan elegan. Untuk menyempurnakan, kombinasi Woody dan Suede yang long lasting serta glamour juga turut dihadirkan dalam kemasan yang sama.

Aku sendiri suka dengan harum Vitalis body wash varian White Glow. Saat dibalurkan ke seluruh tubuh, rasanya seperti sedang mandi parfum kesukaan. Paling pas kalau menggunakan body wash ini menjelang acara-acara istimewa. Dijamin pede meningkat drastis, deh!

Fresh Dazzle

Varian body wash selanjutnya adalah Fresh Dazzle. Dibandingkan White Glow, Fresh Dazzle terasa lebih elegan. Ternyata, parfum yang digunakan dalam varian ini adalah Bergamot yang segar, Floral Bouquet yang feminin tetapi tetap elegan, dan Musk Amber yang long lasting. Paduan ketiga parfum ini menciptakan aroma harum yang mengesankan. Cocok nih bagi para wanita yang nggak suka dengan aroma yang terlalu manis.

Fresh Dazzle juga dilengkapi dengan ekstrak Yuzu Orange dan Greentea. Kedua kandungan ini memiliki khasiat yang sangat baik bagi kecantikan kulit.

Saat aku mencoba Fresh Dazzle, tak diragukan lagi ada kesan segar yang terasa. Aku membayangkan paling seru mandi dengan body wash varian ini saat cuaca sedang hujan. Dengan guyuran air hangat dan wangi parfum segar, suasana hati akan terasa lebih hangat seusai mandi. Ini adalah varian lainnya yang aku sukai setelah White Glow.

Soft Beauty

Jenis ketiga diberi nama Soft Beauty. Warna kemasan ungu menawarkan kesan yang mewah. Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Soft Beauty ini ditonjolkan dengan manfaat Skin Nourishing. Di dalamnya terkandung ekstrak Avocado dan Vitamin E yang dikenal sangat baik dalam menjaga kelembaban dan kekenyalan kulit.

Untuk varian body wash Soft Beauty ini, Vitalis menyematkan aroma Fruity Aldehydic, Rose & Violet, dan Tonka bean & Sandalwood. Paduan tersebut menciptakan kesan yang glamour dan premium. Tak heran, mandi dengan body wash ini akan menjadi pengalaman yang berbeda daripada sebelumnya.

Setelah membandingkan ketiganya, aku tetap menjatuhkan pilihan pada White Glow. Rasa manisnya yang menyenangkan seperti kemewahan tersendiri bagi seorang ibu yang setiap detik berkutat dengan keriuhan pekerjaan sekaligus tanggung jawab rumah tangga. Bersenjatakan body wash ini, aku bisa menikmati momen spesialku setiap hari, tanpa perlu menunggu suatu perayaan khusus.

Ibu Bahagia Dari Dalam

Menjadi seorang ibu tidak mudah. Aku menyadarinya sesaat setelah Wila melepaskan tangis pertamanya di dunia ini. Seiring dengan rasa bahagia yang tak terhingga, ada pula keresahan. Akankah aku layak menjadi ibu baginya?

Sampai sekarang, aku masih terus belajar untuk memberikan yang terbaik. Memang tidak ada sekolah formal untuk menjadi orang tua. Semua pengetahuan berasal dari pengalaman.

Jadi, aku maksimalkan diri setiap hari sekaligus berusaha membahagiakan diri demi anak dan keluarga. Berharap, pada ulang tahunnya yang keempat nanti, aku bisa dengan bangga mengucapkan rasa sayang karena aku benar-benar telah mengusahakannya.

Uncategorized

Waspada Covid-19, Upaya Bersama Perangi Wabah

Dunia sedang mengalami perubahan besar.

Wabah penyakit COVID-19 melanda hampir seluruh negara, termasuk Indonesia. Virus pertama kali menyebar dari Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada akhir 2019 lalu.

Hingga 15 Maret 2020, telah ada 168.866 kasus coronavirus dan jumlah kematian 6.492 orang. Namun, jumlah yang sembuh juga cukup banyak, yaitu 76.598 orang. Data lebih lengkap bisa ditemukan di sini.

Untuk situasi terkini di Indonesia, berdasarkan data resmi dari Kemkes, telah ada 117 orang yang terdeteksi positif COVID-19. Di antaranya, 5 orang dinyatakan meninggal dan 8 orang dinyatakan sembuh.

Sementara itu, wilayah yang dinyatakan terjangkit coronavirus adalah DKI Jakarta, Jawa Barat (Kabupaten Bekasi, Depok, Cirebon, Purwakarta, Bandung), Banten (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan), Jawa Tengah (Solo), Kalimantan Barat (Pontianak), Sulawesi Utara (Manado), Bali, dan DI Yogyakarta. Wilayah terjangkit adalah wilayah yang melaporkan kasus positif COVID-19.

Akibatnya, sebagian kota mulai mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk membatasi penyebaran wabah, di antaranya social distancing. Bentuk kebijakan ini antara lain work from home (WFH) yang dilakukan oleh perusahaan dan belajar di rumah (online) bagi anak sekolah. Dengan upaya mengurangi pergerakan yang tidak perlu, kontak diminimalisir, sehingga wabah COVID-19 dapat ditangani oleh petugas medis dengan lebih mudah.

Apa Itu COVID-19?

Sebelumnya, kita perlu kenal dulu apa itu COVID-19. Dalam acara temu netizen yang bertema, “Cerdas dan Aman Menghadapi COVID-19”, Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama dari One Health Collaborating Center, Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa COVID-19 adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 atau disebut juga 2019-nCOV.

Virus Corona secara ilmiah adalah nama yang diberikan pada sebuah jenis virus yang memiliki bentuk seperti mahkota di permukaannya. Virus Corona juga menjadi penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada 2002 dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada 2012 lalu. Namun, dibandingkan SARS dan MERS, jumlah kasus COVID-19 lebih banyak. Penyebarannya juga jauh lebih cepat.

Pada kesempatan yang sama, dr. Ika Trisnawati, M.Sc., SpPD – KP, Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta turut menjelaskan perihal Virus Corona jenis baru yang sedang mewabah ini. Berdasarkan gejala-gejala yang diperlihatkan oleh penderita, penyakit ini mirip seperti yang disebabkan virus influenza.

Namun, ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya. Angka kematian akibat influenza hanya sekitar 0,1% sedangkan virus Corona sebesar 2%. Belum ada vaksin atau obat yang bisa menyembuhkan penyakit akibat virus Corona, sedangkan vaksin dan obat untuk flu sudah tersedia. Berdasarkan masa inkubasinya, flu butuh waktu 5-7 hari, sedangkan virus Corona sekitar 14 hari. Meskipun demikian, ada persamaan keduanya, yaitu gejala batuk dan demam, dapat menyebar melalui droplets respirasi, dapat dicegah dengan kebersihan dan kontak minimal, dan dapat menular sebelum gejala terlihat.

Jadi, perlu dipahami bahwa transmisi COVID-19 adalah melalui droplet yang keluar dari mulut penderita saat berbicara. Droplet dapat berpindah hingga 1-2 meter. Droplet juga dapat berpindah melalui kontak langsung atau menempel pada benda.

Droplet yang mengandung virus Corona dapat masuk melalui mulut, hidung, atau mata. Apabila orang sehat terkena, gejala umum yang muncul antara lain batuk, pilek, sesak napas, tenggorokan sakit, dan demam.

Faktor risiko dimiliki oleh seseorang yang pernah berkunjung ke China atau negara terjangkit dalam waktu 14 hari sebelum gejala terlihat. Orang yang pernah melakukan kontak erat dengan penderita positif COVID-19 juga memiliki faktor risiko tinggi.

