Uncategorized

Insto Dry Eyes, Senjata Ampuh Agar Tetap Produktif

Aktivitas terganggu karena mata sakit

Sekitar 3 minggu yang lalu, saya mengalami konjungtivitis akut. Serem banget! Hampir seminggu saya nggak bisa melihat dengan jelas. Buram semuanya. Kena angin, perih banget. Jangankan bekerja, buka mata aja, berair terus. Alhasil, saya benar-benar off dari segala aktivitas (termasuk ke kantor, mengerjakan tugas rumah tangga, dan scrolling media sosial).  Rasanya menderita banget deh. Bahkan, saya sampai trauma tiap melihat ada semburat merah di ujung mata. Jangan-jangaann.. Ups, jangan lagi deh! Kapok. Bukan hanya karena memang benar-benar sakit, tapi karena rutinitas harian sangat terganggu.

Mengalami masalah kesehatan itu, saya baru benar-benar menyadari betapa mata–seperti halnya bagian tubuh lain–memiliki fungsi yang sangat penting. Sekali sakit, dampaknya dirasakan oleh seluruh tubuh. Bahkan juga bisa merugikan orang-orang terdekat. Kita menjadi tidak produktif. Kita kehilangan banyak kesempatan berharga. Kita jadi suka marah-marah alias sensi kalau diganggu dikit. Beneran, nyesel banget kemarin karena sakit mata sempat mengubah saya menjadi pemarah.

PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN MATA

Kata orang bijak, setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Itu benar. Mungkin banyak yang tidak saya sadari, tetapi setidaknya saya memahami betapa pentingnya menjaga kesehatan mata. Betapa hidup penuh tantangan jika tanpa penglihatan. Salut dan kagum sama orang-orang yang masih tetap semangat bertahan hidup meskipun mengalami disabilitas pada fungsi mata.

Saya juga mendapat banyak pengetahuan baru soal menjaga kesehatan mata ketika bertemu dokter spesialis beberapa waktu lalu. Beliau mengatakan bahwa masih ada orang yang kerap kurang peduli terhadap kesehatan mata dan akhirnya menjadi parah. Ada setidaknya 3 gejala yang sering terjadi pada mata dan mudah diabaikan.

Pertama, mata sepet. Tahu nggak penyebab mata sepet itu apa? Ternyata, salah satunya karena kita terlalu sering menatap layar ponsel. Yuk, kita renungkan, berapa lama dalam sehari  menggunakan ponsel? Menurut hasil survei Google Indonesia di 5 kota besar di Indonesia pada 2014-2015 lalu, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu sebanyak 5,5 jam per hari menggunakan ponsel. Wah! Bayangkan betapa sepetnya mata setelah itu.

Saya sendiri menggunakan ponsel hampir setiap waktu. Untuk mengurus pekerjaan. Untuk berkomunikasi dengan suami, rekan kerja, dan teman. Untuk membaca buku digital. Untuk menonton film, kadang-kadang. Hampir semua aktivitas harian menggunakan ponsel.

Rutinitas harian di balik layar komputer

Kedua, mata pegel. Kondisi mata pegel terjadi ketika kita terlalu lama menatap layar komputer. Bagi para pekerja yang berkutat di belakang meja sepanjang hari, ini adalah risiko yang harus dihadapi. Jika tidak pandai-pandai mencari waktu istirahat, kemungkinan mata akan terasa sangat pegel di pengujung hari.

Ketiga, mata perih. Mata bisa terasa perih apabila seseorang berada di ruangan ber-AC terlalu lama. Lagi-lagi, siapa pun rentan mengalami kondisi ini. Dampaknya tentu sangat tidak mengenakkan.

BAHAYA MATA KERING

Ketiga gejala tersebut merupakan gejala mata kering yang tidak boleh diabaikan. Mata kering disebut-sebut berhubungan dengan blepharitis. Kondisi ini dapat menimbulkan peradangan pada kelopak mata. Blepharitis terjadi karena tersumbatnya kelenjar di antara bulu mata karena kulit kering, kotoran, dan infeksi. Padahal, kelenjar ini dapat memproduksi lapisan minyak yang terdapat pada air mata. Tanpa lapisan minyak, air mata akan cepat menguap karena kering.

Mata yang kering berakibat pada lubrikasi yang tidak optimal. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, bahaya paling menakutkan adalah dapat terjadi kebutaan. Pasalnya, kekeringan rentan menyebabkan terjadinya luka pada bola mata.

***

Naik kendaraan bermotor menyebabkan mata cepat kering

Rutinitas saya setiap hari adalah berkendara selama 30 menit ke kantor. Lalu, menghadap layar komputer sepanjang hari untuk menyelesaikan pekerjaan hari itu. Di sela-sela waktu, saya juga masih membalas pesan WA di ponsel, kadang-kadang nyekrol feed IG kalau bosan, dan sebagainya. Sorenya, saya kembali berkutat di jalan raya. Malam? Apalagi kalau bukan mengisi waktu dengan menonton televisi. Semua kegiatan tersebut rentan menyebabkan mata kering.

