Melatih Keberanian Anak

[Project A] Melatih Keberanian Anak

Hola!

Bertemu kembali dengan saya di sini.

Agak tergerak untuk menulis karena baru saja membaca beberapa blog parenting yang berkisah tentang aktivitas bersama anak. Aha, pengen juga sebenarnya rajin posting untuk berbagi pengalaman. Tapi, tapi, seperti “penyakit” yang kerap menggerogoti semangat menulis para bloher adalah inkonsistensi. Sekarang semangat, besok redup! Hahaha.

Ya, baiklah karena saat ini dalam situasi rada semangat, mari kita mencoba untuk memulai menulis..

Udah “mencoba”.. masih pake kata “memulai”.. hmm terkesan mengkhawatirkan nih 

Oke, lanjut!

Kali ini, saya ingin mengulas tentang “mode” BERANI yang ada di dalam diri anak.

Sebenarnya, kalau boleh menganalisis dikit, seorang anak memiliki keberanian yang alami dan spontan. Namanya anak-anak, mereka belum memahami tentang “dampak” atau “akibat” yang akan muncul dari suatu aktivitas. Jadinya, nggak ada kata takut dalam kamus mereka. Rasa takut pada umumnya muncul ketika kita sudah pernah mengalami sesuatu dan merasakan hal yang tidak enak dari sana.

Akan tetapi, rasa takut juga bisa muncul ketika kita mendengar dan menghayati apa yang orang-orang katakan tentang aktivitas tersebut. Akibatnya, kita membayangkan (tentu saja dengan melebih-lebihkan) hal-hal buruk terjadi.

Nah, tampaknya itulah yang dialami W beberapa waktu terakhir ini.

Dalam hal ini, orangtualah yang perlu berbenah diri. Kami akui juga beberapa kali kami melarang dia untuk melakukan sebuah kegiatan karena (1) biar nggak repot kalau terjadi sesuatu, (2) khawatir berlebihan, (3) sebagai senjata supaya anak mau diam.

Contohnya sederhana. Misalnya nih dia mau main pasir di luar. Karena kondisinya dia sudah mandi dan bersih, otomatis kami melarangnya untuk bermain pasir. Ya nanti kalau kotor gimana? Harus bersihin lagi dong. Sementara, orang tua punya banyak kerjaan. Intinya, repotlah harus melakukan dua kali pekerjaan.

Supaya W mau dengerin perkataan kami, secara spontan kami pun mengeluarkan pernyataan yang sebenarnya kurang baik efeknya. Contoh: “Hiy, nanti kamu digigit semut, lho!” atau “Nanti ada binatang, terus bikin gatal-gatal!”

Akhirnya, W jadi mikir nih. Jadi, main pasir itu menakutkan, ya!

Padahal, tujuan utama orang tua sama sekali bukan itu. Pada kondisi yang oke, dia boleh saja bermain pasir, yaitu ketika dalam pengawasan orang tua. Karena orang tua tidak mampu menyediakan kesempatan itu, akhirnya anak dibatasi.

Ini adalah salah satu contoh saja yang sebenarnya perlu diubah.

Dampaknya sekarang adalah anak masih mau bermain pasir, tetapi dengan selalu menggunakan sendal. Mengapa? Khawatir digigit binatang. Kalau ada binatang, dia juga suka bergidik ngeri gitu dan bilang, “Hiy!”

Selain soal itu, masih ada banyak hal lain yang menunjukkan bahwa W memiliki rasa takut yang cukup besar. Ia takut ketinggian sehingga kalau bermain di taman bermain nggak berani manjat tinggi-tinggi.

Oleh karena itu, langkah pertama adalah orang tua mengakui kesalahan yang satu ini. Kedua, orang tua harus berani ambil keputusan untuk memperbaiki diri. Beberapa hal yang perlu diperbaiki adalah:

  • Mengubah cara untuk mengatakan sesuatu
  • Menyediakan waktu yang cukup untuk mendampingi anak sehingga tidak perlu lagi menakuti anak
  • Mendorong kembali keberanian anak untuk mencoba sesuatu dengan catatan harus bersama dengan orang tua.

Nah, kira-kira itulah gambaran besar dari proyek kali ini.

Targetnya sih anak bakal lebih BERANI mencoba. Karakter ini penting bagi dia kelak ketika dewasa supaya tidak kalah sebelum berperang. Anak juga akan belajar untuk memahami konsekuensi. Belajar untuk menerima rasa sakit atau kegagalan. Dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjalani sesuatu dan terhindar dari hal yang kurang baik.

Jadi, begitulah latar belakang mengapa saya ingin melakukan hal ini.