Apabila memiliki faktor risiko atau mengalami gejala-gejala umum penyakit ini, seseorang diharapkan untuk melakukan pemeriksaan demi menghindari penularan selanjutnya.

Survive Dari Wabah

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia berupaya sekeras mungkin untuk menghentikan laju penularan COVID-19. Berdasarkan hitungan eksponensial, jumlah penderita bisa saja melonjak. Masalahnya, semakin banyak penderita, kapasitas rumah sakit dalam menampung pasien tentu akan semakin berkurang, bahkan bisa habis. Padahal, penderita harus berada di ruang isolasi untuk menghindari kontak dengan orang sehat selama masa penyembuhan tersebut.

Karena itu, langkah yang paling efektif untuk survive dari wabah adalah mengurangi kontak sebisa mungkin. Ambil jarak aman dengan orang lain. Terapkan social distancing. Ini tidak mudah karena kebiasaan masyarakat Indonesia yang akrab dan hangat. Bersalaman, mencium pipi, atau mencium tangan, adalah simbol kedekatan atau penghormatan.

Namun, dengan kesadaran masing-masing orang, wabah COVID-19 diharapkan dapat tertangani dengan baik. Para pekerja medis dapat melakukan tugasnya dengan praktis dan optimal.

Hal yang berbeda akan terjadi jika jumlah penularan sudah semakin banyak. Selain tidak seimbangnya jumlah tenaga medis, fasilitas yang tersedia pun bisa jadi tidak cukup. Akibatnya, wabah semakin menyebar, jumlah kematian juga banyak.

Semua orang pasti tidak menginginkan hal itu.

Meskipun demikian, karena perbedaan pandangan, media sosial kini sangat ramai. Ada yang tidak begitu puas dengan pemberitaan dari pihak berwenang sebagai pintu informasi utama. Ada yang menganggapnya ditutup-tutupi dengan tujuan menghindari kepanikan. Padahal, masyarakat membutuhkan data dan informasi yang valid supaya bebas dari rasa khawatir dan dapat berjaga-jaga.

Di sisi lain, ada yang mencari keuntungan sendiri dengan menimbun serta menjual lebih mahal benda-benda yang langka di pasaran. Ada pula yang memposting hoax karena ingin memancing di air keruh. Ada pula yang tidak setuju dengan pembatasan karena merasa tidak bebas dan masih berpikir situasi terkendali. Pada situasi seperti ini, bahu-membahu adalah kunci untuk tetap survivve. Saling menolong dan berjaga serta sadar diri untuk tidak menjadi penyebab penularan bagi orang lain.

Jika ini diterapkan, bukan tidak mungkin virus Corona tersebut berhasil ditaklukkan.

Bukan waktunya untuk egois atau mementingkan keinginan diri sendiri pada situasi seperti ini. Yang jelas, masyarakat harus memberikan kesempatan kepada pihak berwenang untuk melakukan tugasnya dengan baik supaya wabah cepat berlalu.

Uncategorized

Jalan Panjang Menuju Pasar Global

Sekilas hal itu terlihat  dari antusiasme para peserta pameran produk lokal UKM yang diadakan Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta pada 24-25 Januari 2020 di Alun-Alun Sewandanan Pakualaman. Dari sejumlah peserta, tak kurang dari 5 stand memamerkan produk ecoprint yang terlihat cantik dan unik, baik dalam bentuk kain, maupun pakaian jadi dan barang lain seperti tas dan sepatu.

Memiliki Komunitas

Ceria menunggu kedatangan pengunjung (dokpri)

Salah satu stand yang terlihat paling meriah adalah milik Erna Herawati. Produk yang dipamerkan cukup banyak, sebagian berupa gamis dan pakaian pria. Ada pula tas dari kulit domba, sepatu, dan dompet. Selain Erna, bersama dengannya ada Asih dan Ummi. Ketiga wanita paruh baya ini tampak tetap ceria meskipun suasana siang itu terasa sangat panas. Diajak berbincang sebentar, seulas kisah menyeruak dari bibir mereka.

Menurut Ummi, di antara mereka, Ernalah yang menjadi “guru” alias koordinator. Ia mengumpulkan para ibu dan mengajarkan mereka teknik ecoprint sembari tetap menjalankan tanggung jawab di rumah tangga.

“Saya biasanya mengerjakan pesanan pada malam hari. Kalau siang, saya cukup sibuk ,” kata Erna. Ummi spontan menanggapi kalau pada malam hari ia justru tidak fokus lagi mengerjakan apa-apa. Karena itu, ia lebih suka melakukan tugasnya pada siang hari.

“Tapi kami punya grup WA. Jadi, kami bisa koordinasi di sana saat mengerjakan pesanan kain di rumah masing-masing. Jadwal bertemunya tidak pasti, sebisanya saja,” lanjut Erna.

Ditanya mengenai situasi pada hari pertama pameran, Erna dan Ummi tersenyum lebar. “Tadi ada yang ada yang datang ke sini dan membeli pakaian.”

Tampak bahwa UKM yang dikelola Erna dkk. sudah cukup stabil. Adanya pihak penyangga berupa komunitas yang solid menjadi alasan bagi mereka untuk tetap berkarya. Semangat dan antusiasme yang dirasakan–meskipun di usia menjelang senja–tampak tidak luruh. Bahkan, tiap pencapaian seperti menjadi momen yang menggembirakan.

Seperti yang dilaporkan Erna kepada temannya, Asih, “Bajumu saya jual Rp400.000.” Asih hanya tersipu. “Dia ini serba bisa. Bikin kain ecoprint bisa, menjahit bisa. Paket lengkap.”  Ini adalah momen yang luar biasa bagi para wanita yang bukan lagi di usia produktif.

Memproduksi Pewarna Kain

Botol berisi cairan pewarna alami yang diproduksi Musarni (dokpri)

Berada di sebelah stand Erna, ada Musarni. Wanita dengan postur tinggi berkacamata ini menyambut semringah ketika saya berkunjung ke standnya.

“Halo, Mbak. Rumahnya di mana?” sapanya ramah. Saat diminta untuk berbincang sejenak, Musarni dengan penuh semangat menjelaskan panjang lebar usaha yang sedang digelutinya saat ini.

“Saya sebenarnya baru satu bulan membuat kain ecoprint. Sebelumnya, saya bisnis membuat akrilik. Ini tadi malam, saya baru saja membuat ini,” tunjuknya pada selendang yang tersampir di meja. Sejumlah  kain lainnya juga terlihat menggantung di kiri kanan stand. Warna-warnanya sungguh memukau.

Selain itu, hal menarik yang terlihat dari stand Musarni adalah sejumlah botol berisi cairan gelap. Di tutup botol, ada tulisan yang menandakan isinya, seperti secang, bunga telang, dan sebagainya.

“Selain membuat kain, saya ingin fokus juga membuat pewarna dari alam. Kadang-kadang, orang merasa repot kalau harus membuat pewarna sendiri. Prosesnya memang tidak mudah. Bahan dasarnya pun ada yang masih jarang. Seperti bunga telang, saya kumpulkan dari mana-mana. Ke depan, saya ingin membuatnya dalam kemasan yang lebih bagus. Jadi, orang-orang bisa pesan ke saya kalau ada yang mau membuat ecoprint.”

Sepaket dengan itu, Musarni mengatakan bahwa ia sangat berharap bisa berbagi ilmu dengan orang lain yang berminat untuk mempelajari ecoprint. Meskipun baru saja terjun ke bidang ini, ia telah mempelajari sejumlah teknik mewarnai.

Sembari bercakap-cakap, dua pengunjung datang ke stand pameran karena tertarik dengan botol-botol yang terpampang di atas meja. Musarni menjelaskan sekali lagi dan tak dinyana si pengunjung sangat antusias. “Wah, saya sangat ingin belajar membuat ecoprint,” cetusnya.