Awalnya, saya belum tahu kalau rasa sepet, pegel, atau perih pada mata adalah pertanda bahwa mata mengalami kekeringan. Saya kita, mata lelah itu akan sembuh sendiri kalau dibawa tidur. Biasanya, mata hanya dikucek sebentar sambil berharap rasa mengganjal segera menghilang. Faktanya tidak semudah itu. Pernah sampai beberapa hari mata terasa kurang nyaman dan konyolnya saya biarkan saja.

Insto Dry Eyes, solusi mata kering

Beruntung, saya akhirnya mengenal Insto Dry Eyes, solusi yang paling efektif untuk mata kering. Insto Dry Eyes berfungsi sebagai air mata buatan yang dapat mengatasi kekeringan pada mata. Insto Dry Eyes juga berguna sebagai pelumas pada mata. Bahkan, hebatnya lagi, tetes mata ini mengandung bahan aktif yang dapat membunuh bakteri. Wuaahh, keren banget, bukan?

Jadi, dengan satu langkah sederhana, kita ternyata bisa mengatasi risiko yang membahayakan mata akibat rutinitas harian. Sekarang, berbekal Insto Dry Eyes, saya bisa mengucapkan selamat tinggal pada mata kering yang mengganggu sehingga dapat lebih produktif sepanjang hari.

Yuk, segera sedia Insto Dry Eyes di dalam tas atau kantong untuk dipergunakan tiap kali diperlukan.

Uncategorized

Srikandi Gali Potensi Diri, Jadi Tiang Penyangga Keluarga

Suasana di acara pameran. Foto: dokpri.

Adalah Rukiyanti, seorang wanita bertubuh mungil dengan raut wajah teduh menyapa ramah saat saya mendekati mejanya. Ceriping pisang berwarna coklat cerah tampak berderet menggoda di depannya. Karena saya dan keluarga menyukai aneka makanan renyah dan kriuk macam keripik ini, saya berniat untuk membelinya.

“Ini berapa, Bu?

“Sepuluh ribu saja, Mbak.”

Saya menimang bungkusan itu. Cukup besar dan berisi. Tanpa ragu, saya mengeluarkan dompet dan mengambil 2 lembar Rp10.000. “Saya beli dua ya, Bu..” Dengan terampil, ia pun memasukkan pesanan saya ke dalam kantong.

 

Ceriping Pisang Bu Rukiyanti

 

Ibu Rukiyanti sedang mengemas produk. Foto: dokpri

Rukiyanti telah memulai bisnis ini sejak lama, bahkan sebelum gempa melanda Jogja. Saat ini, ia menjadi tulang punggung keluarga karena suami sedang sakit dan tidak bisa bekerja. “Tapi, suami saya masih bisa ikut bantu-bantu di rumah,” kata Rukiyanti. Wanita ini bersyukur, ia sempat mengikuti beberapa pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) DIY. Lewat event tersebut, ia bisa mendapatkan ilmu serta teman baru.

“Melalui pameran-pameran seperti ini, saya juga bisa jual produk saya. Sebagian lagi saya titipkan ke toko-toko. Ada juga reseller yang ngambil langsung di rumah, daerah Kweden, Trirenggo, Bantul,” lanjut Rukiyanti. Menurutnya, produk dengan label Criping Pisang Ruky Ngudi Rejeki ini terjamin karena tidak menggunakan minyak goreng curah. “Pisangnya pun pisang kepok kuning.”

Di sebelah meja Rukiyanti, seorang ibu dengan usia yang kira-kira tidak jauh berbeda, menjual beberapa macam produk. Salah satu yang menurutnya paling unggul adalah serundeng kremes. Mengusung label Camikhoo, Ada 2 varian serundeng yang tersedia, yaitu Original dan Pedas. Ada pula Abon Tuna dan Abon Lele. “Ayo dicoba, Mbak. Enak, lo kalau dicampur dengan nasi anget-anget..”

Serundeng kremes dari Camikhoo. Foto: dokpri

Ahh, seketika saya langsung membayangkan kalimat si ibu. Bener juga, nih! Sepiring nasi hangat dengan taburan serundeng lezat, siapa yang bisa menolak? Tanpa pikir panjang, saya pun membeli satu bungkus yang rasa Original. (Di rumah, ketika ide si ibu saya praktikkan, bener rasanya memang maknyus. Harum serundeng benar-benar menggugah selera makan).

Masih belum puas, saya pun melihat-lihat lebih banyak produk kuliner di Pameran Pesta Kuliner Rakyat yang diadakan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta bersama PLUT-KUMKM DI Yogyakarta ini. Di barisan paling ujung, saya disapa oleh seorang ibu. Namanya Rismiyati.