Kalau bukibuk lain pernah merasakan pengalaman atau kekhawatiran serupa, nggak? Bolehlah sharing tentang strategi yang dilakukan supaya anak lebih BERANI.

BPN 30 Day Blog Challenge, Challenge

“Belajar Itu Sepanjang Hayat”

Foto: www.pixabay.com

Belajar itu sepanjang hayat..

Konsep itu yang selalu saya ulang-ulang di benak.

Belajar bisa kapan saja. Belajar bisa di mana saja. Belajar bisa sama siapa saja. Belajar bisa dilakukan dengan siapa saja. Belajar bahkan bisa dari masa-masa paling nggak menyenangkan.

Seperti saya nih, saya baru aja belajar. Sudah nulis panjang-panjang, lalu terhapus begitu saja. Padahal udah selesai, tinggal finishing aja. Pengen nangis banget karena nulisnya pake hati tuh. HAHAHA.

Mungkin saya sedang diuji. Bener nggak sih mau belajar dari masalah?

Dan, saya pun mengumpulkan semangat lagi untuk mulai menulis hal yang sama. Males? Iyaaaaaa. Karena mood-nya langsung ilang, terbang entah ke mana. Tapi, namanya juga sedang belajar untuk bangkit. Harus lewat praktik, bukan teori aja.

Tentang Nama Blog

Kali ini, saya mau nulis tentang nama blog. Mengapa saya memilih “Ibu Belajar” sebagai “brand” saya. Hmm, ceritanya panjang.

Saat itu, saya baru saja melahirkan. W baru berusia sekitar 4 hari. Kami pulang dari RS dan mulai menjalani hari-hari sebagai ibu. Saat itu, saya dan suami hanya ditemani oleh ibu mertua (yang kebetulan udah lama nggak merawat bayi).

Ketika masih di RS, W “dirawat” oleh suster. Dimandiin dua kali sehari. Dibersihkan kalau BAB. Dijemur tiap pagi. Dsb. Pokoknya, si ibu terima berezz aja. Ya, iya, kan sedang terbaring karena luka sesar.

Perjuangan (dan kekonyolan) baru dimulai ketika tiba di rumah. Malem-malem, W mendadak BAB. Item warnanya. Ya, agak bingung juga, kenapa gini ya? Tapi, ya udahlah. Yang penting harus segera dibersihkan. Cuma.. gimana cara membersihkannya?

Dasar ibu baru! Tissue basah nggak sedia. Lap juga nggak ada. Panik? Iyaaaaa. Padahal cuma membersihkan BAB bayi. Memang, seumur-umur belum pernah melakukan itu.

Saya pun minta suami untuk mengambil air panas. Tapi, kok dingin? Tuang air panas dulu deh. Tapi, gimana caranya? Mikirrr. Nyobaaaa. Pokoknya ribet banget. Harus dilap nggak sih? Udah gitu, anaknya nangis nggak keruan. Huhuhuhu.

Foto: www.pixabay.com

Saat itu juga saya langsung mikir. Ya, Tuhan. Saya belum banyak belajar. Bagaimana saya bisa jaga anak ini kalau saya nggak tahu apa-apa? Bagaimana kalau ia sakit? Nggak mau menyusui? Dsb.

Ketakutan-ketakutan yang menyerbu pikiran. Dan tentu saja bikin menyesal. Kemana saja saya selama ini? Kenapa saya nggak belajar.

Ingin Meninggalkan Jejak

Sejak kejadian itu, saya mulai berpikir untuk berubah. Nggak bisa begini terus. Saya harus banyak cari referensi dan informasi. Belum lagi karena banyak orang yang nyuruh ini itu. Harus gini gitu. Sementara saya, tipe orang yang skeptis banget. Apa iya gitu? Selalu itu yang muncul dalam pikiran.

Akhirnya, saya pun mulai kepikiran untuk bikin blog baru. Sesuatu yang bisa menjadi rekam jejak saya; mengatasi setiap kekonyolan ketika belum tahu apa-apa. Dengan begitu, saya bisa menjadi lebih baik lagi.

Menurut saya, belajar bukan hanya ketika si anak masih kecil. Ketika ia remaja, saya belajar untuk menjadi teman baginya. Ketika ia dewasa, saya bisa menjadi seseorang yang menginspirasi. Ketika ia menikah, saya bisa menerima pasangannya. Ketika ia memiliki anak, saya bisa menjadi nenek yang baik.

Semoga, setiap orang diberikan usia yang cukup untuk terus belajar. Terus mengusahakan kebaikan bagi diri dan orang lain.