Musarni tak ayal menyemangati, “Ayo, Bu! Seru kok. Saya bisa ngajarin nanti. Tidak perlu bayar. Prinsip saya, berbagi ilmu itu pantang mengambil untung.” Peserta yang ingin belajar hanya perlu membeli kain dan pewarna saja.

Selanjutnya, ia bercerita tentang eksperimen yang sedang dilakukannya. Salah satunya terhadap selendang yang baru saja diproduksinya. “Lihat, ini adalah daun mawar, ini daun jati, ini ada banyak daun-daun lain yang saya pakai. Tidak semua memang bisa digunakan. Namun, kita harus berani coba-coba untuk mengetahui hasilnya. Waktu saya coba kemarin dan saya posting di grup WA, semua orang penasaran dengan hasilnya. Itulah uniknya melakukan teknik ecoprint, kita pasti surprise dengan hasilnya.”

Menurut Musarni, selama ini pembelinya adalah teman-teman dekat. Mereka memesan melalui Facebook atau kalau bertemu langsung. Musarni tampak bersemangat, bahkan ingin menularkan keasyikannya tersebut kepada orang lain.

Memendam Harapan

Wahyu menyimak penjelasan dari Diskop mengenai branding (dokpri)

Di stand yang lain, saya bertemu dengan seorang wanita yang sedang menyantap makan siang. Ia tampak sendiri. Standnya tidak terlalu ramai dengan produk. Hanya ada sejumlah kaos dan kain yang tergeletak dalam bungkusan di meja.

Dengan ramah, ia menyilakan saya untuk duduk. Namanya Wahyu Sriningsih. Usianya 45 tahun. Meskipun begitu, perawakannya mungil. Suaranya pun sangat lembut. Ia bercerita, tadi berangkat sendiri ke pameran ini. Ia hanya membawa sejumlah barang, lainnya ditinggal di rumah. Bukan ecoprint, tetapi kain jumputan yang menjadi usahanya kini.

“Saya belajar membuat kain ini dari LPK Arimbi. Saya belajar 3 tahun yang lalu. Sebenarnya, waktu itu saya belajar menjahit, lalu ada pelajaran tambahan teknik mewarnai kain. Ya, saya ikut saja. Meskipun pengerjaannya kadang sesuai mood saja. Utamanya, saya memang menjahit baju.”

Menurut Wahyu, selama ini ia terkendala modal. Membuat kain tidak mudah karena ia harus membeli kain terlebih dahulu, baru kemudian memasarkannya untuk mengganti modal dan mendapatkan untung. Sementara itu, ia belum lihai mengurus keuangan usaha, yang seharusnya terpisah dengan keuangan rumah tangga, “Selama ini masih tercampur,” ujarnya sambil tertawa.

Selain menjahit, ia dan suaminya yang mengalami kondisi kekurangan penglihatan lebih mengandalkan hasil panen. “Suami saya pekerjaannya mepeh gabah (menjemur padi),” jelasnya. Meskipun terlihat kurang antusias pada pameran kali ini, Wahyu tampak memendam harapan untuk bisa mengembangkan bisnis membuat kain dengan berbagai teknik. Hal ini tampak dari pengetahuan mendalam tentang teknik pewarnaan kain jumputan. Apalagi, keahlian menjahit yang dimilikinya bisa menjadi paket lengkap untuk memproduksi karya yang berdaya saing.

Stand terakhir yang saya kunjungi adalah milik Rosalia Putri. Sebenarnya, stand ini kosong, tetapi saya tertarik dengan tote bag berwarna kombinasi merah muda yang tersampir di rak. Menurut salah seorang peserta, Rosalia sedang pergi sebentar. Rosalia membawa banyak contoh produk dan harganya pun terjangkau. Setelah melihat-lihat, saya putuskan untuk menghubunginya melalui kontak WA. Rupanya, ia sedang menghadiri rapat di Balaikota. Namun, ia memperbolehkan saya untuk membeli produknya dan menitipkan uangnya kepada teman sebelahnya sembari berterima kasih karena dagangannya dilarisi. Karena kadung tertarik, saya pun tak menunggu lama dan membungkus sebuah tote bag cantik yang unik.

Tote bag favorit saya dari bahan kain buatan sendiri (dokpri)

Di pameran ini, tiap stand diisi oleh satu hingga dua peserta. Ada yang membawa banyak properti, tetapi ada pula yang tidak. Sebagian terlihat antusias mengikuti program dari Diskop dengan tujuan memperkenalkan brandnya kepada masyarakat luas. Meskipun demikian, ada pula yang mengeluh karena lokasi tersebut tidak terlalu ramai pengunjung, berbeda ketika dilaksanakan di Malioboro beberapa waktu lalu.

Kesimpulan saya dari pertemuan siang itu adalah bahwa masih ada jalan panjang yang harus ditempuh oleh pelaku UKM untuk menghasilkan produk yang berdaya saing. Adanya komunitas dan sinergi dengan pihak lain terbukti dapat menjaga api semangat mereka sehingga menghasilkan produk yang kompetitif. Pendampingan dalam hal pengelolaan bisnis dan keuangan usaha juga masih sangat dibutuhkan. Selain itu, pengadaan modal tak kalah penting untuk membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis ke tingkat lebih lanjut, bahkan hingga pasar global.

Pameran berlangsung 2 hari dari 24-25 Januari 2020 (dokpri)
Uncategorized

BI Netifest: Kesempatan Sekaligus Dilema Bagi Ibu

Memutuskan untuk mengambil sebuah kesempatan memang tidak mudah! Biasanya banyak dilema yang harus dihadapi.

Itulah yang saya rasakan ketika menerima kabar tengah malam itu. Menjadi salah satu finalis blog competition yang diadakan Bank Indonesia. Nggak nyangka! Bahkan, udah lupa aja sama lomba ini. Jadi, ketika pengumuman, rasanya antara takjub, bahagia, sekaligus bingung. Rasanya mustahil bakal bisa memenuhi undangan ke Jakarta, apalagi sampai 3 hari. Selama ini, saya, suami, dan anak ibarat three musketeer yang tak terpisahkan.

Persiapan Sebelum Berangkat

Hal pertama yang saya lakukan setelah mendengar kabar ini adalah: bicara dengan suami. Tentu tanpa ekspektasi. Pokoknya ngabarin aja dulu kalau begini kondisinya. Perlu ikut atau nggak. Sekaligus cari solusi untuk kendalanya. Proses ini panjang dan untungnya saya bisa santai aja. Boleh ikut atau nggak, ikhlas!

Setelah beberapa hari, kami sampai pada kesimpulan: saya berangkat! Yes! Pertimbangannya, suami bisa bantu menghandle anak. Anak bisa belajar pisah dengan  ibu. Ibu bisa me time sekaligus menimba ilmu.

Selanjutnya, kami pun memulai persiapan. Jujur aja, agak ribet karena kondisi saat ini. Tapi, coba dijalani dulu. Pantang menyerah.

Pertama, pastikan anak sehat dan senang selama ditinggal ibu. Jadi, kami sounding berkali-kali supaya dia nggak kaget. Ceritanya harus sama supaya dia ingat dan punya “harapan” kalau ibu pasti bakal pulang.

Kedua, nyari penginapan sebelum hari keberangkatan. Nasib yang punya rumah jauh dari peradaban ya gini. Ojol pun enggan nyamperin. Jadinya, kami harus cari penginapan terdekat bandara supaya saya bisa berangkat sendiri dengan ojol. Suami tetap jaga anak. Untungnya sih kami udah langganan Traveloka. Dan punya penginapan favorit juga selama ini. Tinggal pesan, bayar, beres.