“Mbak, ini ada sirup kunir asem. Enak lo, Mbak! Ayo dicoba.. Ini bagus buat wanita kalau lagi menstruasi. Biar lancar dan tidak sakit,” ujarnya dengan penuh semangat. Saya berhenti sejenak. Selain sirup, ada pula kemasan berukuran sedang. Di bungkusnya tertulis Jahe Secang Instan Herbal Damar.

Kemasan jahe secang. Foto: dokpri
Ibu Rismiyanti sedang menjelaskan keunggulan produknya. Foto: dokpri

“Kalau ini, apa Bu?”

“Oh, ini jahe secang, terbuat dari jahe dan kayu secang. Nanti Mbak bisa lihat saja di Google, apa manfaat kayu secang… Ada banyak khasiatnya bagi kesehatan.”

Rismiyanti pun menjelaskan, kayu secang dikombinasikan dengan jahe supaya rasanya lebih enak. Selain jahe, ada pula bahan cengkeh, serai, dan kayu manis, di dalamnya. Wah, lengkap banget! “Produk ini bisa tahan sampai 4-5 bulan,” kata Rismiyanti.

Wanita ini sudah memulai bisnis membuat jahe secang sejak 6 tahun lalu. Saat itu, ia mendapatkan ide dari Simbok (Ibu) yang belajar dari mahasiswa yang KKN di desa mereka. “Tapi, ibu saya nggak bikin. Dia cuma cerita saja. Dia bilang, ‘Ris, ini ada anak KKN yang ngandani gawe jahe instan. Enak, lo!’ Nah, karena namanya orang tua, biasanya lupa ukuran-ukurannya. Jadi, akhirnya saya harus mencoba sendiri.”

Proses ini tidak mudah. Rismiyanti harus mencoba beberapa kali sampai akhirnya rasa jahe tersebut pas di lidah. “Yang pertama kepedesan, kedua juga masih kepedesan, ketiga malah kurang pedes. Tapi, saya coba terus sampai akhirnya ini jadi.”

Setelah jadi, barulah Rismiyanti berani menawarkan produknya. Biasanya, ibu-ibu yang mengikuti pertemuan PKK memesan setelah ia memberikan pengumuman lewat status WA. Berbagai pelatihan yang dijalaninya dari pihak dinas pun menambah nilai jual pada produknya. “Dulu kan saya cuma pakai plastik yang tipis itu, Mbak. Labelnya juga cuma tulisan, lalu difotokopi. Sekarang, saya lebih berani kalau memasarkan produk saya. Kemasannya pun lebih rapat. Aman dan terjamin.”

Bukan hanya soal kemasan, melalui informasi dari Dinas pula ia bisa mendapatkan No. PIRT. “Karena sudah dibantu dengan pelatihan dan informasi semacam itu, berbisnis menjadi lebih enak. Melalui kegiatan ini, saya juga menjadi lebih happy karena dapat teman, pengalaman, sekaligus rezeki,” tutup Rismiyanti.

Sebelum pulang, tak lupa saya membeli sebungkus Jahe Secang. Rasa dingin akibat hujan yang akhir-akhir ini sering turun sebaiknya harus dihalau dengan kehangatan jahe yang baik untuk kesehatan.

“Oh, iya, cara minumnya gimana nih, Bu?”

“Sesuai selera aja, Mbak. Tapi, supaya nggak kepedesan, untuk satu gelas kecil gini, masukkan 2,5 sendok jahe secang. Segerrr pokoknya..” ujar sang ibu sambil mengacungkan jempol. Baiklah, Bu. Saya akan mencoba sarannya. Tetap semangat untuk mengembangkan bisnis!

Saya juga berharap, dengan dukungan optimal dari pemerintah, para pelaku UKM akan semakin bersemangat menata bisnisnya. Pertama untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Selanjutnya untuk memberi manfaat bagi sesama melalui produknya.

Uncategorized

Pameran Craft and Fashion, Mulai Dari Relasi Sampai Kolaborasi

Suasana di Pameran Produk Craft dan Fashion. Foto: dokpri

Asal semua dijalani dengan senang dan gembira, hasilnya pasti akan luar biasa”, itulah pernyataan salah seorang peserta pameran Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa, yang diadakan di Pyramid, Jl. Parangtritis, Bantul, pada Jumat-Sabtu, 22-23 Maret 2019. Di tempat ini, lebih dari 20 pelaku UKM craft dan fashion mengikuti pameran selama dua hari yang difasilitasi oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta.

Salah seorang peserta pameran yang menarik perhatian adalah Maria Ulfa, owner Mulfa Eco Print. Di atas meja di hadapan Ulfa, kain-kain berwarna pastel dijejerkan berbaris. Tampak pula sebuah name tag sederhana bertuliskan, Bantul Go Green. Produk yang dijual Ulfa adalah batik eco print, baik berupa kain (pakaian jadi), jilbab, maupun produk aksesori wanita seperti tas.