Ketiga, rute yang harus saya jalani. Iya, saya beberapa kali ke Jakarta, tapi dijemput di bandara. Enaklah. Besok saya harus cari cara sendiri supaya sampai ke hotel. Udah tanya-tanya ke teman, belum puas. Beruntungnya lagi, saya akhirnya bareng Mbak Ririe, salah satu finalis juga dari Jogja. Senang pastinya karena punya teman bareng.

Nah, pulangnya saya lewat YIA, bandara baru di Jogja. Hmmm. Sulit lagi nih. Pasalnya transportasi dari dan ke bandara ini masih belum memadai dan familier apalagi yang belum pernah ke sana. Informasi yang dari yang saya himpun dari teman, ada shuttle bus dari Bandara YIA ke Stasiun Wojo. Tarifnya Rp20.000. Dari Stasiun Wojo ke area kota bisa menggunakan kereta api Bandara YIA dengan tarif Rp15.000. Supaya praktis, saya langsung beli tiket dengan jadwal yang kira-kira sesuai dengan waktu tiba di YIA. Pesan di aplikasi KAI dan bayar dengan Link Aja. Mudah banget, guys!

Perjalanan ke Jakarta

Pagi itu, saya berangkat dengan sedikit ragu. Si kecil yang terbangun karena mau pipis merasa heran. “Ibuk kok berangkat kerjanya malem?” Bener juga. Lalu saya disuruh masuk lagi. Untungnya, dia nggak nangis saat saya benar-benar berangkat. Fyuh! Kalau nggak, bisa kepikiran sepanjang perjalanan.

Senang karena perjalanan di pesawar sangat lancar. Baru tahu kalau entertainment berupa layar untuk menonton di Batik Air sekarang udah nggak ada. Dulunya pernah ada, sekitar 5 atau 6 tahun lalu. Sekarang, kita bisa buka langsung dari ponsel dengan menyambungkan pada.WiFi pesawat. Di sini ada film, games, dan hiburan lain.

Tiba di Jakarta, cuaca masih cerah. Saya menunggu Mbak Ririe 1-2 jam sebelum akhirnya kami ketemu. Meskipun pertama kali, rasanya sudah akrab. Kami memutuskan untuk menggunakan layanan jasa Grab dari Bandara. Nggak perlu keluar area bandara untuk naik karena tersedia titik penjemputan.

Saat driver mulai menjalankan kendaraan, kami diberitahu dulu bahwa akan ada biaya tambahan yang harus dibayar, mulai dari parkir hingga tol. Di situ saya sadar, iya, ini Jakarta, bukan Jogja hehehe. Sekitar 20-30 menit, kami tiba di Hotel Aryaduta dan langsung mengikuti acara.

Menambah Wawasan

Ada banyak hal menarik yang bisa saya pelajari setelah mengikuti acara seharian di sini. Awalnya, pengenalan QRIS dan visi pembayaran Bank Indonesia. Selanjutnya, materi jurnalistik dari Metro TV. Terakhir, materi membuat konten dari Mas Nurulloh dari Kompasiana. Bukan hanya mendapatkan ilmu dan wawasan baru, tetapi pembelajaran ini juga memberikan insight dan ide -ide segar yang siap untuk dieksekusi setelah pulang nanti. Semangat pun jadi tambah berkobar

Motivasi lainnya yang tersembunyi adalah mengenal lebih banyak blogger yang selama ini hanya saya kenal di dunia maya. Ada Mbak Dian Nafi dan Mbak Arda Sitepu yang selama ini telah populer namanya di mana-mana. Nggak terlewatkan, saya pun mengajak mereka foto bareng sebagai kenang-kenangan. Kapan lagi ya kan?

Selain itu, tentu saya ingin ambil peran dalam memberikan influence maupun informasi valid dan tepercaya bagi para netizen tentang QRIS dan metode pembayaran QR secara umum. Gimana, cukup mulia bukan? Nah, tunggu cerita saya selanjutnya mengenai hari kedua BI Netifest di sini yak! See you!

Uncategorized

Siap Beraktivitas Lebih Cepat Pasca Operasi dengan Melakukan Proses Pemulihan yang Tepat

Pengalaman operasi yang mendebarkan– Photo by Piron Guillaume on Unsplash

Sebelum siap beraktivitas kembali secara normal, Anda yang baru saja melahirkan melalui operasi caesar perlu melakukan proses pemulihan terlebih dahulu. Ya, pasca operasi Anda akan merasakan kondisi yang tidak nyaman mulai dari luka operasi yang belum sepenuhnya kering sampai rasa mual setelah menjalani operasi.

Mengatasi rasa mual pasca operasi perlu dilakukan secara khusus agar Anda tetap bisa mengonsumsi makanan dengan normal. Ada beberapa tips yang bisa Anda jalani agar dapat meredakan rasa mual tersebut. Penasaran dengan tips-tips tersebut? Klik link berikut www.goapotik.com/promo/obat-muntah-setelah-operasi lebih dulu ya untuk mendapatkan penawaran menarik dari goapotik.

Konsumsi obat pereda mual

Pasca operasi caesar, seorang ibu akan merasakan beragam rasa sakit. Mulai dari luka bekas operasi yang belum sepenuhnya sembuh sampai rasa mual yang luar biasa dahsyat. Saat rasa mual tersebut tiba, maka konsumsi obat pereda mual bisa menjadi cara yang tepat.

Obat pereda mual dapat membuat sistem pencernaan dalam tubuh Anda akan terasa lebih nyaman dibanding sebelumnya. Obat ini bekerja dengan cara mengurangi sensasi mual dan meminimalisir risiko dehidrasi karena kekurangan cairan. Sebelum menggunakan obat pereda mual, sebaiknya Anda menayakan ke dokter dulu mengenai dosis yang diperbolehkan. Obat pereda mual bisa Anda dapatkan dengan mudah melalui Go Apotik.

Oksigen

Rasa tidak nyaman
Photo by Kat Jayne from Pexels

Mual dan muntah yang dialami setelah operasi akan membuat Anda merasa tidak nyaman. Seperti halnya saat mabun darat, Anda perlu membuat sistem pencernaan terasa lebih nyaman agar mual dan muntah tidak terulangi kembali. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni dengan menambah pasokan oksigen untuk tubuh.

Pasokan oksigen bisa membuat pernapasan Anda lebih lega dan akan membuat sistem pencernaan jadi lebih nyaman. Apabila saat mual dan muntah Anda membutuhkan tambahan oksigen, jangan ragu untuk meminta kepada perawat oksigen tambahan. Oksigen tersebut nantinya akan membantu mengurangi rasa mual sekaligus memperlancar sistem kerja organ dalam tubuh Anda.

Itulah dua tips yang bisa Anda lakukan agar mual pasca operasi bisa mereda dengan cepat. Selalu terapkan pola hidup sehat agar tubuh terhindar dari penyakit dengan membaca info kesehatan dari sumber gue sehat secara rutin serta mempersiapkan obat pilek rhinos dari goapotik di rumah Anda. Semoga bermanfaat.

Uncategorized

Review GoMassage: Nikmatnya Pijat di Kantor Saat Istirahat

Dengan Mbak Sitha, sebelum mulai terapi

Beberapa hari terakhir, badan rasanya remuk banget. Bahu sebelah kiri terasa berat. Bagian punggung juga pegel kayak baru ngangkat beban ratusan kilo. Biasanya sih saya biarin aja. Mau pijet, takut. Masalahnya, nggak kebiasaan. Bahkan, kerokan aja bisa dihitung dengan jari. Dulu–waktu masih single–saya bela-belain body spa ke salon. Ini nggak sombong, lo. Dulu kita juga laskar pencari diskon. Ada tuh salon yang kasih paket-paket khusus untuk berempat atau berdua. Harganya tentu lebih miring. Kualitasnya lumayan juga.

Nah, sekarang berbeda. Masalahnya, saya nggak punya waktu sebanyak dulu untuk mampir ke salon. Dulu, paket body spa gitu minimal 4 jam. Sebagai pekerja yang terikat mulai pukul 8-16 dan jemput anak setelahnya, nggak memungkinkan di weekday untuk melakukan hal beginian. Mau ambil waktu pada akhir pekan pun rada males karena you knowlah mending kumpul bareng keluarga. Apalagi rumah saya jauh dari peradaban. Lengkap sudah rasa malesnya membuncah-buncah.

Jadi, kalau dalam kondisi nggak enak badan kayak gini, solusinya hanya: biarin aja! Ntar juga sembuh sendiri. Maksimal dua sampe tiga harilah. Tapi, selama ituuu.. rasa pegel jelas bikin nggak mood. Efeknya bisa ke mana-mana, mulai dari marah-marah sampe nggak semangat kerja.

Nyobain GoMassage

Mulai menikmati pijetan Mbak Sitha

Bukan kebetulan nih, saya lihat iklannya GoMassage di media sosial. Salah seorang teman baru saja pake layanan pijat profesional dari Golife ini. Pengalamannya cukup menyenangkan sehingga saya jadi pengen ikutan nyoba. Saya pun langsung cuss install aplikasinya. Pembayarannya pakai Gopay, sama seperti layanan transportasi Gojek dan Gocar.

Okelah, sepertinya menarik nih.. Review GoMassage yang saya nikmati itu saya rangkum dalam ulasan singkat berikut.

Hal pertama yang saya lakukan tentu ngisi saldo Gopay dulu. Biar praktis ya, gaes. Hehe.

Selanjutnya, saya coba order. Ada berbagai kategori layanan yang tersedia, manteman. Mulai dari Body Rejuvenation, Reflexology, dan Beauty Massage. Tiap kategori ada pembagiannya lagi. Untuk Body Rejuvenation misalnya, ada Body Massage, Express Massage, dan sebagainya. Bahkan, ada layanan kerokan jugaaa. Waaw.

Rencananya, saya pesan layanan ini saat di kantor aja. Kenapa? Alasan utamanya sih karena saya tinggalnya di daerah perbatasan Jogja dan Jawa Tengah, agak pelosok gitu deh. Ceritanya, saya pernah nyobain order dari rumah, eh susah dapat terapisnya. Mungkin juga karena bukan wilayah layanannya ya.

Alasan lainnya, saya bisa nyobain ini di kantor pas jam istirahat. Jadi, lumayan lebih hemat waktu. Kalau di rumah, belum tentu emak ini bisa tenang karena ada si kecil yang pasti bakal kepo ini itu. Lagipula, saya mau nyobain dulu karena memang nggak terbiasa dipijet. Apakah bisa nyaman atau nggak? Apakah ngefek atau nggak? Dan sebagainya.

Saat order pertama, terapis langsung ngechat. Minta dicancel aja. Wah, saya agak kecewa. Dia langsung menjelaskan alasannya. Ternyata karena jaraknya cukup jauh dari tempat kerja saya. Iya juga sih. Kasihan. Akhirnya, dengan berat hati, saya batalkan dan cari terapis lain.

Selanjutnya, terapis yang kedua adalah Mbak Sitha. Saat itu juga, Mbak Sitha langsung WA. Saya udah sempat deg-degan tuh. Takut dibatalin lagi. Eh ternyata Mbak Sitha hanya ingin memastikan waktu dan tempatnya. Okelah, karena saya pesan malam sebelumnya, saya maklum aja. Biar pasti juga. Untungnya, komunikasi lancar sesuai yang saya harapkan.

Sebelum pukul 12 siang, Mbak Sitha sudah kontak lagi. Katanya, ia otw dari rumah yang cukup jauh dari lokasi kantor saya. Pas jam 12, waktu janjian kami, Mbak Sitha datang. Saya ajak dia ke suatu ruangan kosong yang cukup nyaman. Di sini, Mbak Sitha mulai beraksi.

Pertama-tama, Mbak Sitha mulai pijet di bagian bahu. Rasanya.. langsung gimana ya.. hahahaha. Tekanannya penuh tenaga. Karena saya nggak terbiasa, jadinya cukup bikin meringis hihi. Saya minta untuk dikurangi dikit aja hahaha. Mbak Sitha fleksibel sih, dia pun menyesuaikan sambil bilang, “Ini masih standar lo, Mbak… ” Hehehe, maap Mbak, memang saya yang nggak tahan dipijet kayak gini.

Selanjutnya, Mbak Sitha pijet di bagian leher, kepala, punggung, dan tangan. Semua dilakukan dalam waktu 30 menit. Nggak terasa lo, yakin deh. Soalnya, kami juga sambil ngobrol. Ya ampunn seru banget obrolannya. Saya aja yang orangnya introver gitu langsung bisa cair. Kami ngobrol kayak teman yang udah lama nggak ketemu. Sekali-kali sih sambil meringis hehehe.

Pengalaman Menyenangkan

Wajah lega dan senang setelah sesi terapi selesai

Ada banyakc yang saya dapatkan dari Mbak Sitha. Termasuk di antaranya pengalaman kurang menyenangkan yang dialaminya. Duh, suka nggak ngerti deh sama orang-orang yang SELALU mengasosiasikan keberadaan terapis dengan hal-hal yang berbau nggak bener. Mbak Sitha bilang gini, “Sedih Mbak. Padahal kita kan juga cuma kerja cari uang untuk keluarga.” Ia bilang gini pas cerita soal pengalaman nggak enaknya itu.

Saya tertegun aja sih. Iya, profesi ini rentan. Apalagi karena sistemnya dipanggil ke rumah atau lokasi pemesan. Namun, Mbak Sitha mengaku terus belajar, juga dari para seniornya. Bagaimana cara menangani situasi seperti ini dengan hati dan kepala yang dingin. Dari aplikasi  juga cukup mendukung. Salah satunya dengan adanya fitur penilaian dari terapis kepada customer. Setidaknya, terapis memiliki ruang untuk menyampaikan ketidakpuasannya terhadap perilaku customer.

Bukan hal-hal yang berbau nggak enak, Mbak Sitha juga bercerita tentang para customernya yang baik hati. Ada langganan yang sudah akrab banget. Saat menceritakan itu, mata Mbak Sitha berseri-seri. Sentuhan kebaikan seperti ini memang sanggup menciptakan kebahagiaan.

Nah, bagi saya sendiri, merasa beruntung karena bisa mendapatkan kesempatan untuk refreshing sejenak. Ketika waktu terbatas dan situasinya tidak memungkinkan, ternyata masih ada jalan untuk pijet. Tinggal instal aplikasinya, order via golife sesuai waktu dan tempat yang diinginkan, lalu nikmati enaknya dipijet oleh terapis berpengalaman dan ahli.

Ah, rasanya setelah ini saya jadi pengen tidur nyenyak nih. Terima kasih Mbak Sitha. Terima kasih GoLife.

Uncategorized

Insto Dry Eyes, Senjata Ampuh Agar Tetap Produktif

Aktivitas terganggu karena mata sakit

Sekitar 3 minggu yang lalu, saya mengalami konjungtivitis akut. Serem banget! Hampir seminggu saya nggak bisa melihat dengan jelas. Buram semuanya. Kena angin, perih banget. Jangankan bekerja, buka mata aja, berair terus. Alhasil, saya benar-benar off dari segala aktivitas (termasuk ke kantor, mengerjakan tugas rumah tangga, dan scrolling media sosial).  Rasanya menderita banget deh. Bahkan, saya sampai trauma tiap melihat ada semburat merah di ujung mata. Jangan-jangaann.. Ups, jangan lagi deh! Kapok. Bukan hanya karena memang benar-benar sakit, tapi karena rutinitas harian sangat terganggu.