Ibu Ulfa dan batik eco print kreasinya. Foto: dokpri

“Ruang tamu di rumah saya disulap menjadi tempat untuk bekerja,” kata Ulfa sambil tersenyum. Rumahnya sendiri terletak di Sewon, Bantul. Sementara itu, ia membuka lapak setiap hari di Stand Museum Pyramid bersama sejumlah UKM Bantul lainnya. Berbahan dasar kain katun primisima berwarna putih polos, Ulfa menawarkan produk fashion yang sangat unik karena diciptakan dengan menggunakan teknik eco print. Hasilnya? Menarik dan khas banget! Warna-warna alam bernuansa natural dengan motif dedaunan tampak terpampang. “Banyak yang suka dengan warna-warna ini,” ujar Ulfa.

Salah satu produk yang terlihat “wow” adalah sebuah tas mungil berwarna kuning gading. Ternyata, bahan dasar tas ini dari kulit kayu. Ulfa menjelaskan, pada musim-musim tertentu, kulit kayu akan mengelupas. Supaya bermanfaat, kulit kayu dijadikan barang-barang fashion. “Biasanya kan cuma dibakar aja karena kulit kayu termasuk sampah. Tapi, sekarang ada nilai tambahnya.”

Menariknya, produk tas ini bukan buatan Ulfa sendiri, tetapi seorang rekanan UKM di Gunungkidul. “Waktu itu, ada teman yang bilang, ‘Saya minta tolong tas ini di-ecoprint-kan dong.’ Jadi, saya hanya proses eco print aja. Nggak lama sih, cuma dua hari. Kalau bikin produknya memang cukup lama. Nah, setelah jadi, saya juga ikut menjual.” Bukan hanya tas, produk pakaian jadi yang ia bawa pun merupakan hasil kolaborasi dengan rekanan penjahit.

Ia mulai membangun Mulfa Eco Print pada Juli 2018. Pada September 2018, ia sudah memiliki izin usaha. Setelah itu, barulah ia berani untuk mengikuti berbagai bazar yang diselenggarakan di Yogyakarta, baik oleh pemerintah maupun swasta. Menurut Ulfa, ada banyak keuntungan mengikuti kegiatan-kegiatan semacam ini.

“Pertama, saya dapat relasi, yaitu teman-teman sesama pelaku UKM. Ketika kita kenal dengan teman pengusaha, kita kadang-kadang berinisiatif untuk melakukan pengembangan produk. Seperti tas ini, misalnya. Saya sebetulnya nggak pengen bikin tas. Tapi, karena ada yang meminta, saya jadi mikir, ‘Oh iya ya, saya bisa menambah koleksi produk’,” ujar Ulfa. Dari sinilah peluang kolaborasi semakin terbuka lebar.

Selain itu, Ulfa juga rajin mengikuti berbagai pelatihan, yang terakhir adalah dari PLUT-KUMKM DIY. “Saya jadi merasa banyak PR, nih,” kata Ulfa sambil tertawa.

Bpk. Sugeng sedang menata wayang. Foto: dokpri
Wayang buatan Bpk. Sugeng. Foto: dokpri

Pelaku UKM kedua yang mengikuti pameran adalah Sugeng Prayogo yang memproduksi wayang kulit. “Ini adalah suvenir yang paling mendominasi dan sering dipesan sampai ke luar negeri, yang terakhir kemarin dari Norwegia.”

Owner Wahyu “Art” ini memiliki tenaga produksi sebanyak 5 orang. Mereka membantunya untuk membuat wayang di tempat produksi, yaitu rumah Sugeng sendiri di Jl. Parangtritis km 9, Kowen 1, Timbulharjo. Sugeng memulai usaha ini sejak 2009 lalu. Pria yang berasal dari keluarga dalang ini memang memiliki darah seni. “Saya bisa ndalang juga. Tapi, saya lebih cenderung ke pasar globalnya, biar bisa nguri-uri kebudayaan Jawa. Kalau dalang saja, belum tentu laku. Bisnis ini pun lebih menjanjikan.”

Biasanya, Sugeng menawarkan produknya ke pelanggan yang ada di Jakarta. Ia juga menawarkan produknya di mal dan ke pedagang-pedagang. “Ada banyak juga yang meminta modifikasi selain gambar wayang yang paten. Mereka biasanya mengirim gambar lewat email. Pengen seperti ini dan saya buatkan.”

Wayang yang dibuat oleh Sugeng berbahan dasar kulit kerbau. Apabila kena AC atau panas, kulit kerbau lebih kuat dan awet, berbeda dengan kulit sapi. Selain wayang kulit, Sugeng juga memproduksi souvenir seperti kipas, pembatas buku, gantungan kunci, dan sebagainya. Harga kipas yang ditawarkan Sugeng bisa mencapai Rp500.000. “Memang produk ini khusus untuk kalangan premium berkelas. Ada yang membeli untuk cendera mata atau hadiah, ada juga yang untuk dijual kembali.”