Mengalami masalah kesehatan itu, saya baru benar-benar menyadari betapa mata–seperti halnya bagian tubuh lain–memiliki fungsi yang sangat penting. Sekali sakit, dampaknya dirasakan oleh seluruh tubuh. Bahkan juga bisa merugikan orang-orang terdekat. Kita menjadi tidak produktif. Kita kehilangan banyak kesempatan berharga. Kita jadi suka marah-marah alias sensi kalau diganggu dikit. Beneran, nyesel banget kemarin karena sakit mata sempat mengubah saya menjadi pemarah.

PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN MATA

Kata orang bijak, setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Itu benar. Mungkin banyak yang tidak saya sadari, tetapi setidaknya saya memahami betapa pentingnya menjaga kesehatan mata. Betapa hidup penuh tantangan jika tanpa penglihatan. Salut dan kagum sama orang-orang yang masih tetap semangat bertahan hidup meskipun mengalami disabilitas pada fungsi mata.

Saya juga mendapat banyak pengetahuan baru soal menjaga kesehatan mata ketika bertemu dokter spesialis beberapa waktu lalu. Beliau mengatakan bahwa masih ada orang yang kerap kurang peduli terhadap kesehatan mata dan akhirnya menjadi parah. Ada setidaknya 3 gejala yang sering terjadi pada mata dan mudah diabaikan.

Pertama, mata sepet. Tahu nggak penyebab mata sepet itu apa? Ternyata, salah satunya karena kita terlalu sering menatap layar ponsel. Yuk, kita renungkan, berapa lama dalam sehari  menggunakan ponsel? Menurut hasil survei Google Indonesia di 5 kota besar di Indonesia pada 2014-2015 lalu, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu sebanyak 5,5 jam per hari menggunakan ponsel. Wah! Bayangkan betapa sepetnya mata setelah itu.

Saya sendiri menggunakan ponsel hampir setiap waktu. Untuk mengurus pekerjaan. Untuk berkomunikasi dengan suami, rekan kerja, dan teman. Untuk membaca buku digital. Untuk menonton film, kadang-kadang. Hampir semua aktivitas harian menggunakan ponsel.

Rutinitas harian di balik layar komputer

Kedua, mata pegel. Kondisi mata pegel terjadi ketika kita terlalu lama menatap layar komputer. Bagi para pekerja yang berkutat di belakang meja sepanjang hari, ini adalah risiko yang harus dihadapi. Jika tidak pandai-pandai mencari waktu istirahat, kemungkinan mata akan terasa sangat pegel di pengujung hari.

Ketiga, mata perih. Mata bisa terasa perih apabila seseorang berada di ruangan ber-AC terlalu lama. Lagi-lagi, siapa pun rentan mengalami kondisi ini. Dampaknya tentu sangat tidak mengenakkan.

BAHAYA MATA KERING

Ketiga gejala tersebut merupakan gejala mata kering yang tidak boleh diabaikan. Mata kering disebut-sebut berhubungan dengan blepharitis. Kondisi ini dapat menimbulkan peradangan pada kelopak mata. Blepharitis terjadi karena tersumbatnya kelenjar di antara bulu mata karena kulit kering, kotoran, dan infeksi. Padahal, kelenjar ini dapat memproduksi lapisan minyak yang terdapat pada air mata. Tanpa lapisan minyak, air mata akan cepat menguap karena kering.

Mata yang kering berakibat pada lubrikasi yang tidak optimal. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, bahaya paling menakutkan adalah dapat terjadi kebutaan. Pasalnya, kekeringan rentan menyebabkan terjadinya luka pada bola mata.

***

Naik kendaraan bermotor menyebabkan mata cepat kering

Rutinitas saya setiap hari adalah berkendara selama 30 menit ke kantor. Lalu, menghadap layar komputer sepanjang hari untuk menyelesaikan pekerjaan hari itu. Di sela-sela waktu, saya juga masih membalas pesan WA di ponsel, kadang-kadang nyekrol feed IG kalau bosan, dan sebagainya. Sorenya, saya kembali berkutat di jalan raya. Malam? Apalagi kalau bukan mengisi waktu dengan menonton televisi. Semua kegiatan tersebut rentan menyebabkan mata kering.

Awalnya, saya belum tahu kalau rasa sepet, pegel, atau perih pada mata adalah pertanda bahwa mata mengalami kekeringan. Saya kita, mata lelah itu akan sembuh sendiri kalau dibawa tidur. Biasanya, mata hanya dikucek sebentar sambil berharap rasa mengganjal segera menghilang. Faktanya tidak semudah itu. Pernah sampai beberapa hari mata terasa kurang nyaman dan konyolnya saya biarkan saja.

Insto Dry Eyes, solusi mata kering

Beruntung, saya akhirnya mengenal Insto Dry Eyes, solusi yang paling efektif untuk mata kering. Insto Dry Eyes berfungsi sebagai air mata buatan yang dapat mengatasi kekeringan pada mata. Insto Dry Eyes juga berguna sebagai pelumas pada mata. Bahkan, hebatnya lagi, tetes mata ini mengandung bahan aktif yang dapat membunuh bakteri. Wuaahh, keren banget, bukan?

Jadi, dengan satu langkah sederhana, kita ternyata bisa mengatasi risiko yang membahayakan mata akibat rutinitas harian. Sekarang, berbekal Insto Dry Eyes, saya bisa mengucapkan selamat tinggal pada mata kering yang mengganggu sehingga dapat lebih produktif sepanjang hari.

Yuk, segera sedia Insto Dry Eyes di dalam tas atau kantong untuk dipergunakan tiap kali diperlukan.

Uncategorized

Srikandi Gali Potensi Diri, Jadi Tiang Penyangga Keluarga

Suasana di acara pameran. Foto: dokpri.

Adalah Rukiyanti, seorang wanita bertubuh mungil dengan raut wajah teduh menyapa ramah saat saya mendekati mejanya. Ceriping pisang berwarna coklat cerah tampak berderet menggoda di depannya. Karena saya dan keluarga menyukai aneka makanan renyah dan kriuk macam keripik ini, saya berniat untuk membelinya.

“Ini berapa, Bu?

“Sepuluh ribu saja, Mbak.”

Saya menimang bungkusan itu. Cukup besar dan berisi. Tanpa ragu, saya mengeluarkan dompet dan mengambil 2 lembar Rp10.000. “Saya beli dua ya, Bu..” Dengan terampil, ia pun memasukkan pesanan saya ke dalam kantong.

 

Ceriping Pisang Bu Rukiyanti

 

Ibu Rukiyanti sedang mengemas produk. Foto: dokpri

Rukiyanti telah memulai bisnis ini sejak lama, bahkan sebelum gempa melanda Jogja. Saat ini, ia menjadi tulang punggung keluarga karena suami sedang sakit dan tidak bisa bekerja. “Tapi, suami saya masih bisa ikut bantu-bantu di rumah,” kata Rukiyanti. Wanita ini bersyukur, ia sempat mengikuti beberapa pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) DIY. Lewat event tersebut, ia bisa mendapatkan ilmu serta teman baru.

“Melalui pameran-pameran seperti ini, saya juga bisa jual produk saya. Sebagian lagi saya titipkan ke toko-toko. Ada juga reseller yang ngambil langsung di rumah, daerah Kweden, Trirenggo, Bantul,” lanjut Rukiyanti. Menurutnya, produk dengan label Criping Pisang Ruky Ngudi Rejeki ini terjamin karena tidak menggunakan minyak goreng curah. “Pisangnya pun pisang kepok kuning.”

Di sebelah meja Rukiyanti, seorang ibu dengan usia yang kira-kira tidak jauh berbeda, menjual beberapa macam produk. Salah satu yang menurutnya paling unggul adalah serundeng kremes. Mengusung label Camikhoo, Ada 2 varian serundeng yang tersedia, yaitu Original dan Pedas. Ada pula Abon Tuna dan Abon Lele. “Ayo dicoba, Mbak. Enak, lo kalau dicampur dengan nasi anget-anget..”

Serundeng kremes dari Camikhoo. Foto: dokpri

Ahh, seketika saya langsung membayangkan kalimat si ibu. Bener juga, nih! Sepiring nasi hangat dengan taburan serundeng lezat, siapa yang bisa menolak? Tanpa pikir panjang, saya pun membeli satu bungkus yang rasa Original. (Di rumah, ketika ide si ibu saya praktikkan, bener rasanya memang maknyus. Harum serundeng benar-benar menggugah selera makan).

Masih belum puas, saya pun melihat-lihat lebih banyak produk kuliner di Pameran Pesta Kuliner Rakyat yang diadakan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta bersama PLUT-KUMKM DI Yogyakarta ini. Di barisan paling ujung, saya disapa oleh seorang ibu. Namanya Rismiyati.

“Mbak, ini ada sirup kunir asem. Enak lo, Mbak! Ayo dicoba.. Ini bagus buat wanita kalau lagi menstruasi. Biar lancar dan tidak sakit,” ujarnya dengan penuh semangat. Saya berhenti sejenak. Selain sirup, ada pula kemasan berukuran sedang. Di bungkusnya tertulis Jahe Secang Instan Herbal Damar.

Kemasan jahe secang. Foto: dokpri
Ibu Rismiyanti sedang menjelaskan keunggulan produknya. Foto: dokpri

“Kalau ini, apa Bu?”

“Oh, ini jahe secang, terbuat dari jahe dan kayu secang. Nanti Mbak bisa lihat saja di Google, apa manfaat kayu secang… Ada banyak khasiatnya bagi kesehatan.”

Rismiyanti pun menjelaskan, kayu secang dikombinasikan dengan jahe supaya rasanya lebih enak. Selain jahe, ada pula bahan cengkeh, serai, dan kayu manis, di dalamnya. Wah, lengkap banget! “Produk ini bisa tahan sampai 4-5 bulan,” kata Rismiyanti.

Wanita ini sudah memulai bisnis membuat jahe secang sejak 6 tahun lalu. Saat itu, ia mendapatkan ide dari Simbok (Ibu) yang belajar dari mahasiswa yang KKN di desa mereka. “Tapi, ibu saya nggak bikin. Dia cuma cerita saja. Dia bilang, ‘Ris, ini ada anak KKN yang ngandani gawe jahe instan. Enak, lo!’ Nah, karena namanya orang tua, biasanya lupa ukuran-ukurannya. Jadi, akhirnya saya harus mencoba sendiri.”

Proses ini tidak mudah. Rismiyanti harus mencoba beberapa kali sampai akhirnya rasa jahe tersebut pas di lidah. “Yang pertama kepedesan, kedua juga masih kepedesan, ketiga malah kurang pedes. Tapi, saya coba terus sampai akhirnya ini jadi.”

Setelah jadi, barulah Rismiyanti berani menawarkan produknya. Biasanya, ibu-ibu yang mengikuti pertemuan PKK memesan setelah ia memberikan pengumuman lewat status WA. Berbagai pelatihan yang dijalaninya dari pihak dinas pun menambah nilai jual pada produknya. “Dulu kan saya cuma pakai plastik yang tipis itu, Mbak. Labelnya juga cuma tulisan, lalu difotokopi. Sekarang, saya lebih berani kalau memasarkan produk saya. Kemasannya pun lebih rapat. Aman dan terjamin.”

Bukan hanya soal kemasan, melalui informasi dari Dinas pula ia bisa mendapatkan No. PIRT. “Karena sudah dibantu dengan pelatihan dan informasi semacam itu, berbisnis menjadi lebih enak. Melalui kegiatan ini, saya juga menjadi lebih happy karena dapat teman, pengalaman, sekaligus rezeki,” tutup Rismiyanti.

Sebelum pulang, tak lupa saya membeli sebungkus Jahe Secang. Rasa dingin akibat hujan yang akhir-akhir ini sering turun sebaiknya harus dihalau dengan kehangatan jahe yang baik untuk kesehatan.

“Oh, iya, cara minumnya gimana nih, Bu?”

“Sesuai selera aja, Mbak. Tapi, supaya nggak kepedesan, untuk satu gelas kecil gini, masukkan 2,5 sendok jahe secang. Segerrr pokoknya..” ujar sang ibu sambil mengacungkan jempol. Baiklah, Bu. Saya akan mencoba sarannya. Tetap semangat untuk mengembangkan bisnis!

Saya juga berharap, dengan dukungan optimal dari pemerintah, para pelaku UKM akan semakin bersemangat menata bisnisnya. Pertama untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Selanjutnya untuk memberi manfaat bagi sesama melalui produknya.

Uncategorized

Pameran Craft and Fashion, Mulai Dari Relasi Sampai Kolaborasi

Suasana di Pameran Produk Craft dan Fashion. Foto: dokpri

Asal semua dijalani dengan senang dan gembira, hasilnya pasti akan luar biasa”, itulah pernyataan salah seorang peserta pameran Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa, yang diadakan di Pyramid, Jl. Parangtritis, Bantul, pada Jumat-Sabtu, 22-23 Maret 2019. Di tempat ini, lebih dari 20 pelaku UKM craft dan fashion mengikuti pameran selama dua hari yang difasilitasi oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta.

Salah seorang peserta pameran yang menarik perhatian adalah Maria Ulfa, owner Mulfa Eco Print. Di atas meja di hadapan Ulfa, kain-kain berwarna pastel dijejerkan berbaris. Tampak pula sebuah name tag sederhana bertuliskan, Bantul Go Green. Produk yang dijual Ulfa adalah batik eco print, baik berupa kain (pakaian jadi), jilbab, maupun produk aksesori wanita seperti tas.

Ibu Ulfa dan batik eco print kreasinya. Foto: dokpri

“Ruang tamu di rumah saya disulap menjadi tempat untuk bekerja,” kata Ulfa sambil tersenyum. Rumahnya sendiri terletak di Sewon, Bantul. Sementara itu, ia membuka lapak setiap hari di Stand Museum Pyramid bersama sejumlah UKM Bantul lainnya. Berbahan dasar kain katun primisima berwarna putih polos, Ulfa menawarkan produk fashion yang sangat unik karena diciptakan dengan menggunakan teknik eco print. Hasilnya? Menarik dan khas banget! Warna-warna alam bernuansa natural dengan motif dedaunan tampak terpampang. “Banyak yang suka dengan warna-warna ini,” ujar Ulfa.

Salah satu produk yang terlihat “wow” adalah sebuah tas mungil berwarna kuning gading. Ternyata, bahan dasar tas ini dari kulit kayu. Ulfa menjelaskan, pada musim-musim tertentu, kulit kayu akan mengelupas. Supaya bermanfaat, kulit kayu dijadikan barang-barang fashion. “Biasanya kan cuma dibakar aja karena kulit kayu termasuk sampah. Tapi, sekarang ada nilai tambahnya.”

Menariknya, produk tas ini bukan buatan Ulfa sendiri, tetapi seorang rekanan UKM di Gunungkidul. “Waktu itu, ada teman yang bilang, ‘Saya minta tolong tas ini di-ecoprint-kan dong.’ Jadi, saya hanya proses eco print aja. Nggak lama sih, cuma dua hari. Kalau bikin produknya memang cukup lama. Nah, setelah jadi, saya juga ikut menjual.” Bukan hanya tas, produk pakaian jadi yang ia bawa pun merupakan hasil kolaborasi dengan rekanan penjahit.