 

Selain Mulfa Eco Print dan Wahyu “Art”, produk ketiga yang mengikuti pameran adalah kerajinan tangan kreasi Asri Pamungkas. Produk Asri Pamungkas Fashion & Craft berupa kerajinan tangan yang terbuat dari bahan tissue napkins. Proses pembuatan produk disebut decoupage. Sebelum diolah oleh Asri, bahan dasar produk hanya berupa talenan polos, botol bekas, tas tanpa motif, bahkan sarung pelindung ponsel.

“Jadi, tissue ini nanti dilem di produk dasarnya hingga membentuk pola dan motif yang menarik.” Jika dilihat dengan cermat, motif kreasi Asri sangat cantik dan unik. Bentuknya hampir seperti lukisan yang indah. Soal keawetan pun tidak perlu diragukan. “Ini sudah di-furnish tiga kali, pengeleman pun dilakukan tiga kali. Jadi, kena air pun nggak apa-apa,” ujar Asri.

Lalu, prosesnya berapa lama? “Satu hari bisa, kok. Bahkan, dalam satu hari, saya bisa membuat beberapa produk.” Asri mengaku, ia hanya perlu mengembangkan kreativitas supaya bisa menghasilkan produk yang beda dari yang lain. Asri mulai mengusahakan kerajinan sejak 2 tahun terakhir. Namun, ia baru mulai merambah decoupage sekitar 1 tahun terakhir.

“Saya suka coba-coba membuat aksesori. Awalnya, saya dapat ide dari Youtube. Lalu, saya juga belajar dari teman yang sudah bisa. Kemudian saya kembangkan sendiri. Kendalanya ada di bahan sih. Saya harus membeli bahan secara online. Masalahnya, kalau membeli online, kita nggak bisa milih. Mereka mengirim motifnya random. Saat ini, saya menggunakan dua jenis tissue, ada  yang dari Eropa dan dari Cina.”

Usaha dengan modal awal sekitar 2-3 juta ini bukan hanya dijual secara offline, tetapi juga melalui akun Instagramnya, Gias_Olshop. Sementara itu, sehari-hari Asri membuka lapak di Stand Museum Pyramid, Jl. Parangtritis, Bantul. Asri mengaku, melalui event-event pameran seperti ini, ia dapat memperkenalkan produknya kepada lebih banyak orang. Ia juga mendapatkan banyak teman baru sehingga bisa saling mendukung dalam membesarkan bisnis.

Ulfa, Sugeng, dan Asri adalah sebagian dari peserta pameran kali ini. Meskipun pengunjung pameran pada sore itu belum terlalu membludak, mereka tetap antusias memperkenalkan produknya. Melalui kesempatan ini, mereka dapat mengedukasi pengunjung mengenai keunggulan barang yang mereka jual. Tujuan akhirnya adalah supaya pengunjung berkonversi menjadi pembeli.

Pelaku UKM di Yogyakarta hari ini boleh merasa senang karena ada beragam fasilitas yang ditawarkan oleh pemerintah melalui dinas terkait. Pelaksanaan pameran adalah salah satu strategi untuk mempertemukan pelaku UKM dengan calon pembeli. Oleh karena itu, acara yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi UKM ini dirasakan sangat bermanfaat.

Hanya saja, promosi tentu perlu digencarkan lagi. Lokasi pameran yang bukan berada di dekat pusat kota mungkin menjadi salah satu faktor kurangnya animo masyarakat untuk datang. Dari sisi UKM, produk yang ditawarkan istimewa dan unik, tak kalah dengan produk-produk berlabel internasional. Jadi, sudah saatnya untuk mulai mencintai produk anak negeri. Semoga pemerintah dan pihak terkait juga terus bergandengan tangan untuk mendukung pelaku UKM hingga bisa merambah pasar yang lebih luas.

Uncategorized

Ngeblog Lewat HP, Efektifkah?

Oke, saya lagi mencoba ngeblog lewat smartphone, kira-kira bisa nggak ya?

Sebenarnya soal bisa atau nggak itu pasti BISA! Apa pun yang diusahakan, minimal memberikan pengalaman-jika hasil kelihatan tidak ada.

Sekarang, mengukur efektif atau tidaknya, ini juga relatif.

Contohnya saya nih. Menurut saya efektif karena:

  • Gadget mendukung
  • Mengakses PC waktunya terbatas

Nah 2 alasan inilah yang membuat metode ini terasa efektif. Meskipun, bisa dipastikan kalau kurang produktif. Bayangin aja harus nulis kata demi kata dengan menekan tombol satu persatu. Beda kalau pakai keyboard, menulis bisa lebih cepat. Ada typo pun mudah untuk diperbaiki.

 

Kalau kamu bagaimana? Pernah ngeblog pakai HP?