Ia mulai membangun Mulfa Eco Print pada Juli 2018. Pada September 2018, ia sudah memiliki izin usaha. Setelah itu, barulah ia berani untuk mengikuti berbagai bazar yang diselenggarakan di Yogyakarta, baik oleh pemerintah maupun swasta. Menurut Ulfa, ada banyak keuntungan mengikuti kegiatan-kegiatan semacam ini.

“Pertama, saya dapat relasi, yaitu teman-teman sesama pelaku UKM. Ketika kita kenal dengan teman pengusaha, kita kadang-kadang berinisiatif untuk melakukan pengembangan produk. Seperti tas ini, misalnya. Saya sebetulnya nggak pengen bikin tas. Tapi, karena ada yang meminta, saya jadi mikir, ‘Oh iya ya, saya bisa menambah koleksi produk’,” ujar Ulfa. Dari sinilah peluang kolaborasi semakin terbuka lebar.

Selain itu, Ulfa juga rajin mengikuti berbagai pelatihan, yang terakhir adalah dari PLUT-KUMKM DIY. “Saya jadi merasa banyak PR, nih,” kata Ulfa sambil tertawa.

Bpk. Sugeng sedang menata wayang. Foto: dokpri
Wayang buatan Bpk. Sugeng. Foto: dokpri

Pelaku UKM kedua yang mengikuti pameran adalah Sugeng Prayogo yang memproduksi wayang kulit. “Ini adalah suvenir yang paling mendominasi dan sering dipesan sampai ke luar negeri, yang terakhir kemarin dari Norwegia.”

Owner Wahyu “Art” ini memiliki tenaga produksi sebanyak 5 orang. Mereka membantunya untuk membuat wayang di tempat produksi, yaitu rumah Sugeng sendiri di Jl. Parangtritis km 9, Kowen 1, Timbulharjo. Sugeng memulai usaha ini sejak 2009 lalu. Pria yang berasal dari keluarga dalang ini memang memiliki darah seni. “Saya bisa ndalang juga. Tapi, saya lebih cenderung ke pasar globalnya, biar bisa nguri-uri kebudayaan Jawa. Kalau dalang saja, belum tentu laku. Bisnis ini pun lebih menjanjikan.”

Biasanya, Sugeng menawarkan produknya ke pelanggan yang ada di Jakarta. Ia juga menawarkan produknya di mal dan ke pedagang-pedagang. “Ada banyak juga yang meminta modifikasi selain gambar wayang yang paten. Mereka biasanya mengirim gambar lewat email. Pengen seperti ini dan saya buatkan.”

Wayang yang dibuat oleh Sugeng berbahan dasar kulit kerbau. Apabila kena AC atau panas, kulit kerbau lebih kuat dan awet, berbeda dengan kulit sapi. Selain wayang kulit, Sugeng juga memproduksi souvenir seperti kipas, pembatas buku, gantungan kunci, dan sebagainya. Harga kipas yang ditawarkan Sugeng bisa mencapai Rp500.000. “Memang produk ini khusus untuk kalangan premium berkelas. Ada yang membeli untuk cendera mata atau hadiah, ada juga yang untuk dijual kembali.”

 

Selain Mulfa Eco Print dan Wahyu “Art”, produk ketiga yang mengikuti pameran adalah kerajinan tangan kreasi Asri Pamungkas. Produk Asri Pamungkas Fashion & Craft berupa kerajinan tangan yang terbuat dari bahan tissue napkins. Proses pembuatan produk disebut decoupage. Sebelum diolah oleh Asri, bahan dasar produk hanya berupa talenan polos, botol bekas, tas tanpa motif, bahkan sarung pelindung ponsel.

“Jadi, tissue ini nanti dilem di produk dasarnya hingga membentuk pola dan motif yang menarik.” Jika dilihat dengan cermat, motif kreasi Asri sangat cantik dan unik. Bentuknya hampir seperti lukisan yang indah. Soal keawetan pun tidak perlu diragukan. “Ini sudah di-furnish tiga kali, pengeleman pun dilakukan tiga kali. Jadi, kena air pun nggak apa-apa,” ujar Asri.

Lalu, prosesnya berapa lama? “Satu hari bisa, kok. Bahkan, dalam satu hari, saya bisa membuat beberapa produk.” Asri mengaku, ia hanya perlu mengembangkan kreativitas supaya bisa menghasilkan produk yang beda dari yang lain. Asri mulai mengusahakan kerajinan sejak 2 tahun terakhir. Namun, ia baru mulai merambah decoupage sekitar 1 tahun terakhir.

“Saya suka coba-coba membuat aksesori. Awalnya, saya dapat ide dari Youtube. Lalu, saya juga belajar dari teman yang sudah bisa. Kemudian saya kembangkan sendiri. Kendalanya ada di bahan sih. Saya harus membeli bahan secara online. Masalahnya, kalau membeli online, kita nggak bisa milih. Mereka mengirim motifnya random. Saat ini, saya menggunakan dua jenis tissue, ada  yang dari Eropa dan dari Cina.”

Usaha dengan modal awal sekitar 2-3 juta ini bukan hanya dijual secara offline, tetapi juga melalui akun Instagramnya, Gias_Olshop. Sementara itu, sehari-hari Asri membuka lapak di Stand Museum Pyramid, Jl. Parangtritis, Bantul. Asri mengaku, melalui event-event pameran seperti ini, ia dapat memperkenalkan produknya kepada lebih banyak orang. Ia juga mendapatkan banyak teman baru sehingga bisa saling mendukung dalam membesarkan bisnis.

Ulfa, Sugeng, dan Asri adalah sebagian dari peserta pameran kali ini. Meskipun pengunjung pameran pada sore itu belum terlalu membludak, mereka tetap antusias memperkenalkan produknya. Melalui kesempatan ini, mereka dapat mengedukasi pengunjung mengenai keunggulan barang yang mereka jual. Tujuan akhirnya adalah supaya pengunjung berkonversi menjadi pembeli.

Pelaku UKM di Yogyakarta hari ini boleh merasa senang karena ada beragam fasilitas yang ditawarkan oleh pemerintah melalui dinas terkait. Pelaksanaan pameran adalah salah satu strategi untuk mempertemukan pelaku UKM dengan calon pembeli. Oleh karena itu, acara yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi UKM ini dirasakan sangat bermanfaat.

Hanya saja, promosi tentu perlu digencarkan lagi. Lokasi pameran yang bukan berada di dekat pusat kota mungkin menjadi salah satu faktor kurangnya animo masyarakat untuk datang. Dari sisi UKM, produk yang ditawarkan istimewa dan unik, tak kalah dengan produk-produk berlabel internasional. Jadi, sudah saatnya untuk mulai mencintai produk anak negeri. Semoga pemerintah dan pihak terkait juga terus bergandengan tangan untuk mendukung pelaku UKM hingga bisa merambah pasar yang lebih luas.

Uncategorized

Ngeblog Lewat HP, Efektifkah?

Oke, saya lagi mencoba ngeblog lewat smartphone, kira-kira bisa nggak ya?

Sebenarnya soal bisa atau nggak itu pasti BISA! Apa pun yang diusahakan, minimal memberikan pengalaman-jika hasil kelihatan tidak ada.

Sekarang, mengukur efektif atau tidaknya, ini juga relatif.

Contohnya saya nih. Menurut saya efektif karena:

  • Gadget mendukung
  • Mengakses PC waktunya terbatas

Nah 2 alasan inilah yang membuat metode ini terasa efektif. Meskipun, bisa dipastikan kalau kurang produktif. Bayangin aja harus nulis kata demi kata dengan menekan tombol satu persatu. Beda kalau pakai keyboard, menulis bisa lebih cepat. Ada typo pun mudah untuk diperbaiki.

 

Kalau kamu bagaimana? Pernah ngeblog pakai HP?