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge, Uncategorized

5 Tips Hidup Sehat bagi Ibu Bekerja

Apa saja tips hidup sehat yang (pernah) kamu terapkan? Kesehatan adalah harta yang sangat berharga. Pada waktu sehat, kita memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mencapai impian, menemani orang-orang tercinta, dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Saya tipe orang yang memiliki prinsip: Lebih baik mencegah daripada mengobati. Itulah sebabnya, saya bisa dibilang “tergila-gila” dengan persiapan. Untuk hal apa pun, persiapan adalah yang paling utama.

Prinsip kedua yang saya pegang adalah: Tidak ada gunanya menyesal. Tentu ini berlaku untuk situasi tertentu–yaitu ketika saya sudah melakukan yang terbaik tetapi hasilnya tidak memuaskan. Ya mau bilang apa, toh sudah maksimal. Diterima saja hehehe. (Meskipun demikian, untuk beberapa hal lain, “menyesal itu perlu”).

Dua prinsip itu juga saya terapkan dalam hal menjaga kesehatan. Apalagi sebagai ibu bekerja yang sibuk dengan segala tetek-bengeknya, menjaga kesehatan sering kali terabaikan. Namun, setidaknya ada 5 tips hidup sehat yang saya usahakan untuk dilakukan setiap saat, demi kondisi yang fit, baik saat ini maupun di usia senja.

  1. Bergerak Tiap 30 Menit

Ada beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa duduk terlalu lama lebih berbahaya daripada merokok. Padahal, risiko merokok adalah “membunuh”.

Itulah sebabnya, beberapa waktu belakangan saya selalu berusaha untuk bergerak tiap 30 menit. Pekerjaan saya yang berada di balik monitor menjadi salah satu alasan penting. Supaya ingat, saya biasanya akan menyalakan alarm.

Ada banyak alasan untuk bergerak dari kursi kerja. Pergi ke toilet, mengambil air minum, menghubungi rekan kerja di ruangan sebelah, dan sebagainya. Jika tidak ada alasan pun, kita tetap harus berusaha untuk bergerak.

2. Minum Air Putih Minimal 6 Gelas Sehari

Tips simpel selanjutnya yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan adalah minum air putih. Sesuai takaran ideal, jumlah air putih yang perlu dikonsumsi adalah sekitar 6 gelas per hari. Saya juga biasanya menggunakan ukuran berupa botol khusus, seperti Tupperware.

Kadang kala, karena kesibukan, minum juga bisa terabaikan. Akhirnya, saya pun melakukannya bersamaan dengan waktu bergerak. Jadi, setiap bergerak 30 menit, saya harus minum setidaknya beberapa teguk.

3. Mengurangi Gula

Saya memang sudah sejak lama memutuskan hubungan pada gula. Hanya ketika dalam keadaan capek saja dan membutuhkan asupan energi lebih, saya minum segelas teh, itu juga hanya dengan gula setengah sendok kurang. Asal manis dikit aja. Tiap pesen minum di luar, pasti ada embel-embel gulanya dikit aja.

Namun, yang masih belum bisa adalah mengurangi minuman sachet yang tentu mengandung banyak gula. Biasanya, saya minum kopi instan supaya membuat tetap terjaga ketika hendak bekerja. Ke depan, saya akan mempertimbangkan untuk menggunakan kopi hitam dengan gula sedikit.

4. Jadwal tidur lebih teratur

Ini adalah resolusi tahun depan. Dua tahun terakhir, jadwal tidur saya kacau sekali. Boleh dibilang malah sangat kurang. Meskipun sudah terbiasa, kok masih harus dibenerin ya. Saya kan pengen menikmati hasil kerja keras dalam keadaan sehat, bisa traveling ke mana-mana saat pensiun, dan melakukan aktivitas dengan baik.

Jadi, hal itu dimulai dari sekarang. Jika tidak, hmm, mungkin saat tua nanti saya bisa jadi merepotkan anak cucu.

5. Menghindari stres

Stres dapat menyebabkan penyakit. Namun, masih ada banyak hal yang membuat stres setiap hari. Pengelolaan emosi pun masih belum terlalu baik. Akibatnya, saya sering stres atau tertekan karena hal-hal tertentu.

Caranya mungkin dengan lebih banyak melakukan refleksi, selalu berpikir positif, dan memiliki harapan. Selain itu, mengelola pekerjaan yang diambil juga penting supaya pada akhirnya tidak menyebabkan stres tambahan.

Nah, inilah beberapa tips sederhana dari saya untuk para ibu bekerja supaya bisa tetap sehat. Punya tips lainnya? Share juga donk!

Uncategorized

5 Hal yang Sering Salah Dimengerti Tentang Ibu Bekerja

[Disclaimer] Sekali lagi, ini bukan untuk menajamkan perbedaan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Please, kalau berkenan bisa membaca kembali postingan saya sebelumnya…

Hai Ibu, Apakah Anda Ingin Bekerja atau Menjadi Ibu Rumah Tangga

Daripada salah paham, saya ingin meluruskan sedikit tentang pandangan orang-orang tentang ibu bekerja (dalam hal ini: saya) yang kerap menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung usai.

1. Ibu bekerja lebih sayang pekerjaannya daripada anak

Ini mustahil banget. Meskipun selama ini waktu sehari-hari banyak dicurahkan untuk bekerja, rasa cinta untuk anak ada di dalam hati dan nggak pernah berkurang. Bahkan, saya sendiri merasakan betapa kerinduan untuk selalu bersama si kecil terus-menerus timbul.

Jadi, kalau lagi bekerja dan kangen anak, akhirnya buka-buka galeri foto dan video lalu senyum-senyum sendiri. Ketika pulang dan akhirnya bertemu, ada rasa lega yang luar biasa.

Setidaknya, alasan bekerja nggak menjadikan saya mengurangi kadar cinta kepada anak, sama juga seperti ibu-ibu lainnya, entah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.

Lagipula, sebagian besar motivasi ibu bekerja untuk bekerja adalah karena sayang keluarga dan ingin mempersiapkan yang terbaik untuk masa depan anak.

2. Ibu bekerja nggak bisa mendidik anaknya dengan optimal

Pada saat-saat tertentu, jujur saja, saya suka khawatir jika W tidak tumbuh sesuai dengan yang saya harapkan. Ibu, katanya, adalah orang yang paling ideal untuk menjadi guru bagi anak. Lha, kalau anaknya di daycare, gimana tuh?

Faktanya, saya memang nggak bisa mengontrol W sepanjang hari. Rasa khawatir tentu masih ada hingga saat ini. Tapi, yang membuat saya lega adalah ia tumbuh dengan baik. Ada beberapa kebiasaan yang bahkan tidak kami ajarkan sudah ia kuasai dengan sendirinya. Beberapa kemampuan lainnya membuat kami terheran-heran dan takjub. Ya, ia belajar dengan baik di sana.

Dan yang membuat saya bertambah tenang adalah ada komunikasi yang terbuka dengan pihak daycare terutama gurunya sehingga kami bisa saling berbagi mengenai perkembangan W. Saya samasekali nggak menganggap mereka sebagai orang lain, justru saudara yang juga sayang dan peduli dengan tumbuh kembang anak saya.

Di dalam kehidupan sehari-hari, bukankah keluarga besar juga ikut mendidik anak? Kita tentu nggak bisa melarang nenek atau tante untuk berinteraksi dengan si kecil dan menyampaikan nasihat-nasihat tertentu. Nah, konsepnya sama.

Hanya saja, kita perlu memperluas pandangan dan tidak selalu menganggap bahwa “saudara” hanyalah mereka yang sedarah. Kita bisa bersaudara dengan siapa saja.

3. Ibu bekerja nggak bisa mengikuti perkembangan anak

Ya, suka iri juga sih kalau ada yang posting tentang keseharian si kecil setiap hari di rumah. Siapa yang ngga pengen. Namun, itu bukan berarti ibu bekerja harus kehilangan seluruhnya saat-saat membahagiakan ketika melihat perkembangan anak.

Saya mau berbagi, W termasuk lambat untuk berjalan. Hingga usia 19 bulan, ia baru bisa melangkahkan kaki sendiri tanpa bantuan pegangan orangtua. Namun, suatu malam, akhirnya ia berhasil melakukannya. Itu adalah momen yang sangat mengharukan.

Dan tebak, saya bisa merekam momen itu di sini:

Yeay, W berhasil!

Jadi, nggak sepenuhnya saya kehilangan momen-momen berharga dalam tahap perkembangan anak. Bahkan, kami justru bisa lebih merasakan hal berbeda ketika sore hari kembali bertemu. Itu yang selalu membuat hati berbunga-bunga.

Tipsnya: singkirkan gawai SEBISA MUNGKIN ketika sudah berada di rumah bersama anak.

Ini akan membuat kita lebih peka dan tahu apa saja yang berbeda dan baru pada anak. Sebisa mungkin, sebelum anak tidur di malam hari, saya usahakan untuk meminimalkan pegang hp.

Memang nggak mudah karena hidup kita saat ini sebagian besar bergantung pada hal-hal berbau digital. Namun, kalau udah kelewatan, biasanya W mulai protes, “Bu… bu.. buuuuu…” [njawil-njawil minta diperhatikan dengan bola mata memelas].

4. Ibu bekerja nggak capek jaga anak karena bekerja lebih enak

Hehehehe. Capek kok. Sama. Meskipun kadarnya berbeda dengan ibu rumah tangga yang sepanjang hari bersama anak. Jaga anak melelahkan, bekerja juga melelahkan. Saya berani bilang itu karena merasakan juga ketika masih cuti melahirkan.

Nah, kalau bekerja, mungkin bukan capek fisik (khususnya bagi yang kerja di belakang meja) tapi stresnya yang membuat lelah. Kadang-kadang, stres itu masih terasa hingga di rumah. Lalu, ketemu anak yang sedang bad mood, lengkap sudah semuanya.

Tapi, kita ibu-ibu selalu tegar kalau anak udah tersenyum dan tertawa, ya kan. Hehe. Secapek apa pun, jangan sampai diumbar dan membuat kita nggak bersyukur dengan keadaan saat ini.

5. Ibu bekerja nggak ingin tinggal di rumah, pake daster, dan hidup tanpa makeup

Jujur saja, saya berangkat kerja juga sering tanpa makeup apa pun. Karena nggak sempat, cyin. Pagi hari itu segala macam jurus silat sudah dikeluarkan tapi tetep aja nggak cukup waktunya. Jangankan untuk bikin alis, mau pake bedak padat aja nggak ada waktu.

Ya, status bekerja nggak selalu membuat saya menjadi kelihatan cantik setiap hari karena dandan. Biasa aja kok. Baju juga nggak modis-modis amat (karena emang nggak stylish kali ya haha), Memang sih nggak pake daster juga…

Tapi ya itu tadi, bagi saya, bekerja adalah untuk bekerja. Setiap bulan bisa memperoleh penghasilan dan itu digunakan untuk beli susu, beli popok, beli lain-lain untuk keperluan anak. Udah gitu aja, kok.

Dan, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jangan mengira jika di dalam hati ibu bekerja nggak pernah terselip keinginan untuk resign. Bahkan selalu ada kalau mau jujur. Dan semua dilema itu harus dihadapi dengan kuat dan berani.

Nah, itu dia 5 hal yang menurut saya kadang-kadang salah dimengerti oleh sebagian orang tentang ibu bekerja. Ini berdasarkan pengalaman pribadi selama ini.

Apakah ibu mengalami hal yang sama atau justru berbeda?

 

Uncategorized

Menjadi Ibu, Menjadi Pembelajar

Halo, ketemu lagi!

Setelah saya menghilang beberapa saat, hehe. Ada banyak kesibukan di luar sana dan selalu pengen kembali ke sini, tapi kok rasanya waktu sudah habis semua.

Pagi hari ini (saya nulis 04.07 WIB; setelah lembur kerjaan), akhirnya menyempatkan diri untuk coret-coret dikit. Tentu saja, ada godaan untuk berhenti nulis karena alasan perfeksionis. Tapi, segera saya tepis jauh-jauh. By the way, itu baru berhasil setelah periode “tulis-hapus” empat kali.

Saya nggak pengen menyampaikan yang berat-berat pagi ini. Meskipun ada utang untuk nulis sesuatu. Bisa nyusul, yah? Hihi. Saya cuma ingin meninggalkan jejak saja dulu.Harapannya, semoga bisa konsisten menulis secara terjadwal.

Supaya nggak basa-basi banget, saya ingin menyampaikan sedikit mengenai visi saya membangun blog ini. Apakah itu? Tak lain adalah untuk menyampaikan ide dan suara tentang profesi saya sebagai ibu. Saya–seorang introver sejati–banyak diamnya kalau bertemu orang. Terutama di tengah orang-orang yang memiliki frekuensi berbeda. Dengan menulis di sini, saya bisa menyampaikan semua pikiran saya tanpa harus memikirkan soal diterima atau tidak.

Saya juga ingin membagi pengalaman dan hal-hal yang saya ketahui. Mungkin sederhana, tetapi saya harap berguna (bagi yang belum tahu). Saya sendiri banyak berselancar di dunia maya untuk mendapatkan banyak informasi jika merasa masih belum banyak tahu. Apalagi jika baca dari blog, biasanya tulisan tersebut original (merupakan pengalaman pribadi penulis sehingga lebih mengena).

Alasan lainnya, saya ingin mendirikan sebuah “monumen” bagi perjalanan saya berkarier sebagai seorang ibu. Suatu saat kelak, ketika W sudah dewasa, saya ingin membaca ulang semua hal yang telah kami lakukan bersama. Dan semoga itu bisa memupus kerinduan pada masa lalu.

Namun, tantangan yang saya hadapi terutama adalah faktor selalu ingin segalanya sempurna. Jadi, pada beberapa situasi, saya akhirnya nggak melanjutkan tulisan (berakhir di draft, kemudian masuk trash).

Semoga saya bisa melawan itu dan terus berusaha meningkatkan kemampuan menulis supaya bisa menyampaikan ide dengan baik dan dimengerti oleh pembaca.

Nah, kalau ibu-ibu, tantangan menulisnya apa nih? Bagi pengalamannya dong…

<img src=”http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=eb1a3248129b7ee71267e2e49bc38db1cf8712b1&_host=www.ibubelajar.com/”>